
"Berpikirlah untuk melakukan sesuatu, karena disetiap perbuatan akan ada pembalasan yang hadir. Jadi, bersiap untuk menerimanya."
🍃🍃🍃
"Devil one, devil one, check."
"Yes, devil two." Lula yang baru saja naik ke lantai atas menggunakan tangga darurat harus waspada. Gadis itu tidak menggunakan lift karena dijaga ketat oleh bodyguard musuh.
Setiap lantai, ia matikan saluran listrik utamanya. Hotel San ini memiliki 27 lantai. Keberadaan musuh berada dilantai 20. Lula dan dua pengawalnya harus siaga jika ada musuh yang datang.
Terdengar bunyi tembakan, dengan cepat Lula dan dua pengawalnya langsung menuju ke arah sumber suara. Tepatnya dilantai ini. Gadis itu memasuki ruangan yang kosong dan terdapat lorong atas yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan yang lain. Ia memverikan kode kepada pengawal-pengawalnya untuk berpencar.
"Devil one check. Kondisi di sana aman?"
Dorr dorr
Tanpa buang waktu lagi, Lula memasuki lorong itu dengn hati-hati. Lorong ini cuma ada satu arah, ia harus merangkak dengan pelan supaya tidak ada yang tahu.
Dari atas, gadis itu bisa melihat tim Kenneth sudah mati. Lula merangkak dengan cepat, sampai akhirnya gadis itu melihat Kenneth yang terikat di lantai. Lula pun langsung membuka penghalang dari lorong itu dan turun ke bawah untuk menyelamatkan sepupunya yang tak berdaya.
Prok prok prok.
Suara tepuk tangan seseorang membuat Lula harus menghadap ke belakang. Seorang perempuan yang sedang duduk dengan angkuhnya dan ditemani banyak bodyguard disampingnya.
"Halo, Lula. Kita ketemu lagi ya?" Lula menggeram marah saat melihat seorang perempuan yang sudah membuat sepupunya seperti ini. Lula langsung mengarahkan pistolnya ke arah Aluna. Ya, perempuan yang sudah membuat hubungan dirinya dan Arga hampir kandas karena perbuatan liciknya.
"Wow! Tenang, friend. Lo gak usah terlalu ambisius," ucap Aluna.
"Lo mau apa sih sebenarnya?" Aluna berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Diam di sana!" Aluna langsung berhenti, ia melipatkan kedua tangannya didada.
"Mau gue, lo jauhin Arga." Lula tersenyum sinis, "lo gak akan bisa pisahin kita berdua kecuali kematian yang menjemput kita."
"Oke," jawab Aluna lalu menunjuk Kenneth dengan dagunya, bodyguard Aluna pun paham. Mereka memukuli Kenneth sampai darahnya bercucuran.
"Stop it! Berhenti memukuli sepupu gue. Oke, gue akan nuruti apa mau lo," ucap Lula. Gadis itu tidak bisa melihat Kenneth seperti itu. Aluna mengangkat alisnya dengan sebelah.
"Jangan, La." Kenneth menyuruh Lula dengan suara yang sangat pelan tapi Lula bisa mendengarnya. Gadis itu mengabaikan permintaan sepupunya. Lula melemparkan pistolnya ke Aluna. Ia bersimpuh dihadapan perempuan itu.
"Akhh!" Lula meringis kesakitan saat satu peluru mengenai lengan kirinya.
"Peluru pertama buat lo yang udah ambil perhatian Arga dari gue."
"Peluru kedua buat lo yang udah buat Arga benci dari gue."
"Akhh!" Lula sudah tidak kuat lagi untuk menahan diri supaya tegak. Peluru ketiga ini mengenai pundak kirinya.
"Peluru ketiga ini buat lo yang udah buat Arga gak mau nerima kehadiran gue."
Lula tidak tahu apa dirinya masih kuat untuk esok atau berakhir di sini. Gadis itu tumbang, menahan sakit akibat peluru itu. Ia mengerjapkan matanya supaya tidak tertidur.
Dorr
"Akhh!" Itu bukan suara Lula tetapi suara Aluna yang teriak. Arga datang tepat saat Aluna hampir menembaki peluru keempat ke Lula. Sebelum itu, Arga langsung menembak Aluna. Laki-laki itu tidak tahu apa perempuan itu masih hidup atau tidak. Ia melihat Lula yang terbaring lemah dengan banyak darah di bajunya.
"La, kamu bisa dengar aku?" Lula melihat Arga dengan samar, gadis itu menggenggam tangan Lula yang ada diwajahnya.
"Ga, boleh aku ucapkan sesuatu?" Arga mengangguk. "Aku mencintaimu, Ga. Sampai kapan pun itu. Aku mohon jangan pernah meragukan kehadiranku, aku udah gak kuat lagi, Ga. Jika aku tidak ada, kamu jangan nangis, Ga." Arga menggeleng, "kamu ngomong apa sih, enggak! Kamu gak ke mana-mana. Kamu harus kuat, La."
Arga membopong Lula keluar dari hotel itu. Ia tidak mau berpisah dari cintanya. Lula tersenyum kecil melihat wajah Arga.
"La, kamu harus tahan," ucap Arga. Lula baru memejamkan matanya kini membuka perlahan. "Aku udah gak kuat, Ga. Sorry," kata Lula. Kesadaran gadis itu pun sudah menghilang. Arga membuka pintu mobilnya dan meletakkan Lula dikursi belakang.
Laki-laki itu mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, suara klason kendaraan lain ia abaikan. Sesampainy dirumah sakit, ia langsung membawa masuk Lula ke dalam.
"Doctor, doctor! Help me now!"
Dokter dan beberapa suster menghampiri Arga dengan membawa brangkar. Mereka langsung menuju ke ruang operasi karena melihat tubuh Lula yang sudah parah.
"Sorry, Sir," ucap suster itu ketika Arga ingin masuk. Arga mengepalkan tangannya lalu meninju dinding rumah sakit. Terdengar suara langkah sepatu yang menghampiri dirinya. Tiba-tiba ada pukulan yang mendarat dipipi Arga.
"Kau yang membuat cucuku seperti ini. Saya sudah menduga hal ini akan terjadi. Dari awal saya tidak setuju dengan hubungan kalian, saya akan memisahkan kalian apapun itu caranya," ucap Kakek Lula. Arga terkejut dengan ucapan beliau.
Laki-laki itu bersimpuh dihadapan Kakek Lula sambil mengatupkan kedua tangannya, "Kek, saya mohon jangan pisahin kami. Saya juga tidak tahu akan terjadi seperti ini," ucap Arga sambil menangis. Kakek Lula mengabaikan ucapan Arga.
Dokter itu keluar dari ruangan operasi dengan wajah murung, "sorry, Sir. God has another will."
Arga membelalakan matanya, ia menghampiri dokter itu lalu mencengkeram jasnya, "are you crazy! She's not die!"
"Pergi! Kau membuat cucuku meninggal. Cepat!" Kakek Lula menarik baju Arga sampai terjatuh. Laki-laki itu bangkit dan berjalan keluar dari rumah sakit, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Pikirannya mengenang masa-masa bersama kekasihnya. Kini ia sudah pergi menemui sang pencipta.
End