
'Kepercayaan adalah suatu hal yang penting dalam hubungan'
πππ
Bel istirahat sudah berbunyi, semua murid buru-buru keluar dari kelasnya untuk ke kantin. Berbeda dengan kelas XI-Ips 1 yang masih berkutat dengan buku yang tebal nya melebih 300 halaman. Apalagi kalau bukan buku matematika.
Lula melihat sepupunya sedang bermain handphone. Bagaimana tidak kesal? bel sudah berbunyi tetapi kelas tidak di bubarkan. Gadis itu mengangkat satu tangannya seperti ingin bertanya.
"Pak, maaf bel istirahat sudah berbunyi," ucap Lula dengan nada kesal sambil menatapnya tajam.
Kenneth menoleh ke arah Lula, rasanya ia ingin tertawa keras melihat wajah kesal sepupunya itu. "Baiklah, kelas saya akan bubarkan. Terima kasih atas perhatiannya, sampai bertemu di hari esok." Kenneth membereskan bukunya lalu berjalan keluar kelas.
Tak mau tertinggal oleh Kenneth, Oliv pun mengejarnya untuk meminta pertanggung jawabnya karena sudah membuat handphone nya rusak.
"Pak!"
Lula menggeleng melihat tingkah temannya ini. Ia juga berjalan keluar kelas tapi bukan ke kantin melainkan ke kamar mandi. Dirinya menjadi mengantuk karena pelajaran matematika yang waktunya lumayan lama.
Gadis itu membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi setelah itu ia mengelap dengan tisu. Tiba-tiba ada seorang cewek masuk ke kamar mandi sambil menatap Lula tak suka.
"Lo pacarnya Arga?" tanya cewek itu sambil menatap Lula dari bawah ke atas. Lula masih diam tidak mau menjawab pertanyaan dari cewek itu. Cewek itu menggeram kesal karena tidak di jawab pertanyaannya.
Saat Lula ingin pergi, ia di hadang oleh cewek itu. "Bisa-bisanya Arga milih lo daripada gue, secara fisik cantik gue melebih lo!" cewek itu menunjuk wajah Lula dengan sombongnya.
Karena merasa sudah melebihi batas, Lula memelintir tangan cewek itu sampai ke belakang. Terdengar suara ringis kesakitan.
"Kalo lo merasa lebih cantik daripada gue, lo bisa cari cowok lain yang mau sama lo," ucap Lula dengan santai.
Tak sengaja Lula melihat di leher belakang cewek itu ada gambar tato naga. Gadis itu melebarkan matanya ketika sudah menemukan targetnya. Lula menghempaskan tangan cewek itu dengan kasar lalu berlari ke luar kamar mandi untuk bertemu dengan Kenneth.
Arga yang melihat Lula berlari mengerutkan dahinya bingung. Kenapa kekasihnya lari ke kantor guru? Arga mengikuti Lula secara pelan-pelan menuju ke kantor guru. Terlihat sudah Lula memasuki kantor itu tak lama ia keluar berma guru baru. What guru baru? Arga bersembunyi di balik tembok ketika mereka melewatinya.
Lula dan Kenneth berjalan menuju ke taman belakang sekolah. Mereka memilih tempat itu karena sepi dan jauh dari jangkauan murid sekolah.
Arga tetap mengikuti mereka berdua. Ia bingung, kenapa mereka malah menuju ke taman belakang. Arga mengintip dari jarak yang lumayan jauh, laki-laki itu tidak bisa mendengar pembicaraan Lula dengan guru baru itu.
"Gua udah tahu siapa target yang kita cari," ucap Lula dengan pandangan lurus ke depan.
"Serius?" Lula menganggukkan kepalanya pertanda iya.
"Dia sekolah di sini tapi gue gak tahu siapa namanya," ujar Lula.
"Urusan seperti itu serahin ke gue." Kenneth menepuk-nepuk kepala Lula.
Arga yang melihat mereka dari jauhΒ menatapnyaΒ dengan marah. Bisa-bisanya Lula selingkuh dengan guru itu. Pikir Arga. Dengan cepat ia menghampiri Lula.
"Oh jadi begini sekarang?"
Lula terkejut bukan main. Suara itu, suara Arga. Ia langsung menoleh ke belakang dan terlihatlah Arga berdiri di sana sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Lula langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri kekasihnya itu.
"Ga, ini bukan seperti yang kamu lihat. Dia itu cuma .. "
"Cuma apa? bisa-bisa nya kamu selingkuh sama dia. Aku gak habis pikir ya sama kamu, apa salah aku? kenapa kamu ngelakuin ini, La?"
