Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
kondisi Liana



CEKIT...


BRAK...


Sebuah mobil yang menghindari seseorang didepan nya sehingga dirinya membentur sebuah pohon besar disisi kiri kanan jalan. Untungnya dia menggunakan mobil yang mewah, sehingga kecelakaan yang dia alami tidak membuatnya terluka parah. Airbags nya bekerja sangat baik melindunginya dari benturan keras tersebut.


Liana yang sudah sangat syok dan terluka menjadi sangat khawatir saat melihat sebuah mobil yang menghindarinya malah mengalami kecelakaan parah.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah membuat orang lain celaka" gumam Liana yang segera berlari menuju mobil yang menabrak pohon tersebut.


"Astaga! Tuan Muda. Anda tidak apa-apa Tuan?" ucap Liana segera membantu Alfred dan ternyata dia yang menghindar supaya tidak menabrak dirinya.


"Tuan, apa anda tidak terluka? Apa ada sesuatu pada anda Tuan Muda?" tanya Liana yang masih basah-basahan, karena ini masih dalam kondisi hujan.


"Jadi kamu yang berdiri ditengah jalan!" ucap Alfred dengan tatapan tajamnya dan berhasil membuat Liana ketakutan.


"Apa kamu sudah bosan hidup hah!! Jika ingin bunuh diri setidaknya tidak mencelakakan orang lain dalam rencana mu itu!" ucap Alfred dengan tatapan tajamnya pada Liana.


"Maaf Tuan Muda, saya tidak sengaja melakukan ini semua. Saya benar-benar minta maaf Tuan Muda" ucap Liana yang menangis kembali dan itu tidak disadari oleh Alfred, karena kondisi sedang hujan lebat.


"Cih, maaf kau bilang. Jika saja saya tidak menggunakan mobil yang airbags nya tidak berfungsi, apa yang akan terjadi pada saya atau pada orang lain? Yang ada kamu yang membunuh orang, bukan diri kamu sendiri. Faham kamu!!" teriak Alfred yang sambil menunjuk Liana yang menundukan wajahnya tidak berani menatap kearah Liana.


"Maafkan saya Tuan Muda. Saya sudah salah dan saya mencelakakan anda Tuan Muda. Saya sungguh minta maaf" ucap Liana yang tangisan nya tenggelam dalam hujan deras.


"Astaga" Alfred langsung pergi dari sana setelah memesan taxi online untuk mengantarkan nya pulang.


"Kenapa kamu diam saja? Cepat naik!" ucap Alfred yang melihat Liana hanya diam saja tidak ikut masuk kedalam mobil.


"Terimakasih Tuan Muda tapi... " ucap Liana yang tiba-tiba terjatuh saat akan masuk kedalam mobil.


BRUK...


"Dasar menyusahkan. Sudah membuat mobil saya rusak, malah pingsan" gumam Alfred yang membantu Liana masuk kedalam mobil dan membawanya menuju apartment miliknya.


"Tolong kamu gantikan pakaian nya" ucap Alfred yang meminta pada seorang wanita yang berada didepan meja resepsionis.


"Baik Tuan Muda" ucap seorang wanita tersebut yang mengikuti langkah Alfred masuk kedalam pent house miliknya.


"Bukankah ini wanita yang waktu itu menyewa pent house Tuan Muda?" gumam wanita yang menggantikan pakaian Liana.


"Aku harus segera pergi dari sini. Jika tidak, sudah dipastikan aku akan tamat" gumamnya yang langsung pergi setelah menggantikan pakaian Liana.


"Tuan Muda, saya sudah menggantikan pakaian Nona didalam. Saya permisi sekarang" ucap wanita tersebut yang langsung pergi setelah mendapatkan kibasan tangan Alfred.


Alfred memasuki kamarnya dan melihat Liana yang memejamkan matanya. Tapi terlihat sangat gelisah dan tidak tenang, bahkan terlihat sangat ketakutan. Alfred mendekatinya lalu menyentuh keningnya dan ternyata dia sedang demam tinggi.


"****!! Dia demam" ucap Alfred yang segera pergi untuk memanggil dokter pribadinya.


"Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Alfred saat melihat dokternya memeriksa kondisi Liana.


"Dia demam tinggi dan depresi berat Tuan Muda. Apa sebaiknya dibawa kerumah sakit saja untuk mendapatkan perawatan intesif. Karena selain kondisi fisiknya yang lemah. Psikisnya juga terguncang berat, ini harus segera ditangani oleh ahlinya Tuan Muda" jelas dokter tersebut yang memeriksa Liana dan menatap penuh prihatin padanya.


