
Alfred segera pulang setelah bertemu dengan klien nya itu. Dia malah menuju pent house miliknya, dia ingin melihat bagaimana keadaan Liana dan itu selalu mengusik fikiran dan hatinya.
"Kenapa semua lampu mati? Apa terjadi pemadaman listrik? Tapi tadi baik-baik saja" gumam Alfred yang heran dan segera mencari tombol lampu didalam pent house miliknya.
Saat menyala, betapa terkejutnya Alfred melihat Liana sudah terbaring lemah dengan darah yang mengalir dipergelangan tangan nya sangat banyak sekali.
"Kenapa kamu melakukan seperti ini?" tanya Alfred yang segera membawa Liana menuju rumah sakit yang tepat berada disebelah gedung apartment tempat tinggal Alfred.
"Bertahanlah, jangan seperti ini Lisha" ucap Alfred yang sangat panik dan segera masuk kedalam ruangan UGD saat sudah masuk kedalam rumah sakit.
"Tuan Muda, sebaiknya anda tunggu diluar saja" ucap perawat menahan Alfred yang akan masuk kedalam ruangan UGD.
Alfred tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam dan wajahnya yang dingin juga datar berdiri dihadapan ruangan UGD untuk menunggu Liana dip^riksa oleh dokter.
Setelah menunggu beberapa saat, dokter keluar dengan Liana yang juga dibawa keluar menggunakan brangkar. Alfred mengikutinya dan mereka berada didalam ruangan perawatan.
Setelah semuanya selesai dan Liana sudah mendapatkan penanganan tepat waktu dan juga dengan sangat baik dari dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Alfred mentap kearah Liana yang masih belum sadarkan diri.
"Untung saja anda membawa pasien tepat waktu Tuan Muda, sehingga kondisinya tidak terlalu >arah dan berakibat fatal dengan nyawanya. Tapi pasien harus banyak istirahat dulu untuk memulihkan kondisinya" jawab dokter tersebut yang takut menatap kearah Alfred yang menatapnya dingin dan tajam.
"Kau boleh keluar sekarang" ucap Alfred yang mengusir dokter yang memeriksa Danu menangani Liana.
"Baik Tuan Muda. Saya permisi" ucap dokter tersebut yang segera pergi sebelum mendapatkan amarah dari Alfred.
'Aneh sekali Tuan Muda ini. Sudah tahu wanita ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), tapi malah mendapatkan perhatian dan perlakuan seperti orang waras saja. Kenapa tidak ditempatkan didalam rumah sakit jiwa' ucapnya dalam hati yang membuat Alfred merasa jika dokter tersebut sedang mengumpatnya.
"Tunggu" ucap Alfred saat dokter tersebut akan memegang handel pintu.
"Iya Tuan Muda" jawabnya dengan gugup dan keringat dingin dikeningnya hingga menetes.
"Mulai saat ini kau sudah tidak perlu datang kemari lagi. Karena kau dipecat" ucap Alfred yang mengatakan nya tanpa menatap kearah dokter yang berdiri mematung saat mendengar jika dia dipecat secara tidak hormat.
"M... Maksud a... Anda apa Tuan Muda? Saya tidak mengerti?" tanya dokter tersebut yang bertanya dengan gugup pada Alfred.
"Apa ucapan saya belum jelas?" Alfred balik bertanya dan menatap kearah dokter yang semakin ketakutan saat melihat aura membunuh dari Alfred.
"Maaf, Tuan Muda. T... Tapi, kesalah saya apa? K... Kenapa saya dipecat?" tanya dokter tersebut yang menunduk sangat ketakutan.
"Kau keluar dan dipecat saja. Atau kau mau saya memblack list namamu sebagai dokter dari berbagai rumah sakit dinegara ini?" ucap Alfred tanpa ekspresi apapun diwajahnya saat mengatakan itu pada dokter yang menjabat sebagai direktur rumah sakit tersebut.
"T... Tapi, Tuan Muda" ucapnya yang tidak jadi melanjutkan ucapan nya lagi karena melihat tatapan mengerikan dari Alfred padanya.
"Baik Tuan Muda, lebih baik saya dipecat saja. Saya permisi sekarang" ucap dokter tersebut yang sudah sangat lemas saat dia mendengar jika dia dipecat karena mengumpatinya dalam hati.
