
Lihatlah dua manusia idiot ini. Mereka saling tatap satu dengan lainnya. Melupakan aku yang menjadi obyek pertengkaran mereka. Bahkan tak sedetikpun mereka memalingkan wajahnya dari mata lawan. Aku sama sekali tidak berharap tatapan membunuh itu berubah menjadi tatapan penuh cinta, siapa tahu dewa cupit salah membidikkan panahnya kemudian nyasar pada mereka berdua. Bulu kudukku meremang membayangkan mereka berdua bertatap mata dengan mata penuh cinta.
Melihat mereka berdua yang saling memandang selama sepuluh menit membuatku ragu,'Jangan-jangan mereka benar-benar jatuh cinta.'
Wajahku langsung memucat dengan pemikiran ku itu. Hanya ada satu cara untuk membuktikan kekhawatiran ku."
Normal POV.
Diam-diam Emerald menyusup dari pria dewasa yang mempunyai aura dominan ini. Mereka berdua begitu dipenuhi aura membunuh sehingga tidak sadar jika Emerald berada di belakang Mark. Sedetik kemudian.
"Kalian ini romantis sekali ya?" Ucap Emerald.
Dug
Cup...
"Oh!''
Edward dan Mark melonjak kaget ketika menyadari bibir mereka berdua saling menempel. Dan itu karena ulah nakal wanita pink yang mendorong Mark hingga bibirnya mencium bibir Edward.
"Apa yang kau lakukan idiot!" Teriak Edward geram.
"Ada yang mendorong ku!" Bela Mark.
Dia mengelap bibirnya dengan jijik. Mata oniks Edward dan mata saffir Mark menatap seseorang yang berada di belakang Mark. Tatapan tajam mereka membuat Emerald yang cengengesan tidak jelas.
"A..Aku hanya mengetes kalian... Kalian kan menatap satu dengan lainnya, mungkin saja tumbuh perasaan romantis pada kalian. Ku rasa kalian malu untuk memulai jadi aku bantu hehehe."
Emerald mundur perlahan-lahan. Dia panik karena dua manusia tampan nan hot ini maju menuju ke arahnya dengan wajah seolah ingin menelannya bulat-bulat. Lengan baju mereka di tekuk hingga memamerkan tangan kekar dan berotot. Emerald pasti hancur jika tangan itu salah bergerak. Tangan mereka berdua bergerak untuk menangkap dirinya. Sebelum itu terjadi.
"Kyaa!""
Emerald memutuskan lari dari dua pria tampan itu.
"Berhenti sweety, kau harus dihukum!"
"Aku ingin kau membersihkan bibirku yang ternoda pinky."
Emerald terus lari dari kedua orang itu. Dia berusaha melewati pengunjung club yang bergerak liar. Suasana remang-remang dengan efek lampu yang berkedip-kedip mempermudah proses pelariannya.
"Oh tidak ..."
Setelah lari berputar-putar Emerald sampai pada pintu. Ternyata pintu yang terlihat dari dalam club ternyata terhubung dengan ruang parkir. Tanpa pikir panjang, Emerald menuju ke arah mobil sport berwarna biru metalik. Dengan sedikit keahlian di bidang bobol-membobol apartemen teman-temannya ternyata Emerald mampu membuka pintu mobil itu dengan jepit rambutnya. Diapun meringkuk di dalam mobil dan berbunyi dari dua pria marah.
"Huft selamat..." Emerald menarik nafas panjang. Merasa tidak ada yang mengikuti, wanita itu memutuskan tidur sebentar.
Malam semakin larut, diapun tertidur di dalam mobil itu.
Edward dan Mark celingukan mencari keberadaan Emerald. Mark sungguh penasaran dengan wanita ini. Wanita yang hampir serupa dengan mantan tunangannya yang menikah dengan saingannya Leon.
Apalagi memiliki saingan seperti Edward Connor, itu akan sangat menyenangkan jika mampu mengalahkan pria dingin nan arogan itu.
