Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Happiness.



Beberapa tahun yang lalu, kegiatan menunggu Cerry bangun tidur adalah salah satu kegiatan favorit Edward. Hidup terasa sempurna dengan kebiasaan membuatkan secangkir kopi dan teh untuk dinikmati pagi hari. Terlepas dari bayangan masa lalu, mereka bagaikan hidup dalam sebuah dongeng, dimana hanya ada kebahagiaan dan cinta yang besar.


Tawa dan senyum tak pernah lepas dari bibir mungil Edward. Selalu saja istrinya itu mempunyai sesuatu yang bisa menghidupkan suasana, hal yang tak mungkin dia dapat dari wanita manapun. Hanya Cerry yang mampu membuat Edward merasa lebih hidup dan menjadi pria normal disaat julukan Terminator melekat padanya karena tangan dingin dan kekejamannya di dunia bisnis.


Apalagi yang ia inginkan di dunia ini? semua kebahagiaannya telah lengkap tinggal menunggu pewaris yang melengkapi indahnya hidup mereka.


Mata biru gelapnya tidak akan bosan mengamati wajah Cerry yang telah berubah menjadi lebih dewasa semenjak kepindahan mereka empat tahun yang lalu dari tempat kelahirannya. Jejak lemak bayi yang membuat pipi Cerry menjadi chuby sudah tidak terlihat lagi. Wajah Cerry membentuk pesona wanita dewasa dengan tulang pipi yang tinggi berwajah tirus.


Edward diam-diam membayangkan beberapa puluh tahun lagi. Ketika mereka berdua akan menua dengan rambut putih dikelilingi cucu mereka yang lucu. Dia tidak bisa menahan gelombang kebahagiaannya dan langsung memeluk Cerry yang belum bangun.


"Ngh..."


Edward melepaskan pelukannya, suara erangan Cerry membuatnya bersemangat mencari benda kesukaannya.


Borgol berlapis beludru.


Akhirnya mata hijau itu terbuka. Cerry berniat mengucek matanya agar bisa melihat lebih jelas. Tapi,


Clek clek


"Edward.... Jangan borgol aku lagi!"


Cerry cemberut dengan bibir yang dimanyunkan.


"Sampai kapan kau terus melakukan kebiasaanmu ini Edward?"


"Sampai rambutku memutih."


"Apa kau tetap tampan jika rambutmu putih?"


"Seratus persen yakin, gen-ku cukup bagus. tak perduli berapapun umurku, aku pasti tetep tampan."


"Daddy mmm Edward. Panggilan apa yang ingin kau dengar saat rambutmu putih?"


Edward menyeringai lebar." Yang pasti disaat aku memakanmu, kau harus menyebutku Daddy."


"Baiklah, sekarang lepaskan borgol ini."


"Tidak, karena aku ingin memakanmu sekarang. Sebut aku Dady, sweety."


"...!""


.


.


.


Edward berdiri di balkon rumah yang ia bangun bersama Cerry. Tubuhnya lelah karena pekerjaan yang menumpuk. Lebih dari itu, Edward mengkhawatirkan kondisi Cerry yang sepertinya kelelahan.


Ketika mendengar Cerry pingsan, Edward langsung meninggalkan kantor dan menuju ke rumah sakit. Tanpa diduga, Edward mendapatkan kabar yang mampu meruntuhkan kebahagiaannya selama ini.


Seumur hidupnya, baru kali ini dia menangis karena penyakit Cerry yang terlambat diketahui. 


Kanker otak stadium lanjut...


Cerry terdiam melihat punggung Edward yang rapuh. Pria itu memilih berdiri di balkon untuk menenangkan diri dan pikirannya. Cerry tau jika Edwsrd sedang berpikir keras agar dirinya sembuh.


Wanita itu menyesali tindakan bodohnya yang mengabaikan pusing yang sering menyerangnya beberapa tahun ini. Akibatnya saat dia merangkai bunga siang ini tubuhnya limbung dan jatuh. Pusing yang luar biasa tidak mampu ia tahan lagi. Naasnya ternyata kondisinya saat itu tengah hamil. Ini membuat Edward dan dirinya mendapatkan dua berita buruk sekaligus.


Keguguran dan kanker otak...


Andai saja ada sahabatnya di sini Cerry bisa berbagi keluh kesah pada sahabatnya.


Cerry merindukan mereka berdua, terakhir kali mereka bertemu ialah saat Cerry dan Edward mengikatkan diri mereka pada tali pernikahan. Tampak sahabat Cerry yaitu Sarah dan Inoe menghadiri acara penting yang digelar Edward dan Cerry. Bahkan profesor Cerry di Harvard university turut hadir dalam acara pernikahan itu.


Entah bagaimana caranya bunga-bunga itu bisa terus berjatuhan dari langit. Semua yang hadir yakni jika Connor menggelontorkan dana fantastis untuk pesta pernikahan ini.


