
Begitu pintu ruangan terbuka, iris amber Retsu langsung memerhatikan orang-orang yang duduk di kursi-kursi yang melingkari meja bundar itu dengan seksama.
Ia belum pernah bertemu langsung dengan mereka, tetapi pernah mendengar dan melihat mereka dari kejauhan dalam beberapa kesempatan. Retsu mengamati mereka dengan intens, memastikan jika ia mengingat nama mereka semua.
Duduk di kursi tepat di kiri kursi dengan warna yang berbeda sendiri adalah Vermyna Hermythys. Meskipun dia terlihat jauh lebih muda dari semuanya, tetapi Retsu tahu kalau dialah yang tertua. Vampire berambut biru keunguan yang dikuncir dua itu juga adalah yang terkuat dari mereka semua. Menurut beberapa orang, jika Vermyna bisa menggunakan sihir saat berhadapan dengan Fie Axellibra, sang vampire itu memiliki peluang yang paling tinggi untuk bisa menang.
Duduk di samping Vermyna adalah adik dari sang vampire, Catherine Hermythys. Retsu tidak tahu banyak tentangnya. Meskipun Catherine cantik jelita dan sangat feminin dengan model pakaian dan rambut ekor kudanya, pamornya kalah saing dengan Vermyna. Jika harus dikatakan, Catherine hidup di bawah bayang-bayang nama besar Vermyna.
Di samping Catherine duduk seorang elf wanita yang perawakannya seperti berusia tiga puluhan. Namanya Evana Evrillia, dia individu kedua tertua setelah Vermyna. Rambutnya putih panjang, tetapi menurut Retsu, rambut Evana agak lebih pucat jika dibandingkan dengan rambut putih saljunya. Namun begitu, itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan sang elf.
Retsu lantas memerhatikan yang lainnya dengan cermat. Dan harus ia akui, selain nama mereka, ia tidak tahu banyak tentang orang-orang itu.
Dan, saat iris ambernya bertemu pandang dengan iris hitam kelam itu, Retsu langsung tahu kalau pedang yang tersemat di pinggang kirinya adalah ciptaan lelaki itu: Hernandez, sang blacksmith ternama.
Dari semua anggota Deus Guardian itu, tak ragu lagi kalau orang yang paling ia ketahui adalah manusia sepertinya itu.
“Seperti yang kalian asumsikan, wanita di sampingku adalah Retsu Vermillion. Dia rekan kita yang baru.”
Mendengar ucapan Pope Gramiel—seorang pria tua berjanggut tipis bertopi hitam kerucut dengan bekas luka di pipi kiri—yang memperkenalkan dirinya, Retsu langsung saja sedikit menundukkan kepala. “Suatu kehormatan bagiku akhirnya bisa bertemu dengan anggota Deus Guardian, aku telah menantikan datangnya hari ini dari jauh-jauh hari.”
Tidak ada respons verbal, mereka semua hanya menganggukkan kepala merespons ucapan Retsu.
“Retsu, kau bisa duduk di antara Zestya dan Hernandez,” ucap Gramiel, beranjak menghampiri kursi miliknya.
Retsu hanya mengangguk mendengar ucapan sang pope, lekas beranjak menduduki kursi yang bersangkutan. Ini adalah kali pertama Retsu duduk di antara mereka, tetapi ia sudah merasa kalau kursi yang terasa nyaman untuk diduduki ini memang disiapkan untuknya sejak awal. Tentu saja itu sama sekali tidak benar, tetapi Retsu merasa memang begitu adanya.
“Deus Guardian,” mulai Gramiel, menarik perhatian semua penghuni ruangan. “Aku mendirikan organisasi elit ini saat berusia 25 tahun dengan tujuan melindungi Danau Deus dan Islan secara keseluruhan. Vermyna, Catherine, Elemetra, Diatra, dan Evana adalah lima anggota pertama, kemudian disusul Minner, Zestya, Zuthvert, Hernandez, Khrometh, Stakhneth, dan terakhir Retsu. Sejak awal kudirikan hingga saat ini, 26 tahun sudah berlalu. Itu adalah masa hidup yang lama bagi seorang manusia dan dwarf.”
