
—15th May, D204 | Kota Heavenly Crystal, Islan—
Bagi para ahli senjata, senjata-senjata yang mereka gunakan adalah perpanjangan tangan-tangan mereka sendiri. Itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Tanpa senjata, ahli senjata seperti kehilangan salah satu bagian tubuhnya ‒ mereka menjadi tidak utuh. Karenanya, sangat jarang sekali melihat seorang ahli senjata yang berlalu-lalang tanpa membawa senjata kebanggaan mereka.
Sedang bagi para pandai besi, senjata yang mereka ciptakan itu sama saja seperti anak mereka sendiri. Itu analogi yang sedikit berlebihan, tetapi begitulah adanya. Dari bijih metal yang kasar, seorang pandai besi melelehkannya dalam suhu yang panas. Kemudian dicetak, didinginkan, dipanaskan lagi, dan seterusnya sampai terlahirlah sebuah senjata yang siap unjuk gigi. Dan untuk senjata-senjata khusus, biasanya para pandai besi akan memberinya nama selayaknya seorang ayah memberi nama anaknya yang baru lahir.
Sebagai seorang pandai besi sekaligus ahli senjata, Hernandez pun tak terlalu berbeda.
Senjata—terutama pedang—baginya adalah bagian dari hidup.
Sejak ia bisa berpikir jernih, sejak itu pula dia sudah bergemulut dengan metal-metal itu setiap harinya. Terkadang hanya melihat kakeknya bekerja, terkadang kakeknya meminta Hernandez untuk mengetes tingkat keringanan senjatan, dan terkadang pula Hernandez memainkan senjata-senjata itu dengan kedua tangannya. Jika diingat-ingat, tiada hari yang terlewatkan tanpa menyentuh metal-metal itu.
Selagi pikirannya bernostalgia, tangan Hernandez sibuk bekerja.
Dalam menciptakan sebuah pedang, lama dan kesulitannya itu tergantung pada material utama yang digunakan. Adamantite lebih sukar daripada orichalcum, orichalcum lebih sukar daripada mythril, dan seterusnya. Namun, platinum dan lonsdaleite adalah pengecualian. Kendati proses pelelehan bijih metalnya mengikuti tingkat kekerasan metal, tetapi proses mengukir rune ke dalamnya lebih mudah dibandingkan yang lain.
Karena itu pula platinum sangat populer untuk dijadikan senjata, rune dapat membuatnya sekeras adamantite. Sebab itu, tak mengejutkan kalau Hernandez marak mendapatkan pesanan senjata berbahanutamakan platinum seperti saat ini.
Hernandez mengangkat tangan kanannya, membawa bilah pedang platinum bertipe greatsword yang baru saja selesai ia tempa, melihat tingkat ketajaman dan ketahanannya. Tatkala merasa kedua hal itu sudah sesuai, sang pandai besi mengayun-ayunkan bilah besi yang belum dipasang gagang itu beberapa kali, sebelum kemudian ia lemparkan ke dalam bak yang berisikan air berwarna perak kental khas Danau Deus.
Setelahnya, sang pandai besi kembali mengambil bilah pedang lain yang telah selesai dicetak, melakukan hal yang sama dengan platinum bertipe greatsword tadi.
Hernandez menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menyelesaikan semua senjata yang sudah ia cetak. Dan setelah semua bilah senjata itu selesai, Hernandez beralih ke fase selanjutnya: memasang rune pada senjata-senjata yang dipesan. Dibandingkan semuanya, Hernandez paling menyukai bagian tersebut. Selain itu, pemasangan rune sendiri adalah hal yang termahal dari penempaan sebuah zirah atau senjata.
Hernandez mengeluarkan sebuah pedang dari rendaman air Danau Deus, meletakkannya di atas meja kosong besar ruang kerjanya. Lingkaran sihir hitam langsung saja tercipta di bawah pedang itu. Dan bersamaan dengan munculnya lingkaran sihir itu, jari telunjuk kanan Hernandez sudah diselimuti [mana] abu-abunya.
Tidak ada batasan berapa banyak formula rune yang bisa dipasang pada sebuah senjata. Hernandez sendiri sudah pernah membuat tameng adamantite yang padanya ia ukir seratus formula rune. Lebih dari itu, jumlah formula rune pada Kurtalægon-nya mengalahkan tameng yang Fie Axellibra pesan itu secara signifikan. Jadi, secara teknis, Hernandez bisa mengukir rune pada sebuah senjata sebanyak yang ia mau.
Akan tetapi, itu tidak mudah; butuh ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kesalahan dalam rangkaian formula rune yang banyak itu. Dan karena itu pula, rata-rata pandai besi dan pengguna [Rune Magic] hanya mengukir rata-rata dua sampai tiga formula rune saja. Hal itu tentu saja bukan tanpa alasan; kesalahan yang timbul kadang-kadang bisa memicu ledakan yang besar. [Rune Magic] tidak sesederhana seperti yang orang-orang bayangkan.
