
Setelah beberapa lama berjalan, ujung terowongan itu terlihat jelas.
Di ujung terowongan itu, sebuah danau yang indah seketika memanjakan mata Hernandez dan yang lainnya.
Begitu berada di pinggir danau, Hernandez mendapati air danau yang lebih kecil dari Danau Deus itu sangatlah jernih. Dan dengan banyaknya kristal berpendar yang memenuhi lantai dan dinding-dinding, mereka sama sekali tak membutuhkan sinar mentari di dalamnya.
“Kita berada dua ratus meter di bawah permukaan tanah,” ucap Tetua Ramatra sambil menggestur mereka untuk beranjak ke sisi lain danau, yang lantas dipenuhi Hernandez dan yang lainnya tanpa banyak tanya.
Kala mereka melewati pilar-pilar penopang langit-langit gua yang tadi menghalangi pandangan, ekspresi terkesima seketika mewarnai wajah Hernandez. Hal yan sama pun terjadi pada Retsu. Mereka sama sekali tak mampu menyembunyikan keterkesimaan mereka.
Sebuah kapal berukuran besar dengan struktur yang belum pernah mereka lihat sebelumnya mengapung belasan meter dari tepi danau.
Kapal dengan sepasang sayap berwarna perak dengan struktur seperti sayap burung itu memiliki haluan kapal berbentuk kepala kuda dengan sebuah tanduk panjang yang meruncing. Di pangkal tanduk itu terdapat semacam meriam kecil untuk menembakkan sesuatu. Sedang di bawah sayap lebar yang terbentang itu, bola-bola kristal yang dipenuhi [mana] terlihat bergantungan dengan rapi. Badan kapalnya berbentuk seperti kepala kobra yang mekar, tetapi tertutup sepenuhnya tanpa celah untuk masuk kecuali pintu dan jendela saja.
“Kami tidak bisa membuka pintunya,” ucap Tetua Ramatra. “Untuk membuka pintu, ada tiga formula rune yang harus diaktifkan. Dari semua percobaan yang pernah dilakukan, hanya satu rune yang bisa diaktifkan.”
Itu menjelaskan kenapa mereka agak skeptikal untuk mencoba menggunakan kapal itu lagi, batin Hernandez.
Bersamaan dengan ucapan sang tetua, Elemetra menggunakan [Earth Magic]-nya untuk menciptakan jembatan kecil yang menghubungkan tepi danau dan Kapal Vegasus. Ramatra terus berjalan menaiki jembatan itu, Hernandez dan yang lainnya mengikutinya dari belakang. Begitu tiba di sana, seperti yang sang tetua katakan, Hernandez mendapati tiga formula rune kecil yang tersusun secara vertikal terukir di permukaan pintu.
“Bagaimana, Hernandez?” tanya Tetua Ramatra.
Hernandez merespons pertanyaan itu dengan membawa telunjuk kanannya yang berselimutkan [mana] ke formula rune paling atas, kemudian dengan pelan ia menarik garis lurus dari atas ke bawah. Dan seketika, ketiga formula rune itu berpendar pada saat yang bersamaan. Pintu kapal pun terbuka dengan perlahan.
“Ini formula rune yang sederhana dengan kunci pembuka yang juga sederhana,” jelas Hernandez. “Yang membuatnya terlihat kompleks adalah ketiga formula rune ini harus diaktifkan pada saat yang bersamaan.”
“Ah….”
Hanya itu yang Tetua Ramatra suarakan sebagai respons. Elemetra dan Diatra yang melihat ekspresi sang tetua serentak menyombongkan tentang betapa benarnya diri mereka.
Mengabaikan ketiga centaur itu, Hernandez melangkahkan kakinya ke dalam kapal. Retsu mengikuti pemuda berambut hitam itu tepat setelahnya. Empat buah [Light Stone] seketika menyala. Dan detik itu juga sang pandai besi melihat sebuah sistem formula rune yang sangat kompleks. Melihatnya sekilas saja sudah cukup untuk mengatakan kalau kapal yang mereka naiki ini dibuat untuk menjadi mahakarya.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Retsu itu sontak mengalihkan perhatian Hernandez. Matanya lantas menyaksikan apa yang Retsu saksikan di sudut kanan dan kiri ruangan.
