
Tanpa respons verbal, Hernandez dan Retsu serentak mengikuti sang tetua desa menuruni anak tangga. Karena jumlah anak tangganya yang hanya belasan, dalam beberapa detik ketiganya tiba di dasar ruangan. Dan seketika saja ketiga pasang mata itu disambut oleh ruangan yang didesain dengan penuh artistik. Tak hanya dari nilai seni, isinya pun berbahandasarkan material dengan harga tinggi.
“Baik kau, Elemetra, maupun Diatra masih belum menyinggung tentang pembuat kapal ini,” ucap Hernandez seraya melangkah mendekati sebuah kursi khusus yang berdiri beberapa langkah di depan kaca super transparan dengan akses pandangan 160 derajat. “Lantas, siapa pencipta kapal ini?”
Bersamaan dengan pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Hernandez memerhatikan kursi berwarna merah dengan garis-garis hitam di depannya dengan saksama.
Siapa pun pencipta kapal ini, dia seseorang yang pantas mendapatkan rasa hormat dari Hernandez. Kendati pada dasarnya tidak ada satu formula rune pun yang kompleks di sini, rangkaian formula rune itu sendiri adalah sesuatu yang sangat kompleks. Pengguna rune normal mungkin akan menganggap rangkaian formula rune itu tidak memiliki fungsi apa-apa, tetapi Hernandez berbeda. Ia tidak akan bisa dikelabui begitu saja. Rangkaian formula rune itu…tak lain adalah apa yang membuat kapal ini aktif. Dan, itu terhubung dengan kursi yang berada di hadapannya ini.
“Kapal ini telah ada sejak awal berdirinya Aliansi Desa Centaur dulu,” respons Ramatra seraya menghampiri Hernandez. “Namun, tidak ada informasi apa pun tentang nama pencipta kapal ini. Entah itu untuk membuat kesan lebih misterius atau apa, kami sama sekali tak menemukan apa pun tentang itu.”
“Bagaimana bisa tidak tahu?” tanya Retsu yang telah berdiri di hadapan kursi yang menjadi objek perhatian Hernandez. “Jika ini sudah menjadi barang berharga para centaur, apa pun yang berhubungan dengan kapal ini mestilah menjadi pengetahuan yang penting pula.”
“Tentu saja.” Ramatra tak menyangkal. “Tapi untuk alasan yang tak pasti, tidak ada catatan atau kabar apa pun tentang pencipta kapal. Hanya saja, dari apa yang terpilah dari sekian banyak rumor yang beredar, pencipta kapal ini adalah individu yang sangat pemalu. Saking pemalunya, dia tidak pernah sekali pun berkunjung ke tempat lain selain rumahnya dan danau bawah tanah ini.”
“Jika rumor itu benar, tak mengherankan semua hal tentangnya tidak ada.”
Hernandez mengangguk menyetujui ucapan Retsu. Jika pun ada informasi tentang sang centaur yang bocor, centaur itu pasti akan mengusahakan untuk mengatasinya. Orang yang suka menjadi anonim tak akan suka jika identitasnya terbongkar. Jika Hernandez ingin mempertahankan status keanonimannya, ia tentu akan melakukan hal yang lebih jauh dari yang dilakukan pembuat kapal ini.
“Mengesampingkan kemampuan kapal ini, desainnya sendiri pun sudah menunjukkan individu yang seperti apa pembuatnya.” Hernandez berkata sambil mengedikkan bahu, kemudian memfokuskan pandangannya pada iris amber Retsu. “Mengapa kau tidak duduk di kursi ini, Retsu? Tak ragu lagi ini kursi kendali, dan melalui kursi inilah [mana]-mu diserap.”
“Lah, bukannya kapal ini menyerap api sebagai sumber tenaga?” tanya Ramatra cepat sebelum Retsu sempat merespons perkataan Hernandez, ekspresinya sedikit terkejut.
“Itu tak salah mengatakan sumber tenaga dari kapal ini adalah api,” respons Hernandez sambil menggestur Retsu untuk duduk. “Tapi, yang lebih tepat adalah sistem kapal ini mengonversi [mana] menjadi api.”