Mata Lula berkaca-kaca. Arga salah paham atas dirinya. Air mata Lula sudah tidak bisa terbendung lagi. Perlahan turun membentuk sungaj di wajah cantiknya. Arga tak bisa melihat kekasihnya menangis, ia memalingkah wajahnya menatap yang lain.
"Dia itu bukan selingkuhan aku, Ga. Niat untuk selingkuh dari kamu aja ngga ada."
"Ini apa kalau bukan selingkuh? berduaan di taman belakang supaya gak ketahuan sama yang lain," ucap Arga dengan emosi tertahan.
"Enggak seperti itu, Ga." Lula memegang tangan Arga namun apa yang diabalas, laki-laki itu menghempaskannya.
Arga berbalik lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Antara emosi dan sayang sedang bertempur di dalam pikirannya. Sungguh dirinya tak bisa melihat Lula menangis tapi apalah daya ego menguasai dirinya.
Lula menatap sendu punggung Arga yang semakin jauh dari pandangannya. Gadis itu kembali duduk disamping Kenneth yang sedari tadi diam saja. Isakan Lula benar-benar terdengar jelas, Kenneth memeluk Lula untuk menguatkan.
"Kalau dia sayang sama lo pasti marahnya cuma sebentar kok, habis itu lo harus kasih tahu ke dia kalau kita itu sepupuan," ucap Kennet sambil mengelus punggung Lula yang bergetar. Gadis itu menganggukkan kepalanya di pelukan Kenneth.
πππ
Arga berjalan dengan cepat menuju kelasnya, ia harus rileks tidak boleh terbawa emosi. Dhio dan Bayu yang melihat Arga masuk kelas pun bingung. Laki-laki itu duduk lalu menatap tembok yang ada di sampingnya. Emosi yang membara tidak bisa membuat Arga berpikir tenang.
Kring .. kring
Tanda bel masuk sudah berbunyi, semua para murid bergegas masuk ke kelasny masing-masing, termasuk Lula. Gadis itu sudah berada dikelas tepat lima menit sebelum bel. Oliv mengerutkan keningnya kala melihat wajah temannya ini sembab.
"Kenapa?" Lula menoleh ke arah Oliv. Kemarahan Arga masih terngiang di pikirannya, ia menggeleng pertanda tidak apa-apa.
"Muka lo sembab? lo habis nangis?" tanya Oliv kembali.
Mendengar pertanyaan yang kedua kalinya, air mata Lula tak bisa ditahan. Gadis itu menangkup wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar karena isakkan tangis yang ia tahan. Oliv mengusap bahu Lula untuk menenangkan.
"Arga marah sama gue, Liv. Dia tuduh gue selingkuh," isak Lula dalam tangisannya.
"Kok bisa?" Lula melepaskan tangkupan tangannya lalu melihat ke arah Oliv.
"Dia ngeliat gue sama Kenneth di taman belakang sekolah."
"Kenneth? guru baru itu? ngapain lo sama dia di sana?" Pertanyaan beruntut dari Oliv membuat Lula cemberut.
Oliv tercengang mendengar penuturan dari Lula. "Serius?" tanya Oliv untuk memastikan apa yang diucapkan oleh temannya ini.
Lula mengangguk. "Arga salah paham sama gue, dia kira gue sama Kenneth ada hubungan padahal tadi itu lagi ngobrol. Terus Arga datang langsung marah-marah sama gue," ujar Lula.
"Nanti lo harus jelasin ke Arga kalau Kenneth itu sepupu lo," Lula mengangguk mengerti. Tak lama guru pun masuk untuk memulai pelajaran.
πππ
Seorang laki-laki sedang berbicara dengan pelan di taman belakang sekolah seakan tidak ingin ada yang tahu.
"Aku udah tahu target kita siapa."
" ... "
"Penyerangan akan dilakukan di sana?"
" ... "
"Kenneth sama Lula akan pergi dalam waktu dekat ini mungkin lusa depan ,Kek."
" ... "
"Iya, Kek."
Telepon dimatikan secara sepihak oleh Kakek Lula. Kenneth harus mempersiapkan fisik untuk melakukan penyerangan esok. Ia harus bilang ke Lula tentang ini. Mungkin nanti saat di rumah saja, pikir Kenneth.
Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki menuju ruang guru.
