
"Membayangi pikiran tak bertuan..
yang tak mampu untuk menerjang..
hanya bisa berdiam diri..
dan menunggu saatnya pulang.."
πππ
Semilir angin malam menerpa wajah Lula yang sedang berada dibalkon kamarnya ditemani dengan secangkir susu coklat hangat dan buku diary nya.
Lula memandangi langit malam yang sangat indah dengan hadirnya bulan dan berjuta-juta bintang yang menghiasi malam ini, Lula menuliskan puisi di dalam buku diary nya itu.
Dear,
Hai malam...
Hari ini rindu tidak akan datang...
Terkadang aku ingin menjadi mentari...
Dikala semua orang sedang memuji senja..
Justru mentari lah yang berperan besar..
Namun apalah daya..
Mentari tak selalu dianggap kehadirannya...
Tetapi Mentari selalu memberi warna kehidupan..
Bulan...
Apakah bintang menyampaikan sesuatu?..
Tentang rindu ini?..
Kurasa dia sudah melupakannya..
Karena ada satu kehadiran yang sangat penting baginya..
Sehingga mengabaikan apa yang harus jadi prioritas
Lulaβ€
Lula pun menutup buku diary itu. Ia mengambil mug yang berisi susu coklat itu dan menyesapnya sedikit.
Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya untuk masuk kedalam kamarnya tak lupa ia juga membawa buku dan mug nya, lalu ia menaruh buku diary nya di nakas meja dan ia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menaruh mug itu.
Saat sudah berada didapur, Lula melihat abangnya sedang menggoreng sesuatu.
"Lagi ngapain bang?" tanya Lula yang sudah duduk dimeja pantry dekat dapur.
"Lagi goreng nugget, Lula mau?"
"Mauu, jangan lupa dikasih saus ya bang"
"Oke"
Keheningan keduanya tercipta tatkala Dehan tetao fokus menggoreng nuggetnya, dan tak lama makanannya pun sudah matang.
"Tadaa.. makanan sudah siap" ucap Dehan bagaikan chef sambil menaruh makanannya di meja pantry
Lula yang melihatnya pun langsung antusias, ia meletakkan mug nya diatas meja pantry dan mengambil makanan yang sudah ada dihadapannya.
"hufff.. huff panas" Lula meniup niupkan tangannya ketika ingin mengambil makanan yang baru saja diangkat dari wajan
Melihat adiknya seperti itu, Dehan hanya menggelengkan kepalanya dan mengambilkan garpu untuk Lula
Lula pun langsung menerima pemberian dari abangnya itu. Ia menusukkan nuggetnya dan memakannya secara perlahan karena masih panas.
Dehan mengambil air dingin dikulkas lalu dituangkan kegelas untuk diminum.
"Tugas sekolah udah dikerjain?" Lula mengerutkan keningnya seolah mengingat sesuatu, Lula menepuk jidatnya sendiri, ia menaruh garpu yang dipegangnya ke piring kemudian dia berlari keluar dari dapur untuk menuju kamarnya, namun baru setengah jalan ia memberhentikkan langkahnya kemudian berbalik menuju dapur
Dehan bingung kenapa adiknya malah balik lagi
Cuupp
"Selamat malam abang" ucap Lula ketika selesai mencium pipi kanan abang kesayangannya itu.
Dehan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lula seperti itu, karena jarang-jarang adiknya itu bersikap semanis kepadanya, hanya didalam rumah saja, kalau diluar rumah sikapnya benar-benar berubah drastis
Dehan pun membereskan bekas makan Lula sebelum beranjak pergi dari dapur, setelah semuanya sudah rapih, Dehan mematikan lampu dapurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
πππ
Kilauan cahaya matahari mengganggu kegiatan tidur seorang gadis yang masih terkukung dibawah selimut. Seorang laki-laki membuka tirai jendela untuk membangunkan adiknya itu
"enggghhhh" Lula mengerang karena tidurnya merasa terganggu, dia berbalik menghindari cahaya matahari
"Ayo bangun.. udah jam setengah tujuh" ucap Dehan. padahal sekarang masih jam enam lagi
Lula yang mendengar ucapan Dehan pun langsung membuka matanya
"Aaaaaa abang aku telat" panik Lula yang buru-buru berlari kekamar mandi.
