Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.11 — The Plan



...—Kota Pelabuhan Barat, Islan—...


Hernandez kembali ke kota pelabuhan dengan muka datar tanpa memperlihatkan emosi, kendati di dalam hati ia disulut oleh kekesalan yang mendalam.


Sang blacksmith tak sendiri. Ia ditemani Retsu, Minner, dan Zestya; Vermyna dan Catherine sudah pamit berlalu, kedua vampire itu akan bergabung dengan mereka saat malam festival nanti. Mereka berdua vampire, tak tertari mengonsumsi hal lain selain darah. Mereka memang bisa makan atau minum hal lain selain darah, tetapi rasanya akan hambar dan tidak enak. Karenanya, sama sekali tak mengherankan keduanya tidak ikut bersama mereka.


“Tuan Hernandez!”


Seorang pria tua berbadan kekar berkumis tipis melambai ke arah Hernandez dan ketiga rekannya. Hernandez langsung mengenali pria itu. Dia kapten kapal yang sangat handal dalam memasak. Dia juga memiliki sebuah penginapan yang bagus di kota ini. Saat itu Hernandez langsung memutuskan untuk memesan tempat di penginapan pria yang telah ia kenal itu.


“Kapten, kau tampak bersemangat seperti biasa.”


“Tuan Hernandez, kau membawa serta rekan-rekanmu, dan secara kebetulan aku tahu nama mereka semua. Aku merasa tersanjung bisa berdiri di hadapan tiga anggota Deus Guardian yang lain.” Kapten kapal mengulurkan tangannya menjabat tangan Hernandez. “Tapi Tuan Hernandez, tampaknya kau sedang tidak senang, apa ada masalah yang menyulitkanmu?”


“Kita bisa membahas hal itu saat kau tidak sibuk, Kapten, sekarang aku hanya ingin tahu di mana letak penginapan milikmu. Kami akan menginap di tempatmu sampai hari festival tiba.”


“Ah, tentu saja, tentu saja.” Kapten kapal mengangguk mengerti, kemudian ia menunjukkan arah di mana penginapannya terletak pada Hernandez dan yang lainnya.


“Kalau begitu kami permisi, Kapten.”


“Ya, Tuan Hernandez, dan katakan pada resepsionis kalau kalian tamuku. Dengan begitu, kalian akan diberikan kamar terbaik dari semua kamar yang ada.”


Dengan itu, Hernandez dan ketiga rekannya melangkah ke arah yang kapten kapal tunjukkan.


Jalan-jalan kota ramai dibludaki orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka tampak begitu sibuk dengan berbagai urusan. Tetapi itu sama sekali tak mengherankan. Bagi kota pelabuhan seperti ini, kesibukan adalah hal yang paling normal bagi mereka. Setiap harinya ada ribuan orang yang datang dan pergi dari kota ini. Baik itu mereka yang datang dari luar kota, atau bahkan mereka yang jauh-jauh dari Veria ataupun Kepulauan Haikal di selatan Medea sana.


“Hernandez, apa rencana?” tanya Minner tiba-tiba. “Ini tugas yang diberikan padamu, sudah semestinya kami bertindak sesuai arahanmu.”


Retsu dan Zestya mengangguk menyetujui. Mayoritas tugas yang dijalankan oleh anggota Deus Guardian dilakukan sendiri-sendiri. Mereka baru melakukannya secara berkelompok jika tugas itu cukup berat untuk dilakukan sendiri. Tugas mengidentifikasi penyebab lautan pasir menjadi putih dan potensi ancamannya adalah tugas yang diemban Hernandez. Karenanya, sangat natural bagi Minner menanyakan hal itu.


“Sebenarnya,” respons Hernandez, “tugas yang diberikan padaku sudah tuntas. Penyebab pasir itu menjadi putih karena ulah World Observer. Tentang potensi ancamannya, nah, dia sendiri sudah mengatakan kalau dia berniat melenyapkan semua pendosa dari permukaan dunia.”


Penjelesan Hernandez itu membuat ketiga rekannya melebarkan mata.


“…Itu memang benar.”


“Secara teknis, tugas Hernandez memang sudah selesai.”


“Masalah pasir putih itu telah berkembang ke tingkat yang berbahaya,” lanjut Hernandez. “Bukan saja kita harus menyelamatkan Lyra, kita juga harus memikirkan bagaimana menghentikan makhluk itu. Karena, dari caranya mengatakan ‘semua pendosa’, itu seperti merujuk pada semua makhluk hidup yang berakal. Singkatnya, World Observer berniat membersihkan dunia dari semua ras yang menghuninya.”


“Hmph, apa makhluk itu pikir dia itu dewa sehingga bisa memutuskan kalau semua ras itu pendosa? Pemikirannya tak lebih dari sekadar omong kosong.” Minner secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.


“Tunggu, bukankah makhluk itu bilang kalau itu adalah keinginan wanita bernama Lasya tersebut?”


“Retsu benar, Zestya ingat kalau dia mengatakan itu.”


“Walau makhluk itu mengatakan kalau itu keinginan wanita bernama Lasya,” timpal Hernandez, “itu tak menutup kemungkinan kalau makhluk itu menginginkan hal yang sama.”


“Tapi,” lanjut Hernandez, “aku juga tidak akan mengatakan kalau makhluk itu memosisikan dirinya sebagai dewa. Dia World Observer, dari identitasnya itu kita bisa menebak kalau dia memosisikan dirinya sebagai pengawas.”


“Kau ingin mengatakan kalau makhluk itu, sebagai pengawas, telah memutuskan kalau manusia dan ras-ras lainnya sudah tak pantas menempati dunia ini, begitu?”


“Kurang lebih seperti itu,” respons Hernandez menjawab pertanyaan Minner.


“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Retsu.


“Pertama-tama, aku akan menemui walikota untuk mengetahui lebih detail tentang apa saja yang terjadi di setiap malam festival, terutama dengan darah birunya kraken yang membasahi pasir di sekitar altar. Sementara itu, kalian bisa memulainya dari perpustakaan kota; cari apapun itu yang berhubungan dengan Lasya of the Moon.”


Hernandez menjeda sejenak, sebelum melanjutkan, “Nona Vermyna mengatakan akan mencari tahu lebih jauh tentang Six Crests of Hope; kita bisa mengandalkannya untuk mencari tahu lebih detil tentang World Observer. Tanpa mengetahui kemampuan makhluk itu, menghadapinya akan sangat sulit, dia bahkan bisa meloloskan diri dari Total Isolation yang kubuat.”


Kalimat terakhir Hernandez membuat Retsu dan kedua lainnya mengernyitkan kening mereka. Ketiganya sudah mengetes kemampuan makhluk itu. Mereka bertiga memang tidak serius, tetapi seharusnya mereka bertiga akan mampu untuk mengenainya. Namun, makhluk itu dapat menghindari setiap serangan mereka bahkan dari titik yang sulit dijangkau sekalipun. Dan lebih parahnya, mereka juga tahu kalau makhluk itu lebih tidak serius ketimbang mereka.


“Tapi sebelum itu, sebaiknya kita beristirahat dulu sejenak,” ucap Hernandez tatkala mereka tiba di hadapan penginapan dua tingkat yang kapten kapal maksudkan.


“Kau benar, dan aku juga sudah lapar.”


“Zestya ingin mandi.”


“Aku juga mau membasuh diri.”


Dengan itu, Hernandez dan ketiga rekannya memutuskan untuk beristirahat sejenak.