
...—Kapal Utama Veria—
...
“Akan kupotong jarak antara kapal-kapal ini dengan Islan. Jarak yang terpaut tiga jam perjalanan kapal, akan kubuat menjadi tiga puluh menit.”
Gadra hampir terperanjat saat suara itu tiba-tiba menyerang indra pendengarannya. Tetapi karena otaknya langsung mengenali suara monoton itu, ia dapat dengan cepat mengontrol diri dan berbalik menghadap sang pemilik. Seperti yang sudah ia asumsikan, itu benar milik Jiang Yue Yin.
“Mengapa begitu tiba-tiba? Dan sejak kapan pula kau berada di kapal ini?” Refleks Gadra bertanya.
“Aku baru di sini, dan aku baru saja melihat ada yang melesat menuju Arshvateth dan rombongannya. Sepertinya mereka sudah tahu kalau kita akan mengikutsertakan para naga dalam menyerang Islan.”
Gadra mengernyitkan kening mendengar informasi itu. “Itu tidak mungkin! Tidak ada mata-mata dalam pasukan ini. Aku sudah menekankan pada orang-orang kepercayaanku untuk memastikan hal itu. Karenanya, jika ada yang benar-benar membocorkan informasi itu, orang tersebut pastilah menyempil di antara pasukanmu, Yue Yin. Mengesampingkan hal itu, siapa orang yang kau lihat itu?”
“Seorang vampire.”
“Hm, jika ada vampire yang cukup arogan untuk menghadang Arshvateth seorang diri, dia pastilah Vermyna Hermythys.”
“Vermyna…Hermythys?”
“Dia adalah individu terkuat di Islan setelah Fie Axellibra. Aku tidak tahu pasti sekuat apa dia, tapi katanya dia tidak terkalahkan dalam [Time Magic] dan [Space Magic]. Aku tahu kau juga menguasai kedua sihir itu, tapi aku tidak tahu apa kau bisa mengungguli Vermyna dalam kedua sihir itu atau tidak. Dan jika harus jujur, aku tak yakin aku bisa mengalahkan vampire itu—bahkan jika diriku ada tiga sekalipun. Kau mempersingkat jarak karena hal itu?”
“Hm, jika Vermyna Hermythys itu sekuat yang kau implikasikan, membuatnya menghadapi Arhsvateth dan bawahannya adalah hal yang bagus. Akan merepotkan jika dia hadir saat aku harus fokus pada Fie Axellibra.”
Hm, Gadra merasa seharusnya ia memberi informasi yang detail pada Yue Yin saat sebelum mereka mengeksekusi rencana. Meskipun mereka percaya diri dengan jumlah, itu tidak akan berarti jika dihadapkan pada kekuatan besar. Orang-orang mengatakan untuk mengalahkan kualitas dengan kuantitas, tetapi mereka lupa kalau kualitas bisa saja melenyapkan kuantitas.
“Tapi tak masalah; aku akan mengatasi mereka berdua sekaligus jika keduanya bertarung bersama. Sekarang, persiapkan dirimu dan yang lainnya, Gadra.” Yue Yin langsung menyatukan kedua telapak tangannya tepat setelah mengatakan itu.
Gadra ingin mengatakan kalau bagi Yue Yin pun itu mustahil mengalahkan Fie Axellibra dan Vermyna Hermythys sekaligus. Namun, ia tak ingin mengantagonisi Yue Yin. Karenanya Gadra hanya mengangguk pelan dan pergi menemui pasukan intinya.
...—Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—
...
Axellibra adalah kota yang besar, terbesar di seantero Islan yang luas. Pun demikian dengan penduduknya. Mereka lebih banyak daripada elf yang menghuni Evrillia ataupun warebest yang mendiami ibukota Warebeast Great Kingdom. Tetapi itu tak mengejutkan; manusia lebih cepat berkembang biak dibandingkan elf ataupun warebeast—kendatipun mereka jauh lebih cepat mati dibandingkan keduanya.
“Pope Gramiel, silakan ikuti saya.”
Mata Gramiel yang memutar ke sana ke mari memandangi pesona ibukota Emiliel Holy Kingdom seketika mengarah pada pemilik suara. Gramiel tidak pernah melihatnya sebelumnya. Biasanya yang selalu menyambutnya jika pergi ke kota ini adalah perdana menteri. Namun, melihat ketidakberadaan pria itu di hadapannya, artinya sang perdana menteri sedang tidak punya waktu luang untuk menyambutnya.
“Tentu saja,” respons Gramiel pelan.
