Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.17 — The Festival (5)



Minner melesat bagaikan komet yang melewati langit malam, dalam seper sekian detik ia sudah berada di hadapan tiruannya.


Kendati kecepatannya begitu impresif, mata boneka imitasi itu dapat mengikuti Minner dengan baik. Tinju berkekuatan penuh Minner kembali dapat diblok. Tetapi berbeda dengan sebelumnya, boneka imitasi itu langsung terpental dengan kuat hingga menghantam dan menghancurkan sebuah rumah.


Alasannya sederhana, dalam seper sekian detik itu Minner telah memasuki mode Beastification-nya, memberikannya kekuatan yang berlipat-lipat dari yang sebelumnya.


Tak berhenti di situ, pria yang kini berpenampilan semakin mirip dengan singa itu seketika menciptakan ratusan lingkaran sihir oranye di atas rumah yang hancur itu. Tak sampai sedetik kemudian, pilar energi turun dengan kecepatan hipersonik dan menghapuskan keberadaan rumah yang hancur itu hingga tak berbekas.


Spell itu sama sekali tak menghasilkan kepulan asap dan debu saat menghantam target, semuanya lenyap menjadi abu dengan kecepatan tinggi, seperti kertas kecil yang dicampakkan dalam kobaran api yang besar.


“Jangan bercanda denganku,” gumam Minner dengan suara yang lebih berat, kemudian berbalik arah dan meninggalkan tempat itu tanpa memastikan apakah lawannya masih ada atau tidak.


Minner sama sekali tak meragukan keberhasilannya. Kendati ia baru bertukar serangan dengan boneka imitasi itu dalam waktu yang singkat, ia tahu kalau boneka itu tidak bisa menggunakan selain kemampuan dasar. Namun, jika diberi waktu, mereka bisa berkembang dengan meniru sosok asli dari boneka itu. Karenanya pula Minner mengakhiri boneka itu secepatnya, jika tidak maka boneka itu akan berkembang seiring dengan bertambahnya pengalaman dan informasi yang didapat darinya.


Minner lantas melihat ke arah di mana rekan-rekannya berada, sebelum kemudian memutuskan untuk memprioritaskan membantu saudarinya.


...* * *


...


Zestya menggeram kesal melihat boneka itu dapat menghindar dari pukulan dalamnya, dan ia semakin kesal saat melihat boneka itu mulai menyelimuti kedua tangannya dengan plasma. Zestya lantas membawa Acceleration dan Enhancement-nya ke tingkat maksimum, sekali lagi menyerang boneka itu.


Kali ini, pukulan-pukulan Zestya mendarat dengan telak di tubuh boneka itu. Pipi kanan, pipi kiri, hidung, leher, ulu hati, perut, dan bahkan Zestya dapat mendaratkan tinjunya pada dagu boneka itu—yang lantas membuatnya terlempar ke atas. Namun, saat Zestya melesat ke atas dan hendak mendaratkan hantaman kakinya ke kepala boneka itu, tiba-tiba boneka itu dapat memblok tendangan Zestya dan bahkan memanfaatkan kakinya untuk melontarkan tubuhnya menjauh.


Dan begitu Zestya mendarat, boneka itu sudah melesat menuju dirinya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Zestya yang sebelumnya mendominasi, kini boneka itu telah menyamainya dan membuat pertarungan mereka seimbang. Setiap pukulan boneka itu berhasil Zestya tahan, dan setiap pukulan Zestya berhasil pula ditahan boneka itu. Dan setiap kali Zestya berhasil mendaratkan sebuah pukulan, boneka imitasi itu membalas dengan mendaratkan pukulan di tempat yang sama. Dia sungguh memenuhi namanya sebagai boneka imitasi.


“Dan itu menjengkelkan!” geram Zestya sembari membaluti tubuhnya dengan zirah plasma, membuat kecepatan dan daya serang Zestya kembali meningkat. Alhasil, Zestya kembali mendominasi pertarungan, dan kali ini ia menyerang boneka itu dengan membabi buta.


Akan tetapi, itu hanya bertahan tak sampai satu menit. Boneka imitasi itu kembali berdiri, dan kini tubuhnya pun berbalutkan plasma.


“…”


Tidak ada komentar yang keluar dari mulut Zestya, ekspresinya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Dan dalam sekejap ia kembali menyerang ‒ bersamaan dengan itu, belasan lingkaran sihir berukuran sedang tercipta di belakang Zestya dalam formasi setengah lingkaran.


Pertarungan ketat antara warebeast tersebut dengan boneka peniru dirinya pun kembali terjadi, dan kali ini lebih sengit dan menciptakan lebih banyak kehancuran dari yang sebelumnya.


Dan setelah beberapa lama, Zestya memangkas jarak dari boneka itu dan berdiri dengan napas yang sedikit terengah-engah.


Zestya memiliki beberapa spell destruktif yang belum ia gunakan, pun ia sama sekali belum menggunakan bola-bola plasma. Namun, itu akan terlalu destruktif jika ia menggunakannya di kota ini. Terlebih lagi, jika ia gagal menghabisi boneka itu dengan spell destruktifnya, boneka itu akan bisa menggunakan spell itu juga.


“Seharusnya aku langsung menggunakan kekuatan penuh untuk menghabisinya sejak awal,” gerutu Zestya, seketika menciptakan bola plasma di telapak tangan kanannya. Bola plasma yang berada di tangannya berwarna merah gelap dengan kerapatan yang tinggi. Zestya membuatnya sekecil mungkin untuk meminimalisasikan jangkauan kerusakan yang akan disebabkannya.


