DELULA

DELULA
9. Feel



" Tidak ada cinta


tanpa dua orang yang mengasihi**"


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Abanggg.. awas yaa". Lula mengejar Dehan, mereka berlarian mengelilingi meja makan. Sampai akhirnya...


Dugg..


πŸƒπŸƒπŸƒ


Semua orang yang ada ruang makan tersebut langsung berdiri dengan panik. Mereka melihat Lula yang jatuh dan langsung menghampiri.


Sudah jatuh, kepentok meja pula. Rasanya pengen nangis tapi Lula tahan karena gengsi nya. Ini salah satu sebab yang membuat Lula jatuh yaitu tali sepatu belum terikat.


Raina yang melihat anaknya jatuh lanhsung menghampiri begitu juga dengan Radit.


"Astaga.. kamu gak papa?" tanya Raina sambil menggiring anaknya ke sofa.


"Sakit bunn" rengek Lula sambil menunjukkan keningnya yang memar.


Raina langsung bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil kotak p3k. Lula mengusap usap keningnya yang memar itu.


Tiba-tiba Lula merasa ada yang mengelus rambutnya, ia pun menoleh dan mendapati ayahnya sedang duduk disamping dirinya.


Lula menyenderkan kepalanya ke dada ayahnya, tak lama bunda pun datang dengan membawa kotak p3k dan langsung duduk disebelah yang kosong.


Bunda langsung mengeluarkan minyak kayu putih dan kapas, lalu dioleskan ke kening Lula yang memar.


Lula meringis kala bundanya mengobati keningnya yang luka. ia pun melirik jam tangannya dan tiba-tiba membelalakan matanya tak sangka udah jam setengah tujuh lewat.


Lula pun langsung berdiri kemudian menyambar tasnya yang ada diruang makan tadi, sang bunda hanya melongo melihat tingkah anaknya itu. Bukannya tadi dia merintih kesakitan, bunda hanya menggeleng kepala karena melihat sifat anaknya itu.


"Bun, yah.. Aku berangkat dulu" Lula langsung mencium pipi bunda dan ayahnya.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Saat Lula keluar dari rumah, ia mendapati abangnya sedang didalam mobil. Pantas saja tadi abangnya itu tidak ada pas Lula jatuh.


Lula pun langsung memasuki mobil itu dengan raut wajah tak bersahabat, Dehan hanya terkekeh melihat ekspresi adiknya itu, ia langsung menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Lula kesekolah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Didalam mobil keheningan pun hadir diantara kedua kakak beradik itu. Lula yang masih dengan kebisuannya dan Dehan yang fokus dengan menyetir, hanya terdengar suara riuh kendaraan diluar.


Sudah hal biasa ibu kota macet, walapun Lula masih saja diam padahal didalam dirinya ia sedang risau takut dihukum karena telat. Dehan pun melirikkan matanya ke Lula yang sedari tadi merasa tidak tenang.


Sungguh Dehan tidak suka dengan suasana ini, suasana yang penuh kesunyian. Dia lebih suka kalau adiknya ini berceloteh tidak jelas daripada dia seperti ini. Ia tau kalau dirinya salah.


"Maaf" ucap Dehan saat mobilnya berhenti karena lampu merah sudah menyala.


Lula pun langsung menoleh. "Huh?". Seketika Lula langsung paham dan membuang muka kembali menghadap kaca mobil disamping dirinya.


"Maaf ya bang, hihihi emang enak aku diemin" batin Lula.


Dehan hanya menghela nafas berat, lalu ia kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah berganti menjadi hijau.


Tak lama mereka pun sampai disekolah, Lula langsung bergegas turun tanpa menghiraukan abangnya itu.


Tapi apalah daya gerbang sudah ditutup, dan terlihat pak satpam sedang berdiri tidak jauh dari gerbang.


"Pak, pak satpam" panggil Lula. Satpam itu langsung menghampiri gadis yang memanggilnya itu.


"Yaampun neng Lula, ini sudah jam berapa? bel sudah berbunyi dari tadi" ujar satpam itu dengan logat sunda yang kental.


"Please pak, tolong bukain gerbangnya pak" mohon Lula ke satpam itu.


Satpam itu langsung membuka gerbangnya dan dengan cepat Lula masuk kedalam menuju kelasnya. Ia terus berlari dikoridor supaya tidak telat masuk.


