
"I don't need a perfect one, i just someone now can make me feel that i'm the only one"
πππ
Lula memperhatikan dengan intens bagaimana sikap Arga ke dirinya yang begitu perhatian.
Saat ini Arga sedang menyuapi Lula, padahal Lula sudah menolak untuk disuapi. Arga tetaplah Arga, dia tidak mau ada yang membantah dirinya.
"Gue kenyang" tolak Lula ketika Arga ingin menyuapi bubur itu.
"Ini baru suapan ketiga loh, satu suapan lagih deh". Lula menggeleng pertanda tidak mau. Arga mengalah, ia menaruh mangkuk bubur itu lalu mengambil segelas air yang sudah disiapkan untukΒ Lula dan menyodorkannya. Gadis itu pun langsung menerima karena dirinya memang haus bukan lapar.
"Masih pusing?" tanya Arga. Lula menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Lula memberikan gelas yang masih ada setengah airnya ke Arga untuk menaruhnya dimeja.
Lula melirikkan matanya kearah jam didinding, ternyata sudah pukul 11 siang. Saat gadis itu ingin bangun, suara Arga membuatnya menoleh.
"Mau kemana?" tanya Arga. Lula pun bersandar dibrankar uks.
"Pulang.. Oh iya tas gue mana ya?" Lula mengedarkan pandangannya untuk mencari tasnya.
"Nih tas lo". Arga memberi tas Lula, ia menaruhnya dilantai.
Lula langsung menerimanya. Gadis itu bergegas turun dari brankar. Ia ingin sekali istirahat dirumah, Jujur kepalanya masih sedikit pusing
Tiba-tiba Arga merangkul bahu Lula dengan kedua tangannya.
"eh" Lula tersentak kaget. Arga tetap menuntun Lula menuju parkiran.
"Hari ini gue bawa mobil jadi lo gue anterin pulang" ujar Arga. Lula memberhentikan langkah nya.
"Nggak usah, lo masih harus belajar kan" jawab Lula. Gadis itu tidak mau menyusahkan orang lain ketika dirinya sedang mengalami kesusahan.
"Tenang, gue udah izin kok". Arga menuntun Lula ke mobilnya, dan membukakan pintu yang disamping pengemudi untuk Lula.
Setelah menutup pintu mobilnya, Arga berlari kecil untuk duduk dikursi kemudi. Lalu menyalakan mobilnya dan mulai berjalan menuju rumah Lula.
πππ
Terik matahari menyorot sampai dikota, untung saja hari ini Arga membawa mobil. Arga melirikkan matanya ke arah gadis yang ada disampingnya. gadis itu sedang menatap kearah jalanan.
Tak lama mobil Arga pun sudah sampai didepan rumah Lula.
"Thanks lo udah banyak bantuin gue" ucap Lula dengan menatap Arga dengan sendu bukan tatapan tajam lagi.
Arga membalasnya dengan senyum. Lula yang melihat senyum Arga langsung memegangi dada bagian kiri, ia merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat.
"Astaga jantung gue, perasaan gue nggak punya riwayat penyakit jantung" batin Lula.
Tiba-tiba Lula merasakan tepukan di puncak kepalanya, ia pun menoleh ke arah Arga yang masih tetap dengan senyumannya.
"Udah sana masuk" suruh Arga ketika usai menepuk puncak kepala Lula.
Buru-buru Lula membuka pintu mobilnya dan berjalan dengan cepat menuju rumahnya takut Arga melihat wajahnya yang bersemu merah.
"Aduhhh, pasti pipi gue merah banget" ucap Lula sambil mengibaskan tangannya ke wajahnya.
πππ
Arga memperhatikan Lula sampai masuk kerumah, dia terkekeh karenaΒ mendapati gadis itu sedang bersemu merah dipipinya akibat dari ulahnya sendiri.
Arga mengambil handphone nya didashboard mobil. Dia menelpon Dhio.
"Iya ga, kenapa?"
"Nanti kalo lo Pulang bawain tas gue"
"oke boss"
Arga mematikan telponnya secara sepihak. Ia pun langsung menyalakan mobil untuk pulang kerumahnya.
