Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.13 — The Festival



—6th May, D204 | Kota Pelabuhan Barat, Islan—


Serabut oranye kemerahan khas langit senja tampak begitu memesona bagi setiap pasang mata yang memandang. Di bawah petala langit yang luas itu, desiran ombak yang mulai pasang terdengar nyaring di telinga. Buih-buihnya lebih banyak dari jumlah bintang di langit malam. Tetapi sama seperti cepatnya mereka tercipta, cepat pula mereka menghilang ‒ berbeda dengan para bintang yang setia pada langit malam.


Namun, hal itu justru memberi kesan yang unik bagi setiap pemandang. Buih yang tercipta dan menghilang itu tak ubahnya dengan siklus kehidupan manusia: mereka lahir, tumbuh, mati dalam waktu yang dekat, kemudian digantikan oleh manusia yang lain. Sungguh, alam memang menyimpan begitu banyak hikmah yang mendalam bagi mereka yang mau berpikir.


Berlabuh pada dermaga besar di bibir pantai itu adalah kapal-kapal besar nelayan yang telah dipermak sedemikian rupa sehingga mencerminkan nuansa festival yang kental. Perahu-perahu juga ramai tertambat pada tiang-tiang penyangga dermaga. Itu sungguh tak biasa.


Biasanya dermaga sedikit sepi akan kapal-kapal ataupun perahu-perahu saat senja begini. Rata-ratanya sudah mulai pergi berlayar, sebagian lainnya masih mengarungi liarnya lautan. Tetapi mungkin itu disebabkan oleh festival yang akan segera dimulai. Kendati tak dilarang sama sekali, walikota sempat mengatakan kalau tiada warga yang meninggalkan kota saat festival tiba.


Di tepi dermaga tersebut, Hernandez berdiri diam memandang matahari yang setengahnya telah menyapa belahan dunia yang lain. Sang pandai besi itu datang ke dermaga setelah selesai memasang penghalang yang bisa diaktifkan kapan saja di seantero kota.


Seharusnya ia berdiri sendiri di sana, tetapi nyatanya tidak. Retsu juga berdiri dengan tenang di sisi kanan Hernandez. Malahan, putri dari orang terkaya di seantero Islan itu telah berdiri di situ lebih dahulu bersama dengan Zestya dan Minner yang duduk santai tepat di pinggir dermaga. Hernandez yang terakhir yang bergabung dengan mereka bertiga. Mereka berempat berada di dermaga sama sekali bukan karena janji bertemu di sana, melainkan hanya karena kebetulan semata.


Mereka sama sekali tak bertutur kata, keempatnya diam memandang terbenamnya sang mentari. Pun mereka tak perlu bertutur kata, semuanya sudah tahu apa yang mereka harus lakukan. Masing-masing dari mereka hanya diam menikmati panorama alam, sekalian menunggu datangnya malam yang sudah mereka tunggu-tunggu.


...* * *


...


Kegelapan malam menyelimuti alam raya dengan gulitanya. Namun, itu tak bisa sepenuhnya dibilang gelap. Bulan yang membulat sempurna telah mencurahkan begitu banyak cahaya pada permukaan dunia. Meski memang tiada apa-apanya jika dibandingkan dengan terangnya hari, tetapi pucatnya sinar bulan itu telah cukup menjadi penyinar di malam yang sibuk ini.


Terlebih lagi, malam ini adalah malam yang spesial bagi penduduk kota pelabuhan barat. Ini malam Festival Kraken. Jikapun awan berdatangan memayungi langit, [Light Stone] telah terpasang di seluruh penjuru kota, membuat malam akan tetap terang.


Seperti yang diharapkan dari sebuah festival, orang-orang ramai membludaki jalan-jalan kota. Anak-anak, orang dewasa, bahkan lansia pun ikut berlalu-lalang. Ada yang berjalan sendiri, ada yang bersama teman, bersama keluarga, dan ada pula yang bersama kekasih hati. Mereka mengunjungi stan-stan makanan dan hiburan yang telah berjejer rapi di sepanjang jalan utama—jalan yang mengarah langsung ke tanah lapang berpasir di mana altar tempat kraken dipersembahkan terletak.


