Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.26 — Progress



...—Rhodessemia, Ilamia Kingdom—...


“Seperti dugaanmu, biang keladinya memanglah perdana menteri.”


Itu adalah kesimpulan yang Evana berikan padanya setelah wanita itu menyusupkan salah satu tumbuhannya untuk memata-matai sang perdana menteri. Dan, itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan. Ucapan Evana tak lain hanyalah pembenaran atas asumsinya, meskipun itu asumsi yang tak berbukti.


“Aku tak suka mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya. Terima kasih, Evana, kau sangat membantu.”


“Tentu saja. Jadi, kapan kita mengatasinya?”


Zuthverth menggeleng kepala pelan mendengar pertanyaan itu. “Kau sudah cukup membantu,” katanya. “Lagipula, ini adalah tugasku. Sudah seharusnya aku menyelesaikan ini sendiri.”


“Dan di sini aku berpikir kita bisa bekerja bersama….”


Zuthverth kembali menggelengkan kepalanya pelan, tetapi bibirnya sedikit melengkung—hanya sedikit.


“Mungkin lain kali, Evana.”


Dengan itu, Zuthverth melesat keluar dari tempat peristirahatan sementaranya, meninggalkan Evana sendiri.


—Ruang Latihan, Royal Palace, Warebeast Great Kingdom—


“Tanpa menggunakan sihir dan [mana]?”


“Tanpa menggunakan sihir dan [mana].”


Minner mengernyitkan keningnya, rupanya Zestya sangat serius dengan ucapannya. Normalnya, ia akan mengatakan kalau Zestya tak akan mungkin mampu mengimbanginya jika tak menggunakan [mana]. Akan tetapi, hari ini Zestya terlihat sangat-sangat serius. Minner kesulitan untuk menolak ajakannya.


“Baiklah,” ucap Minner pada akhirnya. “Kita akan sparing tanpa menggunakan sihir dan [mana].”


“Jangan menahan diri, Minner,” ucap Zestya seraya memasang kuda-kuda bertarungnya.


Minner hanya mengangguk pelan sebagai respons, memasang posisi bertarungnya sendiri.


Kedua individu itu saling memandang satu sama lain penuh observasi, sebelum kemudian saling melesat memangkas jarak di antara mereka.


Mengejutkannya, Minner dipaksa memblok kepalan tangan kanan Zestya terlebih dahulu, padahal mereka melesat berbarengan. Tetapi kejutan itu hanya bertahan sedetik saja. Minner langsung memfokuskan diri dan melesatkan serangannya gantian menyerang.


Zestya dapat memblok setiap serangan Minner. Tetapi karena tenaga saudaranya itu lebih besar, dia terdorong ke belakang setiap kali memblok. Serangan pembukanya tadi tak lebih dari sekadar keunggulan tubuhnya dalam berakselerasi. Nyatanya, Minner lebih superior dalam hal fisik dibandingkan dirinya.


“Aku tidak akan setengah-setengah,” ucap Minner seraya melayangkan tendangan memutar kaki kanannya pada bahu Zestya, yang lantas dapat diblok sang wanita dengan kedua tangannya, meskipun pada akhirnya dia tetap terpental belasan meter ke samping.


Zestya mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan baik, tetapi ekspresinya sama sekali tak senang. Meskipun kecepatannya tak kalah dari Minner, tenaganya lebih inferior. Tetapi karena itulah Zestya ingin menghadapinya. Ia harus membuktikan kalau dirinya bisa seimbang dengan Minner baik dengan atau tanpa [mana].


“Aku baru akan serius,” ujar Zestya seraya mengepalkan kedua tangannya.


Namun, sebelum dia sempat melesat menyerang, seseorang menginterupsi kegiatan mereka.


“Maaf mengganggu latihan kalian, tetapi saya datang membawa tugas dari Pope Gramiel.”


Zestya langsung saja melepaskan posisi bertarungnya, memandang intens pada pengantar pesan yang baru itu. “Katakan,” perintahnya dalam nada monoton.


Minner juga memandang ke arah pengantar pesan, tetapi ia tidak mengatakan sepatah kata pun.


“Pasukan dari Veria sudah berlayar dengan kecepatan tinggi. Informan yang di sana mengestimasikan mereka akan tiba di Islan dalam minimal dua minggu. Karenanya, Pope Gramiel meminta kalian untuk mengantarkan surat tertulis kepada Emiliel Holy Kingdom. Dan, jika Fie Axellibra berada di sana, kalian diminta untuk mengatakan situasinya secara langsung. Dengan demikian, kita bisa berharap kepartisipasiannya.”


***


Buuuuuuuuum!


