
Spirit dan peri adalah dua entitas yang mirip dan sekaligus berbeda. Sebagian mereka memiliki fisik yang serupa, mayoritasnya berbeda dengan kuasa yang berbeda pula.
Kekuasaan peri meliputi alam kehidupan, sedang kekuasaan spirit meliputi alam kematian. Jika [mana] adalah penyatuan dari energi positif dan energi negatif, maka peri adalah energi positif bagi alam sedangkan spirit adalah energi negatifnya.
Bahkan, untuk memperjelas perbedaan di antara mereka, spirit dan peri hidup di dua benua yang berbeda. Peri hidup di Islan, sementara spirit hidup di Veria, tepatnya di Hutan Kehidupan Sakhra.
Orang-orang akan menyangka kalau tempat itu dipenuhi berbagai sumber kehidupan seperti namanya, tetapi tidak begitu. Tempat itu bahkan tidak bisa sepenuhnya dikatakan hutan. Tak ada satu pohon normal pun yang berdaun, semuanya bagaikan pohon mati yang gosong karena terbakar. Tanah-tanahnya pun berwarna hitam legam, banyak area yang retakan tanahnya mengeluarkan gas beracun. Di dalamnya terdapat kubangan air, tetapi air itu lebih beracun daripada bisa ular.
Kendati demikian ekstremnya, terdapat cukup banyak hewan dan tumbuhan aneh berdaun di hutan tersebut, tetapi tentu saja keduanya sama sekali tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Hutan itu dinamakan Hutan Kehidupan Sakhra karena tempat yang memancarkan hawa kematian itu selalu menyerap energi kehidupan dari alam dan setiap makhluk hidup yang mendekatinya. Jika makhluk hidup itu dapat beradaptasi dengan lingkungan hutan tersebut, mereka mungkin bisa bermutasi, jika tidak maka mereka akan mati.
Sementara itu, Sakhra disematkan pada nama hutan dikarenakan Sakhra adalah nama dari Raja Spirit penguasa hutan mematikan tersebut. Selain itu, Hutan Kehidupan Sakhra akan membuat orang-orang tertarik untuk datang ‒ orang-orang akan berpikir dua kali untuk melihat ke sana jika hutan itu dinamakan Hutan Kematian Sakhra.
Hutan yang menjanjikan kematian tersebut mencakup wilayah yang cukup luas, jauh lebih luas dari Kota Shinzou, ibukota Jiangzhou Empire—kota terbesar di seantero Benua Veria. Membentang dari sisi terselatan Mikazuki Empire hingga sisi terutara Jiangzhou Empire, Hutan Kehidupan Sakhra menjadi pemisah alami antara kedua kekaisaran. Mungkin, jika bukan karena keberadaan hutan itu, Jiangzhou Empire akan sering terlibat konflik dengan Mikazuki Empire.
Berdiri di batas terluar hutan tersebut adalah dua orang manusia dengan gender dan tinggi badan yang berbeda. Yang pertama adalah pria yang bisa dipanggil kakek oleh seorang anak kecil, sementara yang kedua adalah gadis yang cukup muda sehingga bisa diasumsikan sebagai cucu dari sang pria. Tetapi itu sungguh keliru. Gadis yang berperawakan seperti anak berusia dua belas tahun itu sebenarnya jauh lebih tua dari pria yang berdiri di sampingnya—perbedaan usia mereka lebih dari satu abad.
“Jiang Yue Yin.”
Pria berusia lima puluh tahunan berambut hitam pendek yang mulai kusam itu memandang wanita di sebelahnya dengan ekspresi serius.
Gadra Rashta nama pria tua tersebut, emperor yang menguasai Karna Great Empire—kekaisaran dengan wilayah terluas di Veria. Kendati ia masih berposisi sebagai emperor, ia sudah jarang aktif mengurusi pemerintahan kekaisarannya. Tugasnya saat ini sebagian besarnya diambil alih oleh putranya, penerus tahta kekaisaran mereka.
“Katakan, Gadra.”
“Kita sudah menunggu setengah jam di sini.”
Gadra tidak bisa menyembunyikan kekesalan dan rasa frustrasi yang dirasanya. Iris hitamnya memandang gadis berambut perak panjang itu dengan begitu intens, seolah-olah pandangannya menerobos memasuki isi kepala sang gadis. Sebagai emperor, sangat tidak sopan untuk membuatnya menunggu lama seperti ini. Jika bukan karena hutan di hadapannya ini akan menyerap energi kehidupan setiap makhluk yang masuk tanpa izin, Gadra pasti sudah memacu kakinya menerobos masuk.
