
"Bagaimana keadaan nya dok? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia terlihat pucat sekali?" tanya Alisha yang sudah sangat panik melihat kondisi Alfred sekarang.
"Dia kehilangan banyak cairan dan juga jarang makan, makanya kondisinya sangat lemah seperti ini. Ini saya berikan resep obat dan vitamin, segera tebus dan jangan lupa untuk makan dulu sebelum meminum obatnya. Saya akan pasangkan infus supaya bisa cepat pemulihan nya" jelas dokter yang memeriksa kondisi Alfred dan dia segera membereskan barang-barangnya lalu pamit pada Alisha.
"Kau ini keterlaluan sekali. Apa maksudmu tidak permak makan dan menyiksa diri kamu sendiri? Apa yang ingin kamu buktikan?" tanya Alisha yang menatap wajah Alfred yang mulai sedikit segar setelah mendapatkan infusan.
"Aku akan segera kembali" ucap Alisha lagi yang akan beranjak pergi, tapi ditahan oleh Alfred yang sudah membuaka matanya.
"Jangan pergi lagi, please jangan tinggalkan aku sendiri lagi" ucapnya dengan suara yang lemah dan sedikit tidak jelas.
"Aku akan meminta security untuk menebus obat kamu dulu, aku tidak akan kemana-mana" jawab Alisha dengan judes dan tatapan penuh kesedihan pada Alfred.
"Lepaskan, kenapa tidak mau melepasakan nya?" tanya Alisha lagi menatap tangan nya yang digenggam oleh Alfred.
"Baiklah, aku akan diam disini dan memiarkan mu kelaparan" ucap Alisha yang mengalihakan pandangan nya dari Alfred. Dia malah menagis dan membuat Alfred semakin merasa bersalah padanya.
"Jangan menangis" ucap Alfred yang bangun dan duduk, lalu memeluk Alisha dari belakang dan menaruh dagunya pada bahu Alisha.
"Aku, aku tidak menangis" jawab Alisha yang segera mengusap air matanya menggunakan tangan nya yang tidak dipegang oleh Alfred.
"Maaf, mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk semua dosa yang pernah aku lakukan padamu. Aku memang pantas mendapatkan kemarahan bahkan kebencian darimu. Tapi tolong, izinkan aku untuk menebusnya, aku tidak masalah jika kamu membenciku, memukulku bahkan mengutuk ku. Asalkan izinkan aku bisa dekat dengan kalian bertiga dan menggantikan waktu yang telah lama terbuang" ucap Alfred yang mengatakan nya sambil menangis dan memeluk leher Alisha dari belakang dengan sangat mesra dan lembut.
"Aku tidak bisa melakukan itu semua, karena aku bukan kamu yang meragukan ku sebelumnya" ucap Alisha yang mengatakan nya sambil terisak dan dia tidak membalikan tubuhnya. Dia masih dalam posisi yang sama.
"Aku minta maaf, aku salah sudah meragukan kamu dan berfikir jika kamu sudah berselingkuh dengan orang lain. Maafkan aku, sungguh maafkan aku" ucap Alfred yang menggenggam tangan Alisha dan dia menatap manik coklat milik Alisha.
"Aku sangat bersalah dan aku benar-benar sangat menyesal telah meragukan kami dan aku, aku tidak bisa jauh dari kamu. Tolong maafkan aku" ucap Alfred yang memegang pipi Alisha yang sudah basah karena air mata.
"Aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku tidak bisa melupakan semua perlakuan kamu padaku, maaf" ucap Alisha yang melepaskan pelukan nya dari Alfred dan dia langsung pergi dari kamarnya.
"Aku pantas kamu benci Dear, sangat pantas" ucap Alfred yang mengubah akses pintu keluar menggunakan remote control yang sengaja dia buat untuk bisa mengurung ketiga orang yang sudah sangat dia rindukan.
Dia benar-benar terlelap kembali dan dia mendengar suara riuh diluar kamarnya. Saat dia terbangun, ternyata sudah pagi dan dia melihat infusan nya sudah habis. Dia segera melepaskan nya dengan paksa dan dia berjalan menuju pintu keluar setelah dia membersihkan dirinya dan berpakaian rapih tapi santai.
"Mom" ucap kedua anaknya yang sedang duduk langsung berlari menuju Alisha yang sedang berdiri. Mereka berdua bersembunyi dibelakangnya.
"Tidak apa-apa kelurlah, dia bukanlah orang jahat" ucap Alisha yang meminta kedua anaknya untuk tidak bersembunyi.