Sebuah lubang selebar ratusan meter tampak menganga di permukaan samudra tepat setelah laser besar yang Kapal Vegasus tembakkan menghantam permukaannya. Gelombang ganas melesat ke berbagai arah, percikan air sampai membumbung tinggi seperti halnya hujan yang diterpa badai.


“Itu laser terkuat yang bisa kapal ini tembakkan,” ucap Retsu mengakhiri berbagai uji coba yang mereka lakukan terhadap kemampuan ofensif Kapal Vegasus.


Hernandez mengangguk puas mendengar ucapan Retsu. Kapal ini memiliki sistem penyerangan dan pertahanan yang sama kuatnya. Dan mengingat para prajurit dari Veria akan berada di kapal, Kapal Vegasus akan sangat-sangat diuntungkan. Ia bisa melihat mengapa Pope Gramiel sampai membujuk tetua centaur untuk mengeluarkan kapal ini.


“Bagaimana dengan asupan [mana]-nya?” tanya Hernandez ingin memastikan.


“Hm… kurasa aku sudah kehilangan lebih dari setengah total [mana]-ku.”


“Hm….” Hernandez membawa tangannya ke dagu dengan ekspresi berpikir. “Untuk meringankan beban pemakainya, sepertinya kita tak punya pilihan lain selain memanfaatkan reaktor [mana] itu.”


Hernandez lantas memandang intens Ramatra. “Tetua, setelah ini aku ingin kalian mengumpulkan semua centaur pengguna sihir api, minimalnya sepuluh. Mereka akan menjadi penyuplai [mana] sampai reaktor kosong itu penuh. Dengan begitu, kapal ini akan bisa bertahan setidaknya dua hari dalam keadaan terus-terusan mengeluarkan energinya. Aku harap itu tak menjadi masalah….”


“Tentu saja, Elemetra dan Diatra akan memastikan setidaknya sepuluh centaur memenuhi permintaanmu.”


Hernandez mengangguk pelan dan mengembalikan perhatiannya pada Retsu. “Kau bisa membawa kita kembali ke desa centaur, Retsu.”


Kapal Vegasus pun melesat cepat meninggalkan langit samudra.


...—Kota Heavenly Crystal—


...


Hernandez dan Retsu tiba di halaman belakang kediaman Hernadez tepat saat malam telah berlalu seper tiganya. Mereka kembali ke kota ini menggunakan teleportasi yang biasa Hernandez gunakan. Seharusnya mereka bisa tiba lebih awal, tetapi karena menerima ajakan makan malam Diatra membuat keduanya tiba agak malam.


“Apa kau punya tempat menginap?” tanya Hernandez seraya melangkah menuju pintu belakang rumahnya. “Jika tidak punya, aku memiliki beberapa kamar kosong yang bisa kau gunakan untuk bermalam.”


“Eh, bukankah sebelumnya kau tak membiarkanku masuk?” tanya Retsu seraya menyusul Hernandez yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Kenapa tiba-tiba jadi sok baik begini? Oh, apa jangan-jangan kau merencanakan sesuatu, eh, Tuan Hernandez?”


“Jangan mengada-ada,” respons Hernandez cepat. “Aku menawarimu hal itu karena aku sendiri ingin menghabiskan malam di perpustakaan gereja. Aku ingin mencari informasi yang ada di sana tentang pencipta Kapal Vegasus.”


“Ah, kalau begitu aku akan berbaik hati dan menerima tawaranmu.”


***


Sepasang kelopak mata itu terbuka perlahan, menampilkan sepasang iris hitam bak obsidian kepada setiap pasang mata yang memandang. Sayangnya, tak banyak mata yang menyaksikan. Hanya sepasang iris merah darah berpupil vertikal yang melihatnya dari sisi meja yang lain.


“…Nona Vermyna?”


Hernandez mengerjapkan matanya beberapa kali, mengedarkannya ke segala penjuru ruangan, sebelum kemudian kembali melabuhkan pandangannya pada individu yang duduk tenang membaca sebuah buku bersampul hitam kusam.


“Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta seperti ini di sini?”


Walaupun Hernandez tak bisa melihat ke luar, ia yakin kalau matahari belum terbit. Kemungkinan besar ini masih fajar. Karena itu pula melihat keberadaan sang vampire di perpustakaan gereja ini membuat Hernandez bertanya-tanya.


“Dirimu sendiri, mengapa terlelap di sini?” tanya balik Vermyna tanpa memandang Hernandez.


“Ada informasi yang ingin kuperoleh.”


“Begitu?”


“Jadi, apa yang membuatmu berada di sini?”


“Diriku ingin memberi dirimu pekerjaan,” respons Vermyna seraya menutup buku bersampul hitam kusamnya. “Diriku menginginkan dirimu menyempurnakan baju khusus diriku.”


“Baju khusus?”


