
"Mana ada dia yang mengatakan nya. Auntie Fe yang mengatakan nya dan beliau menceritakan nya padaku juga keluarga. Makanya aku tahu" jawab Alfian yang diangguki oleh Alisha.
"Oh iya Nona, sebaiknya jangan terlalu formal berbicara dengan ku. Aku adalah adik sepupu Alfred, dan anda bisa memanggil saya Fian tau Alfian. Terserah anda, dan yang ada disamping ku ini adalah teman ku, namanya Dini" ucap Alfian yang memperkenalkan dirinya dan juga Dini yang hanya tersenyum canggung dan mengangguk.
"Oh, senang berkenalan dengan kalian berdua. Terimakasih sudah mau direpotkan oleh kami" ucap Alisha yang tersenyum dan merangkul lengan Alfred, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Alfred.
"Tentu saja" jawab Alfian mengangguk dan melirik sekilas pada Dini yang hanya diam saja sejak tadi.
'Kenapa dia hanya diam saja? Apa dia sedang sakit gigi?' gumam Alfian dalam hatinya dan dia melihat sekilas pada Dini.
'Aduh, kenapa aku harus berada dalam satu mobil dengan kedua Bos besar ini? Bisa mati gaya aku disini terus' gumam Dini dalam hati dan itu tidak luput dari pandangan Alfred yang menatap kearah keduanya.
"Jika kalian berdua memiliki perasaan sebaiknya katakan satu sama lain" ucap Alisha yang memejamkan matanya saat dia mengatakan nya pada Alfian dan Dini yang hanya bisa melongo, mendengar perkataan dari Alisha pada mereka berdua.
"Apa?! Kami tidak memiliki hubungan apa-apa dengan nya Nona, anda salah faham" ucap Dini gelagapan saat mengatakan nya pada Alisha.
"Saya tidak mengatakan kalian memiliki hubungan? Saya hanya mengatakan jika kalian memiliki perasaan, sebaiknya ungkapkan satu sama lain" ucap Alisha yang membuat Alfred memeluk Alisha dengan mesra dan mengusap pucuk kepalanya.
Sedangkan Dini yang saalah mengatakan sesuatu pada Alisha hanya menunduk malu dan menggigit bibir bawahnya merasa malu akan ucapan nya sendiri. Sedangkan alfian menghela nafasnya berulangkali sambil terus menatap kedelapan.
"Kamu nakal juga Dear" bisik Alfred yang sedikit menarik sudut bibirnya tipis saat mengatakan itu pada Alisha.
Sedangkan Alisha hanya tersenyum saja melihat tingkah dua orang didepan nya, dan dia melirik kearah Alfred yang tersenyum tipis padanya.
"Aku tidak nakal sayang, aku hanya ingin jika mereka saling terbuka saja akan perasaan nya masing-masing" jawab Alisha yang membalas pelukan Alfred dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alfred.
"Kamu memang tidak nakal Dear. Hanya sangat berani" ucap Alfred yang malah mempererat pelukan nya pada Alisha.
"Kau dengarkan apa yang dikatakan olehnya. Dan seharusnya kau berterimakasih padanya" ucap Alfred yang mengatakan nya dengan sangat datarnya pada Alfian. Dia sengaja menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Dini.
"Aku sudah mengatakan nya berulangkali padanya AL, tapi dia tidak pernah menjawabnya sama sekali. Yang ada selalu mengalihakan pembicaraan" jawab Alfian sambil menghela nafasnya sambil melirik Dini yang hanya diam saja.
"Kau harus berusaha lebih keras lagi. Bila perlu kau datangi keluarganya dan Lamar dia dihadapan mereka. Aku yakin jika dia akan menerima mu" ucap Alfred yang membuat Alisha hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar dua pria ini berkomunikasi menggunakan bahasa yang dia gunakan setiap hari di Jerman.
'Mereka ini menggunakan bahasa apa? Kenapa sangat aneh? Jika inggris, aku sedikit mengerti. Lah ini bahasa apa?' ucap Dini dalam hati sambil mengusap-ngusap keningnya sendiri dengan bingungnya.
"Kalian berhentilah membuatnya bingung" ucap Alisha yang duduk kembali dengan tegap dan menatap Alfred dan Alfian bergantian.
