
Sebuah lubang berwarna hitam menggantung sempurna di petala langit putih. Lubang itu membentuk terowongan sejauh 1000 km, tetapi lebarnya hanya satu kilometer saja. Itu adalah satu-satunya akses yang menghubungkan bagian luar bulan dengan bagian dalamnya. Dan dari lubang gelap itu ke inti bulan, jaraknya mencapai 1000 km. Sedangkan inti bulan itu sendiri berupa bola air bertekanan tinggi dengan diameter yang mencapai 2000 km.
Di permukaan bola air tawar berwarna biru itu, sebuah pulau besar mengapung dengan tenang. Kendati seharusnya pulau bermassa sebesar itu pasti akan tenggelam, tetapi air itu sendiri menekan ke atas—berbeda dengan air pada normalnya yang memberikan tekanan ke bawah mengikuti gravitasi. Karena itu, batu terpadat sekalipun tidak akan pernah tenggelam jika dilemparkan ke atas air tersebut.
Di atas satu-satunya pulau di tempat tersebut, sebuah istana pasir putih raksasa berdiri dengan begitu megah. Kendati itu hanya terbuat dari pasir, tetapi istana besar itu berdiri dengan begitu kukuh. Bahkan, jika ada tornado yang menghantamnya, istana pasir tersebut tidak akan runtuh.
Di dalam istana pasir yang memiliki seribu menara itu, terdapat sebuah kamar yang dipenuhi dengan cermin-cermin yang berdiri berbaris-baris. Cermin-cermin itu sekilas terlihat normal, tetapi sebenarnya sangat jauh dari kata normal. Kesemua bagian cermin itu berfungsi sebagai cermin baik itu bagian depan ataupun belakangnya. Dan yang paling berbeda, cermin-cermin itu terbuat secara sempurna dari [mana].
Tatkala sepasang iris putih itu menampakkan diri, mereka mendapati dirinya berada di suatu tempat yang bahkan ia sendiri tak pernah membayangkannya.
Cermin. Wanita berambut putih—seharusnya coklat—panjang bergelombang itu berada di dalam cermin. Ia berdiri dengan kaki terbuka dan kedua tangan terentang. Ia tidak merasakan keberadaan satu kain pun di tubuhnya, tetapi ia tahu kalau tubuhnya tidak polos seperti saat dilahirkan. Ada pakaian semacam gaun yang menyatu dengan tubuhnya seperti kulit, karenanya ia tidak merasakan keberadaan pakaian itu sebagai suatu objek asing pada tubuhnya.
Dan ketika wanita itu mencoba bergerak, ia sama sekali tidak bisa meski hanya untuk menggerakkan kepalanya. Tetapi wanita itu tak menyerah, dia berusaha untuk bergerak. Rasa takut akan bayangan yang hendak menantinya membuat sang wanita terus meronta—kendati tak bisa.
Lelah berusaha, akhirnya wanita itu memilih menyerah untuk berusaha bergerak.
Lyra Ariea, itu nama wanita berusia 34 tahun itu. Ia ingat kalau beberapa saat yang lalu ia tengah melihat-lihat lautan pasir putih itu, mengecek apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak. Tetapi sama seperti sebelum-sebelumnya, ia tidak menemukan apapun yang menyita perhatian. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kota, terlebih Hernandez akan segera kembali.
Akan tetapi, saat hendak pergi, tiba-tiba pasir putih menyelimuti tubuhnya. Kalungnya ditarik paksa, liontin kristal itu dihancurkan sebelum sempat aktif. Dan sebelum ia kehilangan kesadaran, …sebuah tombak pasir putih menembus tepat di antara kedua dadanya.
Aku masih hidup….
Lyra mendapati dirinya bernapas. Dadanya naik turun melakukan pertukaran udara. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa bernapas di dalam cermin, tetapi ia tahu kalau dirinya tidak mungkin salah dalam merasakan itu. Terlebih lagi, Lyra masih bisa mendengar degup jantungnya sendiri. Karenanya, ia pastilah masih hidup, dan dirinya sama sekali tidak sedang bermimpi.
“…Kau sudah tersadar.”
Mata Lyra mengerjap dengan sendirinya kala tiga patah kata itu tiba-tiba memaksa masuk ke dalam sistem pendengarannya. Dan ia hampir terkena serangan jantung saat tiba-tiba mendapati dirinya berhadap-hadapan dengan sepasang iris putih—saking terkagetnya sang biarawati. Terlebih lagi, iris yang sewarna dengan sklera itu…apakah ia sedang berhadap-hadapan dengan hantu atau semacamnya?
“Namaku Lasya.”
Wanita yang seolah memamerkan kalau dia suka warna putih itu menjawab dengan nada monoton. Lyra sama sekali tak bisa merasakan emosi dari dalam diri dan suaranya. Ekspresinya pun sangat datar. Seolah, wanita itu sama sekali tak memiliki emosi untuk ditunjukkan.
Dan melihat dia berada di hadapannya, apakah itu artinya wanita itu yang menolongnya, atau justru dia yang menyerang Lyra dan menawannya di sini? Tetapi sebelum itu, apakah makhluk di hadapannya ini benar-benar hantu? Pasalnya dia tak terlihat sebagai manusia di mata Lyra.
“A-Apa kau?”
Ekspresi terkejut kembali mewarnai wajah jelita Lyra. Ia tidak mengerti, bagaimana suaranya bisa keluar dari cermin? Hal itu sama seperti sistem pernapasannya yang tetap bekerja. Seolah, cermin yang mengurungnya ini tersambung dengan dunia luar dengan cara yang tak akan ia mengerti.
