Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.14 — The Festival (2)



Normalnya, daging sebesar itu jika dibiarkan berhari-hari di tempat terbuka seperti itu pastilah akan rusak dan membusuk. Tetapi hal itu tak terjadi pada tubuh kraken raksasa itu.


Hernandez tidak tahu rahasia apa yang tersembunyi dalam cairan yang warga buat untuk disiramkan di atas kraken. Tetapi apapun itu, berkatnya kraken terlindungi dari proses pembusukan dan hal-hal yang biasa terjadi pada bangkai. Selain itu, cairan tersebut juga melindungi kraken dari jamahan serangga dan berbagai binatang lainnya.


Hernandez tentu saja sudah mencoba menanyakannya pada kapten kapal dan warga lainnya, tetapi mereka menolak memberitahu dengan dalih kalau itu adalah rahasia kota.


Meski begitu, kapten kapal memberi tahunya kalau inti utama dari cairan itu adalah minyak ikan yang disimpan dalam larutan asam selama berbulan-bulan. Hernandez sama sekali tak meragukan kapten kapal, karenanya ia yakin kalau cairan apapun itu sama sekali tak berhubungan dengan ritual.


Hernandez tiba-tiba menengadahkan wajahnya, memandang intens bulan bulat sempurna itu. “Setelah ini semua usai, akan kupastikan kau tidak akan terlibat lagi dalam situasi seperti ini,” gumamnya pelan, lalu membisu.


...* * *


...


Belasan menit sebelum tengah malam tiba, semua aktivitas warga terhenti total. Mereka semuanya—kecuali Hernandez dan yang lainnya—sudah dalam posisi mengelilingi area pasir yang di pusatnya berdiri altar besar.


Mereka semua dipimpin oleh walikota yang berdiri paling depan, berhadap-hadapan dengan tangga menuju puncak altar. Pria tua itu mengucapkan berbagai kata terima kasih, kata yang bisa disalahpahami sebagai pemujaan, lalu memimpin yang lainnya untuk berdiri di atas kedua lutut sembari mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi.


Sedetik sebelum tibanya tengah malam, bulan sudah sempurna berada di atas altar yang menopang kraken raksasa.


Di detik berikutnya, saat tepat tengah malam, bulan yang melayang tinggi itu tiba-tiba bersinar cukup terang. Saking terangnya, orang-orang di sana harus menyipitkan mata mereka agar tak merusak pandangan. Dan bersamaan dengan itu, pasir coklat-keputihan itu beresonansi dan memutih seperti susu.


Lalu, tanpa aba-aba, cahaya biru menyeruak dari dalam pasir dan terus meninggi membentuk semacam pilar cahaya yang mengerucut tepat belasan meter di atas altar.


Dan, beberapa detik setelah cahaya menyilaukan yang bulan pancarkan itu terjadi, bulan itu meredup dan warnanya menjadi seputih susu.


Hernandez yang menyaksikan itu semua refleks mengeluarkan pedang Kurtalægon-nya dari dalam lingkaran sihir hitam yang muncul di telapak tangan kanan. Hernandez memfokuskan pandangannya, ia akan siap bergerak kapas saja.


Begitu ia melihat sosok Lyra, ia akan langsung menghampiri dan meneleportasinya ke tempat yang aman. Jika berada dalam pengaruh makhluk itu, Hernandez hanya perlu memisahkan koneksi mereka dengan sekali tebasan katana-nya. Apapun yang terjadi, Hernandez akan memastikan keselamatan wanita itu.


Berlainan dengan Hernandez yang sudah siaga, para warga tampak terpukau dengan fenomena yang mata mereka lihat.


Bisikan-bisikan terdengar mengatakan kalau sang Putri Bulan telah mendengar suara mereka. Ada juga yang berseru kalau Kehendak Bulan telah merestui usaha mereka dan akan terus memberkahi hari-hari mereka ke depannya. Dan yang paling terdengar adalah bisikan-bisikan yang mengatakan kalau Putri Bulan akan sekali lagi berjalan bersama mereka di kota kelahiran mereka.