"Aku hanya mengatakan nya supaya dia lebih berani dan berusaha untuk membuatnya mau menerimanya dengan sepenuh hatinya. Itu saja Dear" jawab Alfred yang kembali menyandarkan kepala Alisha pada bahunya.
"Aku akan berusaha untuk meyakinkan nya kakak ipar. Bahkan jika tidak keberatan aku ingin meminta bantuan padamu" ucap Alfian yang mendapatkan pukulan dikepalanya, siapa lagi pelakunya jika bukan Alfred. Sepupunya sendiri.
"Sayang, jangan seperti itu" ucap Alisha yang mengatakan nya saat Alfred memukul Alfian.
"Katakanlah, apa yang kau inginkan dari saya? Jika yang sulit, maka saya akan langsung menyerah saja. Kau bisa melihatnya sendiri bukan? Jika sepupu mu ini sedang tidak baik-baik saja" tanya Alisha pada Alfian yang mengangguk saat melihat kearah Alfred lewat kaca didepan nya.
"Benar juga. Aku hanya meminta bantuan, untuk membuat dia yakin jika aku ini benar-benar tulus dan tidak main-main dengan keputusan dan perasaanku ini" ucap Alfian yang menghentikan mobilnya saat sudah sampai didepan loby apartment milik Alfred.
"Jika nanti ada waktu ajak saja untuk menemuiku, aku akan mencoba berbicara dengan nya. Dan terimakasih sudah mengantarkan kami" ucap Alisha yang segera turun setelah mengatakan itu pada Alfian.
"Sama-sama" ucap Alfian yang tersenyum dan mendapatkan tatapan tajam dari Alfred.
"Sudahlah sayang, dia hnya meminta bantuan untuk bisa membuat wanita itu mengerti dengan perasaan nya yang tulus. Aku juga bisa melihat, jika wanita itu masih sangat polos dan tidak mengerti akan itu semua" ucap Alisha yang menggandeng mersa lengan Alfred masuk kedalam bangunan apartment mewah itu.
"Baiklah Dear, tapi kamu jangan pernah dekat-dekat dengan Alfian" ucap Alfred yang mengatakan nya sambil menghela nafasnya.
"Uuhh, posesifnya... Tunangan siapa sih ini" ucap Alisha yang malah menggoda Alfred. Hingga mereka disambut oleh bodyguard dan disapa oleh resepsionis yang sudah sangat lama bekerja disana.
Sedangkan didalam mobil Alfian masih diam saja. Dan Dini ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu untuk mengatakan nya pada Alfian.
"Jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja. Jangan membuat kamu pusing sendiri, karena tidak mau bertanya" ucap Alfian yang sepertinya mengetahui, jika Dini ingin bertanya padanya.
"Aku, aku hanya bingung dengan yang kalian bicarakan tadi. Sebenarnya ingin bertanya sejak tadi, tapi ragu dan takutanya malah membuat kalian tidak nyaman oleh pertanyaan ku" ucap Dini yang menunduk mengatakan nya.
"Kenapa begitu? Jika kamu tidak mengerti sebaiknya tanyakan. Kenapa musti ragu?" tanya Alfian yang ternyata sudah berada didepan rumah Dini.
Lalu Alfian menatap Dini dengan sangat lekat. Membuat Dini salah tingkah dibuatnya, bagaimana tidak salah tingkah. Ditatap oleh pria tampan dan juga baik dimatanya.
"Kenapa diam saja? Apa ada yang salah?" tanya Alfian yang menatap wajah Dini dengan sangat dekat.
"Anda mau apa Mas? Aku... Aku tidak kenapa-kenapa" ucap Dini gelagapan saat ditatap dengan sangat dekat oleh Alfian.
"Aku hanya membuka ini saja. Kita sudah sampai didepan rumah kamu" ucap Alfian yang menunjuk kearah rumah sederhana menggunakan kepalanya.
"Bagaimana aku tidak menyukainya. Dia itu bengitu menggemaskan dan juga sangat lucu" gumam Alfian yang segera mengemudikan mobilnya menjauh dari depan rumah Dini.
