Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.21 — Slice of Day (2)



—Sebuah gua rahasia, Dwarf Kingdom—


Golem bersayap atau malaikat golem, kedua nama itu sangat cocok untuk menyebut sebuah benda raksasa setinggi tiga puluh meter yang kesemua bagiannya terbuat dari adamantite murni. Namun, kedua nama itu bukanlah nama yang penciptanya berikan. Titanus, itulah nama golem bak malaikat tersebut. Sebuah nama yang dicetuskan Stakhneth, arsitek utama dalam merangkai desain golem raksasa itu.


“Hernandez akan menertawai kita kalau dia dengar nama golem itu Titanus, Stakhneth.”


“Khrometh, kenapa kita harus peduli pada opini Hernandez?”


Khrometh mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan kasual Stakhneth.


Dan, jika ia pikir baik-baik, Hernandez sama sekali belum pernah membuat golem. Artinya, di seluruh Islan ini, bukankah status pencipta golem terbaik ada padanya dan Stakhneth? Jika demikian, mengapa ia harus peduli pada apa pendapat Hernandez?


“Kau benar, Stakhneth. Dalam pembuatan golem, kita sama sekali tak perlu peduli apa pendapat Hernandez.” Khrometh berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tangan kanannya mengelus-elus janggutnya yang panjang.


Khrometh lantas mengalihkan pandangan pada saudara tak sedarahnya. Berbeda dengan dirinya, Stakhneth mengenakan pelindung kepala berwarna hitam. Janggut Stakhneth pun lebih pendek darinya. Namun, hal yang kadang membuat Khrometh jengkel, Stakhneth dua centi lebih tinggi darinya.


“Apa kita akan memperkenalkan mahakarya ini pada King Zolloa?” tanya Khrometh.


“Hm, aku pikir untuk memperkenalkan setelah kita mencobanya dahulu dalam perang yang akan datang. Bagaimana menurutmu?”


“Itu ide bagus,” ucap Khrometh menyetujui, tetapi tiba-tiba ia memandang Stakhneth dengan ekspresi yang sangat serius. “Yang akan mengendalikan golem itu kau, kan, Stakhneth?” tanyanya.


“Tenang saja, Khrometh, aku tahu kau tak suka berada di dalam golem. Aku akan mengendalikannya dan menunjukkan kehebatan mahakarya kita pada dunia!”


Khrometh tersenyum puas mendengar respons penuh semangat sahabatnya. Ia selalu bisa mengandalkan Stakhneth untuk melakukan hal yang tak ia sukai, dan Stakhneth bisa mengandalkannya untuk melakukan hal yang dwarf itu tak sukai. Mereka telah mengenal sejak lama, mereka saling melengkapi, dan yang terpenting mereka saling memahami satu sama lain.


“Jika aku menggunakan golem ini, apa yang akan kau gunakan, Khrometh?” tanya Stakhneth yang sudah berbalik menghadapnya, membuat kedua iris coklat mereka saling beradu.


“Mwahahahahahahahaha, pertanyaan yang bagus, Stakhneth!” seru Khrometh dengan wajah yang berapi-api. “Aku sudah mempersiapkan senjata yang akan membuat Hernandez tercengang. Itu akan menjadi senjata pertama yang bisa menembakkan laser plasma! Aku akan bertarung menggunakan senjata itu dan membu—”


“Kau terinspirasi akan senjata itu setelah mendapatkan pengalaman dibombardir laser plasmanya Nona Zestya, kan?”


“…”


“…”


“…Kau sangat tahu cara untuk meruntuhkan kesenanganku, Stakhneth,” ucap Khrometh diiringi helaan napas panjang.


“Ha-ha-ha, habisnya tawa besarmu itu menyebalkan, tahu!”


Khrometh mendengus pelan mendengar hal itu, tetapi kemudian ekspresinya menjadi serius. “Jadi, kau siap mengukir puluhan rune pada senjata terobosanku, kan?”


“Tentu saja, Khrometh! Apa kau perlu menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu?”


Khrometh menyengir lebar mendengar pertanyaan retoris saudara tak sedarahnya, membuat Stakhneth ikut menyengir lebar.


“Mari kita tunjukkan kehebatan kita pada dunia!” serunya membara.


...


Saat ini, hanya ada delapan kerajaan yang terdapat di Islan: Elf Kingdom, Warebeast Great Kingdom, Vampire Kingdom, Dwarf Kingdom, Emiliel Holy Kingdom, Caligula Kingdom, Maggarithaz Kingdom, dan Ilamia Kingdom.


Dari semua kerajaan itu, Maggarithaz Kingdom adalah yang termuda usianya. Kerajaan itu baru didirikan seabad yang lalu. Karenanya pula penduduk mereka tak banyak jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan manusia lainnya.