Dan, seolah membuktikan ucapan-ucapan para warga, sebuah pilar cahaya melesat turun dari bulan. Kecepatannya turun sungguh menakjubkan, hanya dalam dua detik pilar cahaya itu sudah menyatu dengan kerucut yang dibentuk cahaya biru yang keluar dari bawah pasir putih. Dan entah bagaimana, kedua pilar cahaya itu saling menarik satu sama lain dan kemudian membulat membentuk bola dengan dua warna berbeda yang masing-masing mengisi setengah dari volume bola.


Sedetik setelahnya, bola cahaya dua warna itu mulai menyusut dan bercampur padu. Lalu, mencengangkan semuanya, paduan kedua cahaya itu berubah bentuk menjadi humanoid. Dari strukturnya, jelas sekali kalau humanoid itu mengambil bentuk wanita. Dan beberapa detik setelah bentuk humanoid itu sempurna, paduan dua cahaya itu mulai merapat dan memadat lalu retak seperti gelas yang hendak pecah. Lalu, dalam sekejap, semua retakan itu melebar dan hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang lantas menghilang.


Dan, yang menyambut pandangan mereka semua adalah sesuatu yang menyenangkan para warga, tetapi membuat Hernandez menggeram marah.


Melayang belasan meter di atas altar itu adalah tubuh Lyra Ariea.


Akan tetapi, rambut coklat panjang bergelombangnya kini telah memutih seperti susu. Irisnya pun putih sewarna dengan sklera. Dia mengenakan gaun putih sebetis berlengan panjang. Kaki polosnya tak dilapisi apa-apa, memperlihatkan kulit mulus seputih susu bagi setiap pasang mata yang memandang. Dan ekspresi yang terpasang di sana, Hernandez sama sekali tak merasakan emosi darinya; ekspresinya datar sedatar sorot matanya.


“Tsk!” decak kesal Hernandez, menggerakkan tubuhnya hendak melumpuhkan tubuh itu dan mengeluarkan makhluk itu dari raga Lyra.


Namun, sebelum Xavier sempat meninggalkan atap, tiba-tiba puluhan ribu cermin seeukuran pintu telah memenuhi kota, di sekelilingnya pun mulai terbentuk cermin-cermin dengan cepat.


Hernandez lantas bereaksi cepat meneleportasikan dirinya menjauh dari atap. Ia muncul tepat di samping altar, dan seketika kedua matanya membelalak. Semua orang yang mengelilingi tempat ini sudah terkurung ke dalam cermin. Dan semua cermin itu menghilang sebelum Hernandez sempat melakukan apapun.


...* * *


...


Dan, pada saat yang bersamaan, Retsu mengayunkan pedang bilah gandanya menghancurkan beberapa cermin yang memblok jalannya. Pedangnya tak terselimuti api hitam seperti biasanya. Vermyna sudah mengatakan padanya kalau cermin itu akan menyerap segala serangan berbasiskan [mana] ‒ api hitamnya pun tak terkecuali. Karenanya Retsu sengaja tak menyerang cermin itu dengan api hitam.


Cermin-cermin itu terus bertambah jumlahnya. Semakin banyak cermin yang ia hancurkan, semakin banyak pula yang tercipta. Dan itu cukuplah mengesalkan. Tetapi Retsu tak mengeluh. Dengan gerakan yang lembut nan estetis Retsu memainkan pedangnya menghancurkan cermin demi cermin. Ia terus melakukan itu dengan gerakan yang cepat, tetapi—


—sebuah pedang yang sama tiba-tiba memblok ayunan pedangnya dengan presisi dan tenaga yang sangat terukur. Pada saat itu pula semua cermin yang mengepungnya menghilang dari keberadaan. Retsu lantas mendapati dirinya berhadap-hadapan dengan refleksi dirinya.


“Bagaimana bisa?” tanya Retsu tak percaya. Pasalnya, ia sudah membaluti dirinya dengan api hitam, bagaimana mungkin cermin itu dapat menangkap gambarnya secara penuh?


Imitasi Retsu sama sekali tak memedulikan pertanyaan bingung Retsu. Ia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan kuat, sama sekali tak terpancarkan emosi apapun dari dirinya. Retsu tentu saja tak terkejut dengan eksresi imitasinya. Dia adalah boneka, wajar saja dia tak berekspresi. Menghilangkan api hitam yang menyelimutinya, Retsu meladeni imitasinya seraya mendecakkan lidah.