"Ya Allah, kenapa aku begitu tegang dan juga sangat deg-degan sekali? Aku tidak tahu jika dia akan berfikiran macam-macam tentang aku ini" gumam Dini yang mengintip melalui jendela melihat mobil Alfian yang menjauh. Dini segera masuk kedalam kamarnya dan dia istirahat.
.
Didalam pent house sepasang kekasih itu sedang menghabiskan waktunya bersama dengan berenang menghilangkan lelah karena berada didalam pesawat selama belasan jam.
"Dear, besok aku harus kekantor. Apa kamu mau ikut?" tanya Alfred yang menatap kearah Alisha yang sedang menatapnya juga.
"Boleh juga, tapi setelah itu. Antarkan aku untuk berkeliling negara ini, aku ingin tahu tempat-tempat yang bagus dan juga tenang pastinya" jawab Alisha yang mengatakan nya sambil tersenyum dan dia kembali berenang, diikuti oleh Alfred yang juga menyukai berenang bersama seperti ini.
Mereka berenang dengan sangat semangat. Bahkan mereka hingga lupa waktu. Karena keasikan berenang bersama.
"Dear, sudah lama kita berenangnya. Kita sudahan saja dulu" ucap Alfred yang mengajak Alisha untuk berhenti berenang. Karena cacing-cacing dalam perutnya ingin diisi makanan.
"Oh, baiklah. Apa sudah memesan makanan? Jika belum aku ingin memasak untuk kamu sayang" tanya Alisha yang segera menggunakan bathrobe nya dan melepasakan bikuni nya.
"Tidak perlu memasaknya untuk ku Dear. Aku sudah menyiapkan nya untuk kita makan malam berdua. Jadi bersiaplah dengan sangat cantik untuk malam kita berdua" ucap Alfred yang diangguki oleh Alisha.
"Dengan senang hati aku akan bersiap sayang" ucap Alisha yang mengedipkan sebelah matanya menggoda Alfred.
"Kau menggodaku Dear?" tanya Alfred yang mengejar Alisha masuk kedalam kamar.
"Tidak, aku tidak menggoda mu sayang. Aku akan segera bersiap dan kamu juga" ucap Alisha yang mengusap rahang tegas Alfred. Membuat Alfred memejamkan matanya dan menahan sesuatu yang sudah meronta ingin dilepaskan dari sarangnya.
"****!! Kenapa dia begitu menggemaskan seperti itu? Jika begini terus, aku tidak akan kuat berdekatan dengan nya terus menerus" gumam Alfred pada dirinya sendiri dengan menghela nafasnya berkali-kali.
"Huh, aku harus mengatakan ini pada Mommy dan Daddy, aku tidak akan menunggu lagi untuk waktu yang lama. Aku akan segera menikahinya secepatnya" gumamnya lagi yang segera menggunakan pakaian nya untuk mengajak Alisha makan malam romantis.
"Apa sudah siap Dear?" tanya Alfred yang melihat Alisha sudah sangat cantik degan gaun malam yang menjuntai panjang dan belahan disamping hingga kepahanya.
"Tentu saja aku sudah siap sayang. Apa aku begitu mempesona? Sehingga membuat Tuan Muda Harrison?" tanya Alisha yang menatap wajah Alfred dengan tatapan menggodanya.
"Jangan menggodaku Dear. Aku tidak akan pernah bisa menahan diri jika terus kamu goda seperti ini" ucap Alfred yang mendekatkan tubuh Alisha pada tubuhnya dan menekankan pinggang Alisha padanya hingga mereka berdua berbenturan dan tidak ada jarak lagi diantara keduanya.
"Dengan senang hati jika tunangan ku ini tidak bisa menahan dirinya lagi" ucap Alisha yang malah mengalungkan tangan nya dileher kokoh Alfred dan mengecup bibir Alfred sekilas.
"Jangan salahkan aku, jika aku akan mengurung mu didalam kamar semalaman dan membuat mu berteriak hingga pagi" ucap Alfred yang mengusap pipi Alisha dengan sangat sensual.
"Jadi, kita akan seperti ini hingga pagi? Atau akan mengajak ku makan malam?" tanya Alisha yang menyadarkan Alfred untuk segera pergi makan malam.