"Baiklah, saya akan membawanya. Kau boleh pergi sekarang" ucap Alfred yang mengusir langsung dokter pribadinya sendiri.


"Baik Tuan Muda. Saya permisi, dan saya menunggu kedatangan anda secepatnya" ucap dokter tersebut yang sudah tahu bagaimana sikap dan sifat Alfred.


"Hmm" jawab Alfred dengan deheman saja lalu dia mengunci pintu pent house miliknya. Dan menghampiri Liana yang mengigau, karena demam nya sangat tinggi.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau terlihat sangat ketakutan dan juga sangat tegang? Ck. Sungguh, baru kali ini saya perduli pada orang asing dan seorang wanita juga" gumam Alfred yang membawa Liana untuk dibawa kerumah sakit.


.


Sedangkan ditempat lain, Ayah dan Ibunya Liana sedang sangat khawatir akan kondisi Liana sekarang. Ini sudah lewat tengah malam, tapi Liana belum juga pulang. Ponselnya juga tidak aktif lagi.


"Yah, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Lili Yah? Ibuk sangat takut" tanya Ibuk Ati yang sudah sangat khawatir dan juga ketakutan jika Liana benar-benar kenapa-kenapa.


"Ibuk sabar saja dulu. Jangan pernah berfikiran macam-macam, Lili pasti baik-baik saja. Mungkin dia sedang lembur dan lupa mencarger ponselnya. Kita tunggu saja, jika sampai pagi tidak ada kabar, baru kita cari sama-sama. Sekarang kita istirahat saja dulu" ucap Ayah Jaya yang menenangkan Ibuk Ati yang sangat sedih memikirkan Liana.


"Tapi Yah, Ibuk mana bisa tenang jika Lili belum pasti dimana keberadaan nya sekarang. Ibuk benar-benar sangat takut Yah" ucap Ibuk Ati dengan sangat sedih.


'Ya Tuhan, apa mungkin Ibuk kenapa-kenapa? Tidak biasanya beliau seperti ini. Semoga saja Ibuk tidak terjadi apa-apa padanya. Tuhan, diapers adalah orang baik dan jangan biarkan dia kenapa-kenapa. Jaga dia dan lindungi dia Tuhan' ucap bik Warsih yang mendengarkan pembicaraan kedua orang tua majikan nya itu.


Kembali lagi pada kedua orang tua Liana yang sedang menunggu kedatangan Liana yang sudah jam tiga pagi, tapi belum ada tanda-tanda jika Liana akan pulang. Bahkan keduanya tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun sampai pagi menjelang.


Saat keduanya akan keluar untuk mencari keberadaan Liana, tiba-tiba datang beberapa orang berseragam polisi menemui mereka berdua.


"Permisi Tuan dan Nyonya. Apa benar ini kediaman Nona Liana Marisa?" tanya salah seorang polisi tersebut.


"Benar Pak, ada apa ya? Kenapa anda semua mencari putri kami?" tanya Ibuk Ati yang sudah sangat khawatir dan juga sangat takut.


"Kami kemari untuk mengabarkan, jika putri anda berdua mengalami kecelakaan beruntun dan kami tidak bisa menemukan keberadaan nya. Kami hanya menemukan ini saja" jawab polisi tersebut yang menyerahkan tas bahu milik Liana dan didalamnya masih sangat lengkap.


"Astaga" ucap Ibuk Ati yang langsung tidak sadarkan diri saat mendengar dan melihat barang milik Liana padanya.


"Ibuk, Buk. Bangun Buk" ucap Ayah yang sigap memegang tubuh Ibuk Ati supaya tidak terjatuh dilantai.


Ibuk Ati dibantu untuk berbaring diatas sofa ruang tamu. Kedua polisi itu juga ikut duduk untuk membicarakan tentang kecelakaan yang terjadi pada Liana.


"Mobilnya ada yang menabraknya dari belakang hingga membentur mobil didepan nya. Dan mobilnya mengalami kerusakan parah, dan kami akan menyerahkan semua bukti yang ada pada anda. Mohon anda untuk bersabar menghadapi cobaan ini. Kami pihak kepolisian akan mencari korban hingga ditemukan, sebelum korban ditemukan kami harap anda mau untuk selalu melaporkan segala sesuatu tentang korban pada kami" jelas polisi yang mengatakan nya pada Ayah Jaya dan Ibuk Ati dengan panjang lebar.


"Tolong temukan putri kami dengan selamat Pak polisi, saya tidak ingin jika saya mendengar laporan jika putri kami tidak selamat. Tolong lakukan yang terbaik Pak, tolong temukan dia. Dia adalah putri kami satu-satunya, tolong segera temukan dia" ucap Ibuk Ati dengan suara yang bergetar karena menangis dan kondisinya juga sangat lemah.