Cerry berbalut gaun pengantin berwarna putih itu bak Cinderella yang tengah menikah. Edward yang biasanya jarang tersenyum saat itu terus menyunggingkan senyum tipis.


Samar-samar Cerry mengingat suara berisik Inoe dan Sarah.


"Selamat Cerry!" Inoe berteriak keras di resepsi pernikahan. Gadis itu memang selalu hiperaktif.


"Aku tidak menyangka jika kau akan menikah lebih dahulu dari kami." Sarah memegang satu tangannya.


"Cepatlah menyusul, aq juga akan terbang ke Boston jika kalian menikah." Ucap Cerry saat itu sambil tersenyum tanpa henti.


Sepertinya takdir menentukan lain. Penyakitnya saat ini tidak memungkinkan dia untuk bepergian dan harus menjalani perawatan kesehatan.


Selain merindukan teman-temannya, Cerry menerawang membayangkan kembali ibu dan ayahnya.


'Jika aku tiada, apakah nantinya kami berkumpul bersama?'


'Tapi bagaimana dengan Daddy, apa yang akan terjadi padanya?'


Grep


Cerry sedikit tersentak karena Edward tiba-tiba memeluknya dari belakang. Karena melamun dia tidak menyadari langkah Edward yang mendekat.


"Aku sudah menghubungi profesor Philips. Dia ilmuwan yang jenius aku yakin dia mampu menyembuhkan dirimu."


Edward tersenyum lembut, suaminya ini begitu mencintainya hingga mengucapkan kata-kata yang mustahil. Karena tidak ingin membuat Edward cemas, Cerry mengangguk dan bersikap seolah mempercayai ucapan Edward.


"Daddy... Berjanjilah kau akan terus kuat, bahagia dan hidup jika aku tidak ada. Dan aku yakin Philips bisa menyembuhkan ku."


"Pasti..." Jawab Edward.


.


.


.


Keesokan harinya, Edward menuju laboratorium milik Philips. Dia adalah ilmuwan yang jenius tapi sedikit gila. Obsesinya pada penelitian makhluk hidup membuatnya mendirikan laboratorium dibawah tanah. Dengan dana dari dunia hitam, Philips mampu membuat berbagai senjata kimia maupun senjata biologis pada pemesan jasanya.


Edward segera mendatangi laboratorium itu didampingi oleh Sean. Pria berambut perak panjang itu adalah murid kesayangan Philips yang bekerja di salah satu laboratorium penelitian milik Connor.


"Hoo Tuan Connor, sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."


"Aku tidak ingin basa-basi di sini. Bisakah kau menyembuhkan penyakit istriku? kurasa Sean sudah menceritakan tentang penyakit istriku."


"Profesor, tolong jangan mengecewakan tuan Connor." Sean menunduk agak memohon pada Philips. Melihat muridnya memohon untuk Connor, Philips menjilat bibirnya. Seringai mengerikan terbentuk di bibirnya yang tipis dan lebar.


Edward memberi wajah dingin dan datar pada Philips.


"Jadi pertemuan ini tidak berguna?"


Philips menggeleng.


"Hehehe bukannya tidak berguna tapi ada solusi lain untuk masalah anda."


Sean yang dari tadi putus asa langsung berwajah senang. Begitu pula Edward hanya wajahnya yang tidak berubah karena emosi yang muncul di dadanya.


"Tapi aku tidak yakin anda akan menyetujui saranku."


"Katakan..."


"Kita bisa memberikan tubuh baru pada nyonya Cerry. Biarkan tubuh nyonya Cerry sekarang mati, tapi segala ingatan seumur hidupnya kita pindah di sebuah serum. Tubuh baru itu akan aku ciptakan dengan rekayasa genetika."


Edward dan Sean terkejut dengan saran Philips.


"Maksud anda kloning?" Pekik Sean.


"Benar, memory dalam kloning itu akan kosong seperti bayi yang baru lahir, mungkin bisa dianggap kita melahirkan Cerry yang baru. Tapi masa pertumbuhannya sangat cepat. Dalam waktu satu tahun bayi itu akan tumbuh seperti gadis remaja."


Edward mengernyit dengan penjelasan yang mengerikan dari Philips.


"Tapi otaknya juga kosong, tanpa disuntik serum dia akan cepat beradaptasi hingga dia memiliki memory sendiri seperti orang hilang ingatan. Karena itu serum itu harus disuntikkan pada tubuh kloning itu sebanyak tiga kali agar tidak membebani otaknya. Dan boom, Cerry bertubuh baru akan lahir." Jawab Philips.


"Bahkan nyonya Cerry akan terkejut dengan tubuh barunya. Sebab dia seolah hanya tidur sebentar dan bangun dalam keadaan yang sama. Tidak ada yang berbeda sama sekali."


Philips dengan bangga menjelaskan teorinya. Sean semakin kagum dengan gurunya ini. Dia menatap Edward agar mau menjalankan saran dari Philips.


"Jadi kau ingin aku membiarkan Cerry mati!" Suara Edward meninggi.


