
...—Sisi Tenggara Islan—
...
Sisi tenggara Islan adalah tempat yang sangat hijau. Kendati itu sudah bukan lagi wilayah Hutan Besar Amarest yang memenuhi sisi selatan Islan, tetapi hutan yang melingkupinya juga cukup luas. Lebih dari itu, wilayah hutan ini lebih berbahaya dengan keberadaan para beastmen yang mendiaminya. Meskipun keanekaragaman Magical Beast lebih melimpah di Hutan Besar Amarest, Magical Beast di hutan ini juga tak bisa disepelekan.
Di salah satu bagian hutan ini, tepatnya di sekitar danau kecil yang menjadi penghubung antara dua sungai kecil yang membelah hutan, para Lizardmen tinggal bersama dalam suatu perumahan yang luas. Dari hanya sekadar melihat, berdasarkan jumlah rumah yang dibangun, jumlah Lizardmen bisa diestimasikan mencapai lima hingga enam ribuan. Mereka hidup dengan memakan ikan-ikan yang memenuhi danau dan sungai.
Dari sekian banyak ras Beastmen, Lizardman adalah salah satu dari beberapa yang tidak berinteraksi dengan ras-ras lain. Makanan utama mereka adalah ikan; selama tidak ada masalah dengan keberadaan ikan yang mereka butuhkan, mereka tidak akan peninggalkan perumahan mereka. Karenanya mereka sangat jarang memiliki konflik dengan ras lain, dan karenanya pula mereka sangat bisa bekerja sama dengan ras-ras utama di Islan—terlebih jika itu dalam hal perdagangan ikan.
Oleh sebab itu, tak heran jika para prajurit Islan pun memanfaatkan keberadaan para Lizardmen untuk membantu mereka mendirikan markas sementara. Kendati markas utama itu berjarak beberapa belas kilometer dari danau tempat para Lizardmen bermukim, para Lizardmen dapat membantu para prajurit dengan menghalangi Beastman lain yang bersifat agresif seperti Goblin, Orc, dan Troll menyerang mereka, sehingga para prajurit bisa lebih fokus.
Para prajurit Islan, yang mayoritasnya terdiri atas elf dan manusia mendirikan markas sementara mereka dalam jarak yang cukup jauh dari pantai. Mereka berniat memanfaatkan hutan sebagai sekutu, sehingga mereka bisa mengatasi perbedaan jumlah dengan lebih leluasa. Dengan keberadaan elf yang berpendengaran dan berpenglihatan lebih tajam, juga kemampuan memanah mereka yang mumpuni, taktik gerilya akan menjadi cara berperang mereka.
Total terdapat dua ratus tenda dengan ukuran yang bervariasi di sana. Sebagian besar dari tenda-tenda itu ditempati oleh manusia, sebagian kecil ditempati para warebeast, dan sebagian kecil lagi ditempati para elf. Kendati jumlah elf lebih banyak dari warebeast, tetapi jumlah tenda mereka berbanding terbalik. Itu tentu saja bukan tanpa alasan; elf lebih suka beristirahat di pohon dibandingkan di tenda.
Evana dan Zuthvert tiba di depan tenda terbesar dari semua tenda yang ada dalam lingkaran sihir teleportasi. Mereka meminta diteleportasikan ke tempat ini segera setelah pertemuan dengan para Guardian selesai. Kendati kapal-kapal musuh yang menuju ke sisi ini masih akan tiba dalam beberapa jam, lebih baik bagi mereka mengetahui rencana pemimpin dari prajurit-prajurit di sini dengan lebih detail sehingga bisa bekerja sama dengan lebih.
“Hancurkan para penjajah itu, Nona Evana, Tuan Zuthvert.” Berkata sang peneleportasi sebelum kemudian menghilang dari tempatnya berdiri setelah mendapatkan anggukan dari Evana dan Zuthvert.
“Zuthvert, kuserahkan padamu untuk berbicara dengan pemimpin di sini. Aku akan langsung ke pantai dan memperluas area hutan. Kita akan buat orang-orang itu berpikir ini adalah tempat yang tak terlindungi. Kita akan buat mereka berpikir kalau musuh mereka di sini hanyalah para Beastmen.”
