DELULA

DELULA
24. A Mission



"Terkadang ucapan seseorang belum tentu benar dengan adanya. Maka dari itu tunjukkanlah suatu perbuatan untuk meyakinkan."


🍃🍃🍃


Dentuman musik bergema di seluruh ruangan. Di sini adalah surganya manusia terutama para wanita yang saat ini sedang berjoget liar menikmati alunan dj.


Berbeda dengan wanita satu ini yang sedang menyesap wine sambil menggeram marah. Sebuah foto yang di tunjukkan oleh pesuruhnya membuat wanita itu mengeratkan genggamannya pada gelas.


"Sial, bagaimana bisa mereka balikan lagi, ini nggak boleh di biarin. Tunggu pembalasan gue," ucap wanita itu dengan menyunggingkan senyum sinisnya.


Namun tanpa di ketahui oleh wanita itu, ada yang mendengar ucapannya. Seorang laki-laki yang berada di sampingnya mengetahui betapa jahatnya dia terhadap bosnya. Wanita itu tidak mencurigainya karena terlalu sibuk memikirkan pembalasan yang tepat untuk Arga dan Lula.


🍃🍃🍃


"Kita harus ke USA. Kakek sudah kasih perintah," ucap Kenneth. Kenapa di saat hubungan Lula dan Arga perlahan membaik, selalu saja ada yang membuat mereka berpisah. Lula menatap langit-langit ruangannya di rumah sakit lalu melihat Arga yang tertidur di sofa tak jauh dari tempat tidurnya.


"Gue tahu, lo pasti mikirin Arga kan? Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah tanggung jawab kita. Lusa kita berangkat."


Lula menoleh cepat ke arah sepupunya ini, "lusa?" Kenneth mengangguk kepalanya.


Tanpa di sadari oleh keduanya, Arga mendengar pembicaraan mereka. Laki-laki itu tetap memejamkan matanya meskipun tidak mengantuk.


"Oke," jawab Lula. Arga semakin bingung dengan tanggung jawab apa yang di maksud Kenneth. Lula kembali menoleh ke arah kekasihnya untuk memastikan kalau Arga tidak mendengar pembicaraan dirinya.


Lula memejamkan mata menyelam ke dunia mimpi. Kenneth pun sama, ia tertidur di kursi samping Lula. Arga membuka matanya di saat semua sudah terlelap. Laki-laki itu mengeluarkan handphonenya untuk mengirimi pesan ke bodyguardnya kalau lusa ia akan pergi ke USA.


"Ada yang kamu sembunyiin dariku, Lula." Arga berbicara sangat pelan sambil menatap Lula yang sedang tertidur. Arga kembali memejamkan matanya supaya tenang. Banyak rencana yang harus dirinya susun untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya ini bersama sepupunya.


🍃🍃🍃


"Pak!" panggil Oliv ketika melihat Kenneth berjalan di koridor sekolah. Oliv yang baru saja sampai di sekolah langsung berlari ke arah guru itu. Kenneth menoleh ke belakang. Betapa senangnya dia ketika cewek yang selalu berada di pikirannya memanggilnya.


Oliv mengatur napasnya sebelum berbicara, "Lula nggak berangkat bareng sama bapak?" tanya Oliv. Kenneth menghela napas pelan, "Lula ada di rumah sakit." Oliv membulatkan matanya ketika mendengarkan penuturan dari pria yang ada di hadapannya.


"Ayo antarkan saya ke sana, Pak." Oliv menarik tangan Kenneth untuk berjalan keluar dari sekolah. Pria ini hanya mengikuti kemauan dari cewek ini. Oliv menuntun Kenneth sampai ke mobil yang ia bawa.


Ketika ingin memasuki kursi pengemudi, suara Kenneth menghentikan pergerakan Oliv. "Biar saya yang mengendarai mobilnya," ucap Kenneth. Oliv mengangguk, mereka saling bertukar posisi tempat duduk.


Di dalam mobil tidak ada yang berbicara. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Perjalanan tidak terlalu macet, hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kenneth berjalan terlebih dahulu. Oliv mencoba mensejajarkan langkahnya. Pria itu berjalan dengan sangat cepat di koridor rumah sakit.


Kenneth memegang knop pintu untuk membuka pintu. Oliv yang melihat Lula menatap ke arahnya langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh Lula.


"Kok bisa lo di rawat dan gue sama sekali gak tahu keadaan lo?" tanya Oliv.


"Lepas dulu pelukannya, gue nggak bisa napas," sahut Lula dengan napas terengah-engah. Kenneth terkekeh melihat mereka seperti itu. Oliv melepas pelukannya sambil cengengesan, Lula memutar bola matanya dengan jengah.