Philips tersenyum sinis.


"Bagaimanapun tidak ada cara untuk menyembuhkan nyonya."


Sean berpikir sejenak, tapi dia mengetahui kondisi dan kemampuan Philips. Pasti gurunya itu mampu mengkloning makhluk hidup sama persis dengan aslinya. Bahkan tingkat kecerdasan dan kesehatannya melebihi yang asli.


"Tuan Edward, tolong anda pikirkan. Tidak ada harapan lagi untuk Nyonya Cerry. Jika anda menolak saran tuan Philips, maka nyonya Cerry akan benar-benar tiada. Setidaknya anggap saja anda memberi tubuh baru pada jiwa nyonya Cerry."


Edward terdiam. Dia tidak yakin dengan saran dari Philips dan Sean. Tapi ucapan Sean cukup masuk akal. Dia tidak ingin hidup tanpa ada Cerry disisinya.


"Akan aku pikirkan."


Philips menyeringai, dia yakin Edward akan datang padanya tidak lama lagi.


"Kapanpun anda siap, aku selalu berada di sini tuan Edward."


Sean dan Edward kembali ke rumah sakit. Sejak tadi pagi Cerry dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang semakin menurun. Diam-diam Sean mengambil sempel darah Cerry.  Lalu membawanya pada Philips. Melihat wajah pucat dan bibit pucat Cerry, Sean yakin jika umur wanita itu tidak akan lama lagi.


"Bagaimana perasaan mu?"


Cerry terbangun sebentar lalu tersenyum.


"Agak buruk."


"Cerry..." Edward mencium tangan Cerry yang tidak diinfus. Hatinya kebas melihat tubuh Cerry yang lemah dan berwajah pucat.


"Aku tau kau sedih, pasti Philips tidak mampu menyembuhkan penyakit inikan?"


Edward menggeleng, dia awalnya ragu untuk mengatakan ini. Tapi semua keputusan ada di tangan Cerry. Seandainya Cerry menolak, dia akan mengikuti Cerry kemanapun ia pergi walaupun di alam kematian.


"Dia tidak bisa menyembuhkan mu, tapi dia bisa memberimu tubuh baru."


"Apa maksudmu Edward?" Cerry agak bingung dengan ucapan Edward.


"Dia ingin memberikan tubuh baru padamu."


"...?" Mata Cerry berkedip karena semakin bingung.


"Kloning, dia ingin mengklon dirimu dan memasukkan segala memorymu ditubuh baru itu. Ini sama dengan kau lahir kembali dengan ingatan yang sama dan tubuh yang berbeda."


Cerry diam-diam memikirkan ucapan Edward. Mendapatkan tubuh baru, apakah dia bermimpi?. Ini sungguh luar biasa.


"Apa kau yakin jika jiwaku akan bersemayam di tubuh baru itu?"


Edward mengangguk." Itu luar biasa Edward. Cepat selesaikan prosesnya."


"Kau tidak keberatan?"


"Tentu tidak, ini sama seperti aku terlahir kembali kan?"


"Hn."


"Berjanjilah padaku kau akan menerima tubuh baruku. Jika ternyata tubuh baruku melupakan kenangan kita, kau harus memperjuangkan dirinya."


Cerry merasa jika hal yang mustahil itu mendapatkan hambatan dan membuat memorynya tidak lagi ada di dunia ini, akan ada harapan baru yang membuat Cerry tetap bertahan hidup. Sebab dia merasa tubuhnya tidak sanggup lagi bertahan.


.


.


.


Pemakaman itu berlangsung setelah tiga bulan pembicaraan mereka. Segala prosedur dilakukan oleh Philips dibantu dengan Sean dan Nancy. Edward yang bersedih tetap berjuang agar kuat.


"Cerry hanya tidur, belum saatnya dia bangun." Ucap Edward pada dirinya sendiri.


Edward terus mengawasi proses pertumbuhan klon itu. Dari dia bayi hingga berusia delapan belas tahun. Rambut pink itu, kulit putihnya, hidung dan jidad lebarnya. Semua benar-benar mirip dengan Cerry.


"Tentu saja mirip, itu memang Cerry."


Sayangnya Philips mengkhianati dirinya. Dia ternyata melihat tubuh klon itu sebagai keturunannya. Bahkan Philips menyayangi klon itu melebihi segala obsesi dan kesenangannya dulu untuk menciptakan sesuatu.


Akhirnya dia membawa kabur klon yang ia beri nama Emerald. Dia meledakkan laboratorium miliknya dan lari bersama dengan Nancy. Bagaimanapun Nancy dan Philips adalah manusia biasa. Mereka ingin merasakan kehidupan keluarga yang normal. Merekapun membesarkan Emerald seolah cucunya sendiri.


Tentu saja Edward sangat marah dengan pengkhianatan Philips. Selama dua tahun dia menyebarkan anak buahnya untuk menemukan Philips dan membawa Emerald kembali.


TBC