***
Sisi sebelah timur menenggara Islan adalah tempat yang damai. Kendati di hadapannya adalah lautan luas yang nan jauh di sana terhampar Medea dan Veria, sisi sebelah timur menenggara Islan tetaplah tempat yang damai. Tidak ada apa pun yang berbahaya di sini. Magical Beast yang berkeliaran pun hanya makhluk-makhluk lemah yang bahkan orang biasa bisa kalahkan. Tidak ada makhluk yang berbahaya di sini—selain para penjahat/pencuri yang bersembunyi dari buruan kerajaan-kerajaan/kota-kota.
Dua kilometer dari bibir pantai, tenda-tenda para prajurit gabungan dari berbagai ras telah berdiri berkelompok-kelompok. Itu adalah tempat yang mereka pilih sebagai markas. Dari situ, mereka akan bisa lebih leluasa bergerak kapan pun musuh tiba. Mereka pun tak harus mengkhawatirkan keamanan dari Magical Beast—tidak seperti tempat-tempat lainnya seperti sisi tenggara mereka.
Minner dan Zestya berhasil diteleportasikan ke tempat yang mereka inginkan—satu kilometer di depan tenda-tenda itu yang jumlahnya ratusan. Kedua warebeast bersaudara itu tak berminat menggabungkan diri langsung dengan pemimpin para prajurit. Mereka ingin menjadi penghalang utama bagis musuh. Para prajurit bisa menghadapi orang-orang yang selamat dari keduanya.
“Minner, siapa yang menghabisi lebih banyak orang maka dia berhak menjadi majikan yang kalah selama dua hari penuh. Bagaimana, Minner berani menerima tantangan Zestya?”
“Heh, kalau begitu kau jangan marah kalau nanti aku memerintahmu yang tidak-tidak, ya?”
“Minner berbicara seolah sudah menang saja. Baiklah, apa pun permintaan Minner, meskipun itu hal yang tak bermoral, Zestya tidak akan marah.”
***
Tidak ada kota apa pun di sisi paling timur Islan, tetapi jauh ke barat dayanya terdapat sebuah kota independen bernama Easthapola. Namun, lokasinya yang terlampau jauh ke barat daya membuat para prajurit tak bisa menjadikannya sebagai markas. Karena itu, para prajurit harus membangun tenda-tenda sebagai markas operasi mereka di tempat yang tak berpenghuni, berjarak sekitar tiga kilometer dari bibir pantai.
Hernandez, Retsu, dan Vermyna melangkahkan kaki mereka keluar dari portal dimensi yang Vermyna ciptakan. Dengan [Space Magic]-nya, Vermyna dapat menciptakan portal dimensi ke segala penjuru Islan—kecuali radius sepuluh meter dari tempat Fie Axellibra berada. Vermyna bisa melakukan itu karena Islan secara keseluruhan sudah termasuk ke dalam dimensi khususnya. Kendatipun secara nyata Islan masih tetap pada tempatnya, tetapi pada saat yang bersamaan ini berada dalam dimensi luas milik Vermyna.
Kemampuan Vermyna dalam [Space Magic] dan [Time Magic] sangatlah luar biasa hingga Hernandez ragu jika Jiang Yue Yin yang bisa menggunakan semua sihir sanggup menyamai sang vampire. Hernandez berpikir demikian tentu saja bukan karena ia berada di sisi sang vampire semata, tetapi karena ia memang mengakui kalau Vermyna memanglah sehebat itu.
“Hernandez, Retsu, jangan mati sebelum diriku kembali.”
Tanpa menunggu respons kedua manusia yang bersangkutan, sepasang sayap hitam kelam menyeruak keluar dari punggung vampire bertubuh mungil itu. Kemudian dia langsung mengudara dan melesat ke timur dalam kecepatan hipersonik. Saking cepatnya, melesatnya Vermyna menciptakan kejutan udara yang menerpa Hernandez dan Retsu.
Sesaat setalah kepergian Vermyna, Hernandez langsung mengajak Retsu untuk bergabung dengan para prajurit yang sudah terlebih dahulu berkemah tak jauh dari mereka. Karena mereka adalah pasukan utama, dan mengingat musuh-musuh yang harus mereka hadapi, penting bagi keduanya untuk berkoordinasi dengan pemimpin para prajurit. Dengan begitu, diharapkan mereka bisa menghindari terjadinya miskomunikasi.
