Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.18 — The Festival (6)



World Observer. Itulah nama yang ia ketahui melekat padanya. Sebuah perwujudan dari reaksi pecahan replika inti sihir sang dewa dengan keinginan dunia ‒ satu bagian dari keenam bagian Six Crests of Hope.


Dalam dirinya terdapat [Complete Sensory], sihir yang membuatnya memiliki satu bagian dari sepuluah bagian pendewaan. Ia adalah sebuah kesadaran tanpa tubuh, tanpa gender, tanpa tujuan, dan tanpa keberadaan. Ia ada di mana-mana, tetapi pada saat yang bersamaan ia tidak ada di mana-mana. Ia ada, tetapi ia juga tidak ada.


Setidaknya, itu adalah yang yang ia ketahui saat pertama kali tercipta belasan milenium yang lalu.


Akan tetapi, semua hal itu berubah saat seorang wanita yang hampir sekarat di padang pasir memanggil dirinya, kendatipun wanita itu tidak tahu akan keberadaannya.


Seribu satu tahun yang lalu, itu adalah saat pertama kali dirinya mendengarkan permintaan seorang manusia rapuh yang ternoda ‒ seorang budak yang menghabiskan hari di karavan para pedagang minim moral. Sejak saat itu, ia tahu ia memiliki tujuan di dunia ini. Ia adalah pengawas, karenanya pula ia dinamakan World Observer. Tugasnya adalah mengawasi dunia ini, menentukan apakah penghuninya masih layak atau tidak untuk tetap hidup di dunia.


Dalam belasan milenium ia telah menyaksikan berbagai hal.


World Observer melihat pertarungan dahsyat antara Phoenix melawan Thevetat. Ia melihat bagaimana Luciel memimpin para malaikat membasmi para iblis yang berhasil keluar dari neraka. Ia menyaksikan bagaimana Lucifer menentang keputusan surga, membuatnya diusir dari tempat suci itu yang lantas membuat sayapnya menghitam ‒ World Observer menyaksikan hari di mana malaikat jatuh satu-satunya itu memijakkan kaki di neraka. Ia melihat hari di mana Lucifer menjadi penguasa absolut neraka yang luasnya seluas surga itu.


Namun demikian, tidak peduli apa pun yang dilihatnya dulu, itu semua tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi World Observer.


Barulah semua pandangannya berubah saat ia menerima tubuh dan jiwa Lasya sebagai dasar untuk membentuk wadah bagi dirinya. Ia mulai serius memerhatikan kehidupan di dunia, melihat setiap kebaikan dan kejahatan mereka. World Observer mulai menempatkan dirinya sebagai pengawas, menentukan apakah ia harus melenyapkan semua pendosa di dunia ini seperti yang Lasya inginkan atau tidak.


“Jika kau memang ingin melenyapkan semua pendosa, bukankah itu artinya kau juga harus melenyapkan dirimu sendiri?”


Pertanyaan yang datang dari wanita berambut seputih salju itu seketika menyita perhatian World Observer. Ia sungguh tidak mengekspektasikan akan mendengar pertanyaan itu.


Jika ia membunuh semua orang, bukankah itu artinya ia akan jadi pembunuh? Karena ia akan menjadi pembunuh, bukankah itu artinya ia akan menjadi pendosa? Dan karena akan menjadi pendosa, bukankah sudah menjadi tugasnya untuk melenyapkan dirinya sendiri?


“Itu pertanyaan yang tidak relevan,” ucapnya setelah beberapa saat terdiam. “Sekarang, aku akan membinasakan kalian bersamaan dengan kota ini. Matilah dalam pasir suci sebagai penebusan dosa kalian!”


Tepat setelah seruan itu meninggalkan mulut World Observer, tombak-tombak pasir yang lebih besar dari dua manusia dewasa itu menyerbu turun laksasa tetes hujan yang berjatuhan. Tetapi berbeda dengan tetes hujan yang hanya jatuh dalam kecepatan rendah, tombak-tombak pasir itu jatuh dalam kecepatan supersonik. Dan kendati itu semua hanyalah kumpulan pasir yang tersusun membentuk tombak, itu sama kerasnya dengan adamantite murni ‒ Retsu membuktikan hal itu saat pedang adamantite-nya tak mampu memotong salah satu tombak.


Bagi para anggota Deus Guardian, menghindari sebuah benda sebesar tombak yang melaju dalam kecepatan supersonik tentu saja bukanlah masalah. Namun, beda lagi ceritanya kalau tombak itu terdiri dari ribuan dan jatuh secara beruntun.


