
“Hernandez….”
Suara itu…. Hernandez tak mungkin lupa seperti apa suara Lyra. Namun, meskipun itu sangat meyakinkan, Hernandez tahu kalau yang mengendalikan raga itu adalah World Observer. Tetapi tetap saja, walaupun ia tahu itu, Hernandez menemukan dirinya hanya diam memandang makhluk itu yang kini sudah berdiri belasan meter di hadapannya.
“Lyra menginginkanmu untuk hidup, tapi Lasya menginginkan semuanya binasa. Aku berpikir untuk membiarkanmu hidup, tapi suara Lasya lebih kuat dari Lyra. Karenanya, aku putuskan kalau kau juga akan binasa. Dan, oh, sekarang kau bisa memanggilku Lara—penyatuan dari Lasya dan Lyra.”
“…Biarkan kuketahui dua hal, apa jiwa Lyra masih berada di raganya? Bagaimana dengan para warga?”
“Tentu saja. Jika kau bisa memisahkan jiwa Lasya dengan jiwa Lyra, kau akan bisa menyelamatkan wanita ini. Tentang para warga, Lyra bisa membebaskannya untukmu jika kau bisa menyelamatkannya. Namun, bisakah kau melakukan itu?”
Respons Lara itu adalah apa yang Hernandez butuhkan. Ia sekarang tidak perlu merasa ragu sama sekali. Ia akan menyelamatkan wanita itu seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya.
Memantapkan niatnya, Hernandez mengarahkan katana-nya ke depan.
“Bukan bisa lagi, tapi pasti!”
Bersamaan dengan teriakan itu, Hernandez melesat dalam kecepatan tinggi. Namun—
—wuuuus, buaammmm!
Laser energi berwarna ungu kehitaman telah dengan telak menghantam altar yang menopang kraken—membuatnya lenyap hingga tak bersisa, kraken yang berada di atasnya juga ikut lenyap menjadi abu dan menghilang. Laser itu sebenarnya ditargetkan pada Lara, tetapi wanita itu terlebih dahulu menghindar seper sekian detik sebelum laser itu mencapainya.
“Hernandez, lupakan saja niat dirimu; diri Lyra sudah tidak bisa lagi ditolong.”
“Apa maksudmu, Nona Vermyna?” tanya Hernandez dengan mata mendelik. Ia tidak pernah mendelik pada vampire itu sebelumnya, tetapi perkataannya tadi telah menyalakan api kekesalan dalam diri Hernandez.
“Seperti yang diriku katakan,” kata Vermyna sembari mendarat di kiri Hernandez. “Diri Lyra sudah tidak dapat ditolong. Meskipun dirimu bisa memisahkan jiwa diri mereka, diri Lyra dan diri Lasya yang asli tetap akan mati. Tidakkah dirimu menyadarinya, kalau tubuh itu bukan lagi sepenuhnya tubuh diri Lyra?”
Hernandez memandang sang vampire menuntut penjelasan. Tentu saja ia bisa menduga jawabannya; Hernandez sama sekali bukan orang yang bebal otaknya. Hanya saja, ia ingin mendengarnya langsung.
“Yang ingin diriku katakan adalah,” jelas Vermyna lagi, “memisahkan jiwa diri mereka menuntut masing-masing dari diri mereka untuk kembali ke tubuhnya agar dapat hidup kembali. Namun, tubuh itu sendiri sudah bukan lagi milik diri mereka masing-masing. Festival Kraken, tepatnya kumpulan darah biru yang dipersiapkan selama seribu tahun, membuat tubuh diri Lyra dan Lasya yang telah menyatu menjadi sesuatu yang lain yang berbeda dari manusia. Jika dirimu memiliki penciuman seorang vampire, tentu dirimu akan sadar kalau tubuh itu sudah berhenti menjadi manusia dan tak lagi bermetabolisme. Kalaupun dirimu sudah memutuskan untuk menyelamatkan jiwa Lyra dan mengabaikan jiwa Lasya, dirinya akan menjadi individu yang baru ‒ Lyra yang lama sudah tak terselamatkan.”