***
Dalam terbangnya ke timur, Vermyna menyaksikan cukup banyak kapal yang menuju Islan. Kapal-kapal itu terbagi dalam beberapa rombongan dengan jalur tujuan yang berbeda. Selain rombongan utama yang berlayar lurus menuju pesisir timur Islan yang kapalnya berjumlah dua ratus lebih, rombongan lainnya masing-masing memiliki jumlah kapal yang sama, yakni sekitar 100. Secara total, Vermyna mengestimasi jumlah kapal totalnya antara 800 sampai 900.
“Itu jumlah yang sangat banyak,” gumam Vermyna dengan nada monoton. Namun, karena kecepatan terbangnya bahkan jauh lebih cepat dari merambatnya suara, Vermyna sendiri hampir tak mendengar suara gumamannya sendiri yang telah tertinggal.
“Edenia sialan itu!”
Vermyna tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Mengingat kejadian di mana ia kehilangan ingatan dan sejumlah besar kekuatannya selalu membuat dirinya sangat emosi. Saking emosinya, Vermyna sampai ingin menguliti makhluk itu hidup-hidup. Jika saja ia tidak tahu kalau mustahil baginya bahkan hanya untuk menggores kulit Edenia, Vermyna tentu sudah berupaya mencari lokasi makhluk itu.
Jika ia ingin setidaknya memiliki kesempatan menghadapi makhluk hina itu, Vermyna harus minimalnya memiliki Supreme Magic. Namun, itu saja tak cukup. Ia juga harus menyatu dengan kedua bagian dirinya yang lain: Catherine Hermythys dan Satanicieala. Tanpa penyatuan itu, mustahil baginya untuk kembali menjadi Vermyna Hellvarossa. Jika ia tak menjadi Vermyna Hellvarossa, tidak ada peluang baginya melukai Edenia, kendati dengan sebuah Supreme Magic sekalipun.
Namun, memikirkan meniadakan keberadaan Catherine… Vermyna tidak bisa membawa dirinya melakukan itu. Ia telah menghabiskan waktu yang lama bersama Catherine. Meskipun ia sekarang tahu kalau jiwa anak itu bagian dirinya, tetap saja secara teknis Catherine adalah adiknya. Jika ia mengambil kembali jiwanya, …itu akan seperti membunuh adiknya sendiri.
Untuk saat ini, Vermyna tidak sanggup melihat Catherine meregang nyawa.
Lagipula, kekuatannya saat ini sudah lebih dari cukup menghadapi hampir semua orang. Mengecualikan Fie Axellibra yang dapat menegasikan semua sihir, Vermyna tidak merasa ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Mendesaknya mungkin ada, tetapi mengalahkannya?
Itu tak mungkin terjadi.
Tak lama kemudian, Vermyna sudah berada di antara Islan dan Medea. Mengingat ia sampai di sini dan masih belum melihat para naga yang dimaksud, artinya Arshvateth dan bawahannya terbang dalam kecepatan biasa menuju Islan. Mereka pasti dengan arogannya berpikir kalau makhluk superior seperti mereka tak perlu terburu-buru. Atau, jika masa lalu itu masih membekas dalam benak para naga, mereka ingin menghindari pertemuan dengan Fie Axellibra. Jika demikian, mungkinkah mereka mengekspektasikan Jiang Yue Yin akan menangani sang nephilim?
“Sebagai ras naga, diri mereka sangat mengecewakan, tapi itu tidak mengherankan. Setiap diri memiliki insting alami untuk menghindari melawan musuh yang tak bisa dikalahkan. Diri mereka hanya mempermalukan ras naga secara utuh. Hmph, mengapa tidak kulenyapkan saja mereka semua?”
Gramiel, sebagai pria tua yang lunak hatinya, melarangnya melakukan pembunuhan masal terhadap ras naga. Lebih baik untuk membiarkan sebagian besar dari mereka pergi. Atau, jika upaya pengusiran mereka bisa dilakukan hanya dengan menundukkan Arshvateth, Gramiel ingin agar Vermyna memilih opsi itu.
Normalnya, Vermyna akan menuruti keinginan Gramiel – ia memiliki cukup rasa hormat pada pria itu sebagai penyebar risalah dari sang dewa.
Namun, masa-masa di mana ia memiliki rasa hormat yang cukup itu telah sirna saat Vermyna mengingat kembali siapa ia yang sebenarnya. Kendatipun ia masih memiliki sedikit respek pada pria tua itu, tetapi itu tidaklah cukup untuk membuat Vermyna mematuhinya seperti biasa. Ia jelas-jelas adalah makhluk dengan kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan pak tua itu; sangat tak pantas baginya mendengarkan kata-kata Gramiel.
