
Perkataan Vermyna sontak menarik perhatian penuh Hernandez. Iris hitam kelamnya lekas menengadah, fokus pada batu pucat yang menggantung di langit sana. Dan meskipun itu terlihat dekat, sebenarnya jaraknya cukuplah jauh. Tetapi bukan mustahil untuk mencapainya. Hanya saja—
“Vampire tidak memiliki masalah bernapas tanpa udara, tetapi bagi kalian, itu perkara yang berbeda.”
—mereka harus menangani masalah ketiadaan udara, seperti yang baru Catherine katakan.
Mengesampingkan undead yang tak perlu bernapas, hanya naga, vampire, malaikat, dan iblis yang memiliki kemampuan bernapas tanpa udara. Terlebih lagi, jarak antara tempat mereka berpijak dengan benda bulat raksasa itu cukup jauh—lebih jauh daripada beberapa kali keliling dunia tempat mereka tinggal. Untuk sampai ke sana dengan cara konvensional, Hernandez harus membuat persiapan dan perbekalan yang matang. Dan itu memanglah apa yang hendak ia lakukan; ia akan menyelamatkan wanita itu bagaimanapun juga.
“Diriku bisa memindahkan ruang antara diri kita dan diri bulan untuk memperpendek jarak, tetapi karena terlalu luas, itu memerlukan diriku untuk tetap fokus. Karenanya, diriku tidak akan bisa membantu diri kalian menghadapi World Observer.”
Di antara mereka semua, Vermyna-lah yang memiliki paling banyak [mana]. Saking banyaknya, jika [mana] mereka berlima digabungkan, [mana] Vermyna masih beberapa kali lebih banyak dari itu. Tetapi bagi sang vampire untuk mengatakan kalau dia butuh konsentrasi, kata “luas” itu memang bukan hanya kata semata. Tentu saja Hernandez tak berekspektasi lebih; ia sendiri pun tahu akan keterbatasan mereka mencapai sang penguasa malam itu.
“…Bagaimana dengan portal dimensi, Nona Vermyna, bukankah lebih mudah jika pergi dengan cara itu?”
“Pertanyaan yang bagus, Retsu,” respons Vermyna dengan ekspresi tenang. “Jawabannya: untuk menciptakan portal dimensi ke mana saja, diriku perlu terlebih dahulu memasukkan semua ruang ke dimensi inti diriku. Jika tidak, portal dimensi tidak akan bisa menghubungkan kedua sisi ruang.”
Vermyna menjeda sejenak, melanjutkan, “Itu tak jauh berbeda dengan teleportasi. Agar spell teleportasi bisa bekerja, harus terdapat dua koordinat yang masing-masing menjadi titik awal dan akhir. Jika titik akhir itu tidak ada, teleportasi tidak akan terjadi. Senada dengan itu, untuk menciptakan portal teleportasi di bulan, diriku harus terlebih dahulu memasukkan bulan itu ke dalam dimensi inti diriku.”
“Begitu rupanya, itu menjelaskan mengapa sejak awal Nona Vermyna tidak mencoba melakukannya.”
“…Berapa lama waktu yang kau butuhkan, Nona Vermyna?” tanya Hernandez tiba-tiba. Jika ia ingin menyelamatkan Lyra, ia harus cepat. Semakin lama waktu yang terbuang, semakin tak jelas keadaan wanita itu. Hernandez memang masih belum tahu apa-apa tentang kemampuan World Observer, tetapi melihat artefak sihirnya hancur berkeping-keping, makhluk itu pastinya lebih dari sekadar kuat. Tetapi ia tidak akan memedulikan itu; keselamatan Lyra jauh lebih penting.
“Tujuh belas menit, diriku butuh tujuh belas menit untuk bisa memangkas jarak hingga bulan berada dalam jangkauan teleportasi maksimum Catherine.”
Hernandez mengangguk mengerti. “Kalau begitu aku akan bergantung pada kalian berdua, Nona Vermyna, Catherine,” ucap Hernandez. “Lalu, Minner, Zestya, Retsu, aku harap kalian tak keberatan membantuku; aku ragu jika bisa mengalahkan makhluk itu sendiri.”
“Tentu saja, Hernandez, sudah lama kita tidak bertarung bersama.”
“Zestya akan membantu Hernandez dengan senang hati.”