Dan seolah tak cukup, jatuhnya tombak itu lekas diiringi oleh meluncurnya jarum pasir yang melesat dalam kecepatan hipersonik. Keadaan Retsu dan yang lainnya sudah seperti berusaha menghindari tetesan hujan yang jatuh dengan kecepatan yang jauh melampaui suara.


...* * *


...


Darah biru mengalir keluar dari mulut makhluk yang mendiami tubuh serba putih di hadapannya, dan Hernandez sama sekali tak terkejut dengan itu. Darah kraken yang dikumpulkan selama seribu tahun itu adalah apa yang menyempurnakan tubuh yang tak lagi bermetabolisme. Sangat tak mungkin sekali jika apa pun yang berhubungan dengan tubuh itu berbau normal.


Dengan jantung yang berhasil Hernandez tusuk dengan Kurtalægon, aliran [mana] Lara berhenti total. Dan untuk mempertahankan kondisi tubuh tersebut agar tetap “hidup”, Hernandez memasang sebuah formula rune pada leher makhluk itu. Ia tentu saja bisa melenyapkan makhluk itu secara total, tapi… Hernandez tetap ingin menyelamatkan Lyra. Kendati dia tidak akan menjadi Lyra yang sama, jiwa yang mendiaminya tetaplah jiwa Lyra.


“…Dirimu tetap ingin menyelamatkan dirinya, huh….”


Hernandez terdiam sejenak mendengar perkataan Vermyna. “Walau tak memiliki hubungan darah, Lyra adalah satu-satunya keluarga yang kupunya,” gumamnya pelan puluhan detik kemudian. “Kau tidak menyetujui tindakanku ini, Nona Vermyna?”


“…Lakukan sesuka dirimu.”


Hernandez tak merespons apa-apa lagi, ia lekas mengalirkan [mana]-nya pada pedang terbaiknya, mengaktifkan formula rune rumit yang memisahkan jiwa dari tubuh. Namun—


—Tidak terjadi apa-apa bahkan setelah puluhan detik berlalu. Hernandez seketika terdiam mematung.


“Hernandez…?”


Hernandez tak perlu mengelaborasikan perkataannya agar Vermyna mengerti, dalam sekejap sang vampire telah membawa mereka berdua keluar dari ruang dimensinya yang paling berbahaya.


“…Kalian sungguh mengesankan bisa bertahan. Tapi dengan kondisi kalian yang memprihatinkan, bisakah kalian selimat dari ini?”


Pertanyaan yang terkesan arogan tetapi diucapkan dengan nada monoton itu adalah kata-kata pertama yang Hernandez dan Vermyna dengar. Sedangkan yang pertama mereka lihat adalah Retsu yang berdiri di atas satu lutut dan satu kakinya dengan kedua tangan yang bertumpu pada pedang; Zestya yang berdiri di atas kedua lutut dengan napas yang tersengal-sengal; Minner yang memuntahkan sejumlah darah; dan Catherine yang tubuhnya dipenuhi luka yang beregenerasi secara lambat.


“Nona Vermyna, bisa kau pindahkan mereka ke Deus Holy Church? [Mana]-ku tak sebanyak milikmu, itu akan tidak menguntungkan bagiku.”


Hernandez tak menunggu respons Vermyna, ia mengaktifkan formula rune Air Walking pada tubuhnya dan melesat ke udara dengan kecepatan tinggi. Jarum-jarum pasir yang jumlahnya tak bisa Hernandez hitung secara sekilas itu turun dengan membabi buta. Arah lajunya yang mula-mula menyebar, seketika terpusat pada Hernandez yang melesat ke atas.


Katana Hernandez bergerak lincah, memblok dan memotong jarum-jarum pasir yang sekeras adamantite itu dengan mudah. Secara bersamaan Hernandez mencoba menyerap pasir putih tersebut, tetapi tidak bisa karena ternyata itu adalah pasir asli, bukan pasir yang terbuat dari [mana]. Dan karena jumlahnya yang begitu banyak, Hernandez harus mengakui kalau ia tak akan menang jika terus menangani semua jarum pasir secara manual.


“Rune Magic: Physical Reflection Barrier,” bisik Hernandez pelan, menciptakan formula rune penghalang pemantul serangan itu hanya dengan menggunakan ingatannya.