“Dan seperti yang kita tahu,” lanjut Hernandez, “seseorang normalnya hanya bisa mengonversi [mana]-nya menjadi elemen pembawaannya. Karena itu pula seseorang tidak dapat menggunakan sihir yang dia tak punya tanpa menjalani ritual khusus atau mengandalkan artefak sihir tertentu. Hal yang sama bisa diaplikasikan pada sistem kapal ini.
“Alasan mengapa pengguna sihir api dibutuhkan adalah karena itu lebih efektif dan efisien jika menggunakan [mana] pengguna sihir selain api. Jika menggunakan [mana] pengguna sihir lain, akan ada sejumlah [mana] yang terbuang dan prosesnya menjadi tidak efisien. Jika menggunakan [mana] pengguna sihir api, [mana] itu akan bisa langsung disuplai ke sistem utama tanpa harus disesuaikan molekulnya dengan elemen api. Kurang lebih seperti itu.”
“Oh, aku tidak menyangka akan seperti itu,” komentar Ramatra seraya mengangguk mengerti.
“Nah, Retsu, coba keluarkan [mana]-mu. Itu akan mengaktifkan sistem rune yang diaplikasikan pada kursi ini.”
Retsu mengangguk mendengar permintaan Hernandez. Lekas saja ia menguarkan [mana]-nya. Seketika saja dia merasa [mana]-nya mulai terserap oleh kursi yang ia duduki. Dan, entah bagaimana, Retsu merasakan dirinya telah terhubung dengan sistem kapal. Retsu secara instan dapat mengetahui setiap bagian kapal secara rinci. Kendati ia tak sepenuhnya mengerti, ia bisa memastikan kalau ia bisa mengendalikan kapal ini hanya dengan pikirannya saja.
“Coba aktifkan kapal ini,” pinta Hernandez seolah mengerti apa yang Retsu rasakan. “Seharusnya kau bisa melakukan itu hanya dengan pikiranmu saja—kursi ini dibuat sedemikian rupa sehingga terkoneksi dengan pikiranmu.”
Retsu mengangguk pelan, sama sekali tak memberi respons verbal. Beberapa detik setelahnya, ruangan yang tadinya hanya diterangi sebuah [Light Stone] kini menjadi terang benderang.
“Apa sekarang, Tuan Hernandez?”
Hernandez tak lekas merespons pertanyaan Retsu, irisnya memandang langit-langit ruangan penuh observasi. Cahaya yang menerangi ruangan berasal dari sepuluh formula rune yang melingkari [Light Stone] yang terpasang di tengah-tengah langit-langit. Formula rune dibuat sedemikian rupa sehingga tak membutuhkan apa-apa selain [mana] untuk menyala.
“Coba buat kapal ini berlayar, Retsu.”
Beberapa detik kemudian, lantai kapal sedikit berfibrasi, menunjukkan kalau sang kapal telah beranjak dari tempatnya berlabuh. Dan bersamaan dengan itu, langkah kaki terdengar terburu-buru menuruni anak tangga di luar ruangan. Elemetra dan Diatra berhenti di ambang pintu, memandang terkesima pada seantero ruangan sebelum berhenti pada kursi yang Retsu duduki.
“Aku tahu secara pasti kalian akan bisa melakukannya!” seru Diatra dengan senyum bangga, melangkah memasuki ruangan.
Hernandez memandang datar mereka berdua. Mau bagaimanapun mereka berekspresi, ia tidak akan mengabaikan kalau tadi keduanya sengaja meninggalkan dirinya dan Retsu. Tentu saja Hernandez tak mempermasalahkan jika itu tanpa alasan, tetapi mereka sengaja meninggalkannya dan Retsu agar mereka tak harus mendengar celotehan Tetua Ramatra yang panjangnya minta ampun!
“Bagaimana mengeluarkan kapal ini?” tanya Hernandez pada Ramatra.