"Kami akan melakukan yang terbaik Nyonya, Nyonya bersabarlah dan serahkan semuanya pada kami semua. Kami akan melakukan yang terbaik dan semampu kami sebagai pihak berwajib dinegara ini" jawab salah seorang polisi yang memang sangat ramah dan juga bijaksana.


Ayah Jaya dan Ibuk Ati hanya mengangguk dan mereka saling berpelukan saling menguatkan satu sama lain. Hingga keduanya polisi tersebut pamit undur diri pada Ayah Jaya dan Ibuk Ati.


"Jika begitu kami permisi Tuan dan Nyonya. Mobil korban akan kami antarkan jika sudah kami selidiki semuanya. Permisi" ucap polisi tersebut yang langsung pergi dari sana setelah mengatakan itu pada Ayah Jaya yang sedang membantu Ibuk Ati untuk bangun setelah sadar kembali.


"Buk, Ibuk baik-baik saja? Kita kekamar dulu Buk, Ibuk harus istirahat dulu dan jangan berfikiran macam-macam dulu. Kita pasti bisa menemukan Lili dengan selamat" ucap Ayah Jaya yang menenangkan Ibuk Ati.


"Bagaimana bisa Ibuk baik-baik saja Yah, Lili. Lili entah dimana sekarang" ucap Ibuk Ati dengan tangisnya yang begitu menyakitkan.


"Ayah tahu Buk, tapi kita harus kuat dan bisa melewati ujian ini dari Tuhan. Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk kita semua, terutama pada Lili. Ibuk harus percaya pada Tuhan dan kekuasaan nya" ucap Ayah yang menenangkan dan memberi semangat pada Ibuk Ati, istrinya.


"Baiklah Yah, Ibuk akan kuat demi putri kita" ucap Ibuk yang akhirnya mau mendengarkan apa yang Ayah Jaya katakan.


.


Saat semua orang sedang panik akan kondisi Liana, berbeda dengan Radit yang terlihat sangat bahagia dari biasanya. Membuat Tyas merasa heran dengan sikap Radit saat ini.


"Sayang, kamu sepertinya sangat bahagia. Ada apa?" tanya Tyas sangat penasaran dan juga sangat ingin mengetahui segalanya.


"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya sangat bahagia, karena aku sudah bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dari kamu sayang" jawab Radit yang mengedipkan sebelah matanya menggoda Tyas.


"Ah, kamu ini. Mentang-mentang selama beberapa minggu ini kamu berpuasa" ucap Tyas yang tersenyum sangat puas saat melihat Radit bisa senang bersama dengan dirinya.


"Kenapa sayang? Apa kau akan memberikan nya sekarang juga padaku?" tanya Radit sambil tersenyum dan memeluk pinggang Tyas dengan sangat erat.


"Kamu ini, jangan sekarang. Kita harus kekantor sekarang, apa lagi nanti sore kita harus kedokter untuk memeriksakan kandungan ku. Dan, Mama kamu meminta kita untuk datang kesana bukan?" ucap Tyas yang mengatakan nya dengan sinis saat membahas Mama mertuanya.


"Iya juga, aku sampe lupa. Kita berangkat sekarang sayang" ucap Radit yang mengulurkan tangan nya pada Tyas.


"Tentu saja sayang" ucap Tyas dengan senyuman mengembang dibibirnya.


Mereka berdua benar-benar bekerja dan sorenya mereka memeriksakan kandungan Tyas yang sudah memasuki bulan kelima. Mereka bisa melihat jika kondisi bayi mereka baik dan juga sehat, hingga selesai dan mereka menuju rumah Mama Hanum dengan membawakan makanan enak-enak untuk makan malam bersama.


"Malam Ma, ini kami bawakan makanan untuk kita makan malam bersama" ucap Tyas saat masuk kedalam rumah Mama mertuanya.


'Jika bukan karena aku sangat mencintai Radit, malas banget harus berpura-pura baik pada dua parasit ini' ucap Tyas dalam hati sambil tersenyum sangat cantik pada mereka semua.


"Malam sayang. Sampe repot-repot, padahal Mama sudah mempersiapkan masakan untuk kalian berdua yang akan datang disini" ucap Mama Hanum yang mengatakan nya dengan sangat lembut.


"Nggak repot kok Ma, malah Mama yang nggk perlu repot-repot menyiapkan semua ini untuk aku dan Radit. Iya kn sayang" ucap Tyas yang merangkul lengan Radit dan bermanja-manja padanya.


