Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.12 — Moment



Malam telah larut saat Hernandez tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia baru saja bermimpi tentang masa kecilnya. Dan meskipun itu menghangatkan hati, tetapi itu terasa menyebalkan saat terbangun.


Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika ia menghabiskan sebulan di dalam mimpi di mana ia memiliki keluarga yang lengkap, terus tiba-tiba terbangun dan menyadari kalau itu tak nyata, tidakkah itu akan menyakitkan? Itu seperti memberi harapan pada seseorang, tetapi kemudian dengan kejamnya mencampakkan harapan itu. Bukankah itu terasa menyesakkan?


Mimpi itu dua-duanya buruk. Mimpi baik akan meninggalkan rasa kesal saat terbangun, sedang mimpi buruk hanya akan membuat tidur terganggu. Karenanya, bagi Hernandez, kedua mimpi tersebut sama-sama buruk. Menurutnya, tidur yang paling baik adalah tidur tanpa bermimpi.


Hernandez lantas melihat ke tempat Minner berbaring. Warebeast calon pemimpin Warebeast Great Kingdom itu terlihat masih pulas di ranjangnya—ia menyewa kamar dengan dua tempat tidur bersama Minner, sedang Retsu menyewa kamar berdua dengan Zestya. Kamar mereka bersebelahan di lantai paling atas, paling kiri, berhadap-hadapan dengan lautan luas di barat. Seperti yang kapten kapal katakan, mereka benar-benar diberikan kamar terbaik dari semua kamar yang ada.


Bangkit dari ranjang, Hernandez meraih jaket hitamnya dan melangkah ke arah jendela yang terbuka. Ia melompat keluar jendela, lalu memanfaatkan pembatas balkon untuk melompat ke atas bangunan dua lantai tempat mereka menginap.


Hernandez lantas membaringkan tubuhnya di sana, iris hitamnya seketika beradu pandang dengan bulan yang bulat sempurna—kendati seharusnya fase bulan masih belum sampai pada purnama. Saat itu pula Hernandez menyadari kalau bulan belum bergeser sedikit pun dari posisinya seperti saat hari masih terang tadi. Dan jika matahari ada, pasti posisinya akan tepat bersebelahan dengan sang bulan.


Menajamkan matanya, iris hitam Hernandez dapat melihat sebuah titik hitam kecil di titik pusat penampang bulan. Tak ragu lagi kalau itu adalah satu-satunya akses masuk ke sana. Ia tidak tahu apakah ada makhluk lain yang mendiami tempat itu selain World Observer atau tidak, tetapi yang jelas saat ini Lyra berada di dalam sana. Dan dirinya, dengan segala kemampuannya, sama sekali tak bisa mencapai tempat itu (tanpa persiapan yang lama) untuk menyelamatkan wanita itu.


“…Seharusnya aku mengukir rune teleportasiku di kulitnya Lyra,” gumam Hernandez seraya memejamkan kedua mata, ia merasa menyesal karena tak melakukan itu.


Angin malam berembus lembut dari daratan ke lautan, dalam perjalanannya membawa debu-debu malam beterbangan. Sesekali embusan angin itu mengacaukan tatanan rambut Hernandez, tetapi pemuda itu sama sekali tak mempermasalahkan. Tatanan rambutnya akan kembali seperti semula saat embusan angin berlalu. Malahan, dia terlihat cukup menikmatinya; angin yang membawa hawa dingin itu terasa sangat menyejukkan, membuat tidur seseorang semakin nyenyak.


Tiba-tiba atap tempatnya berbaring sedikit bergetar oleh pijakan kaki; seseorang baru saja melompat ke atap gedung penginapan tempatnya berbaring.


Hernandez tidak memiliki sihir sensorik, tetapi ia bisa mengenali rasa [mana] seseorang yang telah banyak berinteraksi dengannya. Karenanya ia tahu kalau orang yang baru saja melompat ke atap gedung penginapan ini bukanlah Minner ataupun Zestya. Sebab itu, orang tersebut pastilah Retsu. Hernandez lantas pura-pura terlelap, bersikap seolah ia tidak menyadari kehadiran gadis itu.