Gramiel menjeda sejenak, memandang anggota Deus Guardian satu per satu, sebelum kemudian menghentikan pandangannya pada Hernandez.
“Nak Hernandez, aku percaya kau sudah menyelesaikan apa yang kupinta.”
Hernandez mengangguk. Sebuah lingkaran sihir hitam segera tercipta beberapa centi di atas meja di hadapan sang blacksmith. Sedetik kemudian, dua belas kalung indah dengan liontin yang berbentuk bulat sempurna keluar dari sana.
Melihatnya sekilas, Retsu dapat mengatakan kalau itu adalah artefak sihir. Dan karena jumlahnya ada dua belas, ia bisa menduga kalau itu diperuntukkan bagi anggota Deus Guardian. Kemungkinan besar sebagai tanda pengenal mereka.
“Benda ini memiliki beberapa fungsi,” terang Hernandez, “salah dua di antaranya adalah menyimpan [mana] dan sebagai pelacak terhadap satu sama lain. Artinya, kita bisa mengetahui lokasi kalung yang lain kendati jarak yang memisahkan terlampau jauh.”
“Bagus, Nak Hernandez, kau bisa memberikannya pada rekan-rekanmu.”
Hernandez melakukan apa yang sang pope suruh. Dan begitu kalung itu juga terletak di depan Retsu sama seperti lainnya, ia baru menyadari kalau di permukaan liontin itu terdapat dua belas simbol berbentuk bulat sempurna.
“Sekarang kalian bisa meneteskan darah kalian di atas liontin itu,” kata Hernandez. “Itu akan membuat liontin itu menjadi milik kalian secara permanen. Jika itu diambil orang lain tanpa izin kalian, benda itu akan meledak dengan sendirinya saat diinjeksikan [mana] ke dalamnya.”
Mereka lantas melakukan apa yang Hernandez katakan. Dan satu per satu simbol bulat sempurna itu berpendar biru langit tak stabil. Lalu saat semuanya selesai meneteskan darah di atasnya, kedua belas simbol itu berputar secara harmoni dan pendar birunya menjadi stabil.
“Aku sangat senang akhirnya Deus Guardian lengkap,” komentar Pope Gramiel dengan senyum ramah di bibirnya, tetapi kemudian ekspresinya seketika menjadi serius. “Kalau begitu, sekarang kita langsung saja pada inti pertemuan kali ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Veria juga akan melakukan ekspedisi tahunan mereka. Berdasarkan informasi yang kuterima, bisa jadi ekspedisi tahun ini adalah yang terbesar dalam sejarah.”
Perkataan serius Pope Gramiel itu sontak menuai berbagai reaksi dari para guardian.
“…Orang-orang tamak itu, mengapa mereka tak bisa menerima kenyataan kalau Danau Deus itu sengaja diberikan sang dewa kepada penduduk Islan?!”
Gerutuan geram itu keluar dari mulut Khrometh—Retsu langsung mengenalinya sebagai orang yang bertemperamen buruk di antara semua anggota.
“Normalnya aku tak akan pernah sepakat dengan apapun yang keluar dari mulut Khrometh,” ucap Minner dengan senyum mengejek di bibir, “tapi untuk hal itu saja, aku setuju dengannya kalau orang-orang Veria itu cukup tamak.”
“Aku tidak perlu mendengar omonganmu itu, Singa Liar, sebaiknya kau mencari betina untuk mempersiapkan musim kawinmu yang akan datang.”
“Pfffff—khahahahahaha….”
Ledakan tawa sontak memenuhi ruangan luas itu dengan begitu membahana. Retsu saja harus bersusah payah menahan diri agar tak tertawa, terutama saat melihat wajah Minner yang memerah padam.
“…Khrometh, kau ingin mengatakan kalau aku juga harus mencari penjantan untuk mempersiapkan musim kawinku, begitu?”