Mengangguk pelan, pemuda yang berada di hadapan sang pope langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi. Selama menjadi pope, ini kali pertama Gramiel menerima pandangan datar itu, tetapi ia tidak berkomentar. Pria tua tersebut hanya melangkahkan kakinya mengikuti pemuda itu.
“Apa Nona Fie bisa ditemui?” tanya Gramiel setelah beberapa lama berjalan. Ia ke sini untuk menemui Fie Axellibra; tidak ada guna baginya berada di sini jika ternyata sang nephilim sedang tidak bisa ditemui.
“Kami akan memberitahu Nona Fie setelah kau tiba di ruang pertemuan yang telah dipersiapkan, Pope Gramiel.”
Gramiel membiarkan bibir tuanya sedikit melengkung. Pemuda di hadapannya ini baru saja terang-terangan menyiratkan kalau baginya Fie Axellibra jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan sang pope. Kendatipun pada dasarnya Fie Axellibra adalah putri dari seorang seraphim, itu tetaplah penghinaan bagi gereja. Namun demikian, Gramiel tidak akan berkomentar.
Ia memiliki tujuan yang jelas datang ke sini; tidak perlu menambah masalah yang memang tidak diperlukan.
...*****
...
“Ya binatang-binatang berkaki empat, diriku berharap tidak mengganggu kepakan-kepakan sayap diri kalian yang hina.” Vermyna memamerkan senyum arogan miliknya, memperlihatkan sepasang taringnya yang indah nan menggoda.
Perkataan itu sukses menghentikan setiap kepakan sayap para naga. Mereka semua memandangnya tajam, penuh murka. Naga adalah ras yang paling tinggi, mereka sangat amat tidak suka jika ada yang memanggil mereka hina. Namun, Vermyna sama sekali tidak terintimidasi. Mereka hanyalah serangga jika dibandingkan dengannya.
Suara berat dan terkesan mengancam itu adalah milik sang Dragon Lord—naga tua yang telah berusia lebih dari seribu tahun, yang namanya dikenal luas sebagai Arshvateth. Vermyna tidak tahu apakah itu nama aslinya atau bukan, tetapi yang jelas saat seseorang mendengar kata Arshvateth maka yang pertama terngiang adalah sang Dragon Lord.
“Tentu saja. Sangat wajar bagi diriku berlaku arogan pada makhluk yang posisinya berada di bawah kakiku. Ah, tapi, jika diri kalian mau mengangkat sedikit kepala untuk menjilat bekas telapak kaki diriku, mungkin diriku akan mempertimbangkan menjadikan diri kalian binatang peliharaan diriku.”
Wajah para naga seketika dipenuhi amarah. Tanpa meminta izin sang Dragon Lord, belasan dari mereka sudah melesat mencoba menyerang sang vampire. Dragon’s Breath dari berbagai variasi elemen secara harmoni menerjang sang vampire. Namun, distorsi ruang dengan jumlah yang sama dengan banyaknya serangan seketika muncul.
Semua semburan para naga itu masuk ke dalam distorsi ruang dengan mulus.
Para naga tentu tak diam saja. Mereka meliuk-liuk mencoba mengubah arah semburan, tetapi distorsi ruang itu mengikut mereka seolah mereka telah terhubung secara langsung. Dan, begitu semburan itu terhenti, distorsi itu pun menghilang tak berjejak.
“Hm, mau itu sebelas atau seratus, atau bahkan seribu sekalipun, serangga tetap tak akan ada apa-apanya di hadapan diriku. Tidakkah dirimu mengerti hal yang sesederhana itu? Ops! Diriku lupa kalau otak serangga terlalu kecil untuk memahami hal dasar seperti itu.”
Kali ini, selain Arshvateth, semua naga bergerombol menyerang Vermyna. Mereka seperti sudah kehilangan akal mereka. Meraung-raung tak jelas seperti hewan buas yang gila, itu adalah bagaimana mata Vermyna melihat mereka. Dan, meskipun mereka seperti kesetanan, Vermyna tidak merasa terganggu. Malahan, itu cukup menghibur bisa melihat para naga yang penuh kebanggaan diri bergerombol penuh hina seperti serangga tak berdaya.
Vermyna meliuk ke kiri menghindari terjangan seekor naga, sebelum kemudian melesat ke atas menghindari naga lainnya. Vermyna sama sekali tak berniat membalas serangan; ia berniat membiarkan para naga menyerang membabi buta sesuka hati mereka. Dengan demikian, mereka akan sadar kalau dibandingkan dengan dirinya maka mereka hanyalah serangga yang tak berdaya.