Alfred yang melihat kedua anaknya memang sangat mirip dengan nya, dari wajah dan matanya sangat mirip. Dia langsung berjongkok dan tersenyum tipis tapi dengan pandangan yang berkaca-kaca.
"Kenapa takut, ini Daddy. Apa kalian tidak merindukan Daddy?" tanya Alfred yang merentangkan kedua tangan nya meminta kedua anaknya mendekat.
Seolah meminta persetujuan dari Alisha, Alkana dan Alkena menatap kearah wajah Alisha. Alisha mengangguk dan mereka berdua berlari kearah Alfred lalu memeluknya erat.
"Maaf, Daddy baru bisa menemui kalian berdua. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Alfred yang menatap kearah kedua anaknya yang mengangguk dan tidak mengeluarkan suara mereka.
"Kenapa tidak menjawabnya? Apa tidak merindukan Daddy hmm?" tanya Alfred lagi dan dia langsung menggendong keduanya bersamaan lalu duduk dipangkuan nya kiri dan kanan.
"Kami merindukan Daddy, kenapa Daddy baru pulang sekarang? Apa Daddy tahu, jika Mommy sering menangis saat banyak yang bilang buruk padanya dan mengatai kami anak haram" jawab Alkana dan dia bertanya semua pertanyaaan yang ingin dia tanyakan pada Alfred.
Alfred mengepalkan tangan nya. Dia marah pada dirinya sendiri, karena kesalahan nya membuat wanita yang dia cintai menderita. Tapi ini adalah kesempatan nya untuk bisa menebus waktu lima tahun yang sudah terbuang dan membuat kenangan baru untuk mereka sekarang.
"Apa kalian tahu itu dari mana? Apa kalian melihat dan mendengarnya langsung?" tanya Alfred dengan lembut dan penasaran penuh.
"Kami mendengarnya sendiri dan bahkan mereka sering mengatakan nya langsung pada kami berdua. Tapi kami tidak pernah memeberitahukan pada Mommy, jadi Daddy janji ya jangan mengatakan nya pada Mommy" ucap Alkana dan diangguki oleh Alkena.
Alfred tidak langsung mengatakan nya pada kedua anak-anaknya, dia hanya diam dan merasa sangat kesal juga marah pada dirinya sendiri. Jika saja dia tidak meragukan Alisha mungkin tidak akan seperti ini, jika saja dia selalu berada didekat mereka bertiga mungkin risks akan ada kesedihan dimata mereka bertiga. Sekarang yang tersisa nyanyalah kata jika saja dalM benaknya.
"Dad, apa Daddy mendengarnya?" tanya Alkena dengan suara cadelnya.
"Emm, Daddy tidak apa-apa. Mulai sekarang ada Daddy yang ada untuk kalian semua, jadi jangan pernah takut apa lagi mendengarkan semua yang orang lain katakan pada klian berdua. Jika ada uang berani, katakan padaku Daddy, Daddy akan memberi mereka pelajaran" ucap Alfred yang mengusap kepala kedua anaknya.
'Daddy akan membuat mereka yang sudah membuat kalian merasa rendah akan Daddy buat menyesal seumur hidupnya. Karena telah mengusik kalian dan membuat kalian bersedih' ucap Alfred dalam hati dan dia membawa kedua anaknya masuk kedalam kamarnya untuk mengambil sesuatu didalam.
"Apa kalian suka dengan ini?" tanya Alfred yang memberikan dua buah jam tangan dan ternyata jam tangan itu sudah dipasangi pelacak.
"Wah, ini adalah yang sudah lama kami inginkan. Thank you Dad" ucap Alkana dan Alkena yang mencium kedua pipi Alfred bersama-sama.
"You're welcome baby" ucap Alfred yang sekarang mencium keduanya bergantian dan langsung memasangkan jam tersebut pada tangan kedua anak-anaknya.
"Apa kalian menyukainya? Jika menyukainya, Daddy masih memiliki banyak dan klian bisa memolikinya" ucap Alfred bertanya pada kedua anaknya.
"Mau, kami mau" jawab mereka berdua dengan kompak dan sangat bersemangat.
"Jika begitu kiss lagi dong" ucap Alfred yang menunjuk kedua pipinya pada kedua anaknya yang langsung melakukan apa yang diinginkan oleh Alfred.
