DELULA

DELULA
25. Mission 2



"Persiapkan diri. Perjalanan barumu akan tiba."


🍃🍃🍃


"Dad, kondisi Lula baru aja pulih. Masa harus ke Amerika?" Suara bariton tegas pria paruh baya itu sedang meminta pengertian untuk anaknya.


Tut tut tut.


"Dad! Sial," umpat pria paruh baya itu. Lula menatap kasihan ke ayahnya yang datang untuk menjemputnya. Biasanya ada Arga, tetapi laki-laki itu ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Lula baik-baik aja kok, Yah. Mungkin kakek lagi butuh aku," ucap Lula sambil menundukkan kepalanya. Bunda hanya mengusap bahu Lula, ia tahu bahwa ini bukan permintaan anaknya tetapi perintah dari mertuanya.


"Ya sudah, besok ayah antar kamu ke bandara," ucapnya. Lula langsung menatap ayahnya dengan cepat dan mendapat anggukkan dari sang ayah.


Bunda membantu Lula untuk turun dari brangkar. Dokter sudah mengizinkan Lula untuk pulang karena kondisinya sudah sehat.


🍃🍃🍃


"Pak, kita mau ke mana?" tanya Oliv ketika Kenneth membawa mobilnya ke tempat yang asing buat gadisnitu.


"Ken, yank. Jangan manggil pak lagi oke." Oliv cuma cengengesan mendengar ralat dari kekasihnya ini.


"Iya deh, Ken. Kita mau ke mana?"tanya Oliv kembali sesuai perintah kekasihnya ini.


"Nanti juga kamu tahu," ucapnya dengan santai tanpa tahu kalau gadis disampingnya sedang kepo berat. Alhasil, Kenneth mendapat pukulan di lengannya. Ia hanya terkikik mendapat pukulan itu.


Setelah sampai ditempat yang asing bagi Oliv, Kenneth menuntun Oliv untuk masuk ke dalam. Sebelum masuk, ada bodyguard yang menjaga pintu yang menghalanginya. Kenneth merogoh sakunya lalu menunjukkan sebuah kartu, Oliv merasa heran karena bodyguard itu tiba-tiba menundukkan kepalanya ketika Kenneth menunjukkan sebuah kartu.


Ternyata Kenneth membawa Oliv ke salah satu tempat club yang jauh dari perkotaan. Hari masih siang tetapi tempat ini terap saja ramai, alunan musik dj yang sangat keras, para wanita berjoget sangat liar. Menjijikan. Itu yang ada dipikiran Oliv, Kenneth masih menuntun Oliv.


Ketika sampai di salah satu ruangan, Oliv berteriak ketika baru saja masuk dan disuguhkan adegan orang dewasa sedang bercumbu. Dengan cepat, Kenneth langsung menutup mata Oliv lalu merengkuh tubuh kekasihnya ini.


"Zack!" teriak Kenneth ketika melihat adegan itu. Mereka pun langsung melepas cumbuannya. Wanita yang bercumbu dengan Zack langsung keluar dari ruangan itu setelah diberi sebuah cek.


"Kenapa kau? Tumben sekali seperti ini? Sial, aku masih kepanasan," gerutu Zack tidak terima.


"Kau tidak lihat kekasihku syok melihatmu seperti itu," balas Kenneth sambil menatap Zack tajam.


"Seriously? Kau membawa anak sekolah?" tanya Zack dengan tertawa remeh.


Kenneth mengajak Oliv untuk duduk tapi Oliv menahan bajunya, "gak apa kok, udah gak ada lagi adegannya." kenneth mengusap rambut Oliv untuk memenangkannya lalu menuntunnya ke sofa. Zack menatap geli Kenneth yang sekarang menjadi possesive.


"Tenang, aku gak makan kamu kok," ucap Zack sambil menuangkan birnya ke dalam gelas berukuran kecil lalu menyesapnya perlahan.


"Zack!"


Zack memutar bola matanya dengan jengah ketika mendapat peringatan dari Kenneth.


"Kau sudah membawa barang yang aku suruh?" tanya Kenneth. Zack mengangguk lalu mengambil tas berukuran besar yang berada di bawah meja. Zack membuka tas itu, Oliv membelakakan matanya ketika tak sengaja melihat isi dalam tas itu.