"Oke Dear, kita akan dinner malam ini. Semoga saja kamu akan menyukainya, karena ini akan menjadi malam yang paling istimewa dan tidak akan bisa dilupakan seumur hidup" ucap Alfred yang mengajak Alisha untuk keluar dari kamarnya dan ternyata makan malam tersebut masih didalam pent house.
Tapi salah satu ruangan tersebut sudah dihias dan menggunakan dekorasi sangat bagus dan juga sangat romantis. Alisha sangat mengagumi ini semua dan dia juga sangat bahagia bisa memiliki pria baik dan juga selalu menjaganya sejak awal. Apa lagi dia memiliki masalah kesehatan jiwa sebelumnya. Tapi dengan kesungguhan dan juga dukungan serta kasih sayang dan cinta darinya membuat Alisha bisa sembuh total dan tidak akan mengalami kejadian itu lagi.
"Apa kamu menyukainya Dear? Aku sengaja menyiapkan semua ini untuk kita berdua. Terlebih untuk kamu" tanya Alfred yang menatap Alisha dengan lekat dan memintanya untuk duduk, setelah dia menarik kursinya.
"Thank you sayang, aku sangat menyukainya dan sangat-sangat bahagia tentunya" ucap Alisha yang duduk dikursi yang ditarik oleh Alfred.
"Jika kamu menyukainya, apa kamu mau menerima ku? Will you marry me Dear?" ucap Alfred yang memberikan sebuah cincin yang sangat bagus dan juga sangat indah jika dia yang menggunakan nya.
"Yes, i want to merry you" jawab Alisha yang memberikan tangan kanan nya untuk Alfred menyematkan cincin dijari manisnya.
"Thank you Dear. Kita akan menikah secepatnya dan akan melakukan nya dengan sangat meriah untuk pesta pernikahan kita berdua" ucap Alfred pada Alisha.
"Benarkah? Kenapa secepat itu? Apa aku sudah siap dan bisa menjadi seorang istri yang baik untuk kamu? Aku... Aku takut akan menjadi beban dalam hidup kamu nantinya, bagaimana... Bagaimana, jika aku bukan Ibu yang baik untuk anak-anak kita nantinya, bagaimana jika aku menyusahkan kamu, bagaimana..." ucapan nya disela oleh Alfred karena dia terlalu memikirkan yang tidak-tidak dan belum tentu itu semua terjadi.
"Sstttt... Jangan pernah mengatakan yang tidak-tidak dulu. Kamu harus optimis dan jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Selama ini aku bersama dengan kamu, menunggu kamu untuk sampai dititik ini. Dan akan aku menikahi kamu secepatnya, sekarang yang harus kamu fikirkan hanya masadepan kita dan kebahagiaan kita saja, oke" ucap Alfred yang menggenggam tangan Alisha.
"Ingat satu hal Dear, kamu sama sekali bukan beban dan bukan masalah untuk aku dan anak-anak kita. Kamu adalah Ibu yang baik dan sangat pengertian, jadi jangan berfikiran yang tidak-tidak dan yang belum terjadi juga belum pasti" ucap Alfred yang terus menenangkan Alisha menjadi lebih baik dan lebih tenang.
"Akan aku coba, aku akan menjadi lebih baik dan tidak akan memikirkan yang tidak-tidak seperti yang kamu katakan sayang. Akan mencoba lebih baik dan akan selalu mendengarkan apa yang kamu katakan, untuk kebaikan aku sendiri dan keluarga kita kelak" ucap Alisha yang tersenyum saat mengatakan nya pada Alfred.
"Itu lebih baik, karena aku akan mengurus semuanya untukmu pernikahan kita. Jadi bersiaplah untuk menerima semua perlakuan baik darikusampai selama-lamanya" ucap Alfred yang mengatakan nya sambil memeluk bahu Alisha yang masih duduk dikursinya.
Mereka berdua makan malam sangat romantis. Bahkan keduanya saling menyuapi satu sama lain dan saling mengatakan kata-kata manisnya. Hingga semuanya selesai dan mereka berdua sedang berdansa dengan diiringi musik yang sangat romantis juga mendayu-dayu diindra pendengaran mereka berdua.
Alisha menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alfred, Alfred memeluknya dengan erat dan mereka menghabiskan waktu berdua dengan sangat romantis dan juga membuat keduanya semakin dekat dan tidak bisa terpisahka satu sama lain.