Kristal-kristal merah terang berbentuk tabung yang di dalamnya terisi cairan tersusun dalam formasi yang kompleks. Semua kristal-kristal itu saling terkoneksi dengan satu sama lain. Dan di bawah kumpulan kristal itu terdapat formula rune berukuran masif.
Dari tempatnya berdiri, Hernandez bisa mengetahui kalau formula rune itu sebenarnya adalah rangkaian formula rune yang lebih kecil. Hernandez tak bisa melihat formula rune di sisi lain, tetapi bagian terdepan dari formula tersebut menunjukkan kalau fungsi kristal-kristal itu tak lain hanyalah menampung dan menyalurkan [mana]. Seperti yang Retsu duga, itu tak lain adalah reaktor [mana]. Hernandez sejatinya tak perlu tahu fungsi formula rune untuk mengetahuinya; hanya dengan melihat bentuk dan susunan kristal itu dengan sekilas sudah dapat memberinya jawaban.
“Oh, kalian sudah tahu kalau itu reaktor [mana]?” tanya Tetua Ramatra yang sudah bergabung dengan Retsu dan Hernandez—Elemetra dan Diatra juga sudah berada di dalam ruangan.
“Tak sulit untuk mengetahuinya,” ucap Hernandez dan Retsu bersamaan.
“Benar. Bagi yang terbiasa dengan artefak sihir, sangat mudah untuk menyimpulkan kalau itu adalah reaktor [mana].” Ramatra berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. “Tapi,” lanjutnya seraya membelakangi Hernandez dan Retsu, “apa kalian tahu di mana ruang kendalinya?”
Mendengar pertanyaan itu membuat Hernandez dan Retsu untuk kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kendati ruangan tempat mereka berada sekarang dipenuhi oleh banyaknya formula rune, tetapi keduanya sama sekali tak melihat adanya hal yang mengindikasikan kalau ini adalah ruang kendali. Terlebih lagi, semua dinding ruangan bersifat tertutup; tidak ada kaca yang membuat mereka bisa melihat keluar.
“Melihat bagaimana struktur ruangan dibuat, aku yakin ada akses rahasia ke ruang kendali.” Hernandez berkata sambil berbalik memandang punggung sang tetua. “Mengapa tidak kau tunjukkan pada kami, Tetua Ramatra? Kendati kau sendiri tidak pernah masuk ke dalamnya, setidaknya kau pasti sudah diberitahu letaknya, bukan begitu?”
“Benar sekali,” respons Ramatra dengan nada bangga. “Kendati aku dan yang lainnya belum pernah masuk, tapi kami semua tahu persis seperti apa isi kapal ini. Pendahulu kami memastikan kami mengingat hal itu sebelum mereka menyerahkan posisi dewan.”
“Lantas, di mana akses ke ruang kendali tersebut?” tanya Hernandez, secara tak langsung meminta sang tetua untuk mengarah langsung pada poin utamanya.
“Dulu sekali—”
“Ah, Tetua, aku akan melihat-lihat apa bagian luarnya masih sempurna apa tidak.”
“Aku juga, Tetua; kami serahkan penjelasan itu padamu.”
Hernandez mengernyitkan keningnya melihat gelagat Elemetra dan Diatra yang mencurigakan. Retsu pun merasakan hal yang sama. Namun, sebelum mereka sempat bersuara, Tetua Ramatra mengangguk dan mengatakan pada kedua centaur itu untuk memeriksanya dengan detil.
“Dulu sekali,” lanjut Tetua Ramatra tepat setelah kedua centaur itu beranjak ke luar, “tidak ada keharusan bagi dewan sebelumnya untuk memastikan dewan yang baru mengerti akan hal-hal sakral di desa. Mereka sudah menuliskan semuanya dengan rapi dan teratur. Anggota dewan yang baru dapat memelajari semuanya dari tulisan-tulisan itu. Namun ….”