
Vermyna memandang datar makhluk yang metabolismenya itu tidak bekerja. Jika dia manusia, Vermyna sudah pasti akan meminum darahnya dan menelan jiwanya, membuat semua sihir makhluk itu—terutama [Complete Sensory]—menjadi miliknya. Namun, dia bukan manusia, Vermyna (setidaknya dirinya yang saat ini) sama sekali tak bisa mengambil sihir makhluk lain selain manusia. Jika saja itu dirinya yang utuh, tentu ceritanya akan berbeda….
…Edenia sialan!
“Aku merasakan kemarahan yang besar darimu, dan itu ditujukan bukan padaku.”
“Jika diriku membunuh dirimu di sini,” ucap Vermyna mengabaikan ucapan Lara, “berapa lama sampai [Complete Sensory] dimiliki diri seseorang yang lain?”
Karena dia bukan manusia, Vermyna tidak punya pilihan lain selain membunuh makhluk itu dan membuat Supreme Magic berpindah pemilik. Karena itu pula ia tidak senang dengan upaya Hernandez untuk menyelamatkan Lyra. Tetapi karena Hernandez itu manusia dan dia akan mati dalam waktu yang dekat sebagaimana manusia lainnya, Vermyna bisa menerima keinginan pandai besi itu dan membunuh Lyra yang baru setelah Hernandez mati.
Namun demikian, akan lebih baik jika makhluk itu mati di sini.
“…Kau tahu tentang Supreme Magic dan Six Crests of Hope, dan kau ingin mendapatkannya.” Lara menjeda sejenak, sebelum melanjutkan, “Tergantung pada inti keberadaanku sendiri, terserahnya ingin mencari pemilik yang baru bagi [Complete Sensory] atau tidak. Sedang [Holy Sand] dan [True Mirror] adalah sihir yang tak pernah bisa Lasya bangkitkan, kedua sihir itu akan lenyap dan mengikuti sistem sihir semesta ini, kedua sihir itu akan dimiliki jiwa yang terpilih. Sedangkan [Teleportation] yang Lyra miliki, itu sama seperti Lasya.”
Vermyna mengangguk mengerti. “Diriku mengapresiasi kejujuran dan kebaikan dirimu untuk memberi diriku informasi,” gumamnya.
“Aku tidak pernah berbohong.”
Vermyna membiarkan bibirnya melengkung tipis untuk sesaat, sebelum kemudian memudar dalam sekejap bersamaan dengan sosoknya yang menghilang.
Lara tidak bisa melihat keberadaan Vermyna, tetapi ia bisa merasakannya. Vermyna sudah tak berada dalam dimensi yang sama dengannya. Kendati persepsinya mengatakan kalau wanita itu berada tepat di hadapannya, ia sama sekali tak bisa menjangkau sang vampire. Dan karena itulah Lara menjawab pertanyaan vampire itu dengan leluasa ‒ ia menyadari kalau ia memiliki peluang kalah jika melawan vampire dan pandai besi itu.
Seolah muncul dari ketiadaan, Vermyna tiba-tiba hadir tepat di hadapan Lara dengan tangan kanan dalam posisi menusuk perut sang World Observer. Seharusnya seperti itu, tetapi Lara terlebih dahulu menghilang belasan nanodetik sebelum kemunculan Vermyna. Dan sedetik setelahnya, jarum pasir putih melesat dari segala arah menyerbu Vermyna, tetapi hanya melewati tubuh sang vampire seolah-olah tubuhnya telah menjadi jiwa yang tak bisa disentuh.
“Sepertinya pertarungan ini percuma, kau tidak aka—”
“Diriku tidak bisa mengenai dirimu, dan dirimu tidak bisa mengenai diriku. Apa itu yang ingin dirimu katakan?” tanya Vermyna memotong perkataan Lara, tetapi ia sama sekali tak menunggu respons. “Dirimu terlalu jumawa. Dirimu bisa meladeni diri Hernandez hanya karena memiliki [Sensory Magic] semata, dirimu sudah binasa di tangan dirinya tanpa sihir itu. Dan dirimu berani mengatakan kalau diriku tak bisa mengenai dirimu?”
Lara yang tak pernah merasa terkejut sebelumnya, kini matanya melebar sempurna. Kendati hanya sedetik, ia bisa merasakan semuanya melambat. Sang vampire tidak memperlambat waktunya atau waktu yang bekerja pada lingkungannya, melainkan waktu dunia itu sendiri. Kendati Supreme Magic memberikan kekebalan terhadap sihir waktu, berbeda lagi ceritanya kalau waktu dunia yang diperlambat.