Lula menatap Oliv dengan tajam, "ngapain lo ke sini? Bukannya sekolah," tanya Lula ketika baru menyadari kalau Oliv mengenakan seragam sekolah.


"Bolos lah sekali-kali, bosen gue jadi anak rajin terus," jawab Oliv dengan santainya. Saking gemasnya dengan tingkah Oliv, Kenneth mengacak-acak rambutnya.


"Ih, apaan sih, Pak. Rambut saya jadi berantakan," ucap Oliv dengan kesal seraya membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


"Temani saya sarapan," kata Kenneth sambil menarik tangan Oliv untuk keluar dari ruangan Lula.


" Eh, tapi Pak .. " Kenneth tidak mengindahkan ucapan Oliv. Lula yang melihat tingkah mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Jarang-jarang ia melihat sepupunya bersikap seperti itu. Biasanya sepupunya ini tidak perlu di temani untuk sarapan. Tapi sekarang berbeda, ia sedang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ini baru awalan.


Tak lama kepergian dua sejoli itu, Arga datang dengan membawa makanan untuk Lula. "Sepupu kamu kok menarik-narik tangan si Oliv?" tanya Arga. Lula mengangkat bahu dengan acuh.


"Lagi jatuh cinta dia makanya begitu." Arga mengangguk, "bagus deh kalau tuh anak dapat pacar. Bisa jinak sedikit," ucap Arga sambil mengeluarkan makanannya.


Lula memukul pelan tangan Arga. Laki-laki itu hanya terkekeh mendapatkan pukulan dari kekasihnya.


"Sekarang kamu makan." Arga menyuapi bubur yang tadi ia beli. Lula menerima suapan itu. Laki-laki itu mengusap puncak kepala Lula sambil tersenyum.


🍃🍃🍃


"Bu, nasi gorengnya dua porsi," pesan Kenneth ketika sudah sampai di kantin rumah sakit. Pria itu melihat ke arah gadis yang sedang duduk di ujung sambil cemberut. Kenneth melihat itu cuma tersenyum tipis.


Kenneth membawa makanan itu dengan nampan dan meletakkan di meja, "kamu sarapan dulu. Mau ada yang saya bicarakan," ucap Kenneth lalu menarik kursi untuk duduk.


Oliv mengangkat alisnya sebelah, "Apa?" tanya Oliv. Gadis ini sangat penasaran karena dari mimik wajah gurunya ini sangat serius. Kenneth menatap Oliv dengan sendu.


"Sudah saya bilang kita makan dulu. Baru saya kasih tahu." Ucapan Kenneth membuat Oliv berdecak. Dengan cepat gadis ini memakan nasi goreng yang dipesankan oleh gurunya.


Setelah mereka selesai makan, Kenneth membuka tasnya untuk mengeluarkan sesuatu.


"Ini untu kamu, maaf kalau saya sudah membuat handphone kamu rusak. Tolong terima," ucap Kenneth. Pria ini memberikan iphone 11 pro. Oliv melongo melihat pemberian gurunya ini.


"Ini serius buat saya, Pak?" Kenneth mengangguk. Oliv membolak-balik kardus iphone itu. Tidak seperti ia duga, Oliv memberikan pemberian itu ke Kenneth. "Kenapa?"


"Maaf, Pak. Ini terlalu berlebihan .. " Kenneth menggeleng pertanda tidak, "saya hanya ingin bertanggung jawab." Kenneth kembali memberikan iphone itu.


"Satu lagi, tapi ini jadi rahasia kita. Saya dan Lula akan pergi ke USA lusa. Saya mau kamu ikut kami. Kami akan melakukan penyerangan .. " Kenneth menggenggam tangan Oliv.


" .. Saya mau kamu menyemangati saya sebelum semua ini dilakukan. Saya suka sama kamu, mungkin ini terlalu cepat untuk saya. Tapi semenjak pertemuan yang tidak sengaja itu, saya ingin mengenal kamu lebih jauh lagi. Izinkan saya untuk jadi kekasihmu," tutur Kenneth. Oliv menatap Kenneth tidak percaya.


"Trust me! Saya akan melakukan yang terbaik," ucapnya lagi. Oliv mengangguk ragu. Apa salahnya untuk menerima Kenneth sebagai kekasihnya. Dengan gerakan cepat, Kenneth langsung memeluk Oliv. Gadis ini terkejut sampai tak sadar kalau tangannya juga memeluk Kenneth.


🍃🍃🍃


TO BE CONTINUED