Telat sudah, didalam sudah ada pak Andi guru sejarah yang kata murid-murid di SMA Karya Bangsa kalau ada murid yang telat hukumannya tidak main-main.


Tok tok tok


"Kamu anak baru?" tanya guru sejarah itu dengan wajah menakutkan.


Lula hanya menganggukan kepalanya.


"Anak baru kok sudah berani ngelanggar aturan" tanya guru sejarah itu lagi, kali ini dengan ekspresi marah sambil berkacak pinggang.


"Maaf pak, tadi dijalan macet" Lula menundukkan kepalanya. Sunggu dia sangat takut, lebih baik dia melawan secara fisik daripada melawan batinnya sendiri.


"Halah, alasan klasik sekarang kamu lari 3 kali dilapangan terus hormat bendera sampai istirahat karena kamu tidak mengikuti kegiatan upacara bendera tadi" titah guru sejarah itu.


Lula hanya menganggukan kepalanya lagi. Ia berbalik dan berjalan menuju lapangannya, Lula menaruh tas dipinggir lapangan lalu mulai berlari sesuai dengan perintah.


Tiga kali putaran sudah ia lakukan, Lula pun duduk dipinggir lapangan sambil mengatur nafasnya. Sampai terdengar suara teriakan yang mengintrupsikan untuk berdiri.


"Heii!! siapa yang suruh duduk"


Lula pun melihat guru sejarah itu yang sedang memantau dirinya. Akhirnya, Lula pun berdiri dan berjalan menuju tiang bendera untuk hormat.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Kring.. Kring


Terdengar suara bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas namun ada beberapa siswi juga yang melihat Lula dari lantai atas.


"Akhirnya" Ucap Lula. Ia berbalik lalu berjalan sambil menyeka keringatΒ  menuju kepinggir lapangan untuk mengambil tasnya.


Namun saat di tengah lapangan Lula merasa ada sesuatu yang menghantam kepala belakangnya, dia sudah sangat pusing.


Lula berjalan dengan oleng sambil memegangi kepalanya.


"Jangan, jangan sekarang" lirih Lula. Gadis itu memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia sudah tidak kuat lagi, pandangannya pun sudah buram.


Tiba-tiba dirinya sudah berada digendongan, Lula melihat wajah laki-laki itu tak jelas. kesadarannya pun sudah tergantikan dengan kegelapan.


Laki-laki itu panik, dengan buru-buru ia membawa gadis itu ke uks.


Arga POV


Gue, Bayu sama Dhio berjalan menuju kantin. Namun saat melewati lapangan, tiba-tiba suara Dhio membuat langkah gue berhenti.


" Itu bukannya anak baru ya?" tunjuk Dhio kearah lapangan sontak gue langsung nengok.


Gue mlebarkan matanya saat ada bila basket mengenai kepala Lula. Lihatlah Lula, dia begitu kesakitan. Buru-buru gue langsung menghampirinya.


Hampir saja tubuhnya menyentuh tanah, gue langsung gendong tubuh Lula ala brydal style. Gue berjalan dengan cepat menuju uks.


Panik, Satu kata yang gue rasakan saat ini.


Shitt..


Gue menendang pintu uks. bisa gue lihat petugas uks terlonjak kaget. gue langsung meletakkan Lula di kasur uks


Petugas uks itu langsung memeriksa Lula. gue langsung beranjak keluar


πŸƒπŸƒπŸƒ


Author POV


Lula mengerjapkan matanya berkali kali untuk beradaptasi dengan cahaya.


"Eughh" erang Lula. Saat dia ingin bangun kepalanya masih berdenyut nyeri, gadis itu memegangi kepalanya sambi memejamkan matanya. Namun ada tangan yang menuntun untuk berbaring kembali, Lula membuka matanya dan mendapati Arga yang ada disampingnya.


"Lo masih sakit jangan bangun dulu" ucap Arga. Melihat Lula yang masih memegangi kepalanya, Arga pun mengulurkan tangannya untuk memijat pelipis Lula.


Lula pun menikmati pijatan dari Arga dan langsung tertidur kembali. Arga yang mengetahui kalau Lula tidur langsung bangkit dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin membelikan makanan dan minuman.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Hai readers..


Thanks banget yang udah mau baca cerita absurd ini.


Jangan lupa like yaa ☺