"Tunggu. Saya berubah fikiran, jika kau akan diblack list dari ikatan dokter dinegara ini" ucap Alfred yang membuat dokter tersebut seperti tidak menginjak tanah.
Perasaan nya sangat hancur sekarang. Dia akan bekerja sebagai apa? Hanya itu keahlian nya selama ini. Apa lagi dirumah sakit ini adalah bayaran paling mahal dari pada rumah sakit lainnya. Dia hanya menunduk lemas dan segera pergi dari sana.
Sedangkan Alfred hanya diam dan menatap kearah Liana yang tertidur sangat nyenyak sekali. Dia meminta perawat yang menjaga Liana datang untuk msnjaga Liana sekarang. Karena dia akan pergi kesuatu tempat dulu.
"Kau jaga dia dengan baik. Jika sampai dia kenapa-kenapa, kau yang akan menanggung akibatnya" ucap Alfred yang mengatakan nya penuh dengan ancaman nya.
"Baik Tuan Muda" jawabnya mengangguk mantap pada Alfred.
Alfred langsung pergi dari sana dan entah kemana saat ini. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh hingga dia sudah sampai didepan sebuah rumah sederhana dan tidak lain adalah rumah Liana. Yang ditempati oleh kedua orang tua Liana.
Dia hanya menatapinya saja dari jauh, dan terlihat sangat berantakan dari luar. Mungkin saja penghuninya sudah tidak ada lagi, Alfred hanya menatap dan melihat tidak adanya kehidupan didalam rumah tersebut.
Saat dia sedang memperhatikan rumah tersebut adalah yang mencurigainya. Karena mobilnya berhenti cukup lama didepan rumah Liana yang memang sudah tidak ada siapa-siapa didalamnya.
Alfred segera mengemudikan mobilnya kembali setelah melihat ada beberapa orang yang berjalan mendekat kearah mobilnya. Alfred hanya diam saja dan dia kembali kedalam pent house miliknya. Dia ingin berisatirahat dulu sebelum bertemu dengan Liana.
"Saya minta petugas kebersihan datang sekarang juga" ucap Alfred pada resepsionis tersebut menggunakan telpon didalam pent house nya untuk meminta sesuatu pada mereka.
Setelah selesai memerintahkan petugas kebersihan. Alfred langsung masuk kedalam kamarnya dan segera istirahat. Dia merasa jari ini sangat melelahkan.
.
Sedangkan didalam rumah sakit Liana sudah sadar dan walau sadar. Tapi jiwanya belum sadar, mungkin memang jiwanya terganggu sangat berat. Sehingga alam bawah sadarnya mengatakan untuk tetap diam dan seperti orang tidak waras.
"Nona, sebaiknya anda makan dulu. Saya tidak mungkin jika anda tidak makan, nanti yang ada Tuan akan memarahi saya" ucap perawat tersebut menyuapi Liana yang hanya diam saja.
"Buka mulutnya Nona, a" ucap perawat tersebut yang menyodorkan satu sendok makanan pada Liana.
Liana hanya diam dan menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh perawat tersebut. Perawat tersebut bersyukur, selama dia bekerja dengan Alfred menjaga Liana. Liana selalu bersikap baik dan tidak pernah macam-macam.
Kejadian seperti ini untungnya saat dia sedang libur, jika tidak sudah dipastikan jika bukan hanya pecatan saja yang dia terima. Mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan selamanya.
"Alhamdulilah, Nona sudah menghabisakan makanan nya. Sekarang Nona minum obatnya ya" ucapnya yang memberikan obat tersebut pada Liana.
Liana hanya menerima dan meminum apa yang diberikan oleh perawat tersebut padanya. Lalu dia terlelap kembali setelah minum obatnya.
.
"Buk, semoga Tuhan Ibuk menerima anda disisinya. Amiin" gumam Dini sekarang dia yang naik jabatan setelah Liana tidak ada.
Bahkan dia sudah bisa melakukan nya sendiri. Dengan melanjutkan pekerjaan Liana yang memang akan selesai. Bahkan ada orang yang mengatakan jika ini mungkin saja ulahnya yang paling diuntungkan karena keadaan ini.
Hingga Alfian yang memang sesekali datang merasa kasihan pada gadis yang selalu dipojokan itu oleh kariawan yang lain. Bahkan tidak ada yang menghormatinya sebagai direktur keuangan yang baru.