Suasana mendadak hening begitu suara dingin itu menginvasi indra pendengaran setiap orang.
Suara itu milik Zestya, warebeast yang duduk tepat di samping Retsu. Meskipun ini baru pertama kalinya ia bertemu langsung dengannya, tetapi Retsu langsung tahu kalau wanita yang biasa menyebut dirinya “Zestya” itu sedang tidak senang.
“Te-Tentu saja tidak, Nona Zestya, sama sekali tidak! Itu hanya candaan untuk Minner, tak lebih. Sungguh!”
Pelipis Khrometh dipenuhi keringat dingin, wajahnya pucat pasi. Dan setelah Retsu melihat sekeliling, bukan hanya Khrometh saja yang bersikap seperti itu. Hernandez yang duduk di sampingnya pun terlihat sedikit tegang. Dan bahkan, Pope Gramiel juga ikut memasang wajah was-was. Hal itu sontak menimbulkan pertanyaan di benak Retsu, apa Zestya saat marah cukup mengerikan?
“Hmph, baguslah, Zestya baru saja berpikir kalau Zestya perlu sedikit melakukan latihan ringan.”
Ketegangan yang menyelimuti ruangan mendadak menghilang, membuat para lelaki, terutama Khrometh, bernapas lega.
“Ehem!” dehem Pope Gramiel, membuat semua perhatian kembali teralihkan padanya. “Itu bagus kalian cukup akrab dengan satu sama lain, ha-ha-ha-ha.”
Itu tawa yang kikuk, dan sama sekali tak lucu. Tetapi tiada yang mengatakan itu pada sang pope. Mereka semua memandangnya dengan pandangan yang mengatakan “lanjutkan”.
“Kita bisa memperkirakan kalau pasukan yang dibawa pada tahun ini akan berada di atas 800.000. Terlebih lagi, selain dipimpin langsung oleh Emperor Gadra seperti saat ekspedisi 30 tahun yang lalu, kemungkinan besar Empress Jiang Yue Yin akan ikut berpartisipasi—dan itu adalah kabar terburuknya.”
“…Aku sudah mendengar beberapa hal tentang Empress Jiang Yue Yin,” kata Hernandez. “Jika dia memang ikut berpartisipasi, ini akan menjadi situasi yang sulit.”
“Jiang Yue Yin…apa dirinya sekuat itu sampai dirimu berkata seperti itu, Hernandez?”
“Aku tidak bisa memastikan jika itu benar atau tidak. Tapi dari perkataan orang-orang Veria, Empress Jiang Yue Yin bisa menggunakan semua sihir yang ada. Bahkan, dia juga bisa menggunakan api hitam sama seperti Nona Retsu, sihir ruang sama seperti Nona Vermyna. Aku tidak tahu apakah dia bisa menggunakan sihir waktu, tetapi mengingat rumor tentangnya, aku tak akan terkejut jika dia bisa menggunakannya.”
Ruangan kembali hening sekali lagi. Kali ini bukan karena ketegangan yang tiba-tiba meninggi, tetapi karena semuanya tengah mencerna perkataan Hernandez. Menggunakan semua jenis sihir, apa itu mungkin? Pertanyaan semacam itu adalah apa yang melintas di pikiran mereka.
Retsu tentu saja merasa sulit untuk memercayainya. Pasalnya, api hitam miliknya adalah pemberian langsung dari Seraphim Mariel. Api hitam adalah sihir milik seorang seraphim, bagaimana mungkin orang lain bisa menggunakannya?
Retsu ingin menolak memercayai itu. Rasanya tak mungkin itu benar. Namun, yang mengatakan itu adalah Hernandez sendiri. Pria itu tidak akan mengatakan hal yang tak beralasan saat berada dalam situasi serius seperti saat ini.
“…Hm, kalau begitu, diriku sendiri yang akan menanganinya. Jika dirinya bisa menggunakan [Space Magic] dan [Time Magic] seperti diriku, diri kalian tidak akan bisa mengalahkannya dengan mudah. Diriku akan menghentikan diri wanita itu.”