Hernandez tak melihat ada akses keluar bagi kapal sebesar yang ia naiki ini. Mulut gua sendiri tiga kali lebih kecil dari kapal. Meski bisa lewat dengan memosisikan kapal tegak lurus dengan mulut gua, tinggi kapal tetap membuatnya tak bisa keluar tanpa mempertinggi mulut gua. Satu-satunya cara normal yang Hernandez pikirkan adalah dengan meneleportasi kapal ini keluar.
“Kita akan terbang ke atas!”
“Ya,” angguk Ramatra menyetujui seruan Elemetra. “Kita akan terbang ke atas.”
“Kalau begitu, aku akan membuka atap gua.” Diatra langsung pergi setelah mengatakan itu.
Hernandez sama sekali tak terkejut mengetahui kapal ini bisa terbang. Dari desainnya saja itu sudah cukup memberi petunjuk. Hanya saja, ia sama sekali tak mengekspektasikan mereka akan membuka atap gua.
“Retsu, kau bisa melakukannya?” tanya Hernandez, pandangannya berpindah pada wanita yang dimaksudkan.
“Bukan masalah.”
Dan, untuk membuktikan ucapannya, Retsu membuat kapal perlahan-lahan terangkat ke udara. Bukan hanya itu, Retsu mengirim sinyal sensorik pada sistem kapal yang lantas membuat langit-langit kapal terbuka setengahnya, memperlihatkan sebuah lubang besar di atas langit-langit gua sana.
“Seperti yang dirumorkan, kapal ini sungguh keren!” seru Diatra seraya melompat masuk dari langit-langit kapal yang setengahnya terbuka.
“Retsu, cepat naikkan kecepatannya ke atas!”
Menyambut seruan Elemetra, Kapal Vegasus melesat ke atas dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam dua detik mereka sudah berada sepuluh meter di atas atap gua yang terbuka. Dan itu tak berhenti di situ. Kapal tersebut terus melesat ke atas dalam kecepatan yang sama. Barulah setelah mereka berada satu kilometer di udara kapal tersebut berhenti.
“Aku akan menutup kembali atapnya,” ucap Retsu tiba-tiba—dan atap kapal kembali tertutup dengan perlahan. “Tetua Ramatra,” panggilnya seraya menolah pada sang empunya nama. “Aku akan mengetes banyak hal tentang ofensif dan defensif kapal ini. Apa Anda mau kami antar ke balai desa, atau mau melihat kemampuan kapal ini?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku ingin melihatnya!”
Retsu bisa mengatakan kalau centaur itu sangat gembira dan tak sabaran. Hal yang sama bisa ia lihat dari ekspresi Elemetra dan Diatra. Dan itu sungguhlah tak mengherankan. Meski mereka telah mengenal keberadaan kapal ini sejak lama, ini adalah kali pertama mereka memasukinya. Bagaimana bisa mereka melewatkan melihat kemampuan kapal ini secara langsung?
“Tuan Hernandez?”
Hernandez mengangguk mendengar panggilan tanya Retsu. “Tunjukkan pada kami kemampuan Kapal Vegasus ini, Retsu.”
Tanpa berbasa-basi lagi, kapal tersebut melesat kencang melewati kecepatan suara ke arah barat laut teritorial para centaur.
Dalam terbangnya ini, tidak ada fibrasi di dalam kapal—berbeda dengan saat hendak berlayar tadi. Pun mereka sama sekali tak merasakan dorongan ke belakang, padahal ia dan yang lainnya sedang berdiri tanpa memegang apa pun. Dan meski kecepatan kapal ini tak lebih cepat dari kecepatan penuh Hernandez, setidaknya Hernandez akan terdorong ke belakang mengikuti hukum aksi-reaksi. Jangankan itu, mereka bahkan tak merasakan apa pun.
“Pencipta kapal ini benar-benar telah memikirkan semuanya secara detail,” komentar Hernandez. Ia sama sekali tak menyembunyikan respeknya terhadap siapa pun pencipta Kapal Vegasus.
Beberapa menit berselang, Kapal Vegasus akhirnya menerobos batas antara benua dan samudra.
“Ini adalah tempat yang tepat,” kata Retsu seraya menghentikan laju kapal beberapa kilometer dari bibir pantai.
“Jadi, bisa kita mulai uji cobanya?”