"Senapan ini memiliki peluru yang di dalamnya ada terdapat racun berbahaya, sekali tembak bisa meledakkan seseorang dalam waktu tiga detik," jelas Zack sambil memberikan senapan ke Kenneth. Laki-laki itu mengangguk, paham akan ucapan dari temannya ini.


"Meledakkan seseorang dalam waktu tiga detik," batin Oliv. Jantung Oliv berdetak cepat saat mendengar perkataan itu. Ia semakin tidak nyaman berada ditempat ini.


"Besok kita akan pergi ke markas, aku harap kau bisa datang tepat waktu." Zack melihat ke arah Oliv, Kenneth mengikuti arah pandang Zack.


"Dia akan ikut denganku. Jaga matamu, Zack!" Kenneth menatap tajam pria yang ada dihadapannya. Zack bersikap tidak peduli akan titah dari Kenneth.


"Ini aku bawa, kau persiapkan diri sebelum melakukan penyerangan," ucap Kenneth dengan mengambil tas itu. Lalu menarik tangan Lula untuk pergi dari tempat ini. Laki-laki ini tahu kalau kekasihnya merasa risih, maka dari itu Kenneth membawanya pergi.


Kenneth membuka pintu mobil disamping pengemudi untuk Oliv. Lalu membuka pintu belakang untuk menaruh tas itu. Ia berjalan cepat menuju kursi pengemudi. Hari sudah mulai sore, Kenneth mengendarai dengan kecepatan standar. 


Tiba-tiba Kenneth memberhentikan mobilnya. Oliv langsung mengalihkan pandangannya ke Kenneth. Pasalnya, kekasihnya ini memberhentikkan mobilnya ditempat yang sepi.


"Aku turun di sini, kamu pulang sendiri nggak apa kan?" Oliv mengangguk, Kenneth keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang untuk mengambil tas itu. Oliv melihat dari spion mobilnya kalau Kenneth sudah pergi, ia pun melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat itu.


🍃🍃🍃


"Kau sudah mempersiapkan apa yang aku suruh?"


" ... "


"Baiklah."


Telepon dimatikan secara sepihak, sebentar lagi dirinya akan mengetahui apa yang disembunyikan oleh kekasihnya.


Saat ini ia berada di apartemennya, ia melirikkan matanya ke arah jam ditangannya. Sudah waktunya ia harus menjenguk Lula dirumah karena Arga tidak bisa menjemputnya. Banyak hal yang harus ia selesaikan. Laki-laki itu beranjak dari apartemennya untuk pergi ke rumah Lula. Jarak dari apartemen Arga ke rumah Lula tidak jauh, hanya memakan waktu dua puluh menit.


Satpam rumah kekasihnya membukakan pagar ketika Arga baru saja sampai. Laki-laki itu turun dari mobilnya, namun ada seorang pembantu rumah Lula menghampiri dirinya.


"Den Arga, disuruh non Lula langsung ke kamarnya saja," ucap pembantu itu.


"Iya bik, terima kasih. Kalau gitu saya langsung ke kamarnya Lula. Permisi, Bik," sahut Arga lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Lula.


Arga membuka knop pintu kamar kekasihnya. Lula melihat Arga dengan tatapan sendunya. Ia berpikir apa ini terakhir kali dia melihat kekasihnya. Lula menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran itu yang terus membayangi dirinya.


Arga menghampiri Lula dengan senyum yang menampilkan lesung pipinya. Entah kenapa, dirinya tidak ingin jauh-jauh dari Lula. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi tetapi Arga tidak tahu.


🍃🍃🍃


Keesokkan harinya.


Hari ini Arga tidak ada saat Lula ingin pergi. Hanya ada kedua orang tua Lula yang mengantar dirinya. Gadis itu berjalan perlahan menuju pesawatnya berharap sang kekasih akan datang, namun semua itu hanya ilusi. Lula menengok ke belakang menatap dengan mata yang berkaca-kaca ke arah kedua orang tuanya. Ia tersenyum saat bunda melambaikan tangannya.


Lula langsung menaiki pesawat menuju Amerika. Lula terkejut saat melihat Kenneth dan Oliv berada dipesawat yang sama.


"Lo ikut, Liv?" Oliv mengangguk dengan antusias, "iya, gue di ajak sama pak Kenneth."


