Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
That Suck



Tertangkap basah dengan definisi benar - benar ketahuan membuat ku -- malu.


Ck, padahal aku hanya ingin melihat keributan besar ala sinetron dorama yang bisa membuat ku terhanyut dalam kisah mereka. Ternyata aku harus menelan pil pahit kekecawaan karena drama itu berakhir dengan singkat.


Lalu apa, pembicaraan yang ia utarakan menimbulkan ide untuk menutup mulutnya dengan plester.


'Pergi saja ke neraka sir, meriahkan tempat itu dengan uangmu. Mungkin saja Hades dengan senang hati menyediakan pedicure dengan tanduknya' umpatku dalam hati.


Bagaimana tidak kesal, si Cony-lovely ini menyuruhku untuk tinggal dengannya di apartemen miliknya. Berdua tanpa ada seorangpun. Oh kurasa dia telah menganggap ku jalang setelah mendapatkan keperawanan ku. Dan aku tidak perlu menunggu lama untuk menyesali kegiatan panas kami tadi. Tak perlu menunggu melihat dia berguling-guling panas di ranjang untuk menyesali betapa penasarannya aku melihat kontraksi bokongnya ketika mendorong bagian tubuhnya padaku.


"Dengar nona keras kepala, hanya dengan tinggal bersamaku kau akan mendapatkan ingatanmu."


Mengapa orang ini selalu bilang aku hilang ingatan. Fantasinya terlalu tinggi, apa mungkin dia ternyata penggemar salah satu dorama yang tayang di televisi dan ingin mempraktekkan dalam dunia nyata sekarang?


Okey itu menakutkan, jika dia ternyata memiliki sesuatu yang bermasalah pada jiwanya maka aku akan menjauh. Jika perlu menghilang atau mengungsi di bulan. Katakan itu berlebihan namun jika kau tau kekuatan uang maka kau pasti mengerti jika tidak ada tempat di bumi ini untukku sembunyi. Bahkan jika itu dilubang buaya.


"Anda bukan dokter bagaimana mungkin bisa menjamin saya bisa mendapatkan ingatanku kembali Sir?"


Aku ingin melihat bagaimana Cony-lovely ini membujukku untuk tinggal bersamanya. Dengan uang, seks atau saham yang mampu memunculkan jutaan dolar dalam sehari.


"Kau tidak boleh membantah ku sweety!"


Ho, Jadi dia mulai dengan kekerasan rupanya. Baik, kita lihat sekasar apa dia nantinya. Oh aku semakin ingin menendang pantatnya. Atau memotong itu agar menghilangkan rasa penyesalanku. Hm jiwa maso ku kumat.


Oh Tumben sekali otakku bisa berpikir lurus ketika berada di bawah pesona Cony-lovely ini. Biasanya tak henti-hentinya mereka memuji keseksian tubuhnya. Terlebih tangan-tangan ini berhasil meraba-raba tubuhnya. Aku hampir takut kehilangan pengendalian diri dan berakhir dengan terus menghisap sesuatu yang besar, panjang dan berotot itu.


Stop aku mulai absurb lagi.


"Percayalah padaku." Ucapnya penuh permohonan.


Mana mata kucingnya? Padahal aku menunggu dia mengeluarkan puppy eyes. Tapi aku sadar jika Connor tidak akan melakukan hal memalukan itu. Jikapun bisa maka akan tercatat dalam sejarah keturunan-nya.


"Saya harus percaya dengan orang asing? Maaf sir, mungkin dari seribu orang hanya satu yang mau. Dan saya bukan orang yang satu itu."


"Mengapa kau tidak mau mengerti, apakah aku harus memaksamu untuk itu."


"Karena kita orang asing sir. Dan tolonglah, anda membuat saya tidak nyaman."


Brak


Entah kapan aku tiba-tiba sudah berada di atas sofa dengan kedua tangan kokoh yang mengurungku. Bisa ku rasakan nafasnya memburu, oh aku benar-benar membuatnya marah. Tapi wanita mana yang mau tinggal bersama seorang pria dengan lima belas tahun lebih tua. Walau pun dia sangat... Cukup jangan membuat ku memujinya lagi.