Sebuah portal ruang tercipta di kiri Vermyna, dari dalamnya keluar sebuah pakaian yang sama persis dengan yang sang vampire kenakan.


Hernandez menggerakkan tangannya menangkap baju yang Vermyna lempar, memperhatikannya dengan saksama.


Seperti yang Vermyna katakan, baju di tangannya ini bukanlah baju biasa. Kendati teksturnya sangat lembut dan menyamankan kulit, tetapi tingkat ketahanannya hampir mendekati lonsdaleite. Hernandez ragu jika ada senjata yang bisa menghancurkan baju ini selain senjata berbahankan lonsdaleite.


“Baju ini terbuat dari benang sutra hitam dan jaring ratu laba-laba merah, keduanya direndam dalam Air Ethereal selama seminggu sebelum kemudian direndam dalam darah Kraken Lord selama tiga hari. Barulah kemudian kedua bahan itu disatukan dan dipintal.”


Hernandez sudah pernah mendengar tentang kekerasan sutra hitam dan jaring ratu laba-laba merah. Keduanya memiliki kekerasan yang mengagumkan sampai-sampai adamantite paling murni sekalipun akan kesulitan memotongnya. Namun, menggunakan darah Kraken Lord sebagai media rendaman….


“Kau membunuhnya?” tanya Hernandez seraya menghela napas pelan, meletakkan gaun yang belum sempurna itu di meja.


“Tidak, diriku hanya mengambil sebagian lengan dirinya saja. Ketahanan tubuh dan kecepatan regenerasi diri Kraken Lord cukup mengesankan, butuh usaha ekstra untuk menghabisi dirinya.”


Mendengarnya membuat Hernandez bertanya-tanya, apa Vermyna tidak tahu akan keberadaan lonsdaleite di bawah sana?


Pasalnya, jika dia sudah repot-repot ke Palung Nordens, sangat bodoh sekali jika tak menyempatkan mengambil lonsdaleite. Namun, kata “bodoh” sungguh tak bisa diasosiasikan dengan Vermyna. Karenanya, sang vampire kemungkinan besar tidak mengetahui keberadaan lonsdaleite.


“Kapan kau ingin aku menyelesaikannya?” tanya Hernandez seraya sedikit menguap.


“Secepat yang dirimu bisa.”


“Setahun?”


“…”


“Aku akan membawanya padamu dalam tiga hari,” kata Hernandez sembari bangkit berdiri. “Hanya itu saja?”


“Ya, dirimu boleh pergi.”


Hernandez mengangguk pelan dan lekas merapikan meja. Buku-buku yang sudah ia ambil tak lagi ia letak di raknya, melainkan ia bawa bersamanya keluar gereja. Hernandez masih belum menyelesaikan semuanya, sebab itu ia akan membawanya pulang.


Seperti yang sudah ia asumsikan, ia tadi terbangun sebelum mentari terbit, dan hal itu terbukti jelas dari apa yang ia lihat di ufuk timur sana—mentari baru akan menunjukkan pesonanya.


Tak ingin berlama-lama, Hernandez langsung meneleportasikan diri ke halaman belakang rumahnya. Ia langsung menghampiri pintu dengan cepat, berniat membukanya dan lekas masuk.


Namun, saat tangannya sudah berada di gagang pintu, tiba-tiba ia berhenti.


Hernandez melepaskan tangan dari gagang pintu dan mengetuk dengan kuat. “Retsu!” panggilnya dengan volume yang agak keras, berharap wanita itu sudah sadarkan diri dari tidurnya.


Untungnya, harapan Hernandez itu Retsu kabulkan dengan cepat. Pintu terbuka tak sampai semenit setelah Hernandez memanggil. Retsu dalam segala kemajestikannya sudah berdiri di hadapan Xavier dengan tangan bersandar pada tepi pintu.


“Tuan Hernandez, kau ternyata bangun pagi juga, ya.”


“Aku ingin mempertanyakan bagaimana kau bisa berpikiran aku tak akan bangun pagi, tapi sudahlah. Kau bisa pergi sekarang, kan?”


“Eh, ini masih terlalu pagi. Setidaknya sebagai tuan rumah, layani tamumu dengan sempurna, jangan setengah-setengah. Aku ingin mengatakan itu, tetapi aku tak yakin kau bisa memasak. Mengapa kau tak masuk dan pergi mandi? Aku akan menyiapkan sarapan untukmu sebagai rasa terima kasih karena membiarkanku menginap.”


Hernandez menaikkan sebelah alisnya, tetapi tak berkomentar lebih lanjut. Ia masuk dan lekas bergegas ke kamarnya. Setelah menata buku-buku, Hernandez melaksanakan ritual paginya seperti biasa.