"Aku ingin mencicipinya." Gumannya.
Edward yang berkeliling di club àkhirnya menyerah. Dia memutuskan untuk pulang dan memikirkan cara untuk menghukum sweetynya yang nakal.
"Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia membuatku berciuman dengan pisang itu." Gerutunya sebal. Edward dan Mark cukup terpukul dengan kejadian memalukan tadi.
Edward pun pulang ke rumah yang ia bangun dengan Cerry mantan istrinya yang ia percaya jika emerald adalah Cerry. Saat membuka pintu mobil, dia merasakan ada yang aneh di mobilnya. Tapi dia tidak ingin memeriksa sekarang, berterima kasih kepada ciuman laknat itu. Sebab ciuman itu mampu membuat moodnya drop drastis.
Sebelum turun dari mobilnya, Edward memeriksa keadaan mobilnya. Benar saja, ada kain yang menutupi sesuatu di belakang kursi. Edward melihat rambut pink menyembul dan gundukan seseorang berada di belakang kursi kemudi. Dia cukup tersentak melihat wanita yang membuatnya kesal ternyata tertidur di dalam mobilnya.
Perlahan Edward menurunkan Emerald menuju rumahnya. Pria itu meletakkan tubuh Emerald dengan hati-hati di ranjangnya. Ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan dirinya dan sang istrinya dulu.
"Kurasa aku harus menghukummu sekarang."
Edward mengambil gunting di laci. Bibirnya membentuk sebuah seringai tipis.
Kres
Kres
Baju yang dikenakan Emerald sudah tidak lagi berbentuk. Mereka berubah menjadi potongan kecil-kecil yang tidak mampu menutupi tubuh Emerald lagi. Edward dengan tenang mengambil potongan kain itu, melempar ke lantai satu-satu potongan baju Emerald.
"Dasar nakal, kau tidak memakai bra, eh?"
Dada Emerald yang sudah tumbuh besar terbebas dari bahan yang menutupinya. Itu terlihat bulat kenyal dan tampak cantik. Edward menjilat bibirnya dengan sedikit seringai.
"Ini terlihat lebih besar dari kemarin." Edward kembali berdiri menuju lemari. Ia mengambil borgol dilapisi beludru cantik di sana. Lalu kembali ke Emerald yang tertidur pulas seolah pingsan. Edward menyatukan kedua tangan wanita itu dan memborgolnya diatas kepala.
Di tengah tidur cantiknya, Emerald merasakan tangannya tertarik, dia juga merasakan dadanya tertarik juga. Edward tersenyum sambil terus mengamati dada Emerald yang terlihat lebih menantang saat kedua tangannya berada di atas.
"Ngh..."
Emerald langsung terbelalak melihat Edward berada di samping ranjang tempatnya tidur tidur.
'Kau tamat emey.' batin Emerald.
Dia tampak lebih menakjubkan dengan kimono tidurnya. Apalagi kimono itu tidak terikat. Emerald tersentak saat ujung jari Edward mulai membelai pipinya. Lalu jari telunjuk itu turun menyapu leher dan berakhir di puncak dadanya. Gerakan itu membakar Emerald dengan buruk. Dia merasa kepanasan ditengah udara dengan dingin karena pendingin udara.
"Dimana aku?" Emerald mencoba mengalihkan perhatian Edward dari telunjuk jarinya yang memainkan ** pink miliknya.
Edward hanya menyeringai lebar dan tak menanggapi pertanyaan Emerald.
Emerald menggerakkan tangannya untuk menepis tangan Edward. Baru ia sadari jika tangannya terborgol di atas kepala. Bahkan dia juga melihat putingnya mengeras karena tidak tertutup apapun di mainkan oleh Edward. Dia benar-benar baru tersadar karena baru bangun tidur dan masih mengantuk.
"Daddy, lepaskan tanganku." Rajuk Emerald.
"...."