Trang! Kedua pedang berbilah ganda itu kembali membentur dengan satu sama lain.


Dari pertukaran ayunan pedang itu Retsu mengetahui dengan pasti kalau boneka imitasinya tersebut dapat mengimbangi kekuatannya. Ia juga melihat api hitam yang perlahan-lahan menyelimuti pedang boneka itu, menunjukkan kalau imitasinya itu juga dapat menggunakan api hitam sepertinya. Hal itu membuat Retsu mengernyitkan keningnya.


“[True Mirror], itu sihir yang paling merepotkan,” gumam Retsu sembari membaluti tubuh dan pedangnya dengan api hitam seperti yang boneka imitasinya lakukan.


...* * *


...


Minner mengernyitkan keningnya dengan kesal. Vermyna sudah menekankan padanya untuk tidak membiarkan refleksi dirinya muncul di cermin, dan ia pun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari cermin-cermin itu. Namun, tepat saat ia berbalik mencoba menjauh, irisnya langsung bertatap-tatapan dengan refleksi dirinya yang sebuah cermin pantulkan.


Rambut berwarna emas acak-acakan sebahu. Sklera coklat keemasan dengan pupil hitam vertikal. Tubuh kekar dengan wajah yang menunjukkan tampang pria berusia dua puluhan. Dan kernyitan di kening itu…!


Minner refleks menghunuskan tinjunya berniat menghancurkan cermin itu. Namun, sebuah tangan keluar dari cermin dan memblok tinjunya. Tak berhenti sampai di situ, sosok yang berada di dalam cermin tersebut melesat keluar dengan lutut kanan yang terangkat—pada saat itu cermin di belakangnya menghilang bersama dengan puluhan cermin lainnya.


Minner memang mampu memblok lutut itu dengan telapak tangan kirinya, tetapi ia dipaksa menjauh oleh pukulan lanjutan yang boneka imitasi itu layangkan.


“Tsk, kau berani meniruku, meniru diriku ini?! Tak bisa dibiarkan!” teriak Minner, ia benar-benar tak senang melihat boneka tiruannya itu.


Minner lantas mengubah posisi tubuh dan memasang kuda-kuda seriusnya, seketika aura keemasan mulai menyelimuti tubuh Minner. Ia kemudian melesat dengan kecepatan yang tinggi menerjang makhluk itu. Ekspresinya dengan jelas mengatakan kalau dia ingin menghancurkan boneka imitasi itu hingga tak berbentuk.


...* * *


...


Rambut pirang keemasan sepunggung. Telinga singa yang mencuat keluar dari rambut yang menutupi kepala. Ekor singa yang bergerak-gerak mengikuti arah embusan angin. Sklera hijau keemasan dengan pupil hitam vertikal. Kulit putih bersih dengan hidung setengah mancung. Dagu yang agak melancip dengan bibir yang tipis. Pakaian yang didominasi warna coklat dan hijau, lengkap dengan sabuk biru gelap yang melilit erat di pinggangnya.


Yap. Apa yang Zestya lihat adalah apa yang akan ia lihat saat berdiri di depan sebuah cermin. Ia bahkan bisa merasakan kalau [mana] yang mengalir di tubuh sosok imitasi dirinya itu sama dengannya. Kendatipun mereka belum saling bertukar serangan, Zestya dapat dengan jelas mengatakan kalau boneka itu memiliki kekuatan tempur yang besar. Jika Vermyna tidak mengatakan tentang cermin itu sebelumnya, Zestya pasti akan berpikir kalau ia sedang melihat pada sihir transformasi yang dilapisi ilusi.


“Zestya tidak suka melihat boneka berbentuk Zestya,” gumam sang warebeast dengan kening yang mengernyit.


Tiada respons yang boneka imitasi itu berikan. Pun Zestya sama sekali tak mengharapkan adanya respons. Boneka adalah boneka; mau sesempurna apapun mereka, pada akhirnya mereka tak akan bisa merespons makhluk hidup. Boneka tak lebih dari sekadar upaya rendahan untuk mengimitasi makhluk hidup.


“Zestya akan menghancurkannya.”


Mengatakan itu, Zestya melapisi kedua tangannya dengan plasma beraneka warna, melesat menyerang boneka imitasinya dengan kecepatan tinggi.