"Apa kamu baik-baik saja Nona Dini?" tanya Alfian yang mengulurkan saputangan nya pada Dini yang diam-diam menangis.
"Terimakasih Pak, maaf. Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Dini yang bertanya pada Alfian yang sudah duduk dihadapan nya saat ini.
"Tidak ada, saya hanya ingin melihat situasi kantor sepelah kepergian saya dari sini" jawab Alfian dengan tatapan teduhnya dan dia memang selalu murah senyum.
"Oh, baiklah Pak jika begitu. Saya akan kekantin sekarang" ucap Dini yang akan beranjak dari duduknya.
"Oh iya Pak. Besok akan saya kembalikan saputangan ini pada anda setelah saya mencucinya" ucap Dini yang memegang saputangan miliknya Alfian.
"Tidak masalah, kamu simpan saja. Belum tentu saya akan datang kemari lagi. Saya sebenarnya sedang mencari Tuan Muda, tapi kata sekertarisnya sedang keluar jika jam makan siang seperti ini. Makanya saya kemari untuk melihat keadaan bagian keuangan disini" ucap Alfian yang mengatakan nya panjang lebar pada Dini.
"Baiklah Pak, nanti jika bertemu akan saya kembalikan langsung pada anda" jawab Dini yang mengangguk dan memasukan saputangan tersebut kedalam tas slempang miliknya.
"Oke, apa kamu mau menemani saya makan siang? Saya bosan dan jenuh jika makan hanya sendiran saja" ucap Alfian mengatakan ingin ditemani oleh Dini.
"Maaf Pak, bukan bermaksud untuk menolak keinginan anda Pak. Saya tidak bisa menerima tawaran anda. Karena saya membawa bekal dari Mama saya dirumah" ucap Dini yang menolak ajakan dari Alfian.
"Baiklah, jika anda tidak bisa Nona Dini. Saya permisi" ucap Alfian pada Dini dengan semangat lesu dan dia sepertinya memiliki rasa pada Dini. Wanita cantik dan juga sangat manis itu.
.
Berbeda dari Dini dan Alfian yang sedang mencoba mendekati Dini. Radit dan Tyas sedang bersama didalam rumah Mama Hanum yang entah kenapa selalu menurut pada ucapan dari Tyas. Membuat Rafika sangat kesal akan sikap Mama Hanum itu pada Tyas.
"Kenapa diam saja? Apa kamu akan marah padaku, karena aku mendapatkan kasih sayang dari Mama, hmm?" tanya Tyas dengan senyuman sinis dibibirnya pada Rafika.
"Diam dan tutup mulut. Aku tidak sudi jika berdebat dan berebut Mama dengan kamu, nggak level ya" ucap Rafika dengan tatapan sinisnya dan itu membuat keduanya semakin jauh dan sulit untuk menjangkau.
"Jangan pernah menjelek-jelekan aku didepan Mama. Jika sampai aku tahu, kamu pelakunya. Aku tidak akan segan-segan membuat hidup kamu menderita" lanjutnya yang menunjuk wajah Tyas dengan ancaman nya.
"Oh ya? Aku aku takut sekali" ucap Tyas yang malah meledek Rafika dengan ekspresi ketakutan nya tapi malah tersenyum sinis pada Rafika.
"Awas kamu!" ucap Rafika yang langsung pergi dari hadapan Tyas yang masih tersenyum penuh kemenangan.
"Ingin macam-macam dengan ku? Tentu saja tidak akan bisa melaukan itu. Karena rumah ini adalah milik ku sekarang. Jika mereka macam-macam, maka sudah dipastikan jika mereka akan jadi gelandangan dipinggir jalan" gumam Tyas dengan tersenyum sangat bahagia.
"Oh, senangnya. Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini. Dengan begitu, aku bisa menguasai segalanya yang aku inginkan. Apa lagi Radit yang memang sangat mencintai ku" gumamnya lagi sambil terus menatap foto pernihakan nya yang dipajang disana.
"Liana juga sudah mati tanpa aku menyingkirkan nya. Sekarang hanya akan ada kebahagiaan yang aku alami nantinya" gumamnya yang beranjak dari duduknya menuju kamarnya yang mana sudah ada Radit menunggunya.
"Sayang, kamu dari mana saja sih? Kenapa lama sekali diluarnya?" tanya Radit yang ternyata sudah rodanya menggunakan apa-apa lagi itu mendekat kearah Tyas.