πππ
Saat pelajaran sedang berlangsung tiba-tiba handphone Lula bergetar. Ia melihat dari tampilan layar nya.
Unknow Number
"Ke rooftop sekarang!"
Lula mengernyit mendapat pesan seperti itu. Ia ingin berbicara ke Oliv tetapi temannya itu sedang serius mencatat. Akhir ia meminta izin untuk keluar dari kelas dengan alasan ke toilet.
Sesampainya di sana Lula melihat seorang perempuan sedang melihat ke arah jalan yang ada di bawah. Gadis itu menghampiri perempuan yang menurutnya tidak asing.
Perempuan itu berbalik. Lula merasa sedang di permainkan. Perempuan yang menyuruhnya untuk menjauhi Arga. Lula berjalan dengan raut wajah yang datar berbeda dengan perempuan itu yang tersenyum sinis seolah merencanakan sesuatu. Perempuan itu adalah Aluna, seseorang yang sangat terobsesi oleh Arga. Menurut Lula.
"Jadi, lo yang nyuruh gue ke sini?" Lula bersedekap dada ketika bertanya.
"Menurut lo? gue cuma mau bilang jauhin Arga karena sebentar lagi gue bakal jadi pacar nya."
Ungkapan Aluna membuat Lula tertawa remeh. "Gue heran sama lo, punya wajah cantik tapi gak punya otak cantik seperti wajah lo itu. Seharusnya lo itu mikir, lo itu bermain sama siapa. Eh, otak lo kan gak ada. Jadi, gimana mau mikir?" sarkas Lula.
Wajah Aluna merah padam antara kesal dan emosi beradu satu. Aluna berbalik arah lalu berjalan ke pembatas rooftop itu. Lula yang melihatnya pun membelalakan mata. Ia langsung meraih tangan Aluna dengan cepat ketika ingin terjun tepat saat perempuan itu jatuh Lula sudah memegang tangannya.
"Tolong! tolong!"
"Pegang erat tangan gue." Aluna menuruti perintah dari Lula.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang ikut menarik tangan Aluna. Lula menolehnya ke samping, ia terkejut kala tahu siapa yang membantunya. Dia adalah kekasihnya.
Arga menarik tangan Aluna. Setelah Aluna terselamatkan, perempuan itu memeluk Arga sambil terisak. Hati Lula merasa teriris, ia mencoba menahan air matanya ketika melihat Arga mengelus kepala Aluna lalu menatap Lula dengan tajam.
"Dia tadi mau dorong aku, Ga. Dia gak mau kalau aku ada di dekat kamu," kata Aluna sambil terisak di pelukan Arga.
"Kok gue? tadi lo sendiri yang terjun. Jarak gue sama lo aja tadi jauh," ujar Lula tidak terima karena merasa di fitnah.
"Aku gak nyangka ya sama kamu tega-tega nya kamu perlakuin Aluna seperti itu. Apa salah dia? sampai kamu dorong Aluna. Huh, mana ada orang yang mau jatuhin diri sendiri. Cukup kamu sakitin aku aja jangan orang lain."
"Kamu salah paham, Ga. Aku gak selingkuh, dia itu .. "
"Cukup! aku gak mau dengar alasan apa pun dari kamu."
Lula menitikkan air matanya ketika mendengar ucapan dari kekasihnya ini. Harusnya Arga mendengar penjelasan dari Lula. Tanpa di sadari oleh keduanya, Aluna ternsenyum sinis.
Arga melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu bersama Aluna. Jujur melihat Lula menangis adalah kelemahan dirinya tapi apalah daya ego nya sudah berkuasa atas perasaan. Ia memilih untuk pergi dari sana karena tidak bisa melihat Lula menangis seperti itu, apalagi ia menangisi dirinya.
Lula menatap sendu punggung Arga. Awan semakin gelap karena sebentar lagi akan turun turun hujan. Perlahan rintikkan hujan mulai turun. Lula masih bertahan dengan posisinya. Sudah lama Lula tidak mengeluarkan air mata. Hujan menjadi saksi kalau dirinya sedang menangis.
πππ
To Be Continued
Hay hai, I'm come back setelah lama tidak update cerita ini. Sebagaiman antusias..
BEBERAPA PART LAGI AKAN TAMAT DAN SATU LAGI..CERITA INI AKAN DI BUKUKAN.. HOREEEEπ€π€
YANG PASTI PENULISAN NYA BAKAL LEBIH RAPI. WAIT TERUS YA..
JANGAN LUPA VOTE YESSS..
SALAM AUTHOR..