“Aku adalah aku.”
Itu jawaban yang tak salah, tetapi itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya!
“…Kau berada di kastilku, di dalam bulan. Aku yang menyerangmu, aku juga yang menyelamatkanmu.” Wanita itu diam sejenak, tetapi dia lekas lanjut bicara sebelum Lyra sempat merespons. “Tapi itu tidak penting. Yang penting, sekarang aku akan mengatakan apa yang akan terjadi padamu mulai dari saat ini.”
Ada begitu banyak hal yang ingin Lyra tanyakan, ada banyak hal yang ingin ia proteskan, tetapi itu semua tertelan begitu saja saat kalimat terakhir wanita itu meresap sempurna ke kepala sang biarawati. Hal itu seketika membuat keningnya mengernyit. Meskipun ia tidak mau pesimis, tetapi Lyra bisa mengerti dengan jelas kalau ia tidak akan berada dalam situasi yang baik.
Terlebih lagi, dari iris putih Lasya ia dapat melihat refleksi dirinya sendiri. Ia juga telah memiliki iris putih, alis putih, dan kulit seputih susu. Wanita yang mengaku bernama Lasya itu telah membuatnya menyerupai gadis tersebut. Itu adalah kesimpulan yang seratus persen benar.
“Aku akan menyatukan tubuhmu dengan tubuh Lasya, efek dari Festival Kraken akan membuat jiwaku menyatu sempurna dengan tubuh kalian berdua.”
Pernyataan itu membuat insting bertahan hidup Lyra sebagai makhluk hidup untuk menjerit, tetapi Lyra mengabaikan hal itu dan fokus pada apa yang tersirat dari pernyataan wanita itu.
Lasya adalah nama dari tubuh yang berhadap-hadapan dengannya, tetapi jiwa yang menggunakan tubuh itu bukanlah Lasya.
Makhluk itu berniat menyatukan tubuhnya dengan tubuh Lasya, itu menjelaskan mengapa wanita itu telah membuatnya menyerupai Lasya.
Festival Kraken akan memberikan efek penyempurnaan pada penyatuan jiwa wanita itu dengan tubuh baru yang terbentuk atas penyatuan tubuhnya dan Lasya, itu menunjukkan kalau makhluk yang berada di hadapannya adalah dalang di balik terjadinya festival itu.
Dan mengingat sebelumnya ia hampir dibunuh dengan pasir putih, Lyra bisa menyimpulkan kalau makhluk di hadapannya ini juga adalah pelaku dari fenomena tak biasa itu.
Sang biarawati jadi menyesal karena tak mencari info tentang sejarah Festival Kraken. Jika saja ia melakukan itu, mungkin ia akan mengetahui dengan siapa ia sebenarnya sedang berhadapan. Dengan demikian, ia akan bisa memberi banyak informasi pada Hernandez dan akhirnya bisa berguna bagi pria itu.
Akan tetapi, akankah itu berarti banyak, sementara ia sama sekali tak bisa melarikan diri dari tempat ini?
“…Apa kau takut mati?”
Pertanyaan itu membawa iris putih Lyra kembali memfokuskan diri pada iris putih wanita itu. Tetapi saat itu ia menyaksikan tiba-tiba sudah ada sebuah cermin di samping sang wanita. Anehnya, cermin itu tidak merefleksikan apa pun yang ada di hadapannya, melainkan memperlihatkan apa yang ada di dalamnya.
Di sana Lyra mendapati seonggok tubuh—sama persis dengan wanita yang berdiri di hadapannya—sedang terbaring tak bernapas di atas ranjang. Hal itu kembali menimbulkan pertanyaan di benaknya: apakah tubuh yang berada di hadapannya itu hanyalah ilusi?
Namun demikian, Lyra tidak menanyakan pertanyaan itu. Pun ia tidak merespons pertanyaan singkat dari makhluk itu. Lagipula, untuk apa ia meresponsnya jika pada akhirnya tetap akan mati?
Mungkin, seperti kata Hernandez, ia memang tak seharusnya melibatkan diri dengan hal-hal yang berhubungan dengan sihir. Jika saja ia tetap hidup seperti warga kota lainnya, ia tidak akan pernah menemukan dirinya berada di tempat ini. Jika saja ia mendengarkan ucapan Hernandez, ia pasti masih berada di Kota Heavenly Crystal melakukan hal biasa seperti dulu.
Dan yang terpenting, jika ia tidak mendaftar menjadi pengantar pesan Pope Gramiel, hubungannya dengan Hernandez tidak akan pernah renggang seperti ini.
Akan tetapi, kendati Lyra menyayangkan hal itu, ia sama sekali tidak merasa menyesal. Daripada melihat Hernandez dari kejauhan; daripada memandangi punggung lelaki itu yang tak akan pernah bisa ia raih; daripada berada di tempat yang membuatnya tak bisa berjalan beriringan dengan anak itu; daripada diam saja dan tak bisa berkontribusi apa-apa; daripada semuanya, Lyra lebih memilih membahayakan dirinya jika itu bisa membuatnya lebih dekat dan berguna bagi Hernandez.
Hernandez bodoh, mengapa dia tidak mengerti?
“Tidak perlu khawatir, kau tidak akan benar-benar mati; jiwamu akan selamanya hidup bersamaku, seperti halnya Lasya.”