Kekesalan di wajah Vermyna sirna seketika kala mata merahnya melihat rombongan naga terbang di horizon sana.
“Diri mereka akan menjadi hiburan yang tidak buruk,” gumamnya sembari memotong jarak dalam sekejap, dan dalam sekelap mata ia sudah berada di hadapan para naga yang refleks menghentikan laju mereka. “Halo, diri para naga yang hina, bagaimana kabar diri kalian?”
***
Waktu unjuk gigi bagi mahakarya mereka akhirnya tiba—itu adalah apa yang mengisi pikiran Khrometh dan Stakhneth saat mereka berada di gua khusus yang diperuntukkan hanya untuk mereka oleh Dwarf Kingdom, atas titah King Zolloa. Keduanya berdiri di hadapan golem raksasa bersayap, Titanus. Khrometh sudah membaluti dirinya dengan armor khusus yang membaluti seluruh bagian tubuhnya, kecuali bagian wajah. Sementara itu, Stakhneth hanya berbalutkan pakaiannya yang biasa.
“Tunggu apa lagi, Stakhneth? Cepatlah naik. Kita akan langsung ke sana dan memberantas setiap cecunguk yang mendekat.”
Stakhneth mengangguk pelan, berjalan mendekati golem. Seperti halnya rekannya yang sudah tak sabaran ingin segera mengetes armor barunya, ia juga sudah tak sabar ingin melihat golem penghancur itu. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk memanifestasikan golem tersebut; akan mengecewakan jika mereka tak memanfaatkannya.
Melompat ke udara, Stakhneth langsung menerobos memasuki dada golem yang terbuka.
Khrometh yang menyaksikan saudara tak sedarahnya itu memasuki ruang kontrol golem tersebut menyengir lebar. Dan cengirannya semakin lebar saat kedua mata golem itu menyala, mengindikasikan Stakhneth sudah duduk di kursi kendali dan membiarkan [mana]-nya diserap. Kendatipun mereka sudah menciptakan reaktor [mana] yang mengandalkan kondensasi Air Ethereal sebagai sumber [mana], tetapi Stakhneth tetap perlu menggunakan [mana]-nya untuk mengaktifkan golem tersebut.
Khrometh lantas mengangkat tangan kanannya saat Stakhneth menggerak-gerakkan kaki dan tangan golem, seketika memunculkan lingkaran sihir berwarna coklat di langit-langit gua yang menjulang tinggi. Langit-langit di atas golem itu pun saling memisahkan hingga menciptakan lubang berdiameter dua puluh meter di udara. Lantas, Stakhneth membawa golemnya terbang menembus lubang itu.
Tak ingin tertinggal, Khrometh langsung melesat ke atas menyusul Titanus—tentu saja dia tak lupa mengembalikan atap gua kembali seperti semula.
***
Kapal Vegasus perlahan melayang dari tempatnya mengapung di permukaan danau bawah tanah. Langit-langit gua yang cukup tinggi itu membuka perlahan, membiarkan kapal satu-satunya di Islan yang dapat terbang itu menerobos bebas ke permukaan. Tak lama, kapal itu sudah berada ratusan meter di atas permukaan tanah.
Di ruang kendali kapal itu, Diatra duduk santai di sofa beberapa belas langkah di belakang kursi kendali yang di atasnya duduk Elemetra. Mereka bersepakat untuk gantian mengendalikan kapal setiap satu jam. Karena tak satu pun dari mereka memiliki [Fire Magic], mereka butuh [mana] yang lebih untuk mengoperasikan kapal. Karena itu pula mengapa mereka akan saling bergantian setiap satu jam.
Kapal Vegasus lantas melesat lurus ke timur laut Islan. Tugas mereka adalah menghancurkan sebanyak mungkin kapal. Karenanya, Diatra dan Elemetra memutuskan untuk memulainya dari yang paling ujung. Kemudian mereka berniat untuk menyisir di sepanjang laut dari sisi timur laut Islan sampai sisi tenggaranya.
Itu adalah rencana yang paling sederhana, tetapi pada saat yang bersamaan itu juga yang paling efektif dan masuk akal. Pasalnya, mereka tidak memiliki cukup informasi tentang musuh untuk merumuskan rencana yang lebih jitu.