Deus Guardian

Deus Guardian
Ch. 32 — The War



Perang adalah sesuatu yang ditakuti, tapi nyatanya menggalakkan perang lebih mudah daripada mengeyangkan perut mereka yang lapar. Pangan. Ekonomi. Lahan. Harga diri. Ketamakan. Kepercayaan. Iri. Dengki. Pengkhianatan. Perang bisa dipicu oleh apa saja. Bahkan hal sekecil salah paham bisa mencetuskan perang besar.


Hernandez memandang intens pada kapal-kapal yang berdatangan, genggaman tangan pada gagang Kurtalægonnya menguat. Retsu tak kalah serius. Pedang berbilah gandanya ia jadikan tumpuan kedua tangan. Mereka siap menyerang kapan saja, hanya perlu menunggu sampai kapal terdepan mencapai jarak seratusan meter dari garis pantai.


Beberapa meter di belakang mereka berbaris para prajurit dalam jumlah yang banyak. Demi melindungi tanah suci mereka, tak ada yang tak rela mengangkat senjata. Darah akan bertumpahan; nyawa adalah taruhan. Namun, semuanya telah siap menanggung segala konsekuensi. Mereka para prajurit pemberani yang telah siap bertaruh jiwa raga.


Waktu berjalan tiada henti, dan kapal-kapal itu semakin jelas terlihat. Dalam sekejap, mereka sudah berada dalam jarak yang dekat.


Hernandez dan Retsu mengangguk terhadap satu sama lain, sepakat untuk bergerak saat itu juga. Mereka perlu meminimalisasikan jumlah kapal yang mencapai pantai. Retsu melesat dengan semburan api hitam di kedua kakinya, terbang rendah menuju kapal terdepan. Sementara itu, Hernandez berlari dalam kecepatan tinggi di atas air.


Pada saat yang bersamaan, mana dalam jumlah yang tak sedikit menguar dari tubuh Hernandez.


Lingkaran sihir putih masif seketika muncul di permukaan laut. Itu cukup besar sampai menjangkau area pantai hingga melingkupi kapal yang paling akhir. Dan sedetik berselang, semua air laut yang berada di bawah lingkaran sihir membeku seketika. Hal itu membuat semua kapal terhenti serentak.


Aksi Hernandez menjadi isyarat bagi para prajurit Islan untuk maju. Mereka tak ingin pertumpahan darah terjadi di tanah suci Islan. Mereka menyongsong maju dengan teriakan penyemangat perang yang memenuhi udara.


Hal yang sama bisa dikatakan terhadap pasukan Veria. Mereka melompati kapal dan melesat maju dengan senjata-senjata yang teracung. Seperti yang bisa diduga dari penyulut perang, para prajurit Veria dilengkapi zirah yang mengintimidasi. Formasi mereka juga cukup mengancam. Orang-orang biasa akan menciut nyalinya jika berada di hadapan mereka.


Retsu adalah yang pertama membuka serangan, dan serangan itu dilepasnya dalam skala besar. Gelombang api hitam menerjang dengan panjang gelombang mencapai ratusan meter dengan tinggi belasan meter, membuat para prajurit musuh kocar-kacir. Formasi mereka langsung han-cur dalam sekejap. Masing-masing berusaha melindungi diri dari terja-ngan tsunami api hitam.


Namun, api hitam berbeda dengan api-api lain; tak ada cara normal dalam mengatasi api yang sebelumnya dimiliki Seraphim Mariel. Usaha para prajurit Veria justru membuat api hitam berkobar lebih besar.


Memang, ada pengguna sihir tanah yang cukup cerdik dengan mem-belah gelombang api dengan dua dinding tanah raksasa. Namun, api itu langsung menjalar dengan cepat menyambungkan kedua gelombang yang terputus. Aksi Retsu yang terus mengobarkan api hitam membuat para prajurit Veria berguguran.


Namun, aksi Retsu tak bertahan lama. Ia tak lagi bisa menangani para prajurit saat Emperor Gadra tiba-tiba menyongsong maju dari kapal utama. Retsu tak punya pilihan selain memusatkan perhatiannya pada pria tua yang menggenggam pedang dan tameng segi lima berwarna merah marun.