"Dear?" Oliv terkikik mendengar protesan Kenneth karena memanggilnya menggunakan embel-embel.


Lula duduk dikursi tepat dibelakang Kenneth dan Oliv. Ia pun memasang earphone untuk mendengarkan musik lalu memejamkan matanya. Karena esok akan banyak energi yang akan terkuras habis.


"Kok aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi sama Lula ya?" tanya Kenneth sambil mengusap rambut Oliv.


"Aku juga nggak tahu, aku punya perasaan seperti itu. Aku harap ini gak akan terjadi," jawab Oliv. Kenneth mengangguk dan mencium rambut Oliv. Mereka sama-sama memejamkan mata. Perjalanan bisa lebih dari dua belas jam, mereka harus beristirahat.


🍃🍃🍃


Lula mengerjapkan matanya ketika mendengar suara pilot bahwa sebentar lagi pesawat ini akan mendarat. Gadis ini masih memikirkan Arga. Ia bingung, kenapa laki-laki itu tidak mengantarkan dirinya ke bandara. Persetan dengan itu, semua barang sudah disiapkan.


Pesawat pun akhirnya mendarat. Kami turun dari pesawat dan berjalan menuju lobby, karena jemputan sudah ada di sana. Didalam mobil tidak ada yang berbicara satu pun.


Sesampainya dirumah kakek, mereka langsung menghampiri nenek yang sedang menunggu didepan rumah. "Ini siapa?" tanya nenek ketika melihat Oliv datang.


"Dia temanku, Nek." Oliv menyalami nenek dengan sopan. "Dia juga pacar Kenneth," ucap Lula lagi.


"Pacar? Seusia kamu masih pacaran? Sudah waktunya kamu menikah Kenneth," kata nenek. Kenneth merangkul Oliv, "nanti kalau Oliv sudah lulus, Kenneth langsung nikahin. Iyakan, sayang?" Oliv menyikut pelan perut Kenneth. Laki-laki itu terkekeh melihat reaksi kekasihnya.


"Halah, bucin lo berdua. Nek, Lula masuk dulu ya," ucap Lula. Ia pun langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Ayo, kalian juga masuk," perintah nenek yang diikuti oleh mereka berdua.


🍃🍃🍃


"Oh, jadi ini tempat tinggal kamu, La. Aku akan mengawasimu," ucap seorang laki-laki yang memakai jaket hitam. Ia pun segera pergi karena takut ketahuan.


Tanpa disadari oleh orang itu, ada seorang gadis sedang melihat dirinya dari jendela kamarnya. Ia mengambil handphonenya untuk menghubungi sepupunya.


"Ken, sepertinya ada orang yang memata-matai kita," kata Lula.


" ... "


"Oke, gue langsung ke sana," ucap Lula. Ia pun langsung menuju ruangan untuk melakukan strategi penyerangan. Di sana sudah ada kakek dan Kenneth. Lula memasuki ruangan itu, sudah tidak aneh lagi kesan dari ruangan ini yang memiliki aura mencekam.


Diruangan ini terdapat meja yang kursinya melingkari meja itu. Lula duduk berhadapan dengan Kenneth.


"Data perusahaan kakek dicuri oleh musuh kita. Kakek harap kalian bisa mengambilnya tanpa ada yang terluka. Kalau kalian tidak mendapatkan flashdisk itu, Black Devil dan perusahaan kakek akan hancur."


"Kakek tenang aja. Kenneth sama Lula akan menyelesaikannya." Kakek mengangguk, beliau tahu kalau kedua cucunya bisa diandalkan.


"Besok pagi kalian harus pergi ke hotel San. Karena, flashdisk itu ada di sana. Kalian harus berhati-hati," kata kakek. Kenneth dan Lula mengangguk paham.


Kakek keluar dari ruangan ini, meninggalkan dua sepupu ini. "Tadi lo bilang ada yang mengintai rumah kita?" tanya Kenneth.


"Iya, gue lihat dari jendela kamar. Orangnya itu pakai jaket hitam habis itu dia langsung pergi," ucap Lula sambil mengangkat pundak dengan acuh.


"Gue mau istirahat dulu. Lo udah siapin senjatanya kan?" Kenneth mengangguk, gadis itu berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamarnya.