Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.24 — Kapal Vegasus (2)



...—Pesisir Barat Veria—...


Emperor Gadra Rashta memandang puas pada ratusan kapal berukuran sedang yang sudah berbaris rapi di sepanjang dermaga yang membentang lurus sejauh satu kilometer. Para prajurit berseragamkan Karna Great Empire tampak sibuk memenuhi mayoritas kapal, sedang minoritasnya dipenuhi para prajurit berseragamkan Jiangzhou Empire.


Gadra tak berdiri sendiri di tepi pantai. Seorang pria berusia dua puluhan berambut hitam panjang yang ujungnya diikat dengan kain putih turut berdiri bersamanya. Dia adalah salah satu bawahan terkuat Jiang Yue Yin, namanya Guang Zhou.


Pria berkulit putih dengan mata agak sipit itu berdiri di sisinya menggantikan Jiang Yue Yin yang sudah berlayar dua hari yang lalu bersama dengan lima belas ribu prajurit dan dua puluh kapal. Jiang Yue Yin ingin berkunjung ke Medea terlebih dahulu sebelum ke Islan.


Gadra tidak tahu pasti, tetapi kemungkinan besar dia ingin membuat Dragon Lord Arshvateth bergabung dengan mereka. Yang ia tak mengerti adalah mengapa sang empress tidak menggunakan [Space Magic] untuk membuat portal ke Medea. Dengan sihirnya, wanita itu sama sekali tak perlu berlayar lama seperti itu. Namun, Gadra tak memedulikan itu. Selama mereka bisa tiba di Islan sesuai rencana, itu sudah cukup.


“Emperor Gadra, kau sudah memutuskan kapan pastinya kita berangkat?” tanya Guang Zhou, ada sedikit ekspresi tak sabaran yang terlukis di wajah datar panglima Jiangzhou Empire itu.


Pertanyaan tak sabaran itu sama sekali tak mengejutkan Gadra. Pasalnya, ia sudah membuat sang panglima menunggun di sini lebih dari setengah jam. Mereka saat ini seharusnya sudah mengangkat sauh dan membawa kapal-kapal itu berlayar. Namun, Gadra yang tak kunjung memberi perintah membuat kapal-kapal itu tetap pada tempatnya.


“…Kita akan berangkat setelah zirahku tiba,” respons Gadra.


Ya, itu adalah alasan mengapa Gadra masih belum memerintah pasukannya untuk berlayar. Ia sedang menunggu zirahnya tiba. Zirah itu akan sangat membantunya dalam menundukkan Islan. Kendati Gadra memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya, sendiri ia tak akan mampu menundukkan Deus Guardian.


“Kapan zirahmu tiba?”


Gadra juga ingin tahu kapan zirahnya tiba, tetapi ia tak mungkin mengatakan itu pada sang panglima, kan?


“Tak lama lagi,” respons Gadra, sebuah respons yang menurutnya paling tepat.


“Hm… kalau begitu aku ke kapal terlebih dahulu, Emperor.” Guang Zhou tak menanti respons Gadra, dia pergi begitu saja setelah mengatakan itu.


Gadra sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Jika ia berada di posisi sang panglima, ia juga akan pergi duluan ke kapal. Menunggu itu menyebalkan bagi siapa pun. Mengecualikan orang yang menjadikan menunggu sebagai hobinya, tidak ada orang normal yang suka menunggu.


Untungnya, Gadra tak perlu menunggu lebih lama lagi. Belasan menit setelah Panglima Guang Zhou pergi, seorang wanita yang dikawal dua orang prajurit tiba dalam lingkaran sihir teleportasi.


Wanita itu membawa serta sebuah zirah yang warnanya didominasi merah marun dengan beberapa bagian berwarna emas, sedang kedua prajurit yang menemaninya membawa serta sebuah pedang dan tameng segi lima yang semuanya berwarna merah marun.


“Maaf terlambat, Yang Mulia. Ini satu set karya terbaik kami, silakan diterima.”


Gadra mengangguk, menerima zirah yang wanita itu sodorkan.


Ringan, bobotnya sangat ringan. Gadra belum pernah memegang baju zirah yang sama ringannya dengan selembar kain sebelumnya. Itu adalah yang pertama kalinya. Dan setelah melihat sedetil apa ukiran di permukaannya, Gadra memutuskan untuk langsung mengenakan zirah adamantite yang artistik tersebut.


“Itu sangat cocok dengan Anda, Yang Mulia,” puji wanita berambut hitam panjang itu diikuti anggukan kedua prajuritnya.


Gadra memandang sekilas dirinya yang kini dibaluti oleh baju zirah yang melindungi bahu, lengan, punggung, dada, perut, pinggang dan kedua pahanya. Model zirah itu sedikit mirip dengan zirah yang marak dipakai para prajurit Mikazuki Empire. Bedanya, zirah yang ia pakai lebih terbuka dan jauh lebih artistik dibandingkan mereka.


Puas melihat dirinya dalam balutan zirah tersebut, Gadra kembali mendaratkan pandangannya pada sang wanita dan kedua pengawalnya. “Kerja bagus,” ucapnya, “kalian boleh kembali.”


“Kalau begitu kami permisi, Yang Mulia. Oh, sebelum kami pergi, Tuan Putri Sarasvya menitip pesan untuk Anda: ‘Kembalilah dalam keadaan hidup, Kakek, jika tidak maka aku akan memburumu bahkan ke alam kematian sekalipun.’”


