Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.8 — Bad News



Tatkala Hernandez dan yang lainnya keluar dari Deus Holy Church, matahari sudah tergelincir jauh dari titik kulminasinya di petala langit. Mereka telah menghabiskan banyak waktu di dalam gereja terbesar di Islan itu. Namun, bola plasma super raksasa itu masih belum mencapai garis horizon, menandakan senja masih agak lama dari menampakkan diri.


Beberapa anggota Deus Guardian lekas meninggalkan Kota Heavenly Crystal. Tetapi beberapa di antaranya tetap di situ bersama Hernandez. Seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya, Vermyna, Catherine, Minner, dan Zestya akan ikut bersamanya ke kota pelabuhan. Mereka harus memastikan tidak ada hal buruk yang akan terjadi di sana.


“Tuan Hernandez.”


Suara itu memanggil saat Hernandez hendak menciptakan portal dimensi ke lautan pasir putih nan jauh di balik Pegunungan Amerlesia sana. Suara tersebut milik Retsu Vermillion. Hernandez dan yang lainnya refleks berbalik arah, Retsu sudah berada beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.


“Aku dengar kau dan yang lainnya berniat mengecek lautan pasir yang tiba-tiba menjadi putih itu. jika kau tidak keberatan, boleh aku bergabung dengan kalian?”


“Jika kau mau, tentu saja.”


Dengan itu, Hernandez kembali melanjutkan tangannya menciptakan portal dimensi. Dan tak lama setelahnya, lingkaran sihir yang tercipta dari kombinasi rune langsung saja mengoyak ruang di dalamnya, menciptakan portal yang sama dengan yang biasa Vermyna gunakan untuk bepergian. Di sisi lain portal itu, mereka bisa melihat hamparan pasir putih yang indah, membuktikan kalau pasir yang dulunya coklat itu telah memutih sepenuhnya.


“Ayo pergi, aku tak bisa menahan ini lama-lama.”


Tanpa membalas ucapan Hernandez, Retsu dan yang lainnya melompat memasuki portal. Hernandez masuk setelah semuanya masuk. Portal itu lantas tertutup dengan sendirinya, dan lingkaran sihir itu pun menghilang sedetik kemudian.


Hamparan putih sejauh mata memandang menyambut mereka semua. Pasir itu benar-benar bergerak, seolah-olah ada arus yang membawa mereka pergi. Dan gelombang-gelombang pasir yang terus berjalan ke tepi itu…sungguh seperti ombak air laut yang menerjang pantai. Dan terutama, hal yang membuat tempat itu dikatakan sebagi lautan pasir, ikan-ikan aneh yang melompat-lompat dari permukaan pasir lalu masuk lagi ke dalam. Mereka berenang, ya, mereka sungguh berenang. Dari pergerakan siripnya, ekornya, semuanya; mereka sungguh-sungguh berenang!


“Tak peduli berapa kali pun aku melihat tempat ini, tetap saja mengagumkan.”


“Ya, jika saja ini malam hari dan kita melihatnya dari kejauhan, tentu kita akan mengiranya sebagai laut.”


“Bahkan suara desirannya pun mirip.”


Hernandez mengangguk setuju pada ucapan Retsu, Catherine, dan Zestya itu. Jika warna pasirnya menjadi biru, itu sepenuhnya akan seperti lautan. Hanya saja, mereka tidak akan basah.


“Tapi rasa ikan-ikan itu sangat tidak enak,” komentar Minner.


“Aku sangat tahu hal itu,” Hernandez sangat setuju dengan Minner. “Aku tidak akan pernah mau lagi mencoba ikan itu, rasanya tak berbeda dengan memakan ikan yang direndam dalam lumpur selama seminggu.”


“Kau pernah memakan ikan yang direndam dalam lumpur selama seminggu?” tanya Minner sambil memandang Hernandez dengan aneh.


“Tentu saja tidak, itu hanya perumpamaan.”


“…Bau ini…darah….”


Gumaman tiba-tiba Vermyna itu sontak saja menarik perhatian mereka semua. Catherine yang ingin memastikan perkataan kakaknya langsung saja mengenduskan hidungnya, dan seketika dia terdiam.


“Darah ini…Lyra…ini darah Lyra!”


—Hernandez terdiam mematung.


Kristal yang terpasang pada kalung itu sudah hancur berkeping-keping. Jika saja ia memasang segel teleportasi di kristal itu, bukan di kalungnya, sudah pasti ia tidak akan bisa meneleportasikan diri. Dan yang lebih parah, bekas darah masih berbekas di tempat itu. Namun, Hernandez sama sekali tidak menemukan tubuh Lyra bahkan setelah mengobservasi sekelilingnya.


