
Hohoho
Semua berjalan sesuai dengan yang aku perkirakan. Rahang Edward itu mengeras karena cemburu saat aku tiba dengan merah cute ini membuatku hampil klimaks karena rasa puas membalasnya. Aku yakin dia bisa melihat kedatanganku dari restoran yang dibatasi kaca bening. Ingin sekali aku menciptakan posisi ambigu sehingga kepala Edward mengeluarkan asap.
Turun dari mobil, tuan Gerald dengan cepat membukakan pintu mobil, dia bahkan tidak mengijinkan sopir membukakan pintu mobil untukku. Lalu bertindak gentleman dengan mengulurkan tangannya untuk membantuku turun. Hal yang tidak pernah dilakukan teman-teman ku. Aku berusaha melentikkan jari tanganku dalam membalas uluran tangannya. Sok menjadi princess sehari hanya untuk membalas Connor playboy mesum itu.
Hahaha aku puas, persiapkan Oscar untukku. Barangkali aku akan mengikuti casting agar bisa menjadi artis di Hollywood. Aku rasa aktingku saat ini cukup bagus jika hanya untuk membalas tuan Connor mesum.
"Aku tak menyangka dalam balutan kemeja resmi, kau tampak luar biasa di restoran ini." Tuan Gerald memujiku. Sudahlah tidak perlu menyanjungku seperti itu. Aku tau aku luar biasa. Terutama dengan dada baruku yang cukup besar.
"Terima kasih." Aku tersenyum manis, dan lihat pemandangan manis ini. Wajahnya memerah. Oh Tuhan, aku tidak menyangka jika senyumku cukup manis hingga membuat tuan merah cute ini merona. Dalam sekejap kepercayaan diriku melambung hingga awan. Ku harap ayam mesum itu tidak membanting ku ke tanah.
Kami sampai di meja yang ayam mesum itu pesan. Matanya dengan tajam masih menatapku. Bisa kulihat ribuan emosi yang memancar dari mata oniks itu.
'Melihat orang seperti mau membunuh, mau ku colok ya tuh mata?' batinku kesal.
"Tuan Connor, ini tuan Gerald. Beliau perwakilan dari Nara inc." Aku berusaha sesopan mungkin memperkenalkan tuan Gerald dengan pria sensitif dan pemarah ini.
Jika kau berharap aku marah dan mataku berkaca-kaca saat melihatnya makan siang romantis di restoran mahal ini maka impianmu terlalu muluk pak tua.
Tuan Gerald mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Begitu pula tuan pria pemarah ini.
Mereka saling memperkenalkan diri dan memulai perbincangan.
Di sini yang terlihat seperti patung hidup yang tidak berguna adalah Miss pirang pucat. Dia bahkan bingung dengan situasi seperti ini.
'Oh tentu saja, sebab dalam pikiranmu hanya kejantanan Connor yang menusukmu dengan keras. Jadi topik seperti ini__otakmu tidak akan mampu mencerna.' Lagi-lagi benakku berkata dengan kejamnya.
Aku menikmati pemandangan restoran ini sebentar. Lalu masukkan note book yang selalu aku bawa untuk mencatat pembicaraan penting bosku.
Akhirnya aku bisa istirahat, bibir seksi dua pria tampan ini tidak henti bicara membuat tanganku kebas karena harus mencatat pembicaraan mereka.
Kulihat mereka sedang menikmati makan siang dan aku juga ikut menemani mereka makan. Tak lama aku merasakan tatapan intens dari pria yang duduk di sebelahku.
"Ada yang salah tuan Gerald?" Mataku berkedip karena tidak tau kesalahan ku.
Tuan Gerald tidak menjawab, sebaliknya dia tersenyum tipis lalu menjulurkan tangannya menyeka ujung bibirku. Rupanya ada makanan tertinggal di sana.
"Terima kasih." Lagi-lagi aku harus berterima kasih pada sikap tuan Gerald. Wajahku memanas karena malu.