"Sir... Ini tidak bagus untuk profesionalisme kerja kita."


Tapi dia tidak memperdulikan ucapan ku.


"Berhentilah bilang aku orang asing sweety... Kau tidak tau betapa dekatnya kita."


Mata hitam itu menatap ku tajam. Namun ada pancaran kerinduan yang luar biasa dari kedua mata indah itu.


"Aku yakin kau mengenali sentuhan ku. Caraku berbicara dan juga semua tentang diriku."


"...."


Memang benar, aku memang serasa pernah melihat, merasakan bahkan berinteraksi dengan dirinya. Meskipun mustahil. Tapi tubuhku sangat tau tentang orang diatasku ini. Mereka bereaksi dengan cepat ketika aku melihatnya. Ada aliran adrenalin yang deras sehingga membuat diriku tak sadar selalu tersenyum dan gembira ketika melihatnya. Bahkan dadaku terasa nyaman jika menatap matanya. Namun itu semua tidak masuk akal.


"Aku tidak yakin... Ini membingungkan."


"Tidak akan membingungkan jika kau mau tinggal bersama ku sweety."


" ..."


"Beri aku kesempatan untuk membuktikan kebenaran ucapan ku."


'Ada apa ini sebenarnya!?' teriak pikiranku frustrasi. Aku masih waras tapi kenapa tubuhku memberontak tak terkendali. Bahkan air mataku mengalir. Sungguh aku benar-benar tidak jatuh cinta pada orang ini.


"Jangan menangis sweety, aku mengerti siksaan yang kau terima saat ini. Philips pernah memberi tahu efeknya padaku."


Tangannya mengusap lembut pipimu. Kini dia membalikkan badannya dan membuatku duduk di pangkuan Mr Cony-lovely seperti anak kecil yang duduk di pangkuan ayahnya.


"Philips... ?"


"Dia kakekmu, Ken."


Mata ku membulat, aku tidak percaya jika kakekku adalah Philips yang telah membuatnya bersumpah untuk mencincang tubuhnya.


"Tapi dia bukan...."


"Dia merubah namanya menjadi Ken. Bersama dengan Heidi atau kau mengenal dengan nama Nany Hedy."


"Mereka berdua adalah profesor ilmiah di laboratorium milikku."


Aku menegang di atas pangkuan Mr Cony-lovely. Bagaimana mungkin dia tau nama mereka semua. Dan profesor? Apakah kakek Ken adalah ilmuwan?


"Dengar sweety, hanya dengan mengembalikan ingatan mu saja yang mampu membuat semua keadaan baik baik saja."


"Tapi sekarang saya baik-baik saja-." Aku hendak membantah.


"Tidak jika kau mengetahui kebenaran tentang dirimu."


Akhirnya aku harus memikirkan semua hal yang terjadi. Aku memang tidak memiliki ingatan apapun saat ini kecuali kuliah. Kakek Ken bilang aku terjatuh dari kuda di peternakan kami.


Hanya saja kenapa aku tidak melihat satu kebohongan di mata Mr Cony-lovely.


"Bolehkah saya memikirkan terlebih dahulu sir."


Akhirnya senyum mengembang di bibirnya yang seksi.


"Tentu sweety, just call me daddy now."


"Apa?" Hei apakah kami akan bermain sugar daddy?


"Hn."


"Tapi aku belum bilang iya."


"Pasti dan segera kau akan bilang iya."


"Tidak."


"Cobalah, sebut aku Dady."


"Jangan bercanda!" Teriakku galak.


"Aku tau hatimu sangat menginginkan mengucapkan kata itu."


Sial, bagaimana dia tau? Hatiku memang menjerit kesakitan ingin memanggil namanya Dady.


"Kau tidak akan menyesal sweety, panggil aku Dady."


"Da... Daddy."


Ya Tuhan, perasaan aneh apa yang baru saja ku alami. Seolah ada letusan kembang api di dadaku. Mereka sangat senang, bahkan wajahku memerah karena senang. Lalu aku mengalihkan pandanganku pada Mr Cony-lovely. Dia menarik senyum lembut dan mencium bibirku dengan ciuman panjang.


TBC