Kendati ini malam Festival Kraken, tak ada satu pun stan makanan yang menyajikan menu kraken. Itu tentu saja bukan tanpa alasan. Sebagaimana tradisi Festival Kraken sejak dahulu, kraken tidak boleh dipindahkan dari altar hingga lewat tengah malam dari malam festival. Hal itu dilakukan agar setiap tetes darah biru kraken habis tak bersisa dan diserap dengan sempurna oleh pasir coklat keputihan itu.


Dan untuk menjaga agar daging kraken tetap segar, para warga menyiraminya dengan air khusus yang mereka olah setiap tiga kali sehari. Mereka terus melakukan itu sampai sebelum malam festival tiba, barulah kemudian kraken akan dipotong-potong dan dibagikan kepada para warga untuk diolah.


Di saat para warga sibuk menikmati hiburan dan makanan yang disajikan, Hernandez dan yang lainnya telah berpencar ke empat penjuru mata angin. Tinggal kurang dari dua jam lagi hingga tengah malam tiba, makhluk itu bisa muncul kapan saja. Karenanya, mereka harus senantiasa bersiaga. Meskipun ucapan makhluk itu tak detail, mereka bisa mendeduksi kalau tempatnya turun adalah altar di mana kraken diletakkan.


Tentu saja hal itu diyakini bukan tanpa alasan yang logis. Hernandez dan yang lainnya telah mengumpulkan berbagai informasi perihal Festival Kraken dan Lasya of the Moon. Mereka tidak mendapatkan banyak informasi penting dari walikota; apa yang walikota tahu tak lebih dari apa yang sudah dia beritahukan pada Hernandez dulu.


Informasi penting yang mereka dapatkan berasal dari kapten kapal sekaligus pemilik penginapan tempat mereka menginap. Lebih tepatnya, dari catatan lama milik kakek dari kakek kapten kapal yang tersimpan rapi di gudang penyimpanan khususnya.


Dalam catatan itu, tertulis bahwa bulan pernah menjadi seputih susu pada salah satu malam festival—tepatnya pada tengah malam. Saat itu, pasir coklat keputihan yang mengelilingi altar juga ikut memutih menyerupai bulan. Orang yang menulis catatan tersebut tidak yakin sepenuhnya, tetapi dia menduga bahwa di bawah altar terdapat semacam artefak sihir yang menyerap semua darah biru setiap kraken. Pasalnya, tepat saat fenomena bulan seputih susu itu terjadi, ada partikel-partikel biru yang tampak keluar dari bawah altar, tetapi masuk kembali sebelum sempat meninggi ke udara.


Jika catatan itu benar, dan Hernandez yakin itu benar, itu sangat menjelaskan mengapa kraken itu diatur luka dan posisinya sedemikian rupa sehingga semua darahnya habis membasahi pasir.


Hernandez tak bisa menarik kesimpulan yang lebih; lebih dari itu hanya akan menjadi asumsi semata. Tentu saja ia punya asumsi yang logis, tetapi tanpa adanya bukti pendukung, itu hanya akan membuang-buang waktu. Yang terpenting, ia hanya harus menyelamatkan Lyra saat dia muncul. Hernandez memang memiliki firasat kalau makhluk itu berniat merasuki Lyra, tetapi ia sudah punya solusi untuk itu. Karenanya, Hernandez sama sekali tak memusingkan detail dari festival yang sebenarnya adalah ritual ini.


Hernandez yang duduk di salah satu atap rumah di sisi utara altar itu tiba-tiba menghadapkan wajahnya ke kiri. Di sana sudah tercipta sebuah distorsi yang mengoyak ruang. Vermyna Hermythys keluar dari dalamnya dengan langkah yang elegan. Jika bukan karena postur tubuhnya yang seperti anak kecil, Hernandez mungkin akan mempertimbangkan untuk memandang sang vampire lebih lama dari yang seharusnya.