Telunjuk Hernandez meliuk-liuk pada bilah pedang itu. Setiap goresan tangannya menimbulkan bunyi “hisss” dan menghasilkan sedikit asap. Bunyi “hisss” dan asap itu timbul karena reaksi yang sempurna antara setiap partikel pedang dengan rune yang diukir.
Hal itu menunjukkan kalau pemasangan rune pada senjata tak sesederhana seperti yang dipikirkan orang-orang, karena itu pula tak semua pengguna [Rune Magic] bisa mengukir rune pada senjata. Untuk bisa memasang rune pada sebuah objek secara permanen, seorang pengguna [Rune Magic] harus bisa menyelaraskan [mana]-nya dengan susunan partikel objek tersebut. Bagi pemula, itu akan sangat menguras konsentrasi mereka. Tetapi bagi Hernandez, itu semudah membalikkan telapak tangan.
Ketika sebuah formula rune selesai diukir, Hernandez mengalirkan [mana]-nya pada pedang.
Hal itu membuat formula rune berpendar, sebelum kemudian memudar dan meresap menyatu dengan pedang. Ketika huruf-huruf kuno yang diukir dengan [mana] itu tak lagi terlihat pada badan pedang, formula rune sudah terukir dengan sempurna. Heat Resistance, itu adalah formula rune yang baru saja Hernandez ukir. Dan selanjutnya ia akan mengukir tiga formula rune lain yang pemesannya inginkan: Cold Resistance, Greater Hardness, Greater Sharpness.
...* * *
...
Retsu sudah pernah berkunjung ke Kota Heavenly Crystal beberapa kali, tetapi ini baru pertama kalinya ia mengeksplor kota terindah di Islan ini secara penuh. Sebelum-sebelumnya, ia hanya datang mengunjungi gereja dan Danau Deus serta beberapa tempat lainnya. Karenanya, Retsu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memanfaatkan waktu kosong yang ada.
Seperti namanya, kristal biru langit mendominasi seluk-beluk kota. Ke arah mana pun ia memandang, di sana ia menemukan kristal-kristal biru yang sangat sensitif terhadap [mana] itu. Mulai dari jalan, bangunan, tiang-tiang penerang di jalan, bahkan bangku-bangku yang berjejer di tempat-tempat berteduh…semuanya didominasi kristal biru. Ada yang berperan sebagai fondasi, pelapis, dan tentu saja mayoritas lainnya sebagai ornamen penghias. Kristal-kristal biru itu sudah seperti sesuatu yang wajib ada bagi kota ini. Tidak ada satu bangunan pun yang tak memanfaatkan kristal-kristal biru itu.
Dari mana mereka memperoleh kristal biru yang indah dan keras seperti permata itu?
Pertanyaan yang seperti itu bukan saja berasal dari Retsu; tak sekali pun ada pendatang yang tak menanyakan pertanyaan itu. Pasalnya, setelah melihat kristal biru yang berlimpahan itu, bagaimana bisa mereka semua tak bertanya?
Jawabannya cuma satu: Edenia’s Cave.
Itu adalah gua suci bawah tanah yang terdapat di sisi utara kota. Tempat itu hanya boleh dimasuki oleh penduduk Kota Heavenly Crystal yang terlahir di tanah ini. Dan itu pun tidak bebas masuk begitu saja; setiap orang yang masuk ke sana harus terlebih dahulu membasuh wajah dengan Ethereal Water—air berwarna perak yang mengisi Danau Deus.
Aturan itu diberlakukan bukan tanpa alasan.
Menurut legenda asal mula Danau Deus, sang dewa pertama kali menginjakkan kaki di dalam gua itu sebelum menciptakan dan memberkahi Danau Deus. Konon katanya, Edenia menghabiskan waktu selama tujuh hari tujuh malam di dalam gua itu. Berdasarkan rumor yang lain, Edenia menjadikan gua itu sebagai tempat peristirahatannya selama di dunia. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut, keindahan gua itu sendiri sudah mampu membuat semua penduduk kota menyucikan Edenia’s Cave.
“Ah, Nona anggota Deus Guardian terbaru?”
Langkah kaki Retsu terhenti sejenak, seorang warga telah menyambanginya dengan ekspresi ramah di bibir.
“Ya, aku anggota terbaru, Bibi.”
“Oh! Bagus sekali! Bibi tak sabar ingin melihat siapa manusia yang menjadi rekan Tuan Hernandez dalam Deus Guardian. Siapa nama Nona?”
“Retsu Vermillion, Bibi.”
