Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Luck n lock



Hari-hariku serasa lebih hidup dan tenang sekarang. Connor itu tidak lagi melakukan hal yang menyebalkan lagi. Dia sekarang semakin menghargai diriku sebagai diriku sendiri tidak ada bayang-bayang Cerry. Aku cukup senang dengan kemajuan ini, Kami berkerja secara profesional, bercanda dan terkadang saling menggoda. Tanpa ada sentuhan seksual dari interaksi antara kami berdua. Kurasa dia juga menikmati detik demi detik yang kami habiskan berdua. Itu pasti, jika dia tidak menganggap diriku objek pelampiasan hasrat seksual.


Inilah hidupku dengan nyaman, baik di kantor maupun di luar lingkungan kerja. Hanya saja ada yang berbeda dari diri Edward. Setiap kali aku belanja atau keluar untuk mendapatkan sesuatu, tanpa sengaja pasti bertemu dengannya. Setidaknya itu terjadi tiga kali dari empat kali aku keluar.


Aku tidak akan berburuk sangka dengan menuduhnya menjadi stalker. Entah benar atau tidak, aku akan menghormati itu sebagai langkah awal menyakinkan diriku.


Semoga saja tidak ada yang menganggap ku gila, karena mulai saat gencatan senjata kami, aku lebih sering tersenyum.


Ini dia hari yang dinantikan seantero dunia, hari gajian.


Sang raja siang telah kembali ke peraduannya. Setelah melakukan pekerjaan membagikan cahayanya pada bumi. Aku tersenyum Menikmati gaji pertama dari keringatku sendiri. Langkah pertama yang harus aku lakukan adalah berbelanja untuk mengisi kulkas yang meraung karena isinya kosong. Benda yang malang. Semoga kau tidak lagi bernasib malang karena aku sering melupakanmu, maafkan diriku yang sering tidak mengisimu. Bukannya aku tidak mau, tapi apa daya, hari gajian masih jauh. Tapi berkat gaji dari perusahaan tuan seksi bermarga Connor, aku seratus persen yakin tidak akan melupakan dirimu lagi.


Deretan barang yang tertata rapi di swalayan dengan berbagai barang yang ku inginkan. Aku begitu bersemangat untuk berbelanja, adrenalin ku mengalir deras sehingga membuatku begitu bahagia. Tak butuh waktu lama troli belanja ku sudah penuh.


Dan yup, coba tebak, Edward tiba-tiba muncul dan troli belanjanya menabrak troli belanja milikku. Aku sepertinya tidak terkejut, ini sudah menjadi kebetulan yang kesekian kalinya.  Dan hebatnya aku sangat senang dengan usahanya ini.


"Anda belanja?" Tanyaku tak percaya.


"Aku harus membeli beberapa barang." Jawabnya datar. Aku bersumpah sekilas aku melihat semburat tipis di pipinya. Tapi dia mengalihkan pandangannya ke arah tomat Cerry. Dan aku baru menyadari jika trolinya penuh dengan tomat Cerry.


"Anda bisa menyuruhku untuk berbelanja barang yang anda inginkan tuan. Itu salah satu job desk saya."


"Tidak, aku ingin melakukan hal yang manusiawi ini." Jawabnya acuh tak acuh. Aku juga memahami keinginannya, berbelanja memang menyenangkan.


"Baiklah, barang yang aku inginkan sudah berada di sana jadi aku harus membayar ke kasir." Aku tidak ingin kasar dengan langsung meninggalkan dirinya tanpa pamit. Jadi harus basa-basi terlebih dahulu.


"Aku juga sudah selesai." Aku tersenyum tipis. Kurasa ini cukup bagus sebagai langkah awal pendekatan padaku. Itu terlihat normal dari pada tiba-tiba pria ini menyatakan jika aku adalah cintanya dan harus menjadi miliknya.