Retsu melepaskan pedang berbalutkan api hitamnya pada Gadra, tapi pria tua itu menangkisnya dengan tameng. Retsu melesat diperkuat dengan dorongon api hitam, jadi ia terkejut saat dirinya tak mampu mengungguli sang emperor. Namun, dorongan api biru yang menyembur dari kedua kakinya membuat Retsu berhasil menghempaskan pria itu.


Gadra mampu mendarat dengan kedua kakinya, tetapi Retsu tak memberinya kesempatan untuk kembali menyerang. Ia menukik tajam dan mengayunkan pedangnya dengan kuat. Gadra terpaksa mengandalkan tameng untuk memblok hantaman pedang itu. Dia tak punya kesempatan untuk mengayunkan pedang karena rentetan tebasan pedang berlapiskan api hitam Retsu sangat cepat dan tanpa celah.


Retsu tak cukup peduli untuk memberi respons. Ia mengompres api hitamnya hingga cukup rapat untuk mengikis tameng adamantite hanya dengan bersentuhan. Dan kurang dari satu menit, tameng Gadra sudah lenyap tak bersisa. Bahkan sebagian armornya sudah dilahap api hitam.


“Betapa api yang menyebalkan,” gumam Gadra sembari melepaskan gelombang angin yang kuat.


Retsu sontak terhempas, tapi dengan cepat dia kembali berakselerasi dengan jet api biru di kakinya. Pada saat yang bersamaan, dua lingkaran sihir muncul masing-masing di kedua sisinya. Keempat lingkaran sihir hitam itu melepaskan peluru api hitam berkerapatan super tinggi. Satu-satunya barier yang akan mampu menghentikan peluru-peluru api itu hanya barier penyerap mana.


Gadra menyadari itu, dan karenanya dia tak mencoba menghentikan datangnya keempat peluru api hitam. Sang emperor membelokkannya de-ngan elemen angin. Akibatnya, keempat peluru itu meleset dari target. Namun, entah Gadra salah kalkulasi atau dia sudah pasrah, keempat peluru api itu dengan mulus menembus salah satu dinding kapal.


Api hitam dengan cepat melahap kapal, tapi Gadra tak punya waktu untuk mengkhawatirkan kebakaran super itu. Seluruh fokusnya sudah ter-salurkan pada terjangan Retsu dengan pedang berbalutkan api hitam te-balnya. Dengan tubuh yang telah berlapiskan zirah angin tebal yang memancarkan panas, Gadra menebas pedangnya dengan keras.


Mengejutkan Gadra, Retsu tidak meladeni tebasan pedang sang emperor. Sang guardian meleburkan tubuhnya menjadi api hitam, membuat pedang sang emperor menembusnya dan terbakar. Pada saat yang bersamaan, Retsu menebaskan pedangnya mengincar leher sang emperor. Retsu ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat.


Gadra tak punya pilihan selain melepaskan zirah anginnya menjadi gelombang angin. Retsu pun kembali terpental.


Namun, berbeda dengan sebelumnya, kali ini Retsu terpental lebih jauh lantaran wujudnya yang tak padat sepenuhnya. Dan kali ini Gadra langsung memanfaatkan kesempatan untuk melancarkan serangan. Puluhan peluru angin meluncur berbondong-bondong menyusul Retsu.


Retsu tak merepotkan diri menghindar. Dengan mengubah seluruh tubuhnya menjadi api, tak ada luka fisik yang bisa diberikan padanya. Gadra yang melihat aksinya langsung menerjang maju. Dia berniat melepaskan gelombang angin dalam jarak dekat dengan mengenyahkan Retsu saat ia dalam wujud apinya.


Retsu tak berniat mencari tahu apa yang akan terjadi jika seluruh api yang menjadi tubuhnya tersebar jauh dan padam. Ia langsung memadatkan kembali tubuhnya. Dan begitu Gadra sudah berada di depan Retsu dengan mulut yang menggembung, ia bersalto ke udara dan dalam sekejap bermanuver ke belakang sang emperor.


Semburan angin Gadra tidak mengenai siapa-siapa.


Sementara itu, tak terlalu jauh dari lokasi pertarungan Gadra dan Retsu, Hernandez telah menginjakkan kaki di salah satu kapal utama setelah menghancurkan belasan kapal kecil dan melenyapkan sejumlah prajurit musuh.


“…Apa kau Empress Jiang Yue Yin?” tanya Hernandez pada satu-satunya individu yang ada di atas kapal.