Deus Guardian

Deus Guardian
Ch.7 — In Veria (2)



—Gadra tidak melihat siapa pun di hadapannya. Tidak ada makhluk besar mengerikan. Tidak ada siapa-siapa.


“Yin, kau membawa makanan?”


Mata Gadra mengerjap. Suara itu datang dari depannya, tetapi agak lebih ke bawah.


Lekas saja Gadra menundukkan pandangannya. Dan seketika, iris hitam sang emperor berhadapan dengan seorang bocah laki-laki berambut hitam dengan garis-garis merah di pinggirnya.


Dari postur tubuh, Gadra menerka kalau bocah beriris hitam kelam itu berusia sekitar tujuh tahunan. Dan melihat di tangannya tersemat sebuah boneka beruang berwarna coklat, Gadra sama sekali tidak ragu kalau dia memang bocah seperti bocah-bocah pada umumnya.


“…Huh?”


Gadra sama sekali tak mengekspektasikan akan melihat anak kecil di sini. Karenanya ia terkejut dan tak percaya. Lalu, di mana pemilik suara berat itu? Di mana Raja Spirit Sakhra?


“Yin, apa dia bisa dimakan?”


“Huh?”


“Sakhra, aku perlu bantuanmu, ayo bicara di tamanmu.”


“Oh, oke.”


Mata Gadra mengerjap. Ia memandang bolak-balik antara Yue Yin dan bocah itu selama beberapa saat, sebelum kemudian otaknya bekerja cepat untuk menerjemahkan apa yang matanya lihat.


“…Sakhra? Bocah itu…bocah itu Raja Spirit Sakhra?!”


Gadra masih memandang punggung bocah itu tak percaya. Makhluk besar berwajah sangar dan memancarkan hawa kematian yang benaknya lukiskan tergantikan dengan sempurna oleh anak kecil itu. Mata Gadra kembali mengerjap. “…Itu sulit dipercaya,” gumamnya, bergegas mengikuti Yue Yin sebelum sang empress mengatainya untuk jangan bersikap bodoh.


Tempat yang mereka tuju—lagi-lagi berbeda dengan ekspektasi Gadra—adalah sebuah tempat yang jika disebut surga maka itu tak akan salah.


Sungai susu mengalir dengan tenang membelah dataran luas yang tidak bisa Gadra pastikan ujungnya. Tak hanya itu, sungai madu juga mengalir dengan elegannya bersebelahan dengan sungai susu. Kendati keduanya mengalir dalam tempat yang sama, mereka sama sekali tak menyatu dengan satu sama lain, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan keduanya.


Mengedarkan pandangannya, iris hitam Gadra mendapati sebuah bukit yang—ia tahu secara pasti—terbuat dari coklat. Di samping bukit coklat itu ada bukit keju. Jauh ke belakang bukit keju itu terdapat bukit berlian yang sungguh indah. Dan berderet di samping bukit berlian itu adalah bukit-bukit emas yang sangat memanjakan mata.


Mengedarkan pandangannya ke segala arah, Gadra tak kuasa menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Mulutnya terbuka menganga, matanya berbinar-binar layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Gadra…ia merasa—


“—aku merasa di surga!”


Seruan Gadra itu adalah penyimpulan yang sempurna atas tempat fantasi di mana dirinya berada.


Pohon-pohon yang masing-masingnya menumbuhkan lebih dari sepuluh jenis buah. Rerumputan diselingi tumbuhan yang batang dan daunnya terbuat dari perak dan emas. Gulali yang mengambang di angkasa menggantikan awan-awan yang seharusnya di sana. Sepuluh bulan yang berdiri melingkar memagari matahari yang sinarnya redup. Debu-debu bintang yang membuat warna langit silih berganti….


Setelah melihat semua itu, bagaimana Gadra bisa tidak terkagum-kaum?


“…Aku bisa mati saat ini juga, dan aku tidak akan menyesal.”


“Sakhra, tidak perlu menghiraukannya, terkadang dia memang bodoh seperti itu.”


“Bodoh? Oh, oke.”


…Betapa cara yang bagus untuk merusak suasana hati seseorang, batin Gadra saat mendengar ucapan Yue Yin itu, ekspresi kekanakan di wajahnya berubah menjadi serius.


Sang emperor penguasa Karna Great Empire lantas menghadapkan wajah pada mereka. “Aku tidak bodoh, Jiang Yue Yin, Raja Spirit Sakhra. Aku hanya terkagum-kagum dengan tempat ini, rasanya seperti berada di surga saja. Tempat apa ini, dimensi lain?”


Baik Yue Yin maupun Sakhra, keduanya sama sekali tak memerhatikan pertanyaan Gadra.


