DELULA

DELULA
23. Terbukti



'Jujurlah walaupun itu menyakitkan'


🍃🍃🍃


Hari semakin sore, semua murid Karya Bangsa sudah pulang dari tadi berbeda dengan Lula yang masih di sekolah. Gadis itu masih terus memasukkan bola basket ke ring meskipun gagal. Hujan belum berhenti tapi Lula tidak memedulikan hal itu.


"Aaaaaaaaaaa."


Lula bersimpuh di bawah guyuran hujan. Ia masih sakit hati atas perlakuan kekasihnya. Gadis itu memukul pelan dadanya karena merasa sesak. Lula takut penyakit lamanya kambuh kembali. Tidak ada yang tahu kalau saat ini ia sedang menahan sakit.


Arga berjalan dengan cepat di koridor kala penjaga sekolah meneleponnya tadi memberitahu kalau Lula masih di sana. Semarah-marahnya Arga sama Lula, ia tidak bisa membiarkan kekasihnya sakit.


Laki-laki itu melihat kekasihnya sedang bersimpuh di lapangan sambil menepuk-nepuk dadanya. Arga berlari ke arah Lula saat gadis itu hampir jatuh ketika baru saja berdiri.


Lula menatap Arga dengan mata sembabnya. Ia mencoba menghempaskan tangan yang ada di bahunya. Tapi karena keadaannya yang lemah Lula membiarkan Arga membantu dirinya sampai duduk di kursi yang dekat dengan lapangan.


Lula mengatur napasnya agar kembali normal. Bibirnya sudah membiru, tubuhnya menggigil. Ia mengambil tasnya lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Tak kuat menahan itu semua, Lula pingsan tepat saat Arga sudah menahan tubuh Lula.


"La ... Lula!" Arga menepuk pipi kekasihnya ini. Panik, ia sangat panik dengannkeadaan Lula. Laki-laki itu langsung membopong tubuh Lula untuk di bawa ke rumah sakit.


Arga mengendarai mobil dengan tempo yang cepat tak mengindahkan klakson dari dari pengendara lain. Sesampainya di rumah sakit, Arga membopong Lula untuk masuk ke dalam lalu para perawat berdatangan dengan membawa brangkar.


"Maaf, adik tunggu di luar," ujar salah satu perawat perempuan itu lalu bergegas menutup pintu ruang rawat. Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Harusnya, ia tidak meninggalkan Lula sendiri di sana. Laki-laki itu mengeluarkan handphonenya untuk menelepon bunda nya Lula.


"Halo,Bun"


" Iya, Nak Arga. Ada apa? tumben telepon bunda?"


"Lula, Bun. Dia masuk ke rumah sakit."


"Apa! rumah sakit mana? bunda sekarang ke sana."


"Rumah sakit Pradipta,Bun."


"Kamu tunggu di sana sampai bunda datang."


Telepon di matikan secara sepihak oleh bunda. Arga kembali duduk sembari menunggu dokter keluar. Tak lama terdengar suara sandal yang sedang beradu dengan lantai, Arga menoleh dan mendapati bunda Lula sedang berjalan dengan cepat ke arahnya. Laki-laki itu berdiri ketika melihat raut wajah bunda Lula yang khawatir.


"Bagaimana keadaan Lula? dia baik-baik aja kan?" tanya bunda Lula seraya melihat ke arah jendela yang menghubungkan dengan kamar rawat Lula yang di tutupi oleh beberapa perawat dan dokter.


Wanita paruh baya itu menangis ketika melihat putrinya terbaring lemah di sana.


"Lula akan baik-baik aja. Bunda tidak perlu khawatir," ujar Arga. Ia belum mengetahui apa yang terjadi dengan Lula? Baru pertama kali dirinya melihat gadisnya seperti itu.


Dokter pun keluar dari kamar rawat Lula. "Ada keluarga dari pasien?" tanyanya


"Saya, Dok."


"Mari ikut saya."


Bunda Lula mengikuti perintah dari dokter itu. Satu per satu perawat keluar secara bergiliran setelah semuanya sudah keluar Arga masuk ke kamar rawat Lula.