Hernandez sama sekali tak terkejut mendengar perkataan itu.
“Benar yang dikatakannya, tapi apakah itu penting? Jika kau benar-benar menginginkannya, tentu kau akan menerimanya apa adanya. Kendati tubuhnya sudah berbeda, tapi kau bisa membuat jiwa Lyra menghuninya tanpa kendala. Terlebih lagi, tubuh ini akan membuatnya menjadi sangat kuat, apakah itu bukan hal yang baik?”
Hernandez mengeratkan genggaman tangan pada katana-nya, kemudian mengarahkan pandangannya pada Lara yang sudah kembali berdiri belasan meter di hadapan mereka.
“Hernandez, ini peringatan. Jika dirimu tidak sanggup membunuh diri Lyra, dirimu bisa pergi dari sini ‒ diriku sama sekali tak membutuhkan orang kuat yang ragu-ragu seperti dirimu. Keselamatan Islan jauh lebih penting daripada nyawa satu orang ‒ dirimu adalah anggota Deus Guardian, seharusnya diriku tak perlu mengatakan hal ini pada dirimu.”
Hernandez tidak membalas perkataan Vermyna yang menusuk itu, iris hitam kelam sang pandai besi fokus pada iris putih susu Lara yang memandangnya datar tanpa emosi. Tetapi itu bukan berarti ia tak mengindahkan ucapan Vermyna. Hernandez sepenuhnya mendengarkan perkataan itu. Dan karenanya pulalah ia sudah menemukan dirinya melangkah maju.
“Nona Vermyna, aku akan memercayaimu untuk membantuku dari belakang.”
Mengatakan itu, Hernandez melesat dalam kecepatan penuhnya tanpa menanti respons Vermyna. Dalam seper sekian detik pria berambut hitam itu sudah berada di hadapan Lara, katana berbilah hitam legamnya ia ayunkan kuat secara vertikal. Tetapi seperti yang sudah Hernandez perkirakan, makhluk itu dapat menghindar dengan sedikit membungkukkan tubuh ke belakang.
“Release,” bisik Hernandez pelan, seketika semua petir yang dulu pedangnya serap saat menghadapi kraken terbebaskan secara instan, menimbulkan ledakan medan petir menggelegar yang melenyapkan segala yang ada di hadapan Hernandez dalam cakupan yang luas. Kecuali dengan sihir teleportasi, serangan dalam jarak nol seperti itu akan sangat sulit dihindari.
Namun, makhluk yang menamakan dirinya sebagai Lara itu berhasil menghindari serangan fatal itu dengan begitu mudah, dan dia sudah kembali mendarat belasan meter di hadapan Hernandez dengan ekspresi yang masih sama.
“…Aku mengerti,” gumam Hernandez pelan. “Tidak peduli secepat apa gerakan dan seranganku, bahkan meski itu serangan yang tiba-tiba atau tersembunyi sekalipun, jika itu tidak melampaui kecepatan reaktifmu maka seranganku tak akan pernah berhasil.”
Dari semua lawan yang pernah ia hadapi, bahkan mengikutsertakan Kraken Lord sekalipun, World Observer yang bersemayam dalam diri Lara adalah yang paling merepotkan.
Tidak peduli sebagus apa strateginya, tak peduli sekuat apa serangannya, semuanya akan percuma jika tak mampu mengenai lawannya. Makhluk itu sungguh bukanlah lawan yang bisa ia hadapi dengan cara normal. Jika ia ingin sukses menyerangnya, pertama-tama Hernandez harus memikirkan bagaimana membuat makhluk itu agar tak bisa menghindar.
Namun, di hadapan World Observer, itu tidaklah begitu berarti.