“Aku akan melakukan yang terbaik; aku juga ingin menyelematkan Nona Lyra.”
Hernandez tersenyum tipis mendengar respons mereka. “Terima kasih, kalau begitu mari berharap semoga kita tidak ke sana dalam kesia-sia—”
“Tidak perlu. Kalian tidak perlu repot-repot pergi ke sana.”
—Sebuah suara tiba-tiba memotong ucapan Hernandez. Sang blacksmith dan yang lainnya refleks melihat ke belakang mereka.
Di sana, di tepi lautan pasir putih itu, sesosok wanita berpakaian terusan putih bersih dengan kulit seputih susu melayang diam beberapa belas centi di atas pasir. Rambut panjangnya juga berwarna putih, begitupun dengan alis dan bulu matanya. Bahkan, irisnya juga berwarna putih. Jika tidak diperhatikan lekat-lekat, orang-orang akan mengira kalau wanita itu tidak memiliki iris dan buta.
“…Kau….”
“Lasya, namaku Lasya, akulah sang pengawas dunia, World Observer.”
“Ice Magic: Confines of Ice Mirror!” Hernandez refleks menyerang sang wanita, berusaha memerangkapnya dalam cermin es pengekang; sang blacksmith ingin menginterogasi wanita itu.
Namun, cermin es yang Hernandez ciptakan sama sekali tidak mengenai wanita itu. Sebuah cermin yang asli telah terlebih dahulu menelan cermin esnya. Hernandez tak pernah melihat sihir itu sebelumnya. Jika itu adalah artefak sihir, ia akan mengerti. Tetapi bukan, cermin itu jelas sekali terbuat dari [mana].
“Lasya, sang World Observer…?”
Vermyna tiba-tiba sudah berada di hadapan wanita serba putih itu. Tangan kanannya terulur ke depan, dan dalam sekejap menembus perut Lasya. Tetapi bukannya mengeluarkan darah, wanita itu justru berubah menjadi butiran pasir putih. Pasir-pasir itu bergerak lalu kembali berkumpul membentuk sosok Lasya belasan meter dari tempat vampire itu berada.
Tetapi Retsu sudah berada di sana pada detik itu juga. Tanpa ragu gadis berambut seputih salju itu mengayunkan pedang bilah ganda berlapiskan api hitamnya. Namun, seolah-olah sudah mengantisipasi hal itu, wanita tersebut melangkah maju dan dengan elegan bergerak memutar menghindari ayunan pedang itu. Namun, saat wanita itu berada di belakang Retsu, Minner sudah berada tepat di sampingnya dengan kepalan tangan kanan melesat ke arah perut bagian kanannya.
Pada saat itu, Retsu sudah berbalik arah dan sudah menggerakkan pedangnya mencoba menusuk sang wanita. “Haaaaa!” teriaknya, mengerahkan cukup besar tenaga dalam tusukan pedang.
Namun, serangan pedang Retsu tipis berada di sisi kiri lengan Lasya. Wanita yang mengaku sebagai World Observer itu berhasil menghindari serangan Retsu tanpa kendala yang berarti, seolah serangan itu hanya angin yang berlalu saja. Tetapi pada saat itu Minner yang sudah memperkirakan kegagalan Retsu kembali melesat maju. Retsu pun dengan elegan memutar poros tubuhnya untuk menciptakan ayunan pedang setengah lingkaran.
“Kurang cepat,” komentar Lasya seraya melompat ke udara menghindari kedua serangan Retsu dan Minner.
“Plasma Magic: Spiral Advancing Beam!” teriak Zestya yang sudah menantikan momen itu. Laser plasma beraneka warna yang berkelok seperti spiral melesat dalam kecepatan hipersonik menerjang wanita itu. Namun, lagi-lagi, sebuah cermin tercipta secara instan di belakang Lasya dan menyerap laser plasma itu hingga habis. Itu dilakukan tanpa melihat ke belakang, seolah wanita serba putih itu punya mata yang bisa melihat ke segala arah.
Zestya yang melihat hal itu berdecak sebal, lalu melesat bergabung dengan Retsu dan Minner. Mereka bertiga menyerang bersama-sama mengeroyok Lasya. Kendati tak satu pun dari ketiganya yang serius, mereka cukup cepat dan koordinasi di antara mereka cukup apik.