Gadra sedikit terkekeh mendengar pesan dari cucu tersayangnya. Gadis berusia tujuh tahun itu sangat tidak suka ketika ia tak berada di istana. Dan mengetahui betapa besar keinginannya untuk melihat Gadra kembali membuat sang emperor tersenyum tipis.


“Ya,” responsnya beberapa detik kemudian. “Aku akan kembali dan membawakannya hadiahnya.”


Gadra mengangguk pelan. Dan tepat sedetik setelah wanita itu dan kedua pengawalnya menghilang, sang emperor melangkahkan kedua kakinya ke depan dengan pedang dan tameng tersemat di masing-masing tangannya. Ia seorang Magic Master; Gadra bisa bertarung dengan berbagai cara. Kendati permainan pedangnya tak sampai pada keeleganan para ahli pedang, Gadra melengkapi kekurangan itu dengan permainan tamengnya yang di atas rata-rata.


“Yang Mulia.”


Para prajurit serentak menyapa sang emperor dengan penuh hormat saat dirinya menginjakkan kaki ke tepi dermaga utama.


Seraya mengangguk kepada para prajurit itu, kaki Gadra melangkah menaiki anak tangga yang tersusun rapi. Panglima Zhou terlihat senang dengan kedatangannya, dan Gadra hanya mengangguk pelan pada pria itu menggesturkan kalau dia bisa memerintah kapten kapal untuk mulai berlayar.


Dan dengan sebuah suara terompet yang dibunyikan dengan begitu keras, kapal utama itu menarik sauhnya dan mulai berlayar.


...—Aliansi Desa Centaur, Islan—...


“… Jadi, untuk memastikan semua hal-hal itu tak berulang, para dewan yang lama memutuskan untuk menyampaikan semua hal penting kepada dewan yang baru secara verbal. Meskipun ini juga berisi—”


“Tetua Ramatra,” sela Hernandez dengan nada yang sangat amat datar.


Hernandez sejatinya bukan tipikal individu yang tak sabaran. Malahan, ia adalah orang yang sangat sabar. Berprofesi sebagai pandai besi mengharuskannya untuk bersabar. Sabar bukanlah suatu konsep yang asing baginya.


Hanya saja, bahkan bagi Hernandez yang sabar menunggu pedang-pedang buatannya dalam air suci Danau Deus sekalipun, mendengar celotehan Tetua Ramatra telah membuat konsep sabar itu menjadi sesuatu yang asing baginya. Pasalnya, pria itu telah berceloteh lebih dari setengah jam!


“Bisakah kau mengatakan pada kami tentang akses rahasia ke ruang kendali?” tanya Hernandez, berusaha sebisanya untuk mempertahankan kesopanan.


“Benar sekali, Tetua Ramatra,” timpal Retsu yang juga sudah kehilangan kesabaran. “Mengapa tidak Anda tunjukkan akses menuju ruang kendali?”


“Tentu saja. Namun, aku harus menyelesaikan ceritaku agar kalian sepenuhnya mengerti, barulah kemudian aku bisa menunjukkannya. Hm, sampai mana tadi aku? Oh, ya! Jadi, meskipun hal itu juga berisi—”


“Tidak perlu, Tetua,” sela Hernandez lagi. “Penjelasan itu sudah cukup.”


“Tenang saja, ini tak akan lama. Jika tadi hanya beberapa menit saja, kali ini tak sampai tiga menitan.”


Kau sudah gila?! Setengah jam lebih kau bilang beberapa menit?!


Tentu saja Hernandez tak bisa meneriakkan is kepalanya itu begitu saja. Itu akan sangat tidak sopan. Terlebih lagi, mereka tidak sedang dalam posisi untuk bisa menuntut mengingat Deus Holy Church yang meminta bantuan para centaur.


“Tidak perlu,” ucap Hernandez sebelum Ramatra sempat melanjutkan. “Aku yakin kau cukup sibuk; kami tak ingin membuatmu menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Bukankah ada banyak hal yang harus segera kau lakukan setelah ini?”


Ramatra terdiam sejenak mempertimbangkan ucapan Hernandez, sebelum kemudian dia mengangguk pasrah. “Benar sekali, aku harus kembali ke balai desa,” katanya seraya menggeleng kepala. “Kendati aku ingin memperlihatkan kalau aku adalah anggota dewan terbaik, tetapi aku harus menahan diri. Ayo, kita ke sini.”


Hernandez hanya menghela napas panjang melihat tingkah centaur tua itu. Lantas ia dan Retsu mengikutinya berjalan menyusuri dinding ruangan berukuran 10 x 10 x 2 meter tersebut. Ramatra berhenti beberapa langkah dari sudut, membuat langkah Hernandez dan Retsu ikut terhenti. Telapak tangan sang centaur tua lantas menempel di atas sebuah simbol pentagram—tepatnya pentagram keenam dari tepi sudut.


“Aku hanya perlu rileks dan membiarkan [mana]-ku diserap….”


Beberapa detik setelah gumaman itu keluar dari mulut Ramatra, simbol pentagram berwarna hitam pekat itu mulai berpendar. Dan sedetik setelahnya, permukaan dinding seukuran pintu mulai mundur ke belakang sebelum kemudian terbagi menjadi dua bagian. Tangga menuju ke bawah pun terlihat dalam segala kemegahannya yang biasa.


“Ayo turun!”