"Ya sudah sih, jika tidak repot segera siapkan makananya. Ini sudah waktunya makan malam bukan" ucap Rafika dengan sinis pada Tyas.


"Tentu saja kakak ipar" ucap Tyas yang mengepalkan tangan nya saat mengatakan itu pada Rafika.


'Jika tidak berada didepan Radit, akan ku sum pal mulutnya itu dengan sandalku ini. Berani-beraninya dia memerintahkan aku menyiapkan segalanya, Sedangkan dia malah enak-enakan hanya tinggal makan saja. Akan aku buat dia kapok' gerutu Tyas dalam hati saat menyiapkan makanan yang dia beli untuk semuanya orang yang ada disana.


'Kita lihat, bagaimana reaksinya saat memakan makanan yang sangat enak ini. Aku yakin, jika dia tidak pernah memakan makanan yang seperti ini' ucap Tyas dalam hati sambil memerikan sesuatu untuk makanan yang akan dimakan oleh Rafika.


"Sayang, Mama dan kakak ipar. Makanan sudah siap, kita makan bersama yuk" ucap Tyas dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Thank you sayang" ucap Radit yang mengatakan nya sambil tersenyum dan memeluk Tyas dengan sangat mesra.


"You're welcome sayang" ucap Tyas dengan senyuman dibibirnya.


"Kalian berdua bisa tidak sih tidak bucin-bucinan seperti itu" ucap Rafika dengan tatapan sinisnya pada kedua orang yang ada dihadapan nya.


"Makanya, jika punya suami itu harus bisa membuatnya puas. Bukan hanya untuk diperas semua uang dan tenaganya saja" gumam Tyas yang tidak bisa didengar oleh siapapun yang ada disana.


"Kamu ngomong sesuatu sayang?" tanya Radit yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Tyas.


"Tidak kenapa-kenapa sayang. Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya sedang memikirkan bagaimana jika kakak ipar memiliki suami lagi saja, supaya ada yang mengurus dan bisa menjaganya juga. Benarkan sayang?" jawab Tyas yang mengatakan nya dengan sangat antusias dan bersemangat.


"Eh, kamu fikir. Kamu ini siapa? Kenapa kamu yang malah mengatur-ngatur hidupku hah!" teriak Rafika yang tidak terima akan ucapan dari Tyas.


"Maaf kak, aku hanya ingin melihat kakak juga bahagia. Dan jika kakak mau, kakak bisa bekerja juga sangat memiliki kesibukan yang bermanfaat. Tidak suntuk dirumah dan hanya berdiam diri saja" ucap Tyas yang mengatakan nya dengan pelan tapi penuh sindiran.


"Apa yang kamu maksud. Kamu fikir aku ini pengangguran hah!! Aku disini juga sedang mencari kerja. Dan aku tidak pernah menyusahkan kamu bukan. Jadi, jangan sok jadi orang! Pelakor saja bangga" ucap Rafika yang malah mengata-ngatai Tyas dihadapan Radit dan Mama Hanum.


Tyas hanya diam dan mengepalkan kedua tangan nya saat mendengar ucapan sindiran sari Rafika. Dia sangat kesal dan dia menatap wajah Radit dan mengusap-ngusap perutnya. Yang dia perlihatkan pada Radit.


"Kakak ini ngomong apa sih? Sudahlah jangan dibahas, itu masalalu dan jangan membuat Tyas merasa tertekan" bukan Tyas yang mengatakan nya pada Rafika. Melainkan Radit yang menegur kakaknya sendiri.


"Makanya, kamu didik istri kamu ini Dit. Punya mulut nggak dijaga ucapan nya itu" jawab Rafika yang mengatakan nya dengan kekesalan nya.


"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi berdebat sih... Mama ini kapan makan nya jika kalian bertiga berdebat terus. Kamu juga Rafika, kamu tidak malu pada anak-anak kamu yang melihat kalian bertiga berdebat tidak jelas? Sekarang makan dan diam saja" ucap Mama Hanum yang melerai mereka. Lebih tepatnya dia ingin menjilat pada Tyas, supaya dia bisa meminta apa saja padanya.


"Maaf Ma, aku hanya tidak habis fikir saja dengan ucapan yang kak Rafika katakan padaku. Aku hanya memberikan solusi padanya, malah seperti ini jawaban nya. Padahal aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya" ucap Tyas yang mengatakan nya sambil menunduk dan dia yakin jika Mama mertuanya itu akan membelanya.


Benar saja, apa yang diinginkan oleh Tyas terwujud. Jika Mama mertuanya ini akan membelanya, baik itu kata-katanya maupun keinginan nya. Bahkan Radit sampai bingung akan sikap Mama nya ini.