Ia menatap sedih keadaan Lula sekarang. Arga merasa bersalah karena sudah membentak Lula. Ia menarik kursi untuk duduk di samping Lula sambil menggengam tangannya.


Tanpa di sadari air matanya luruh. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah menangis. Kini perasaannya hancur melihat kekasihnya tak berdaya seperti ini. Rasanya ia ingin menggantikkan posisi Lula.


Arga mencium tangannya sambil menangis dengan pandangan ke bawah. Tanpa di sadari perlahan kelopak Lula terbuka. Gadis itu mengerjapkan netra matanya berkali-kali.


Lula merasa tangan satunya kebas. Ia juga mendengar isakkan dari seseorang. Gadis itu menoleh ke arah samping kanannya dan mendapati seorang laki-laki sedang menggenggam tangannya.


Sepertinya laki-laki itu tidak menyadari kalau Lula sudah sadar. Gadis itu mengarahkan tangannya untuk mengelus rambut laki-laki itu. Lula terkejut kalau yang sedang menggengan tangannya adalah Arga. Ia menarik kembali tangannya lalu melengoskan pandangannya ke arah lain. Hatinya mencelos kala melihat orang yang di sayang menangis.


Arga menatap Lula dengan sayu. Gadis itu menolak untuk melihat dirinya. "Aku tahu kalau kamu tidak sudi melihat aku tapi mohon untuk kali ini .. "


"Keluar!"


"La?"


"Gue bilang KELUAR!!"


Lula hanya butuh ketenangan saat ini. Arga berdiri dari tempat duduknya dengan menatap gadis itu yang masih saja tidak mau melihat dirinya. Sebelum pergi ia mencium kening Lula dengan intens, gadis itu tidak menolak perbuatan yang di berikan oleh Arga. Saat Lula memejamkan matanya tiba-tiba ada sesuatu yang menetes di pipinya.


"Sorry," batin Lula.


Arga menutup pintu dari luar dengan pelan. Secar bersamaan bunda Lula juga baru saja keluar dari ruangan dokter. Buru-buru Arga menghampiri beliau.


"Bun, sebenarnya Lula punya penyakit apa?" Bunda hanya menghela napas berat lalu menuntun Arga untuk duduk terlebih dahulu.


"Lula punya penyakit asma. Terakhir penyakit itu kambuh saat kamu pergi dan itu sudah sepuluh tahun yang lalu, dia terus menangis sampai sesak napas. Saat itu dokter langsung mendiagnosa kalau Lula terkena asma kalau dia terus menerus menangis. Bunda tidak tahu kenapa Lula bisa seperti ini, bunda harap ini bukan karena dia menangisi kamu lagi," jelas bunda Lula.


Arga menegang saat kalimat terakhir yang bunda ucapkan benar-benar sudah terjadi. Bagaimana menjelaskannya ke bunda. Pandangan Arga kosong menghadap ke depan. Sampai suara bunda menginterupsikan untuk sadar. "Bunda mau pulang dulu, kamu di sini gak papa kan? bunda mau bilang sama ayah Lula, pasti dia akan khawatir."


Arga mengangguk, bunda menepuk-nepuk pundak laki-laki itu lalu pnelangkahkan kakinya untuk pergi. Meskipun tadi dirinya sudah di usir oleh Lula tapi Arga tidak akan meninggalkan gadis itu sendirian.


Tak lama Kenneth pun datang menjenguk Lula. Wajah nya juga tampak khawatir dengan keadaan sepupunya itu. Suara sepatu yang bergema di koridor rumah sakit menyita perhatian banyak orang-orang.


Arga menoleh, Kenneth masih saja terus berlari untuk menuju ruang rawat Lula. Ia melihat Arga sedang menatap dirinya dengan tajam.


"Lo juga ada di sini?" tanya Kenneth. Arga memutar bola matanya dengan jengah.


"Gimana keadaan dia?" tanya nya kembali. "Lo liat aja sendiri," ketus Arga.