“Yaaa, Arshvateth. Sampai kapan dirimu akan terdiam terbengong di situ? Dirimu tak ingin ikut bergerombolan bersama mereka?” tanya Vermyna sembari menghentikan waktu puluhan naga yang bermanuver di belakangnya, bibirnya melengkung seolah-olah ia sedang melihat pada sampah yang bisa berbicara.
“Grrrr! Vermyna, kau dan kearogananmu!”
“Hoho? Dirimu merasa inferior?”
“Diriku…merasa inferior? Padamu? Ha-ha-ha, ha-ha-ha, khahahahahahaha….” Arshvateth mendecih keras. “Bodoh sekali. Pada dewa saja aku tak merasa inferior, apalagi pada cecenguk kecil sepertimu!” Ekspresi Arshvateth seketika menjadi serius. “Semuanya, mau sampai kapan kalian bertindak bodoh seperti itu? Sudah cukup main-mainnya. Kerahkan segenap kemampuan kalian dan habisi Vermya hingga tak bersisa darinya bahkan hanya sehelai rambut!”
“Hoooh~?” Vermyna menaikkan sebelah alisnya tertarik kala melihat tubuh para naga diselimuti elemen-elemen tertentu: petir, angin, api, dan sebagainya. Bahkan, para naga yang berada dalam efek [Time Magic]-nya tampak menunjukkan resistansi—meskipun resistansi itu langsung menghilang kala Vermyna sedikit memperkuat efek sihirnya. “Tidak buruk.”
...*****
...
Hernandez dan Retsu duduk bersebelahan di depan sebuah meja persegi sederhana di tenda utama komando pasukan gabungan Islan. Di depan keduanya duduk beberapa orang yang berposisi sebagai pemimpin dari pasukan utuh yang dipisah menjadi empat divisi—masing-masing divisi terdiri dari 35.000 sampai 50.000. Mereka membicarakan tentang strategi untuk menyambut musuh yang berniat menjajah mereka.
Sebagai yang terkuat, disepakati bersama kalau Hernandez dan Retsu akan bertarung berdua di garis terdepan. Satu kilometer di belakang mereka, dua dari empat divisi itu akan siap menyambut para prajurit musuh. Lalu, di belakang kedua divisi itu, berjarak satu kilometer, dua divisi sisanya akan mengatasi para prajurit yang mampu meloloskan diri. Singkatnya, itu adalah strategi defensif tiga lapis.
Tidak banyak hal yang perlu didiskusikan dalam pertemuan itu. Sebelum Hernandez dan Retsu bergabung dengan mereka, mereka sudah menentukan strategi itu. Kehadiran Hernandez dan Retsu hanya untuk memastikan tidak terjadi miskomunikasi di antara mereka. Dan Hernandez sudah mengekspektasikan hal itu. Karena, jika saat mereka tiba tetapi strategi belum ditentukan, itu hanya akan menunjukkan ketidakkompetenan para pemimpin pasukan.
“Gawat, Pemimpin!” Seorang prajurit tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam tenda. “Gawat!”
“Katakan, Prajurit.”
“Para pengawas telah mendapati kapal musuh mendekat ke area pantai. Saat ini, mereka hanya berjarak belasan kilometer saja.”
Hernandez langsung bangkit dari kursinya mendengar laporan sang prajurit. Hal itu diikuti oleh Retsu. “Kami serahkan sisanya pada kalian,” kata Hernandez. “Aku dan Retsu akan langsung ke bibir pantai.”
“Baik, Tuan Hernandez. Kami serahkan pertahanan terdepan pada kalian berdua. Kami berdoa yang terbaik untuk kalian dan kita semua.”
Mengangguk pelan, Hernandez dan Retsu langsung beranjak keluar tenda.
Belasan kilometer dari bibir pantai bukanlah jarak yang jauh. Hernandez bisa memangkas jarak sejauh itu hanya dalam beberapa detik saja. Tentu saja membandingkan kecepatan kapal laut dengan dirinya bukanlah perbandingan yang adil. Tapi, paling tidak, hanya butuh kurang dari sepuluh menit bagi kapal-kapal itu untuk tiba ke tepian. Dan itu bukanlah waktu yang lama. Karenanya, Hernandez dan Retsu sama sekali tidak menunda-nunda untuk beranjak ke pantai.
“…Itu jumlah kapal yang banyak,” komentar Retsu kala matanya mendapati bayang-bayang kapal yang berlayar di horizon sana.
Hernandez mengangguk setuju. “Akan berbahaya membiarkan mereka berbuat bebas di Islan ini,” ucapnya sembari mengeluarkan Kurtalægon miliknya. Retsu pun turut menghunus pedangnya.
“Mari kita lakukan yang terbaik, Retsu.”
“Tentu saja, Hernandez. Aku tidak akan kalah darimu.”