Saat Hernandez keluar dari kamarnya lima belas menit kemudian, Retsu sudah menata semuanya di meja makan berukuran sedang yang selalu senyap itu. Namun, untuk alasan yang Hernandez tak tahu, makanan itu hanya berada di sisi lain dari tempat Retsu duduk saja.


“Dengan bahan yang ada seadanya, aku hanya bisa membuat seadanya saja. Kendati begini, soal rasa kujamin tiada duanya!”


Hernandez ingin mengatakan kalau yang matanya lihat bukanlah hal yang bisa dibilang sederhana, tetapi ia menahan diri dan hanya mengangguk pelan sebelum mendudukkan diri. “Untuk seorang putri dari orang seperti Nueva Vermillion, sangat mengejutkan melihatmu pandai dalam urusan seperti ini,” katanya memuji.


“Itulah jadinya jika kau menilai seseorang secara sepihak saja,” ujar Retsu dengan senyum sedikit arogan. “Ayo, cepatlah makan. Aku ingin mendengar komentarmu.”


“Bagaimana denganmu?”


“Tidak perlu memikirkanku. Aku tidak biasa makan makananku sendiri. Aku lebih suka makan makanan buatan orang lain.”


“Kau yakin?”


“Tentu saja!”


“Baiklah kalau begitu.”


Itu tidak menyamankan makan sambil dilihati orang lain, tetapi Hernandez tak bisa menolak setelah Retsu repot-repot menyiapkan sarapan untuknya.


Tanpa perlu mendengar suruhan itu kedua kalinya, Hernandez langsung memasukkan sesendok sup buatan Retsu ke mulutnya, dan—


“Bweeehhhh!”


—Hernandez langsung memuntahkannya begitu saja.


“Wa-Waaaa! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memuntahkannya?!”


Hernandez mengabaikan teriakan marah Retsu dan meneguk gelas berisi air putihnya hingga habis, sebelum kemudian mendelik tajam pada sang wanita. “Kalau kau tak bisa memasak, tidak perlu berlagak seolah kau seorang ahli! Sup ini bahkan lebih buruk dari rasa makanan basi!”


“Ta-Tapi, aku sudah melakukannya dengan benar! Aku sangat yakin penampilan dan rasanya saling melengkapi. Tidak mungkin rasanya buruk.”


“Kau sudah mencicipinya saat memasak?”


“Ah….”


“Haaa….” Helaan napas panjang keluar dari mulut Hernandez. “Tunggulah,” katanya seraya berdiri, “aku akan membuatkan sarapan.”


“Eh?! Tidak, tidak, tidak perlu! Aku tak bisa merepotkan Tuan Hernandez lebih dari ini.”


“Kau adalah tamuku, bukan?”


“Tentu saja, ini adalah rumahmu.”


“Kalau begitu, biarkan aku melayanimu dengan sempurna.” Hernandez pun berbalik dan melangkah pergi.


“Jika kau memaksa, apa boleh buat. Baiklah, Tuan Hernandez, layani aku dengan maksimal!”


Seruan itu seketika membuat Hernandez terdiam. Refleks ia melihat ke belakang… hanya untuk disambut senyum penuh kemenangan di bibir Retsu. Saat itu juga Hernandez menyadari, …ia sudah dipermainkan.


“Ada apa, Tuan Hernandez?” tanya Retsu dengan ekspresi polos di wajah—senyum penuh kemenangannya menghilang tanpa jejak.


“…Tidak apa-apa.”


“Baiklah kalau kau bilang begitu, aku jadi bersemangat ingin merasakan masakanmu.”


Hernandez hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya. Karena, jika ia mengatakan kalau ia menyadari apa yang Retsu lakukan, itu sama saja artinya dengan membuatnya terlihat bodoh. Pasalnya, ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata tadi dengan ekspresi seperti seseorang yang hendak membereskan kekacauan yang rekannya buat.


Sampai membuatku membuatkannya sarapan tanpa diminta seperti ini…. Retsu Vermillion, dia orang yang menyebalkan.


Hernandez selesai menyiapkan sarapan tak sampai sepuluh menit. Kemudian keduanya makan bersama. Barulah setelahnya Retsu pamit untuk kembali ke kotanya di Emiliel Holy Kingdom. Katanya dia memiliki sedikit urusan dengan ayahnya sebelum bisa kembali melanjutkan tugasnya.


Hernandez hendak mengatakan padanya untuk tak kembali ke sini lagi, tetapi pada akhirnya ia hanya mengangguk dan mengatakan sampai jumpa.


Kala sosok Retsu tak lagi terlihat matanya, Hernandez langsung beranjak ke kamarnya mengambil baju milik Vermyna.


Ia mempelajari baju itu lebih jauh lagi, memastikan apa yang harus ia lakukan untuk membuat sang vampire itu terpuaskan.