Satu-satunya alasan mengapa Gadra masih bertahan adalah karena gadis di sampingnya ini. Tidak peduli betapa kesalnya Gadra, ia tidak ingin mengatakan hal yang akan membuat gadis di sampingnya ini memandangnya datar. Gadra tidak takut pada siapapun di Veria ini, tetapi ia sama sekali tidak ingin bertarung dengan Yue Yin ‒ ia tidak akan bisa menang. Yue Yin saat ini adalah orang terkuat di seantero Veria, tidak ada satu pun yang tidak setuju dengan itu.
“Hmph. Jangan jadi tak sabaran, Gadra; setengah jam itu tidak lama. Dan, Sakhra bukan tipikal yang suka membuatku menunggu, tapi ini adalah kesalahanku karena tidak memberitahukannya tentang kedatanganku terlebih dahulu.”
Kalau begitu mengapa kau tidak mengatakan hal itu dari tadi?!
Tentu saja Gadra tidak bisa mengatakan hal itu ke muka Yue Yin secara langsung, tetapi ia dengan senang hati mendelik tajam pada sang empress yang menguasai Jiangzhou Empire.
Jika Yue Yin menyadari Gadra memandangnya dengan mendelik, gadis itu tidak menunjukkannya. Dia bahkan tak terlihat memberi perhatian pada sang emperor. Pandangan Yue Yin fokus sepenuhnya ke depan. Gadra tidak tahu apa yang dia lihat, tetapi mengingat kalau Yue Yin dan Raja Spirit Sakhra berteman baik, Gadra berasumsi kalau sang empress memandang jauh membayangkan istana sang raja spirit.
Tiba-tiba, sebuah gapura yang begitu megah dan berkilauan termaterialisasikan di hadapan Gadra dan Yue Yin. Gapura itu lebih megah dan mewah dibandingkan gapura istana kekaisarannya Gadra. Dari sela-sela ruang yang memisahkan ornamen dan ukiran yang menghiasi gapura, Gadra melihat warna merah marun yang menunjukkan ciri khas dari adamantite. Meskipun sang emperor tidak ingin memercayai kalau semuanya itu adalah adamantite, tetapi ia tahu betul kalau gapura itu berbahandasarkan adamantite.
Kemudian, pasir emas mulai tercipta dari ketiadaan, membentuk jalan emas panjang yang bermula dari gapuran hingga jauh ke dalam hutan. Jalan yang membentuk emas itu sama lebarnya dengan gapura, kurang lebih tiga meter. Dan ketebalannya, wow, itu sama dengan jarak antara pergelangan tangannya dan ujung jari tengahnya.
Bayangkan saja, berapa banyak koin emas yang bisa dibuat dari emas sebanyak itu? Memikirkannya saja sudah membuat Gadra harus menahan mulutnya agar tidak mengences.
“Gadra, jangan berdiri bodoh seperti itu, ayo cepat.”
Gadra refleks menggelengkan kepalanya mengusir gambar-gambar yang mengisi pikirannya, melangkah cepat mengikuti Yue Yin melewati gapura.
Sedetik kemudian, Gadra merasa dunia telah bergerak. Rupanya, jalan emas yang ia dan Yue Yin naiki telah melata memasuki hutan. Lalu ketika Gadra melihat ke belakang, gapura itu masih ada tepat di belakangnya. Artinya, jalan emas yang tercipta kini sedang memendek untuk membawa mereka berdua ke istana para spirit. Dan, seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan Yue Yin, Gadra sama sekali tidak merasa kalau energi kehidupannya diserap.
Ah, ia jadi merindukan ibunya tercinta. Hidup ini akan lebih indah jika ibunya masih bernapas. Tetapi itu hanya akan menjadi angan semata. Manusia adalah makhluk dengan masa hidup terpendek di antara makhluk berakal lainnya. Mereka lahir, tumbuh, dan pasti akan mati dalam waktu yang dekat. Generasi lama digantikan generasi baru; sebuah ketentuan alam yang sama sekali tak bisa dihindari.
Akan tetapi, melihat sosok Jiang Yue Yin di sampingnya, mungkin ada pengecualian dalam kerapuhan manusia. Namun demikian, Gadra sama sekali tidak tertarik pada prospek keabadian. Ia percaya kalau hidup manusia itu adalah hidup yang paling ideal. Potensi mereka sungguh tak terbatas, dan kebosanan rasanya tak mungkin akan mengklaim mereka sebab ada begitu banyak yang harus dilakukan sementa—
“—eh? Apa itu?!”
Gadra tidak bisa menahan keterkejutannya untuk tidak terlihat, iris hitamnya tergelut sempurna pada sosok makhluk berkaki empat, bersayap lebar, dan memiliki kepala yang sangat Gadra ketahui.