"Sudah ku bilang kita terikat. Dimanapun kau lari dan sejauh apapun kau menghindar. Kau akan selalu kembali padaku."
Emerald terdiam.
"Karena kau begitu nakal malam ini, kau harus menerima hukuman mu. Sweety."
Glek
Edward tanpa pemanasan apapun memasukkan juniornya ke inti Emerald.
"Kyaa daddy, ini masih sakit oh oh."
Tubuhnya terguncang hebat karena Edward melakukan dengan kasar.
Emerald merasa tersiksa karena tangannya terikat jadi dia memegang borgol itu kuat-kuat.
"Kenapa kau membiarkan Mark menyentuhmu."
"Akh Daddy sakit... Hentikan...a"
"Hukuman mu harus lebih berat dari ini sweety."
Tubuh berkeringat membuat otot-otot Edward terlihat jelas. Meskipun kesakitan, Emerald mengagumi pria yang seperti menunggangi kuda ini. Bahkan rasanya dia tidak keberatan dengan sedikit rasa sakit di sela rasa nikmat ini.
"Daddy aku mau keluar..."
"Kau menyukainya sweety...?"
Emerald tidak menjawab, wajahnya semakin merona hebat karena pertanyaan Edward.
"Akh daddy don't stop!"
Emerald berteriak kesal karena Edward menghentikan kegiatannya. "Jawab pertanyaan ku sweety?"
Emerald Benar-benar sebal, dia tidak lagi ingin melanjutkan ini. Dengan marah Emerald memalingkan wajahnya dan enggan melihat Edward.
"Sweety, jawab pertanyaan ku?!" Edward sedikit berteriak pada Emerald.
"Lepaskan aku, ini tidak menyenangkan. Aku tidak menyukainya." Emerald dengan kesal menjawab pertanyaan Edward.
"Baiklah, bagaimana jika ini?"
"Hpmh!" Sasuke tiba-tiba **** ** Emerald. Memainkannya dengan lidahnya yang basah.
"Ng..."
Sementara tangan yang satu mengangkat pantat Emerald dan meremasnya dengan lembut lalu kasar.
Emerald benar-benar tersiksa dengan serangan Edward ini. Mau tidak mau gairahnya kembali bergejolak.
Kini Emerald bergerak gelisah. Matanya memandang dengan tatapan memohon pada Edward. Dan pria itu langsung tau apa yang diinginkan oleh Emerald.
"Apa yang kau inginkan sweety?"
"A..Aku ingin Daddy."
"Seberapa banyak kau menginginkan Daddy?"
"Sangat besar, please Daddy... Drive me crazy."
Ucapan itu membuka mereka terbakar gairah yang tidak bisa dimatikan lagi. Emerald terus menjerit sedangkan Edward masih melampiaskan kemarahannya pada Emerald.
Lama mereka merajut percintaan panasnya. Mendorong semua tenaga keluar tak bersisa. Meninggalkan Emerald yang tertidur karena kelelahan. Edward telah selesai dengan hasrat dan juga amarahnya. Matanya memandang brangkas anti pencuri yang tersembunyi dari balik lukisan besar. Setelah menutup kembali brangkas itu, Sebuah serum berada di tangannya. Perlahan dia mendekati Emerald yang tertidur. Dengan cepat Edward menancapkan serum itu pada leher Emerald dan menyuntikkan serum itu.
Malam itu ditengah tidurnya, Emerald terasa menjalani suatu kehidupan kembali. Segala memory yang tiba-tiba berseliweran di otaknya. Itu terasa begitu nyata dan ia mengalaminya sendiri. Keringat bermunculan di kening Emerald.
Edward memandang serius wanita yang tertidur itu. Dia tau jika serum itu telah mulai menunjukkan reaksinya. Philips pernah mengatakan hal itu sebelumnya.
"Besok kau akan mendapatkan sebagian ingatanmu yang hilang sweety. Sayangnya masih ada tiga botol serum lagi yang harus kau terima."
TBC