“Diriku bisa melenyapkan dirimu dengan mudah jika diriku mau, tapi diriku ingin diri Hernandez yang melenyapkan dirimu. Dia adalah satu-satunya manusia yang kemampuannya kuakui, diriku ingin melihat apakah dirinya sanggup membunuh tubuh itu atau tidak. Selain itu, diriku merasa diri Hernandez-lah yang lebih pantas menghabisi diri Lyra.”
“…Padahal kau tidak memiliki Supreme Magic, tapi bagaimana bisa kau menggunakan [Time Magic] seolah-olah itu Supreme Magic?”
“Dirimu bisa memikirkan itu dalam kematian,” balas Vermyna seraya menyatukan kedua telapak tangannya. Dan saat Hernandez memberinya sinyal kalau rune-nya telah selesai, Vermyna lekas memasukkan seluruh area langit kota pelabuhan ke dalam dimensi kubus transparannya.
World Observer yang menyadari maksud Vermyna sontak meneleportasikan dirinya, tetapi teleportasinya tak bekerja ‒ seluruh dimensi kubus transparan Vermyna telah diselimuti formula rune yang rumit.
“Coba selamat dari ini, Small Crunch.”
...* * *
...
Itu selalu mengagumkan bagi Hernandez melihat kemampuan Vermyna. Jika Vermyna tidak memasukkan dimensi kubus itu ke dalam dimensi bola yang lebih besar, tentu ledakan dari meluruh dan hancurnya dimensi kubus itu sudah lebih dari cukup untuk menyapu kota ini berikut semua area di belahan barat Pegunungan Amerlesia. Menyadari hal itu membuat Hernandez bersyukur karena Vermyna bukan individu yang jahat.
“Hernandez.”
Bersamaan dengan suara itu, Hernandez menemukan dirinya berada tepat di samping Vermyna. Seperti yang wanita itu katakan, situasi sama seperti saat mereka menghadapi boneka imitasi Lara sebelumnya. Hal itu bahkan diperkuat oleh kondisi dari sang World Observer itu sendiri. Seperti sebelumnya, hanya bagian kiri kepalanya yang tersisa, dan itu juga sedang beregenerasi secara perlahan.
Tak ingin memberikan waktu bagi makhluk itu untuk beregenerasi, Hernandez langsung melesat dengan kecepatan penuh menuju Lara. Seper sekian detik ia sudah berada di hadapan makhluk yang sudah memiliki tubuh bagian atas itu dengan katana yang berada dalam posisi hendak berayun tajam.
Dalam waktu seper sekian detik itu, Lara—sama seperti waktu itu—juga sudah menciptakan belasan cermin yang berdiri berlapis-lapis di hadapannya. Bahkan, sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan pasir putih sudah muncul membentuk tameng yang menyelubungi sang World Observer.
Namun demikian, kendati gerakannya jadi berat, walaupun ia tidak ingin kenangan-kenangan itu tinggal kenangan saja—
Lyra… maaf karena tak bisa menyelamatkanmu.
—Hernandez tetap mengayunkan katana-nya.
“Full Release.”
Dalam sekejap mata, lebih cepat dari waktu satu detik, segala yang ada di hadapan Hernandez lenyap dalam sapuan energi ungu kehitaman yang membentuk gelombang bulan sabit yang terus menjalar tanpa henti. Saking kuatnya ayunan gelombang energi ungu kehitaman itu, dimensi bola milik Vermyna sampai terbelah separuhnya. Dan kendati gelombang energi itu tereduksi oleh benturan dengan dinding dimensi itu, gelombang kejutannya lolos keluar dan terus melaju dengan cepat.
—Saat itu Hernandez tidak tahu, tetapi gelombang sisa ayunan pedang itu telah memotong beberapa puncak dari Pegunungan Amerlesia.
...* * *
...
Vermyna hampir tidak pernah tersenyum tulus dengan rasa senang yang jelas, tetapi saat ini bibirnya sedang melengkung seperti itu. Dan itu tidak berlangsung dalam sekilas; senyum itu bertahan selama belasan detik, sebuah rekor tersendiri bagi senyum tersebut.
Tentu saja itu bukan karena Hernandez tak mengecewakan ekspektasinya semata, melainkan karena prospek ia akan bisa mendapatkan [Complete Sensory] dengan lebih mudah. Selain itu, karena insiden hari ini, Vermyna telah mengetahui identitas aslinya. Dan semua itu tak akan terjadi jika ia tak ikut menemani Hernandez dalam tugasnya.