"Aku sedang menikmati udara segar diluar. Kenapa kamu terlalu terburu-buru sayang? Kamu tidak sabaran banget sih" jawab Tyas yang juga langsung membuka seluruh pakaian nya hingga berceceran dilantai kamar.
"Lakukan perlahan sayang. Kasihan baby akan terguncang nantinya" ucap Tyas dengan tatapan yang begitu menggoda lada Radit.
"Dengan senang hati sayang. Baby, Papa akan menjengukmu lagi" ucap Radit yang mengusap permukaan perut Tyas dengan sangat lembut dan melakukan sesuatu yang membuat gairraah Tyas naik dan dirinya juga sama dengan Tyas.
"Uh, sayang perlahan. Kasihan baby" ucap Tyas yang mengerang penuh kenikmatan saat dia berada dibawah kungkungan Radit.
"Ini juga perlahan sayang. Karena kamu sangat nikmat, membuat aku selalu lupa diri jika didalam sini ada cinta kita" jawab Radit yang mengusap perut buncit Tyas yang sudah sangat terlihat.
Saat sedang memacu dirinya, didalam perut Tyas bayinya juga merespon dengan bergerak-gerak dengan sangat aktif sekali.
"Sayang...." teriak Radit yang mencabut penyatuan nya dan tidak mengeluarkan susu kental manis pada lembah yang sudah sangat basah itu.
"Terimakasih sayang" ucap Radit yang dijawab anggukan kepala oleh Tyas. Setelah mereka berdua melakukan itu langsung tertidur.
Sedangkan didalam kamar lain, Mama Hanum dan Rafika sedang duduk berdua dan membicarakan Tyas yang sangat berani padanya.
"Ma, kenapa sih Mama selalu diam saja dan malah membela wanita nggak bener itu?" tanya Rafika yang mengatakan nya sambil menahan amarahnya yang akan meluap.
"Mama juga terpaksa Fika, kamu tahu sendiri bukan. Jika Mama sudah menggadaikan rumah ini pada bank, dan Mama tidak bisa membayarnya. Karena Radit tidak pernah memberi uang setelah dia menikah dengan nya. Dan saat pegawai bank akan menyegel rumah ini. Wanita itu datang untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Dan Mama tidak berfikir lagi saat sudah bisa lepas dari hutang. Eh, malah seperti ini" jelas Mama Hanum yang menyesal juga akan tindakan nya saat itu.
"Jadi rumah ini adalah miliknya? Dan kita yang numpang disini?" tanya Rafika yang dijawab anggukan kepala oleh Mama Hanum.
"Oh My God. Mama, apa Mama sadar dengan yang Mama lakukan sekarang? Dia sudah semakin semena-mena pada kita. Apa lagi aku belum mendapatkan pekerjaan. Mau bagaimana Ma?" tanya Rafika yang menghela nafasnya kasar dan dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi akan keadaan nya sekarang.
"Mama juga menyesal Fika, dia ini memang sangat kejam dan tidak pantas sekali. Sangat jauh berbeda dari Liana, dia gadis yang sangat baik dan juga tidak pernah bersikap kurang ajar pada kita. Terutama pada Mama" ucap Mama Hanum yang membandingkan Tyas dengan Liana. Ada rasa penyesalan didalam hati Mama Hanum atas apa yang sudah dia lakukan pada Liana.
"Sudahalah Ma, jangan membahas dia. Dia sudah tidak ada lagi, bahkan sekarang kedua orang tuanya saja sudah pindah setelah mereka menemukan ja*ad seorang wanita yang ciri-cirinya sama dengan Liana. Jadi jangan pernah mengatakan ini lagi Ma, apa Mama menginginginkan jika istri Radit yang sekarang malah mendengar dan akan melakukan apa-apa pada kita Ma? Tidak mau bukan? Jadi lebih baik kita tidur saja Ma, mungkin besok pagi akan ada drama lagi" ucap Rafika yang mengatakan nya dengan sangat lelah dan juga menyesal pada Liana. Sama seperti Mama Hanum yang suka bersikap kasar pada Liana.
"Iya Fika, Mama juga sudah sangat lelah sekali" jawab Mama Hanum yang mencoba untuk memejamkan matanya saja. Karena mereka memang sangat kelelahan dan juga sudah larut malam. Mereka berdua langsung terlelap dengan cepat dan sangat nyenyak sekali.