Tetapi menyebalkannya, boneka imitasi itu juga telah menciptakan bola plasma yang serupa. Dan pada saat yang bersamaan, keduanya melesatkan bola plasma panas itu ke arah satu sama lain. Lalu dalam sekejap, kedua bola itu saling menghantam dengan keras, menciptakan ledakan besar yang menelan segala yang ada di sekitar dalam radius yang cukup luas.


Asap dan debu mengepul, menghalangi pandangan untuk menembus melewatinya.


“Tidak perlu berterima kasih, kau bisa membayarku dengan menjadi pelayanku selama sehari.”


...* * *


...


Di luar kota pelabuhan, Catherine berdiri terpisah beberapa belas meter dari boneka imitasi itu. Dan ia harus mengakui kalau boneka itu cukup mengesankan. Kendati mulanya boneka itu tak sekuat Catherine, seiring berjalannya waktu boneka itu berkembang menjadi lebih kuat dan dengan cepat mampu menggunakan spell yang ia gunakan. Jika ada seribu saja boneka seperti itu dan potensinya dibuat hingga maksimum, itu akan menjadi pasukan yang sangat amat mengerikan.


“Kau adalah lawan yang bagus untuk latihan,” gumam Catherine dengan ekspresi serius, kedua tangannya telah terselimuti petir biru padat yang memanjang membentuk pedang. “Tapi akan menyebalkan jika kau terus berkembang. Karenanya, aku akan mengakhirimu secepat mungkin.”


Bersamaan dengan kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah lingkaran sihir biru berdiameter puluhan meter tercipta menutupi dataran pasir yang mereka pijaki, dan detik itu juga sosok Catherine menghilang dari tempatnya berpijak.


Hal yang terjadi setelah itu terlampau cepat untuk dilihat bahkan oleh mata yang terlatih. Hanya kilatan biru yang bergerak seperti kilat pada umumnya memborbardir boneka itu tanpa ampun. Boneka itu sama sekali tak mampu bereaksi. Dan saat dia mencoba bereaksi, saat itu tubuh boneka tersebut sudah terpotong-potong rapi seperti potongan dadu yang lantas ditelan oleh petir biru, membuatnya menjadi abu.


Semua itu terjadi hanya dalam satu detik, dan saat lingkaran sihir biru yang menutupi pasir itu menghilang, Catherine sudah berdiri di tempatnya semula.


...* * *


...


Dua buah gelombang api hitam saling membentur tatkala kedua bilah pedang yang serupa itu saling berlaga. Keduanya mencoba saling beradu supremasi, tetapi gagal untuk mengungguli satu sama lain. Malahan, kedua api itu terlihat ingin menyatu ‒ keduanya sudah pasti menyatu jika bukan karena keinginan pemiliknya yang ingin saling menundukkan.


Retsu menekuk kaki kiri selama sedetik sebelum kemudian memusatkan [mana]-nya untuk memberikan efek dorongan pada tubuhnya. Trik kecil Retsu itu berhasil membuat imitasinya terpental, dan ia lekas memanfaatkan hal itu untuk menggunakan teknik tarian pedang kesukaannya.


Ayunan pedang Retsu yang terlihat lembut itu menebas sang boneka dalam posisi yang membuatnya terpental ke udara. Wanita berambut seputih salju itu sengaja mengaktifkan rune pada pedangnya yang membuat pedang itu menumpul. Retsu dalam sekejap sudah memosikan tubuhnya tepat di tempat di mana tubuh itu akan jatuh.


“Sword Dance of Dandelion!”


Seperti halnya dandelion yang melayang-layang diembus angin musim semi, ayunan pedang yang gemulai dari Retsu membuat tubuh boneka itu melayang-layang di udara. Retsu sendiri bergerak lincah dan beberapa kali memutar tubuhnya seperti halnya menari, semua itu dilakukan agar pukulan pedangnya yang sudah ia buat tumpul mengenai titik-titik utama aliran [mana]—yang lantas akan membuat boneka itu kesulitan menggunakan [mana].


Itu semua terjadi hanya dalam belasan detik saja. Dan saat boneka itu terjatuh dalam posisi kepala ke bawah, pedang Retsu—rune penumpulnya sudah dinonaktifkan—yang bilahnya telah dibaluti api hitam berkerapatan tinggi telah melesat secara horizontal dari kiri ke kanan.


Jrassssshhh!


Bilah pedang berbalutkan api itu dengan mulus memisahkan leher dan kepala boneka itu. Tak sampai sedetik setelahnya, kedua bagian boneka itu ditelan api hitam dengan brutal.


Retsu sama sekali tak sempat melihat api itu menelan boneka tersebut hingga tak bersisa, ia tiba-tiba dipaksa melompat menjauh dari tempatnya berdiri ‒ sebuah tombak pasir putih raksasa sudah mendarat di sana dengan keras tak sampai satu detik setelah Retsu menjauh.


Refleks Retsu mengedarkan pandangannya mencari pelakunya, tetapi ia sama sekali tak bisa menemukan sosok itu di sekelilingnya. Barulah kala iris amber Retsu menanjaki langit ia melihat makhluk itu melayang ratusan meter di udara. Di sekeliling makhluk itu sudah terdapat ratusan tombak pasir putih yang serupa, dan jumlahnya terus bertambah dan bertambah.


Saat itu Minner dan Zestya tiba di kanan dan kirinya, keduanya ikut memandang apa yang Retsu pandang. Dan pada saat yang bersamaan, Catherine yang tak bisa menahan lautan pasir putih yang bergejolak berteleportasi ke samping Zestya. Ekspresi mereka begitu serius, terlebih mereka semua merasakan pancaran kekuatan yang begitu tinggi dari makhluk itu.


“Para pendosa, sudah saatnya kalian semua binasa; dunia yang kotor ini, aku akan mulai membersihkannya.”