Kenneth menahan tawanya. Ternyata Arga masih marah terhadap dirinya. Laki-laki yang ada di hadapanya masih salah paham.


Kenneth duduk di samping Arga. "Gue bukan selingkuhan Lula."


Arga menaikan satu alisnya, "Terus kalo bukan selingkuhan, lo ngapain berduaan sama Lula di taman belakang sekolah. Itu yang nama bukan selingkuh?" Arga tertawa remeh atas ucapannya.


Kenneth menghela napas kasar, jengah atas tuduhan remaja labil di sampingnya ini. "Gue sepupunya." Ucapan Kenneth membuat Arga membelalakan matanya.


"Sepupu?" Kenneth mengangguk.


"Kenapa Lula gak cerita sama gue?"


"Dia mau cerita saat lo lihat kita di taman belakang, tapi lo malah gak maj dengar penjelasan dia, lo malah pergi gitu aja," jelas Kenneth.


Arga menangkup wajahnya denga. kedua tangannya, merasa malu atas perbuatan dirinya ke Lula. Ia sudah salah paham sama Lula.


"Tapi Lula udah dorong Aluna di rofftop."


"Dan lo percaya sama cewek itu? gue kira lo udah kenal Lula? kalo lo udah tahu sifat Lula seperti apa, lo gak akan tuduh Lula dorong cewek itu." Arga menunduk mendengar penjelasan Kenneth yang begitu menusuk hati.


"Lo bisa lihat cctv kalo lo gak percaya sama kata gue," ucap Kenneth lalu masuk ke ruangan Lula.


Arga beranjak dari posisinya untuk pergi ke sekolah untuk mengecek apa yng Kenneth bilang. Ia seharusnya menyelidikinya terlebih dahulu sebelum bertindak. Namun dengan kebodohannya, ia malah percaya dengan cewek itu lebih tepatnya mantan.


Laki-laki itu mengendarai dengan cepat untung saja tidak macet jadi ia bisa menambah kecepatan mobilnya. Sesampainya di sana, Arga langsung meminta izin ke penjaga sekolah untuk melihat cctv yang terhubung ke rooftop.


Arga melihat dari layar komputer kalau Lula tidak mendorong Aluna, tapi cewek itu yang menjatuhkan diri dan Lula langsung menangkap pergelangan Aluna.


Arga langsung keluar dari ruangan pengecekan cctv. Ia harus minta maaf ke Lula. Arga mengendarai mobil menuju ke rumah sakit kembali. Tak butuh waktu lama Arga sudah sampai di rumah sakit. Laki-laki itu berjalan dengan cepat ke ruangan Lula.


Arga memegang knop pintu, Kenneth masih berada di sana. Mereka melihat kedatangan Arga dengan raut wajah yang berbeda. Kenneth tersenyum tipis berbeda dengan Lula yang menatap Arga dengan datar.


"Boleh tinggalin gue sama Lula?" Kenneth mengangguk lalu berjalan keluar. Arga melangkahkan kakinya untuk mendekat dengan Lula.


"Maaf."


"Maaf? kamu gak salah. Aku yang salah karena udah selingkuh dari kamu," ucap Lula dengan datar.


Arga menggeleng tidak terima atas pernyataan yang Lula berikan. Ia mengambil tangan Lula untuk di genggam.


"Aku yang salah. Aku udah tuduh kamu selingkuh padahal kamu sama Kenneth itu sepupu. Aku juga udah tuduh kamu kalo sudah dorong Aluna jatuh nyatanya dia sendiri yang ngelakuin itu semua," ujar Arga dengan lirih. Lula menangis dengan diamnya. Arga mengusap air mata Lula yang turun.


"Tolong jangan menangis karena cowok brengsek seperti diriku, air mata kamu itu berharga. Satu tetes air mata kamu sama aja satu tusukn pisau di tubuhku. Don't cry, please," ucap Arga lalu merengkuh tubuh Lula. Gadis itu juga menerima pelukan dari Arga.


🍃🍃🍃


TO BE CONTINUED