Namun demikian, tak sekali pun mereka dapat mengenai Lasya.
Hernandez tentu saja tak tinggal diam. Selagi Retsu dan yang lainnya mengalihkan perhatian wanita itu, ia mempersiapkan rune pengekang yang lebih kuat dan superior dari yang ia gunakan saat menghadapi kraken.
Sementara itu, Catherine hanya diam di dekat Hernandez; dia menunggu saat yang tepat untuk meneleportasikan paksa wanita itu ke tempat yang Hernandez inginkan.
Sedangkan Vermyna, gadis berpostur termuda itu hanya diam melihat pertarungan itu berlangsung. Lebih tepatnya, sang vampire itu mengamati sosok yang mengaku sebagai Lasya sang World Observer.
“Catherine, sekarang!” seru Hernandez tiba-tiba dengan lingkaran sihir kecil di telapak tangan kanan, tangan kirinya menunjuk tepat ke depannya.
“Force Teleportation!”
Tak sampai sedetik setelah dua patah kata itu keluar dari mulut Catherine, Lasya tiba-tiba sudah berada di hadapan Hernandez. Sang blacksmith tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan refleks yang cepat dia menembakkan lingkaran sihir hitam itu ke tubuh Lasya.
“Rune Magic: Total Isolation!”
Lingkaran sihir hitam kecil itu seketika menjadi sepuluh kali lebih besar dan memerangkap Lasya dalam pilar rune segi enam setinggi dua meter. Wanita berambut putih beriris putih itu mencoba berjalan, tetapi dia menemukan dirinya tidak bisa bergerak ataupun mengakses [mana]-nya. Sebagaimana namanya, formula rune itu mengurung Lasya dan menghalangi akses ke [mana]-nya.
“Wanita ini cukup kuat, matanya seolah ada enam atau delapan,” komentar Minner saat tiba beberapa meter di dekat pilar rune itu. Zestya dan Retsu mengangguk menyetujui, mereka sudah merasakan betapa susahnya sekadar untuk menyentuh wanita itu.
“…Lasya of the Moon, sang World Observer, bagaimana dirimu bisa memiliki wujud?” tanya Vermyna dengan ekspresi penasaran di wajah. Dia dan Hernandez berjalan pelan menghampiri pilar pengekang itu.
“…Lasya, tubuh ini milik Lasya, dia mengorbankan jiwa dan tubuhnya agar aku bisa melenyapkan setiap pendosa di permukaan dunia ini.” Lasya diam sejenak, melihat ke mata Hernandez sebelum melanjutkan, “Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah tentang gadis itu, dia akan turun pada malam festival kraken. Karenanya kalian tidak perlu datang ke bulan—kedatangan kalian hanya akan mengotori tempat suci itu.”
Perkataan Lasya menimbulkan berbagai reaksi dari anggota Deus Guardian. Mereka ingin bertanya lebih lanjut apa yang makhluk itu maksudkan dengan “melenyapkan setiap pendosa”, tetapi Hernandez mendahului mereka semua dengan pertanyaan yang lain.
“Apa yang kau lakukan padanya? Mengapa kau menyerangnya?”
Hernandez membawa tangan kanannya menyentuh permukaan pilar rune, mencengkeramnya pelan yang lantas membuat ukuran pilar itu sedikit menyusut.
“Katakan!” perintah Hernandez, amarah terlihat begitu jelas dari sorot matanya.
“…Itu tidak penting.” Tubuh Lasya tiba-tiba memudar perlahan-lahan. “Yang penting,” lanjutnya dengan suara monoton, “dia akan kembali. Jika kalian tetap pergi ke sana, dia tidak akan pernah kembali, selamanya akan binasa. Gadis itu akan mengembara selamanya dalam dunia monokrom, sendirian.”
Dan hanya seperti itu, sang World Observer menghilang dari pandangan semuanya. Padahal Hernandez sudah memblok [mana]-nya, tetapi dia tetap menghilang tanpa terhalang. Padahal Hernandez sudah mengisolasi dirinya baik dari ruang maupun waktu, tetapi sosok tersebut tetap memudar dan menghilang.
“Tsk!”
Hernandez sama sekali tak bisa menyembunyikan frustrasinya. Tangan kanannya mencengkeram kuat pilar rune itu, seketika membuatnya hancur berkeping-keping.