πππ
Dilain tempat, seorang gadis yang berada dibalkon sedang meratapi mobil yang sudah mengantarnya tadi.
Dia memikirkan kejadian yag mebuat dirinya sangat malu.
Tak sadar dibelakang gadis itu sudah ada bundanya yang sedari tadi mendengarkan ucapan gadis itu.
Bunda langsung menghampiri gadis itu dan melakukan hal yang sama yaitu ikut menopang dagunya.
"Kalo suka sama seseorang jangan dipendam, ungkapin aja"
Gadis itu pun melebarkan matanya dan tersentak kala mendengar suara bunda.
"Eh, ada bunda". Gadis itu langsung menghadap bundanya lalu tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk belakang nya.
"Kepalanya masih pusing?" tanya bunda dengan mengelus surai rambut anaknya itu.
Lula menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Kayaknya kamu udah mulai deket sama Arga yak?" tanya bunda. Lula yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung gelagapan.
Bunda yang melihat anaknya seperti itu hanya bisa tersenyum.
"Masuk yuk, nanti kumat lagi pusingnya, kamu kan nggak kuat sama cuaca panas" ucap bunda sambil menuntun Lula dengan merangkul kedua bahu Lula.
πππ
"Lho kok pulang? sekarang belum jam pulang sekolah?" Tanya wanita paruh baya itu dari ruang keluarga ketika melihat anaknya baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Arga.
Arga langsung menghampiri ibunya untuk salim.
"Tadi Arga nganterin Lula pulang bu, dia sakit" Jawab Arga. Laki-laki itu langsung duduk disamping ibunya. Ia menyenderkan kepalanya disofa diikuti dengan matanya yang terpejam
"Mau sampai kapan kamu begini terus, kamu nggak kasihan sama Lula? dia masih saja menunggu kamu teman kecilnya" tukas ibu. Arga langsung menbuka matanya secara perlahan ketika mendengar penuturan dari ibunya.
Ia menghela napas berat, Arga kembali duduk dengan posisi tegak. Tiba-tiba suatu ide muncul diotak Arga
"Arga bakal ngasih tau Lula, tapi ini bakal jadi surprise diultah nya" ucap Arga.
Ibunya tersenyum ketika melihat anaknya itu sumringah
"Yaudah, ibu kekamar dulu ya". Arga menganggukan kepalanya. Ia menopang dagu seraya memikirkan bagaimana cara membuat surprise yang nantinya takkan terlupakan.
Arga pun beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya
πππ
Seorang gadis sedang duduk dipinggiran kasur sambil memegang album foto biru yang tertulis "Memory". Gadis itu adalah Lula.
Lula membuka album foto masa kecilnya, terlihat usang karena album itu sudah lama tidak dibuka.
Selembar demi selembar dia buka, Lula senyum senyum sendiri melihat foto masa kecilnya itu sedang memakan lolipop.
Saat dia membuka lembaran kelima senyum Lula memudar, gadis itu mengusap foto itu
"Kamu kapan kembali, ga?.. Aku masih ingat sama janji kamu, Aku masih nunggu kamu disini, Aku harap kamu juga ingat sama janji kamu". Perlahan air mata Lula keluar. Gadis itu tidak bisa membendung kerinduannya selama ini.
Lula menutup album itu, semakin dia membuka lebih jauh, rindunya akan semakin bertambah.
Ia menaruh album itu dilemari kecil seperti keadaan yang semula lalu berjalan keluar dari kamarnya untuk makan malam
πππ
Dilain tempat Arga juga sedang melamun dibalkon kamarnya sambil memegangi gantungan yang diberi oleh teman kecilnya itu
"Secepatnya aku akan ngasih tau kamu la, nunggu sebentar lagi karena cepat atau lambat keadaan ini akan berubah" gumam Arga. Dia berbicara sendiri sambil menatapi langit malam yang hari ini sangat indah.
πππ
Akhirnya oh akhirnya...
Gantung yaa?..
Like and koment yaa..
biar next chapter selanjutnya cepat**..