“Aku akan mengirimmu makanan setelah ini, tapi sebelum itu aku memerlukan bantuanmu. Apa kau bisa membuat sesuatu yang bisa memberiku perlindungan dari anti-sihir?”


“Yin mau bertarung dengan Fie?”


“Oh, kau mengenal Fie Axellibra?”


“Eileithyia memperkenalkan Sakhra pada Fie. Fie memberikan boneka ini untuk Sakhra.”


“Oi, aku berbicara dengan kalian, lho!”


“Jadi, kau tidak akan membantuku?”


“Yin teman Sakhra. Fie teman Sakhra. Sakhra tidak mau menolong salah satu dari kalian jika kalian mau menyakiti satu sama lain.”


“Aku mengerti….”


“Yin marah?”


Gadra tak lagi mendengarkan percakapan serius antara Yue Yin dan Sakhra. Jika mereka menghiraukannya, ia akan menghiraukan mereka. Tentu saja Gadra bukan orang yang seperti itu, sebagai emperor tentu ia akan merasa terhina jika dihiraukan seperti. Hanya saja, ia tahu dirinya tidak akan bisa menghadapi kedua orang itu. Menghiraukan mereka adalah respons yang paling ideal.


Terlebih lagi, ia bisa mengeksplor tempat ini, menyicipi sungai madu dan susu, dan siapa tahu pula ia bisa menyembunyikan salah satu pohon berdaun emas itu ke dalam bajunya tanpa ketahuan.


Tentu saja itu adalah tindakan yang memalukan untuk dilakukan oleh seorang emperor sepertinya, tetapi Gadra tiada peduli. Pun ia tidak peduli kalau usianya telah terlalu tua untuk bersikap kekanakan seperti ini. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya untuk menikmati tempat ini. Bahkan harga dirinya sekalipun, Gadra akan meletakkannya sejenak. Ya, ia tidak akan terhen—


“Gadra, ayo kembali.”


“—eh?” Gadra seketika menghentikan langkahnya, berbalik arah. “Apa maksudmu dengan ‘ayo kembali’? Aku bahkan belum mengambil poho—ehm, apa maksudmu, Yue Yin?”


“Tidak ada lagi yang kita perlukan di sini. Ayo kembali.” Yue Yin tidak melihat ke arah Gadra, tetapi kepada Sakhra. “Bawa kami keluar, Sakhra. Kau bisa mengekspektasikan pelayanku membawa makanan dalam setengah jam.”


“Oke.”


“Whoaaaa, tunggu dulu, tunggu dulu! Biarkan aku setidaknya menga—huh?”


Gadra tiba-tiba mendapati dirinya berada di tempat semula ia berdiri, di luar Hutan Kehidupan Sakhra. Itu terjadi secara instan. Bahkan, ia sama sekali tak sempat berkedip saat tiba-tiba menemukan dirinya kembali di sana. Kendati begitu, Gadra merasa itu bukan sihir teleportasi. Jika harus menyimpulkannya, Gadra akan mengatakan kalau itu seperti sihir ruang dan dimensi.


“…Apa yang terjadi?” tanya sang emperor dengan ekspresi serius—ia sudah tak lagi berada di tempat surgawi itu, ia tidak bisa membiarkan dirinya terlihat tidak berwibawa di sini. “Kau gagal mendapatkan bantuannya?”


“Aku tidak tahu Sakhra mengenal Fie Axellibra; aku tidak mengantisipasi hal ini.”


“Jadi, kau ingin mengatakan kalau kita ke sini hanya untuk membuang-buang waktu saja?”


Tentu saja Gadra tidak merasa demikian. Datang ke tempat itu adalah keputusan yang sangat baik yang telah ia ambil. Jika ia tidak datang, tidak mungkin ia akan memiliki kesempatan itu. Namun, ia tidak memperlihatkan kesenangannya pada sang empress. Gadra memasang ekspresi yang mengatakan kalau dirinya sangat-sangat kecewa.


“Ayo kembali. Kita tidak punya pilihan lain selain mengandalkan diri sendiri. Dan apa boleh buat, aku akan memobilisasi pasukanku juga.”


Sebuah portal dimensi tercipta di hadapan Gadra dan Yue Yin. Sang empress menciptakannya dengan [Space Magic]. Tetapi Gadra tak langsung masuk, ia hanya diam di situ memandang intens portal tersebut.


Bahkan ketika Yue Yin memasukinya, Gadra masih belum masuk. Iris hitam sang emperor berpindah pada hutan di hadapannya selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia melompat masuk ke dalam portal saat portal akan menutup.


“Raja Spirit Sakhra… aku tidak percaya kalau itu wujud aslinya.”—adalah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut sang emperor sebelum dia menghilang bersama portal itu.