"Thank you, sekarang ini semua milik kalian berdua. Bermainlah dulu Daddy akan memberikan hadiah juga pada Mommy, oke" ucap Alfred pada kedua anaknya yang mengangguk setuju.
"Tandatanganilah, dengan begitu kita berdua sudah resmi menikah, sudah lama aku ingin memberikan ini untuk kamu" ucap Alfred yang menyerahkan kertas tersebut dan menyematkan cincin pernihakan nya yang akan dia berikan pada Alisha dulu.
Alisha hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Alfred padanya. Dia hanya diam saja.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin menikah dengan ku? Atau kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Jika iya, tidak masalah. Biar kusimpan saja ini" ucap Alfred yang mengambil kembali kertas ditangan Alisha dan dia akan berbaik.
Tapi langhanya ditahan oleh Alisha yang memeluknya dari belakang dan dia menangis dipunggung Alfred tanpa mengatakan apa-apa padanya. Hanya ada tangisan dari Alisha.
"Kenapa menangis? Jangan merasa bersalah jika memang tidak bisa, aku bisa mengerti. Tapi aku minta satu hal dari kamu, jangan jauhkan aku dengan anak-anak lagi. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau menerima aku, setidaknya kita bisa bersama-sama demi anak-anak dan terlihat baik-baik saja didepan mereka" ucap Alfred yang mengusap air mata Alisha lalu mengecup kedua matanya dengan mesra lalu memeluknya.
"Please, jangan lepaskan ini. Biarkan seperti ini dulu, biarkan ini akan menjadi kenangan terakhir untuk ku" ucap Alfred yang memeluk Alisha dengan sangat erat dan dia juga menangis bersama dengan Alisha bersama.
"Tapi aku sesak nafas" ucap Alisha yang melepaskan pelukan mereka.
"Maaf" ucap Alfred yang mengusap air matanya dan dia segera masuk kembali kedalam kamarnya dan melihat anak-anaknya sedang bermain dengan mainan yang dia belikan.
"Dad, apa Daddy menangis? Apa ada yang jahat pada Daddy?" tanya Alkena yang langsung berlari menuju Alfred.
"Tidak, Daddy tidak apa-apa. Hanya kelilipan debu saja" jawabnya yang mengedip-ngedipkan matanya berulang kali.
"Biar Kenna tiup" ucap Alkana yang mulai meniupi mata Alfred.
"Thank you girl, Daddy sudah baik-baik saja" ucap Alfred yang mengusap pipi Alkena dan tersenyum padanya.
'Tuhan, bolehkah aku ini serakah meminta cinta wanita yang sudah menjadi Ibu dari anak-anak ku ini. Aku menginginkan cintanya seperti dulu lagi, aku ingin seperti dulu. Selalu bersama-sama' ucap Alfred dalam hati dan dia menyimpan kembali kertas yang dia bawa untuk Alisha tandatangan.
"Kanna, Kenna. Mau ikut sarapan dengan Mommy tidak?" teriak Alisha yang memang tidak memanggil Alfred untuk keluar.
"Mau.... " teriak keduanya juga dan mereka berdua akan berlari tapi berhenti lagi, saat melihat Alfred hanya diam saja.
"Dad, Mommy sudah memanggil kita sarapan. Karena Mommy selalu masak dengan sangat enak. Ayo keluar" ucap Alkana dan Alkena yang selalu mengangguk saja mengiyakan ucapan dari Alkana.
"Kalian saja, Daddy masih belum lapar" jawab Alfred yang tahu apa maksud dari Alisha yang tidak memanggilnya. Dia tidak ingin jika Alisha akan semakin marah padanya jika dia ikut keluar juga dengan anak-anaknya.
"Baiklah" ucap kedunya yang segera pergi dari sana dan tentu saja membuat Alisha mengernyitkan keningnya melihat hanya ada kedua anaknya saja yang keluar.
"Daddy kalian mana? Kenapa risks ikut?" tanya Alisha yang bertanya pada keduanya.
"Daddy bilang masih kenyang" jawab Alkena dengan polosnya dan dia langsung duduk dikursi yang sudah ditarik oleh Alisha.
"Kalian makan saja duluan, Mommy akan mengajak Daddy kalian makan juga" ucap Alisha yang dijawab anggukan oleh kedua anaknya.
"Anak pintar" ucap Alisha yang mengusap kepala keduanya dengan lembut, lalu pergi dari sana dan dia memasuki kamar dan melihat tidak ada siapa-siapa didalamnya.
"Dia dimana?" gumamnya yang langsung mencari keberadaan Alfred.