Akan tetapi, berbeda dengan makhluk yang mendiami Medea, makhluk berkaki empat bercakar tajam itu memiliki tubuh berwarna emas transparan dan bergerak dengan melayang. Selain transparan, makhluk itu juga tidak bisa disentuh, hal itu terbukti saat makhluk tersebut melayang melewati pohon-pohon yang seperti terbakar hingga gosong itu.
“Apa itu naga?”
Meskipun ukurannya hanya sebesar seekor kuda, Gadra sama sekali tidak ragu kalau itu naga, tetapi ia butuh kepastian karena apa yang dilihatnya agak tidak normal.
“Itu Ra, naga spirit peliharaan Sakhra, usianya sudah lebih dari dua ribu tahun.”
“Naga spirit?”
“…Sakhra menemukan naga itu saat masih bayi di alam kematian. Karena menyukainya, dia memutuskan untuk merawat dan menjadikan naga itu sebagai peliharannya. Tentu saja makhluk yang berada di alam kematian tidak bisa kembali ke alam kehidupan begitu saja, tetapi Sakhra bisa melakukannya. Bukan saja dia memiliki akses keluar masuk alam kematian, [mana] yang Sakhra miliki memungkinkannya mempertahankan keberadaan jiwa yang sudah mati di dunia ini.”
Gadra tentu saja sudah mendengar banyak hal tentang Raja Spirit Sakhra. Dikatakan bahwa penguasa Hutan Kehidupan Sakhra itu dapat menciptakan benda apa saja hanya dengan jentikan jarinya, tanpa terkecuali. Itu memang sulit untuk dipercaya, tetapi Gadra tahu kalau sebuah rumor tidak mungkin timbul tanpa ada dasarnya. Karenanya, mendengar penjelasan Yue Yin barusan, Gadra tidak bisa untuk meragukan kebenaran akan kata-kata itu.
“Jadi, naga spirit itu tidak benar-benar hidup?”
“Bisa iya, bisa juga tidak, tergantung pada definisi hidup yang kau miliki.”
Yue Yin menutup mulutnya rapat, tidak menjelaskan lebih.
Gadra tidak akan meminta Yue Yin untuk mengelaborasikan perkataannya. Melihat bagaimana sang empress menutup mulutnya dengan ekspresi datar, Gadra mengerti kalau dia mulai jengkel karena Gadra terlalu banyak bicara. Hal yang paling logis untuk ia lakukan adalah tidak bertanya lebih, jika tidak maka wajah datar itu akan dihadapkan padanya.
Jika ada hal yang paling berbahaya di Veria, itu adalah berurusan dengan Yue Yin saat dia memasang wajah datar dengan sorot mata kosong. Gadra memang kuat, tetapi menghadapi Yue Yin? Tidak, terima kasih banyak. Gadra masih ingin hidup.
Perjalanan diteruskan dalam diam. Gadra tidak ingin merusak suasana yang tercipta. Yue Yin sangat menyukai ketenangan. Sang empress sangat suka menyendiri. Karenanya, membiarkan suasana tetap seperti ini adalah yang terbaik, dengan demikian suasana hati Yue Yin mungkin akan membaik.
Setelah beberapa lama, akhirnya iris hitam Gadra bisa melihat sebuah bangunan raksasa yang warnanya hitam kelam serta memancarkan hawa kematian. Jika ia perhatikan lamat-lamat, itu seperti kastil kuno yang telah lama ditinggalkan dan hangus terbakar.
Akan tetapi, tatkala jaraknya semakin dekat, Gadra bisa melihat kalau perumpamaan itu tak sepenuhnya benar. Bangunan raksasa itu sungguh terawat. Gadra tidak bisa melihat adanya sedikit kerusakan pun padanya.
Dan begitu jalan emas itu membawa mereka melewati gapura hitam kelam raksasa yang tak berpenjaga itu, Gadra seketika menyadari bahwa tidak ada siapa pun di dalam istana kematian raksasa tersebut.
“Yin?”
Suara yang tiba-tiba menginvasi indra pendengaran mereka itu terdengar cukup berat dan terkesan mengintimidasi. Padahal, itu hanya sepenggal kata yang diucapkan dengan nada monoton.
Gadra, hanya berbekal suara itu, sudah dapat menebak seperti apa Raja Spirit Sakhra yang terkenal itu. Ia menerka kalau Sakhra itu pastilah individu yang besar, berwajah sangar, memiliki sorot mata yang tajam, dan tubuhnya dipenuhi hawa kematian. Gadra membayangkan sosok yang paling sesuai dengan kata “kematian” terhadap diri sang raja spirit.
“Yin?”
Hampir saja Gadra tersentak dan melontarkan suara memalukan dari mulutnya. Suara yang hampir membuatnya menanggung malu itu datang tepat dari belakangnya. Refleks ia membalikkan badan, bersiap-siap berhadap-hadapan dengan makhluk besar berjuluk raja spirit itu. Namun—