Akan tetapi, Hernandez tak lagi berekspresi menanggapi reaksi Lara. Ia bahkan tak mengekspektasikan serangannya akan berhasil. Yang Hernandez lakukan hanyalah mengulur waktu bagi kepalanya untuk memikirkan solusi.
Normalnya, Hernandez sudah pasti akan mengandalkan [Rune Magic]-nya dalam situasi seperti ini. Namun, tempo hari dulu makhluk itu dapat keluar dari dalam kungkungan [Rune Magic]-nya dengan tanpa kesusahan; Hernandez tak ingin mencoba melakukan hal yang sia-sia. Satu-satunya yang ia yakini seratus persen bekerja adalah menghentikan sirkulasi [mana] makhluk itu dengan pedangnya. Masalahnya kembali lagi pada hal yang paling utama, bagaimana ia bisa mengenainya?
“Nona Vermyna, apa kau bisa mengenainya?” tanya Hernandez sambil tetap menyerang makhluk serba putih itu.
Pertanyaan Hernandez itu direspons oleh beberapa distorsi ruang yang tercipta mengelilingi mereka. Tetapi itu hanya pengecoh; laser energi berwarna ungu kehitaman secara tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Namun, lagi-lagi, makhluk itu sudah menghindar sebelum laser itu menghancurkan tubuhnya. Bahkan setelah Hernandez ikut memborbardirnya dengan ratusan jarum es tajam yang sukar dihindari, Lara berhasil menghindar dengan begitu leluasa seolah serangan mereka dilesatkan dalam gerakan lambat.
“Diriku tidak bisa menghentikan waktu dirinya,” ucap Vermyna yang muncul tiba-tiba di kanan Hernandez. “Diriku akan memasukkan dirinya ke salah satu kantung dimensi milik diriku, diri kita bisa melakukan serangan skala besar secara bebas di sana. Sebagus apa pun persepsi dirinya, jika dirinya tak cukup cepat untuk menghindar dari jangkauan serangan luas, diri kita akan bisa mengenai dirinya.”
Hernandez refleks mengalihkan pandangannya ke sekeliling.
Mereka sama sekali belum terlibat dalam pertarungan sengit, tetapi kerusakan yang disebabkan sudah begitu kentara. Hernandez tidak memiliki banyak spell yang jangkauannya masif, tetapi jika ia melepaskan Full Release, lebih dari setengah kota ini mungkin akan lenyap dalam sekejap mata.
Kendati ia sudah memasang penghalang menyelimuti kota ini, penghalang itu tak akan memberikan terlalu banyak proteksi terhadap kota—fungsi utama penghalang itu tak lain adalah membatasi agar pertarungan tidak keluar dari kota dan sekaligus untuk meneleportasikan para penduduk secara masal, yang tentu saja akan percuma karena penduduk sudah ditangkap.
“Ya, itu adalah yang terbaik,” respons Hernandez pada akhirnya, katana-nya sudah dalam keadaan hendak terayun untuk melepaskan semua energi yang telah diserapnya.
Hampir secara instan, Hernandez menemukan dirinya melayang dalam ruang kosong yang warnanya silih berganti dalam berjuta warna.
Tidak ada tempat berpijak, tidak ada udara, tidak ada gravitasi, tidak ada apa-apa selain cahaya sejuta warna yang menggelombang seperti terjangan ombak di laut. Hernandez tidak tahu bagaimana ia bisa tetap bernapas tanpa udara, tetapi yang jelas paru-parunya tetap bekerja seperti biasa. Dan, cahaya itu sama sekali tidak normal, itu dibuktikan dari upaya World Observer menghindari terjangan gelombang cahaya tersebut—tetapi untuk alasan tertentu cahaya itu sama sekali tak mengenai Hernandez.
“Ini adalah dimensi diriku yang paling berbahaya, dan ini tidak membahayakan dirimu karena diriku melindungi dirimu dari efeknya.”