Dia mendengar ada suara didalam ruangan sebelah. Dan dia masuk perlahan, betapa kagetnya dia saat melihat. Betapa banyaknya foto-foto dirinya sendiri dan yang berdua dengan Alfred juga ada disana. Dia menutup mulutnya saat melihat Alfred yang menangis dan menunduk.
"Segitu bencinyakah kamu padaku Sha? Sampai kamu enggan untuk melihat ku ada dihadapan kamu" gumam Alfred sambil memegang fotonya yang berukuran besar dan mengusapnya.
"Aku rindu senyuman kamu, aku merindukan manja kamu padaku, aku rindu saat kamu mengeluh sakit, aku rindu saat kamu mengatakan tidak bisa jauh dariku. Aku rindu semuanya dari kamu Dear, sangat, sangat-sangat merindukan kamu" ucap Alfred yang memeluk foto tersebut dengan erat dan menangis sesegukan sendiri.
"Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku padamu Dear, sungguh. Aku sangat minta maaf, aku sangat tersiksa setelah kepergian kamu. Apa kamu tahu Dear? Bahkan supaya aku bisa terlelap dan sedikit melupakan kamu aku harus menelan obat-obatan ini, hanya untuk bisa tidur. Apa kamu tahu, Aku tidak bisa hilang harus menjauh dari kamu lagi" ucap Alfred yang belum menyadari jika Alisha berada dibelakangnya dan menangis juga sambil membekap mulutnya sendiri.
'Apa kamu semenderita itu sayang? Aku minta maaf juga, aku tidak tahu jika kamu juga menderita selama ini. Aku berfikir jika kamu bahagia tanpa aku dan anak-anak kita, aku sungguh tidak tahu sayang. Maafkan aku juga, maaf' ucap Alisha dalam hati dan dia semakin mendekat lalu berjongkok dibelakang Alfred.
"Dear, saat aku menghitung hari dan bulan setelah kepergian kamu seperti sedang menelan pil pahit tanpa meminum air. Sangat sakit dan pahit, tapi aku, aku yakin jika suatu saat kamu akan kembali dan bisa menerima aku lagi. Tapi ternyata aku begitu percaya diri saat meyakini itu semua, ternyata aku tidak bisa kamu maafkan" gumamnya dengan suara lirihnya dan dia hanya diam terisak sambil memeluk foto Alisha.
"Aku sudah memafkan kamu sayang, maaf juga aku sudah membuat kamu menderita seperti ini. Aku berfikir jika kamu akan bahagia tanpaku" ucap Alisha yang memeluk Alfred dari belakang dan menelusupkan tangan nya pada pinggang Alfred.
"Dear, kamu disini? Kamu, kamu tahu dari mana aku berada disini?" tanya Alfred yang melihat kesana kemari untuk mengetahui dari mana Alisha tahu dia berada didalam ruangan tersembunyinya selama ini. Bahkan semua orang tidak ada yang tahu akan ruangan itu.
"Tadi aku mendengar suara benda terjatuh, dan melihat ada cahaya dari dalam sini. Pas aku buka ternyata ini adalah sebuah ruangan, dan ada kamu juga didalamnya. Kenapa kamu berada disini dan sejak kapan ada ruangan ini disini?" tanya Alisha setelah menjawab pertanyaan dari Alfred dan dia malah bersandar pada Alfred yang masih belum sadar jika ini adalah nyata.
"Kenapa diam saja? Apa ada yang salah dengan pertanyaan aku?" tanya Alisha yang mendongak menatap wajah Alfred.
"Jadi, jadi ini nyata dan bukan cuman halusinasi ku saja Dear?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Alisha.
"Aw, sakit Dear" ucap Alfred saat Alisha mencubit perut sispack Alfred.
"Berarti ini nyata jika kamu merasakan sakit" ucap Alisha yang malah mengerucutkan bibirnya kesal. Karena dia dianggap tidak ada dan tidak nyata oleh Alfred.
"Maaf Dear, aku sering mengalami hal yang serupa dan selalu hanya halusinasi ku saja. Maknya aku bertanya seperti itu pada mu" ucap Alfred yang kembali memeluk Alisha dan mereka saling menyalurkan rasa rindu merwka berdua.
Diluar anak-anak mereka sedang berteriak-teriak mencari keduanya yang tidak ada dimana-mana. Membuat keduanya tersadar dari kebersamaan nya yang larut dalam rasa rindu yang selama ini mereka berdua pendam.