Berbicara tentang Hernandez, pupil vertikal Vermyna mendapati pemuda itu masih tak bergerak dari tempatnya berdiri di udara. Melihatnya membuat Vermyna membawa tubuhnya terbang ke sana. Ia melayang tepat di samping pemuda itu, memandang ke titik yang sama dengan yang Hernandez pandang ‒ titik di mana lenyapnya World Observer.
“Itu pilihan yang berat. Tapi sebagai anggota Deus Guardian, dirimu telah melakukan hal yang paling benar.” Vermyna diam sejenak, mendaratkan tangan kanannya pada puncak kepala pemuda itu, mengelus-elus rambut hitamnya dengan lembut. “Beristirahatlah, Hernandez, diriku akan membereskan semuanya.”
Tanpa menunggu respons Hernandez, sebuah portal dimensi tercipta di belakang pria itu, dan dalam sekejap menelan sang pandai besi—Vermyna mengirim Hernandez langsung ke depan pintu kediaman sang pemuda di Kota Heavenly Crystal.
Mendaratkan pandangannya ke bawah, Vermyna mendapati situasi kota yang kacau. Akan memerlukan waktu yang banyak untuk mengembalikan kondisi kota seperti semula jika dilakukan secara manual.
Namun, Vermyna sama sekali tak perlu melakukannya seperti itu. Dengan sebuah jentikan jari ia menciptakan sebuah lingkaran sihir putih pucat yang menutupi seluruh kota, dan saat lingkaran sihir itu hilang, kota sudah kembali ke kondisi optimalnya. Vermyna baru saja memutar ulang waktu kota tersebut kepada saat di mana kondisinya optimal.
Selesai dengan kota tersebut, pandangan Vermyna kini tertuju pada bulan.
Tubuh sang vampire lantas terangkat perlahan-lahan, sebelum kemudian kecepatannya meninggi sampai-sampai meninggalkan kejutan udara di belakangnya. Dan hanya dalam belasan detik, sosok sang vampire terkuat itu menghilang ditelan sebuah portal dimensi.
...* * *
...
Hernandez merebahkan tubuh di atas atap rumahnya, iris hitam memandang sayu pada bulan yang masih purnama—yang warnanya telah kembali seperti sedia kala.
Ia lelah, baik fisik maupun mental. Tetapi Hernandez tak bisa membawa dirinya tertidur. Ia tak bisa terlelap. Bayangan tangannya yang mengayunkan pedang melenyapkan Lyra sungguh tak bisa diabaikan begitu saja, dan bahkan sekarang tangannya masih bergemetaran. Dalam kondisi seperti itu, tak mungkin ia bisa terlelap.
Hernandez merentangkan kedua tangan, memejamkan kedua mata. Ia mencoba untuk tidak memikirkan apa pun dan hanya membiarkan angin malam membelai tubuhnya. Hari ini cukup sampai di sini, ia harus beristirahat. Kendati matanya tak mau terlelap, tetapi tubuhnya menuntut beristirahat.
Tiba-tiba Hernandez tersentak, rasanya seperti sesuatu yang dingin menggenggam erat tangan kanannya. Refleks ia membuka mata dan memandang ke kanan, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Dan tatkala Hernandez hendak kembali menutup matanya, ia mendapati sehelai mahkota alstroemeria—bunga kesukaan Lyra—telah menempel di keningnya.
“Bunga alstroemeria memiliki arti pengabdian. Memberikan bunga ini bagi seseorang yang berharga mengartikan kalau kita akan selalu bersama seseorang itu, kendati jarak, ruang, ataupun waktu memisahkan. Alstroemeria juga berarti harapan dan dukungan. Jika aku memberikan bunga ini padamu seperti ini, artinya aku selalu mendukungmu dalam segala hal. Dan ketahui pula kalau aku selalu memiliki harapan kalau kau akan mampu melewati setiap masalah yang mendatangimu, Hernandez.”
Lyra mengatakan itu saat dia mengajak Hernandez mengunjungi taman sehari setelah kematian kakeknya. Kendati itu telah lama sekali, dan walaupun hanya ingatan tentang suara itu yang ia punya…tetapi saat memegang sehelai mahkota alstroemeria yang datang entah dari mana ini, Hernandez merasa seperti mendengar suara Lyra tepat di sampingnya.
“…Aku pun akan memberimu alstroemeria,” gumam Hernandez pelan.