Seper sekian detik kemudian, semua jarum pasir yang menargetkan Hernandez tertahan oleh penghalang tak kasat mata, yang lantas membuat semua jarum itu berbalik arah dan menghantam jarum pasir yang lain.


“Kau dan Vermyna adalah yang paling merepotkan dari Deus Guardian.”


Suara itu datang tiba-tiba dari belakang Hernandez. Sang pandai besi pun secara refleks memutar tubuhnya dengan katana yang terayun tajam secara horizontal. Tombak pasir putih itu secara leluasa telah terpotong dua oleh pedang Hernandez, membuat World Observer mengernyitkan keningnya.


“…Lonsdaleite. Pedangmu itu benar-benar berbahandasarkan material terkeras di dunia. Terlebih lagi, aku merasakan serpihan [mana] Edenia mengalir di dalamnya. Ah… warna hitam legam itu, kau pasti mendapatkannya setelah menenggelamkan pedang itu ke Danau Deus.”


Hernandez sama sekali tak merespons monolog Lara, ia menukikkan tubuhnya dengan pedang terhunus seraya menarik napas dalam-dalam.


Seperti yang sudah ia kira, Lara menghindar dengan mudah dalam posisi berdiri terbalik di udara, membuat Hernandez menebas udara kosong. Dan karena sudah menduganya, Hernandez langsung memutar tubuhnya dengan kepala menghadap sedikit ke atas dengan mulut yang terbuka.


Ice Magic: Dragon’s Breath!


Energi berwarna putih beraura dingin seketika melesat keluar dari mulut Hernandez. Dengan kecepatan tinggi energi itu melesat ke atas dan semakin luas dalam sekejap. Kendati makhluk itu dapat menghindari spell-nya dengan mudah, Hernandez meyakini Lara akan mengandalkan [True Mirror]-nya. Dan karena keyakinan itu pula Hernandez mengarahkan tangan kirinya ke atas bersamaan dengan serangan sihir esnya.


Rune Magic: Mana Absorption.


“Aku bisa merasakan keberadaan spell-mu sesaat sebelum itu aktif,” bisik Lara di belakang Hernandez seraya menghantamkan lututnya ke punggung sang pandai besi.


Hernandez yang tak sedang dalam posisi bisa menghindar langsung terpental begitu saja dengam mulut yang terbuka memuntahkan sejumlah saliva.


World Observer yang menamakan dirinya Lara itu berniat menyerang Hernandez secara beruntun dan menghabisinya secepat mungkin, tetapi ia dipaksa berteleportasi menjauh saat laser ungu kehitaman melesat ke arahnya dari arah terpentalnya Hernandez ‒ Vermyna sudah berada di sana dengan telapak tangan kanan terbuka ke depan sambil tangan kirinya menahan laju Hernandez.


“…Aku tidak tahu dia bisa teleportasi,” gumam Hernandez sambil kembali berdiri di udara dengan benar.


“Kemungkinan sihir itu milik diri Lyra yang dirinya dapatkan.” Vermyna menjeda sejenak, seketika bola-bola dimensi seukuran sebuah rumah tercipta dalam jumlah yang tak bisa dihitung dengan sekilas mata.


“Hernandez,” lanjut Vermyna seraya melayang beberapa langkah ke depan. “Diriku mengandalkanmu untuk menciptakan penghalang anti-teleportasi. Dan bola-bola ruang dimensi itu, dirimu bisa menyerapnya dengan pedang dirimu. Rencana diri kita masih sama seperti tadi, tetapi kali ini diriku menginginkan dirimu untuk melenyapkannya. Kendati peluang dirinya bisa menciptakan boneka dirinya dalam keadaan seperti tadi itu tidak memungkinkan, diriku tidak ingin melihat kesalahan yang kedua. Dan tentang para penduduk, dirimu tidak perlu khawatir, diri mereka berada di bulan. Diriku akan membawa diri mereka kembali saat makhluk itu selesai ditangani. Diriku mengandalkan dirimu, Hernandez, jangan membuat diriku menyesalkannya.”


Vermyna tidak menunggu repons Hernandez, dia menghilang dari hadapan sang pandai besi dan dalam sekejap sudah berada belasan meter di hadapan Lara.


Bahkan jika sang vampire menunggu respons Hernandez sekalipun, Hernandez sama sekali tak mengeluarkan respons apa pun. Tangan kirinya seketika bergerak, kelima jarinya diselimuti [mana] dan bergerak secara bersamaan. Huruf demi huruf aksara kuno tercipta di udara, semuanya bergerak saling tersusun dengan satu sama lain.