“Hernandez!”


“Catherine, Nona Vermyna, apa kalian mencium keberadaan Lyra?”


“Tidak, baunya berpusat pada darah itu.”


“Diriku menduga kalau apapun yang telah menyerang diri Lyra juga ikut mengambil tubuh dirinya. Bau dirinya memang menghilang di sini, tetapi hawa keberadaan dirinya…itu menghilang ke atas.”


Hernandez dan yang lainnya refleks menengadahkan wajah mereka. Dan seketika mereka menyadari kalau di atas sana, tepat di atas kepala mereka, terlihat rona pucat bulan yang bulat sempurna. Kendati hari masih terang, tetapi bulan itu sudah menampakkan diri dengan segala kemegahannya.


“Tidak salah lagi, apa yang tersisa dari diri Lyra telah ditarik ke atas sana.”


“…Apa menurutmu dia masih hidup?”


“Diriku tidak tahu, tetapi melihat jumlah darah dirinya, kemungkinannya sangat kecil.”


“…Tsk!”


Tangan Hernandez seketika mengepal. Giginya menggemeretak. Amarah seketika mewarnai wajahnya. Tampak begitu besar kemarahan di wajahnya sampai-sampai membuat yang lainnya terdiam memandangnya.


Bagi yang lainnya, Lyra adalah seorang biarawati dan sekaligus pengantar pesan Pope Gramiel. Lyra hanyalah satu orang dari sekian banyak orang. Dia memang bekerja dengan baik, perannya juga penting, tetapi hanya sebatas itu saja. Hilangnya Lyra tak akan berpengaruh banyak pada mereka. Pope Gramiel hanya perlu mencari pengantar pesan yang baru. Namun, jika dia bisa diselamatkan, mereka akan mencoba menyelamatkan. Tetapi jika tidak, apa boleh buat; mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya.


Bagi Retsu, Lyra lebih dari sekadar pengantar pesan. Biarawati itu adalah pembimbingnya selama menjadi bagian dari Deus Guardian. Ia tidak bisa menganggapnya sebagai teman, mereka tidak sedekat itu. Namun, biarawati itu lebih dari sekadar kenalan. Karenanya, jika bisa, Retsu ingin menyelamatkannya. Selain sebagai ucapan terima kasih atas bantuan biarawati itu selama ini, juga sebagai caranya untuk menunjukkan kalau keberadaan Lyra itu cukup penting. Terlebih lagi, mereka masih belum memenuhi ucapan mereka untuk bertemu saat pertemuan tadi.


Bagi Hernandez sendiri, Lyra seorang yang sangat berharga. Ia sudah mengenal wanita itu sejak kecil. Lyra bukan saja temannya. Lebih dari itu, wanita tersebut adalah orang terdekat yang bisa ia panggil sebagai saudari. Dulu mereka sangat dekat, tetapi kedekatan itu renggang saat Hernandez bergabung dengan Deus Guardian. Dan kerenggangan itu menjadi semakin berjarak kala wanita itu bekerja menjadi pengantar pesan sang pope.


Hernandez sama sekali tidak suka dengan keputusan Lyra itu, tetapi wanita itu bersikeras dengan keputusannya. Karenanya pula Hernandez bersikap dingin padanya. Namun, bukannya berhenti, wanita itu justru semakin menunjukkan kalau dirinya bisa bekerja dengan sangat baik. Dia begitu keras kepala.


Padahal, Hernandez hanya menginginkan keselamatan bagi Lyra. Ia hanya menginginkan agar wanita itu senantiasa hidup dalam kenyamanan. Dia tidak perlu bekerja keras, dia tidak perlu membuat dirinya kesusahan, dia tidak perlu sampai membahayakan dirinya; Hernandez ingin Lyra hidup seperti biasanya, seperti orang-orang biasa lainnya. Karenanya ia bersikeras agar wanita itu tidak melibatkan dari dalam hal apapun yang berhubungan dengan sihir, kendatipun dia memiliki sihir yang sangat berguna.


Namun… mengapa dia begitu keras kepala? Mengapa dia tak mau mengerti? Tidakkah dia tahu kalau Hernandez sangat mengkhawatirkannya saat dia pergi?


“Grrrr!” Hernandez menggeram marah; ia tak seharusnya mendengarkan ucapan wanita itu. Jika Hernandez memaksa gadis itu untuk tak pernah terlibat dengan hal-hal yang berbau sihir, hal yang seperti saat ini pasti tak akan pernah terjadi.


“Hernandez, untuk memastikannya, satu-satunya cara adalah menuju diri batu bulat super raksasa itu.”