Zuthvert Akrecia saat ini berdiri di atas salah satu atap bangunan di ibukota kerajaan manusia kedua tertua dari semua kerajaan manusia. Pria berambut perak pendek acak-acakan dengan tampang seperti manusia berusia dua puluhan itu memasang wajah serius—ia pria dengan kepribadian yang serius dan tak suka berbasa-basi.


Iris abu-abunya tertuju pada istana kerajaan di jantung Kota Rhodessemia. Keluarga kerajaan meminta bantuan Deus Holy Church untuk menangani pemberontakan yang akan memecah belah Ilamia Kingdom. Beruntung atau tak beruntungnya, Pope Gramiel mengutus Zuthvert menangani masalah ini.


Pria berdarah setengah manusia dan setengah elf yang berbusana khas para elf itu sudah menghabiskan total tiga minggu di Ilamia Kingdom. Namun, tidak ada perkembangan yang signifikan dari tugas yang ia emban. Ia masih belum menemukan pemimpin dari para pemberontak; sejauh ini, Zuthverth hanya menangani aksi-aksi pasukan pemberontak yang berupaya menyerang ibukota.


Tentu saja ia sudah menginterogasi setiap pasukan pemberontak yang ia temui, tetapi tak seorang pun memiliki informasi yang jelas tentang pemimpin asli mereka. Sedikit yang mereka tahu hanyalah keyakinan kalau pemimpin mereka berada di istana kerajaan.


Dan itu menjelaskan mengapa saat ini Zuthverth mendaratkan iris abu-abunya pada istana kerajaan.


Ada beberapa orang yang dicurigai Zuthverth, tetapi tidak ada yang lebih mencurigakan daripada sang perdana menteri. Normalnya, jika harus dicurigai maka orang yang tepat adalah putra mahkota. Pasalnya, dari semuanya, hanya dia yang tak senang dengan keberadaan Zuthverth.


Namun, tingkah perdana menteri yang terlalu terbuka padanya lebih mencurigakan baginya.


Terlebih lagi, meski telah menekan kekuatannya dengan baik, Zuthverth dapat merasakan kalau sang perdana menteri itu bukanlah penduduk biasa. Dia boleh saja berhasil mengibuli yang lain, tetapi Zuthverth sama sekali bukan orang yang bisa dikelabui dengan mudah. Karena itu pula Zuthverth memutuskan untuk memata-matai pria berusia empat puluhan yang menjabat sebagai perdana menteri itu.


Setidaknya, itu adalah apa yang coba Zuthverth lakukan. Namun, bahkan setelah malam tiba, Zuthverth tak memperoleh hasil apa pun. Ia telah menghabiskan waktu dalam kesia-siaan.


“Tsk!”


Zuthverth mendecakkan lidah dengan sebal. Bukan, itu bukan karena ia kesal pada dirinya sendiri karena telah menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. Zuthverth mendecakkan lidah sebal karena ia merasakan keberadaan yang tak asing baginya.


“Evana, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Zuthverth seraya menoleh ke kiri.


Benar saja, tak sampai sedetik setelah pertanyaan Zuthverth meninggalkan mulutnya, sebuah tunas pohon menyembul keluar dari atap. Pohon itu terus membesar dengan cepat hingga mengeluarkan sebuah kantung bunga, dan dari dalamnya keluar seorang wanita berparas jelita yang pasti menarik mata laki-laki mana pun untuk memandang. Rambut putih panjang yang disanggul, mata biru jernih, dan perawakan yang seperti wanita berusia tiga puluhan….


Evana Evrillia adalah idaman para pria yang suka wanita yang lebih tua dan penuh dengan kedewasaan.


“Zuthverth, itu bukan cara yang baik untuk menyapa seorang putri, tidakkah kau tahu itu?”


Zuthverth menahan diri dari mendengus, ia sudah terbiasa dengan perilaku Evana. Hanya karena ia ratusan tahun lebih muda darinya, itu bukan berarti wanita itu boleh mempermainkan dirinya sesuka hati. Namun, wanita itu tak peduli. Di mata Evana, Zuthverth seperti anak kecil. Wanita itu bahkan tanpa malu sering menyelenong masuk ke rumahnya dengan pakaian yang kurang bahan—yang sengaja dipakai untuk menggoda dirinya.


“Aku sedang tak dalam keadaan ingin bercanda saat ini, Evana, aku sudah menghabiskan tiga minggu di sini; ini lebih merepotkan dari yang seharusnya.”


“Oh? Kalau begitu, kenapa tak mengandalkan Kak Evana untuk membantu Dik Zuthverth yang kesusahan~?”


Zuthverth ingin berteriak mengatakan kalau Evana tak perlu berbicara secara sensual seperti itu, tetapi akhirnya ia hanya menghela napas panjang; ia sudah terlalu terbiasa dengan sikap Evana—yang anehnya hanya ditujukan padanya—itu.


“Baiklah, kali ini aku mengandalkan bantuanmu….”