'Uhhh takut? Go the hell, itu tidak mempan padaku Connor. Meskipun kau mengintimidasi diriku aku tidak takut sedikitpun. Kau bukan kekasihku, kau hanya bosku. Tidak lebih.' Aku berbicara dalam hati karena merasa jengah dengan tatapan matanya yang terus-terusan mengirim sinyal jelek.
'Memangnya dia lupa jika ada pirang di sebelahnya. Apa dia menganggap wanita itu hanya karung padi yang tidak perlu di pedulikan?' Aku semakin kesal dengan sikapnya yang seenaknya itu.
Walaupun aku membenci wanita itu tidak bukan membenci tapi tidak menyukainya, tapi dia tidak berhak diperlakukan seperti ini. Bagaimanapun pria bossy ini yang mengajaknya seharusnya dia menghargai seorang wanita, jangan menjadikan wanita itu sampah dan memberinya harapan. Tidak seorang wanitapun yang berhak diperlakukan seperti itu oleh bajingan.
"Sebaiknya kita membicarakan ini dengan para pemegang saham yang lain, aku akan kembali esok hari." Mereka berdua mengganguk. Aku merasa lega karena bisa pergi dan menghindari mereka berdua.
Tuan Gerald agak ingin bergurau dengan ku. Dia menawarkan diri agar aku melingkarkan tangan ke lengannya.
"Hihihi ... baiklah." Aku melingkarkan tanganku dan kamipun meninggalkan tempat ini.
Normal POV.
Semua berantakan, niat Edward untuk membuat Emerald atau Cerry cemburu malah menjadi senjata makan tuan. Edward yang melihat seorang pria berambut coklat kemerahan mengulurkan tangannya untuk membantu Emerald turun dari mobil membuatnya kesal setengah mati. Apalagi rona merah yang melintas di pipi pria merah itu. Jika Edward ingat kembali, dia pernah bertemu dengan pria merah itu. Yah benar, saat itu dia hampir menghajar pria ini karena mentraktir Cerry yang masih SMU dengan es krim.
'Kenapa harus bertemu dengan pria ini lagi?' Batin Edward kesal.
Sarah berusaha menarik perhatian Edward tapi malah mendapatkan delikan mata tajam Edward. Akibatnya wanita itupun menciut dan hanya diam disepanjang percakapan Gerald dan Edward. Sekilas Sarah melihat tatapan simpati dari Emerald. Sarah membeku, dia sangat ingat dengan tatapan mata penuh kasih ini.
Dulu jika dia dapat masalah dengan keluarga atau orang-orang disekitarnya, Cerry selalu menghibur dirinya dengan sorot mata seperti ini. Hati Sarah bagai dihantam palu besar, ia mencengkeram erat roknya di bawah meja. Hatinya merasa bersalah karena mengkhianati kepercayaan Cerry yaitu menaruh perasaan terlarang pada suaminya.
Edward akhirnya mengakhiri perbincangannya dengan Gerald. Patut dia akui jika pria merah ini cukup cerdas. Merekapun makan dengan santai hingga Gerald melakukan sesuatu yang membuat ingin membunuh Gerald saat itu juga.
'Beraninya merah itu menyentuh bibir Emerald.' Batin Edward kesal.
Edward melototi Emerald yang merona. Dan yang membuat dirinya semakin kesal adalah Emerald tidak mengacuhkan pelototan matanya. Bahkan saat Gerald menawarkan untuk mengandeng tangan Emerald, wanita itu tidak menolaknya.
Sarah yang melihat sikap dan kekesalan Edward hanya bisa mendesah. Rupanya dia harus menyerah daripada terus menerus sakit hati .
"Kita pulang?" Tanya Sarah.
"Kau akan diantarkan sopir, aku ada urusan." Jawab Edward.
Sarah tidak membantah. Dia keluar restoran dan menuju mobil yang dipesan oleh Edward. Ini lebih baik dari pada Sarah ditinggalkan Edward di restoran seperti orang bodoh.
TBC