“Nona Vermyna,” gumam Hernandez pelan, mengapresiasi kedatangan sang vampire. “Aku tidak melihat Catherine, dia tidak bersamamu?”


“Tidak,” geleng Vermyna pelan, “diriku meminta dirinya untuk bersiaga di batas antara kota ini dengan lautan pasir. World Observer…makhluk itu memiliki [Holy Sand], diri kita tidak boleh memberi dirinya akses ke tempat itu.”


Hernandez tak terkejut mendengar makhluk itu memiliki sihir yang berhubungan dengan pasir ‒ mereka sudah menyaksikan sendiri kalau Lasya dapat mengubah tubuhnya menjadi pasir putih.


“Tetapi bukan itu yang paling berbahaya dari dirinya,” lanjut Vermyna. “[True Mirror], sihir itu sangat merepotkan. Jika diri makhluk itu sampai memunculkan sebuah cermin, jangan sampai membuatnya dapat merefleksikan pantulan dirimu. Jika cermin itu dapat menangkap refleksi dirimu, cermin itu akan menjadikan refleksi itu nyata dan menggunakannya sebagai boneka.”


Hernandez mengernyitkan keningnya mendengar hal itu. Jika sampai cermin itu menciptakan boneka dari refleksi dirinya dan Vermyna, itu akan sangat menyusahkan mereka semua.


Hernandez tak ingin menyombongkan diri atau apa, tetapi dari semua guardian, ia adalah yang terkuat setelah sang vampire. Selain itu, [Rune Magic]-nya sangat efektif untuk melumpuhkan lawan. Karenanya, kalau sampai hal itu terjadi, Hernandez tak akan punya pilihan lain selain menundukkan boneka cermin itu terlebih dahulu.


“Seberapa kuat boneka itu, Nona?”


“Diriku tidak bisa memastikan, tetapi diriku ragu jika cermin itu bisa menciptakan boneka sekuat aslinya.”


Hernandez mengangguk mengerti. Jika [True Mirror] dapat menciptakan boneka yang sama kuatnya dengan individu aslinya, makhluk itu akan menjadi prioritas utama yang harus ditundukkan, dan itu akan memberikan kebebasan bagi World Observer untuk bergerak. Dengan sihir itu, dia sama sekali tak memerlukan pasukan apapun; dalam sekejap dia bisa menciptakan pasukan boneka yang berbahaya.


“Dirimu harus menghancurkan cermin itu dengan serangan fisik, semua serangan berbasiskan [mana] akan diserapnya. …Itu saja, sekarang diriku akan menemui yang lain.”


“Tunggu dulu, Nona Vermyna!” seru Hernandez sesaat sebelum Vermyna memasuki portal dimensinya.


“…Ya?”


“Bagaimana dengan kemampuan makhluk itu yang dapat menghindari setiap serangan, meskipun itu dari posisi yang sulit dihindari? Aku menduga kalau itu sihir sensorik atau sihir kewaskitaan; apa kau tahu sesuatu?”


“…Kemungkinan besar itu sihir sensorik yang lebih superior dari rata-rata sihir sensorik.”


Vermyna lekas pergi tepat setelah mengatakan itu. Portal dimensi miliknya lantas tertutup dan menghilang. Hernandez melihat kepergian sang vampire itu dengan kening mengernyit. Tadi Vermyna sempat ragu saat menjawab pertanyaannya, seolah ada hal yang ingin dikatakannya tetapi merasa lebih baik untuk tidak dikatakan.


Hernandez tentu saja tak ingin berasumsi buruk tentang rekannya itu, tetapi ia merasa kalau hal yang tak ingin Vermyna katakan itu adalah sesuatu yang penting yang seharusnya dikatakan. Sang vampire itu tak berbohong saat menjawab pertanyaannya tadi, paling tidak Hernandez tak meragukan hal itu.


Merasa percuma memikirkan asumsinya itu terus-menerus, Hernandez menghela napas panjang dan mengembalikan pandangannya ke altar.