Selepas mengatakan itu, yang lantas membuat Hernandez mengangguk mengerti, [mana] pekat menguar dalam intensitas yang tinggi dari tubuh mungil Vermyna. Sedetik setelahnya, dua buah energi super masif berbentuk gelembung berwarna ungu kehitaman tercipta di kanan dan kiri mereka semua. Gelembung yang ia duga sebagai ruang di dalam ruang itu memiliki diameter puluhan kilometer, saking masifnya sampai-sampai makhluk itu menciptakan belasan cermin mengelilingi dirinya—dia tahu dia tak akan bisa menghindar dari bongkahan energi semasif itu.
Tepat sedetik sejak bola ruang super masif itu terbentuk, kedua bola itu saling berbentur secara instan dengan begitu tiba-tiba—seolah keduanya saling berteleportasi untuk bertabrakan.
Ledakan yang terjadi begitu masif hingga sulit dijabarkan, energi yang dilepaskan begitu besar, dan panas yang dihasilkan begitu tinggi sampai-sampai titik pusat ledakan memutih menghamburkan cahaya yang sangat menyilaukan.
Jika benturan kedua ruang itu terjadi di Islan, minimalnya Islan akan lenyap tak bersisa.
Satu-satunya alasan mengapa Hernandez bisa tetap melayang secara leluasa tanpa ikut ditelan ledakan maha dahsyat itu adalah karena ia sendiri sudah berada dalam bola ruang kecil bersama dengan Vermyna. Jika tidak, ia pasti sudah lenyap dalam ledakan itu, terlebih lagi mereka berada di inti ledakan. Hernandez sulit membayangkan seseorang bisa selamat dari situ.
Namun, makhluk itu tampaknya tak setuju. Kendati hanya setengah kepala bagian kirinya yang tersisa, dia berhasil menyelamatkan diri dari ledakan maha dahsyat itu. Tubuhnya bahkan sudah mulai beregenerasi kembali ‒ sebuah testimoni dari durabilitas yang makhluk itu miliki.
“Nona Vermyna!”
Seolah memahami maksud Hernandez, Vermyna seketika melenyapkan gelembung dimensi yang menelan mereka. Hernandez lantas melesat dengan kecepatan penuh menuju Lara. Seper sekian detik ia sudah berada di hadapan makhluk yang sudah memiliki tubuh bagian atas itu dengan katana yang terhunus ‒ katana tersebut berlapiskan energi hitam pekat yang tefokus pada ujungnya.
Dalam waktu seper sekian detik itu, makhluk itu juga sudah menciptakan belasan cermin yang berdiri berlapis-lapis di hadapannya, mencoba memblok serangan yang datang.
“Full Concentrated Release.”
Ujung katana Hernandez dengan telak menembus setiap cermin dan menghancurkan mereka berkeping-keping. Lebih tepatnya, cermin itu sudah retak terlebih dahulu sebelum ujung pedang Hernandez menembusnya. Hal itu disebabkan oleh tekanan yang disebabkan oleh energi terkonsentrasi yang menyelubungi pedang Hernandez.
Cermin [True Mirror] memang bisa melenyapkan segala jenis serangan berbasiskan [mana], tetapi serangan tak berwujud semacam gravitasi atau tekanan tinggi itu bagi [True Mirror] tak ubahnya serangan fisik.
Dan, katana itu dengan telak menembus tepat di tengah-tengah dada Lara, menusuk jantung yang bersembunyi di baliknya hingga menembus melewati punggung makhluk tersebut. Tak berhenti di situ, energi yang masih berlimpahan pada pedang itu terus melontar bagaikan laser dengan diameter kecil tetapi kepadatan yang sangat tinggi. Karena tiada apa-apa di dimensi tersebut, energi itu tidak mengenai apa-apa, mereka melebur dan lantas terpencar di dimensi yang luas itu.