Dehan pun tertawa melihat raut panik adiknya itu, ia pun pergi dari kamar Lula takut terkena amukannya karena sudah menjahilinya
πππ
Dilain tempat Seorang wanita paruh baya sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan keluarganya, semua anggota keluarganya sudah hadir ditempat makan kecuali anak sulungnya belum datang
Seorang remaja laki-laki yang berpakaian seragam putih abu baru saja datang ke ruang makan, ia adalahΒ anak sulung dari keluarga Allesandro
"Kamu udah ketemu sama Lula?" tanya wanita paruh baya itu kepada anaknya yang baru saja duduk diruang makan
"Udah bu, bahkan dia satu sekolah sama Arga" jawab anak itu yang tak lain adalah Arga, ia memangku dagunya dengan satu tangan lalu meratapi langit-langit ruang makan, Arga mengingat kembali pertemuan awalnya dengan Lula setelah lama tak bertemu
Yuppss, Wanita paruh baya itu adalah Risa,ibunya Arga, beliau hanya tersenyum melihat anaknya seperti mengingat masa lalu bersama teman kecilnya itu
"Kamu belum ngasih tau ke Lula?" tanya Risa ke anaknya itu sembari menarik kursinya untuk duduk
Arga hanya menghembuskan nafasnya kasar, pasalnya ia berfikir untuk memberitahukan tentang dirinya, tapi saat ini belum tepat. Ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan ibunya ini
"Kenapa? mungkin kalau Lula tau pasti dia senang" tanya Ayahnya Arga yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi Arga dan ibunya
"Bukan saat nya yah". Arga langsung memakan sarapannya, ia melirikkan mata ke arloji
"Arga berangkat" ucap Arga lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri ayah dan ibunya untuk salim
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Arga pergi kekamarnya kembali untuk mengambil jaket kulit hitamnya, setelah itu ia berangkat ke sekolah menggunakan motor sport merah.
Tak heran jika Arga masuk kedalam kategori primadona sekolah, karena ketampanan nya yang tak tertandingi, terue termasuk barisan pintar pula. pokoknya Arga itu ter ter deh
πππ
Diruang makan, suasana benar-benar hening dikarenkan sang periang sedang merajuk.
Dehan menahan tawanya ketika melihat adiknya sedang menatap tajam dirinya sambil mengerucutkan bibirnya
"Apa liat-liat!?"ketus Lula. Siapa yang tidak kesel kalau kita dibangunin dibohongin, bilangnya udah jam setengah tujuh padahal masih jam enam
Dehan sudah tidak bisa menahan tawa, seketika membludak.
"Hahahaha"
"Isshhh bundaaaa" rengek Lula untuk meminta perlindungan
"Dehan" peringatan Raina kepada anak sulungnya yang sedang menjahili adiknya itu
Lula menjulurkan lidahnya sebagai tanda kemenangan karena dapat pembelaan dari Raina
Radit hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya itu
Keheningan mulai tercipta, sampai terdengar Radit yang memecahkan suasananya
"Kapan kamu berangkat ke Dubai?" tanya Radit kepada anak sulungnya
Dehan pun memberhentikan kegiatan makannya. Ia hendak berfikir, sampai terdengar satu suara yang membuat dirinya panik
Uhuk Uhuk
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, seketika Lula tersedak, Dehan pun langsung menyodorkan air untuknya
"Abang mau pergi keDubai lagi?" tanya Lula. Sedih kalau kita hanya dipertemukan dengan waktu yang sebentar
"Iyaa, kenapa?Β takut rindu ya.. Cieee, kalo kata Dilan mah jangan rindu berat tapi.. masih berat-an Lula hahahah" Ledek Dehan.
Lula sudah geram dengan tingkah abangnya itu, dia langsung beringsut dari tempat duduknya untuk menghampiri abangnya itu, Dehan yang melihatnya pun langsung berlari
u
ntuk menghindari amukan dari adiknya itu
"Abanggg.. awas yaa". Lula mengejar Dehan, mereka berlarian mengelilingi meja makan. Sampai akhirnya...
Dugg..
πππ
Hai teman-teman I'm comeback...
Jangan Lupa like dna koment bila ada kritik dan sarannya