“Nona Retsu Vermillion…betapa nama yang indah untuk wanita yang jelita seperti Nona! Ah, sepertinya putri saya akan kesulitan mendapatkan Tuan Hernandez jika dia terus ditemani oleh wanita semenawan Nona.”
“Bibi sungguh berlebihan,” respons Retsu dengan senyum simpulnya.
“Tidak sama sekali, Nona, bahkan kata ‘menawan’ sama sekali tak cukup untuk menyimpulkan kesempurnaan Nona. Oh, ngomong-ngomong, saya menjual aneka aksesoris yang sangat cocok untuk wanita anggun seperti Nona. Ingin mencobanya?”
Retsu membiarkan bibirnya melengkung lebar. Sekarang ia tahu apa tujuan bibi tersebut menghampirinya. Dan harus ia akui, itu adalah pendekatan yang bagus untuk menarik hasrat seseorang untuk meladeninya. Bibi itu… dia sangat handal dalam merayu pembeli.
“Mungkin lain kali, Bi, saat ini aku ingin berkeliling kota ini. Maaf, ya, Bi, saya permisi dulu.”
“Ah, tentu saja… tetapi jangan lupa kembali, ya! Bibi menunggumu, loh!”
Retsu hanya merespons seruan sang penjual aksesoris itu dengan senyum simpulnya, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.
Namun, baru beberapa menit berjalan, langkah Retsu kembali terhenti. Akan tetapi, kali ini yang menghentikannya bukanlah para pedagang, melainkan pengantar pesan Pope Gramiel yang baru—pengantar pesan yang menggantikan posisi yang ditinggalkan Lyra.
“Nona Retsu, menyambut upaya invasi yang coba dilakukan Veria, Pope Gramiel telah memutuskan untuk membuat semua anggota Deus Guardian berpasang-pasangan. Dan seperti yang sudah Anda kira, semuanya berpasang-pasangan sesuai dengan ras. Oleh karena itu, mulai hari ini Anda akan menjalankan tugas Anda bersama dengan Tuan Hernandez.”
Pengantar pesan lantas memberikan sebuah gulungan pada Retsu, yang lantas Retsu terima dengan ekspresi tanya di wajah.
“Itu gulungan yang berisikan respons Pope Gramiel pada Dewan Enam Aliansi Desa Centaur. Anda dan Tuan Hernandez diharapkan membawa gulungan ini ke desa mereka, itu akan menjadi tugas pertama kalian sebagai pasangan—detil tugas kalian tertera dalam gulungan itu. Itu saja, saya mohon undur diri dulu.”
Dengan itu, tanpa menunggu responsnya, pengantar pesan itu menghilang begitu saja dari hadapan Retsu.
Retsu menghela napas pendek. Apa boleh buat, sepertinya ia harus menunda niatnya untuk mengeksplor seluk-beluk kota. Ia punya tugas yang harus segera dilaksanakan. Dengan itu, Retsu lantas memutar arah kakinya ke tempat di mana kediaman Hernandez berada. Putri dari orang terkaya di Islan itu berjalan dalam tempo yang cepat.
Hanya belasan menit berselang, Retsu sudah berdiri di hadapan pintu masuk rumah dua lantai yang diketahui oleh setiap orang yang datang ke kota. Rumah itu terletak tak jauh dari tepi Danau Deus. Pagarnya terbuat dari formasi kayu yang berlapis-lapis, halamannya cukup luas untuk menampung ratusan orang. Dan rumah itu sendiri…Retsu harus mengatakan kalau itu sangat sederhana sekali.
“Permisi!” teriak Retsu sembari membunyikan lonceng besi yang tergantung di samping pintu.
Dan pintu itu terbuka tepat semenit kemudian, menampilkan Hernandez yang berdiri dengan sebelah alis yang terangkat.
“Tuan Hernandez, Pope Gramiel memberi kita tugas ke Aliansi Desa Centaur. Detil tugas kita ada dalam gulungan ini, kita akan tahu setelah Dewan Enam membukanya.”
“Tunggu sebentar.”
Pintu itu seketika menutup mengiringi kembali masuknya Hernandez.
Retsu memandang pintu di hadapannya dengan mata mengerjap. Gadis dengan penampilan bak putri itu terdiam dengan perlakuan yang ia terima. Bukakah seharusnya ia dipersilakan masuk dan menunggu di dalam? Bukankah normalnya seperti itu?
“…Aku tak percaya dia menutup pintu di depan wajahku,” gumam Retsu pelan.
“Jika aku mengajakmu masuk, itu akan menimbulkan gosip yang tidak menyenangkan.” Respons itu datang bersamaan dengan terbukanya kembali pintu. “Selain Lyra yang sudah sering bolak-balik ke sini, tidak ada wanita lain yang pernah masuk sendiri ke sini. Kau tak ingin digosipkan sebagai pasangan Hernandez, kan?”