Langkah kaki Retsu berhenti di sisi kanan Hernandez, kemudian ia merasakan kalau gadis termuda dalam Deus Guardian itu mendudukkan dirinya di sana. Hernandez tak tahu apa yang wanita itu inginkan, pun ia tak punya minat untuk tahu. Palingan, wanita di sampingnya tersebut hanya ingin menikmati embusan angin malam saja. Karenanya Hernandez melanjutkan pura-pura tidurnya.


“…Mengapa kau berada di sini, Tuan Hernadez? Tidak bisa tidur?”


Hernandez tidak merespons pertanyaan Retsu. Kondisinya saat ini sedang pulas tertidur. Orang yang sedang tertidur tidak akan menyadari suara orang yang berbicara padanya. Dan yang lebih penting, orang yang sedang tertidur sama sekali tak bisa berkomunikasi. Jadi, Hernandez yang sedang tidur tidak mungkin akan merespons pertanya—


“Aw!”


—Hernandez terperanjat dari tempatnya berbaring, tanpa sadar tadi mulutnya mengeluarkan suara yang biasa dikeluarkan saat seseorang secara tak sengaja menerima rasa sakit di bagian tubuh tertentu.


“Untuk seseorang yang sedang terlelap, refleksmu sangat cepat, Tuan Hernandez.”


Hernandez mendelikkan matanya pada wanita yang di tangan kirinya telah menyala api biru. Apa masalah wanita itu, tak sadarkah dia kalau dirinya hanya ingin berbaring santai? Jika dia tahu dirinya cuma pura-pura terlelap, tak bisakah dia mengatakan kalau dia tahu kalau dirinya mendengarkan?


“Retsu.”


“Ck.” Hernandez hanya mendecakkan lidahnya sebagai respons, kemudian ia melanjutkan berbaringnya dengan mata terpejam.


“Jadi, Tuan Hernandez, mengapa Anda berada di tempat ini sendirian di tengah malam seperti ini?”


“Hmph, hal yang sama bisa ditanyakan padamu. Terlebih lagi, aku di sini tidak sendiri.”


“Oh, aku tidak melihat siapa—ah, kau benar, sekarang kau tidak sendiri.”


“Hmph.”


“Apa kau tidak bisa tidur? Apa hal yang menimpa Nona Lyra sangat meresahkanmu?”


Hernandez tak merespons. Ia sama sekali tak tertarik untuk merespons.


“Aku selalu punya firasat kalau kalian sebenarnya lebih dekat dari yang terlihat. Jadi, apa dia kekasihmu atau semacamnya? Mengingat dia agak jauh lebih tua darimu, aku meragukan itu. Tapi usia sama sekali bukan masalah, kan?”


“Kesimpulanmu terlalu tak masuk akal; aku sama sekali tak punya waktu untuk melibatkan diri dalam hal abstrak seperti itu.” Hernandez diam sejenak, sebelum melanjutkan. “Aku sudah mengenal Lyra sejak kecil, dia sudah seperti kakakku sendiri.”


“Oh, jadi hal yang terjadi pada Nona Lyra sangat meresahkanmu.”


Hernandez seketika mengunci rapat-rapat mulutnya. Ia baru sadar kalau ia telah mengatakan hal personal pada wanita di sebelahnya. Wanita itu, dia sengaja mengatakan hal itu untuk memancingnya agar memberi penjelasan. Licik sekali.


“Tak perlu khawatir, Tuan Hernandez, Nona Lyra akan baik-baik saja. Aku yakin makhluk itu tidak berbohong; kita hanya harus menyelamatkannya saat dia turun.”


“…Aku sama sekali tak mengkhawatirkan hal itu.”


“Tentu saja, tentu saja.”


Hernandez mengernyitkan keningnya. Dari nada respons yang diberikan, jelas sekali Retsu tak percaya pada ucapannya. Dan jika ia pikirkan lagi, itu memang sangat tidak meyakinkan. Jika itu dirinya, ia juga tidak akan memercayainya.


“Ck.”


Hanya decakan lidah yang bisa Hernandez lakukan sebagai respons.