Sudah kuduga jika Edwsrd yang akan membayar tagihan ku. Juga menolak keras saat aku membayar kembali tagihannya.


Aku pasrah dan mengucapkan terima kasih. Lalu berbalik pergi meninggalkan swalayan ini. Hanya saja pria ini tidak pernah bisa melepaskan diriku secara mudah. Dia terus berjalan di sampingku sambil membawa belanjaan ku juga dirinya.


"Apa anda tidak membawa mobil, kenapa anda masih mengikuti ku.?"


"Tidak baik seorang wanita pulang sendiri di tempat sepi." Oh sungguh aku ingin mencubit pipinya karena gemas. Dia benar-benar terlihat menggemaskan.


"Apa anda sudah makan?" Aku cukup terkejut dengan ucapan yang baru saja terucap. Sungguh itu diluar rencana.


"Belum." Dia tersenyum tipis, baiklah karena aku yang memulai .maka aku yang harus menawarkan makan malam di apartemenku.


"Jika tidak ke keberatan, anda bisa bergabung dengan ku untuk makan malam sederhana di apartemen ku."


"Aku tidak ke keberatan." Sudah ku duga dia akan menyetujui tawaranku. Kami kemudian berjalan beriringan menuju apartemenku. Letaknya tidak begitu jauh, cukup sepuluh menit dari apartemen ku. Cuaca yang dingin membuatku mengeratkan jaket tebal. Musim dingin akan segera tiba, tidak mengherankan jika cuaca begitu dingin akhir-akhir ini.


Tiba-tiba sebuah jas tebal terlampir di bahuku. Tentu saja Edward yang melakukannya.


"Anda tidak perlu melakukannya, sir. Anda akan kedinginan." Aku mengembalikan jas panjang itu. Dia tidak menolak dan memakainya kembali. Hanya saja, dia langsung menarikku ke dalam lingkaran tangannya yang berotot dan panjang. Aku terkurung di antara tangan dan jubah jas tebalnya. Perasaan aman dan hangat langsung hadir memenuhi dadaku.


Aku tersenyum dan wajahku terasa memerah. Kami benar-benar nampak seperti sepasang kekasih yang berjalan sambil berpelukan. Di tengah daun marpel yang berguguran, suasana nampak begitu romantis. Moment yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.


Pria ini memang perwujudan dari kata tirani. Bahkan aku cukup tercengang saat Edward bertindak sebagai tuan rumah dari pada tamu. Dia mengabaikan semua bentuk kesopanan dalam menyambut tamu yang aku lakukan. Dengan sikap bossynya


pria ini menuju dapur dan sedetik kemudian menjadikan dapurku area kekuasaannya.


"Tuan, aku akan memasak... anda-"


"Berhentilah memanggilku tuan atau apapun yang cukup menyebalkan itu, setidaknya aku ingin kau memanggilku Daddy, dan aku hanya menginginkan itu. Aku berjanji tidak akan memaksamu dalam bentuk lainnya."


Ucapanku terpotong oleh protesnya karena aku terlalu sopan, juga karena keinginannya agar aku memanggilnya hanya Daddy. Ku rasa tidak buruk saat kata Daddy keluar dari mulutku itu terasa nyaman.


"Baiklah, Daddy." Aku berkata sambil terkekeh.


Dan kamipun berpesta dengan cara kami sendiri,. Aku bertepuk tangan saat Daddy melempar telur setengah matang dan menangkapnya dengan wajah. Dia bergoyang kesana-kemari seperti kupu-kupu di dapurku.


"Ini luar biasa,  kau koki yang hebat dari Daddy."


"Ini belum seberapa, sweety." Seringai terbentuk di bibir bibirnya. Baiklah, dia boleh sombong dengan masakan ini, karena aku belum pernah memasak ini sebelumnya. Dan jika aku tidak salah ini adalah masakan Jepang.


"Anyway , apa nama masakan ini Daddy?"


"Sup miso dan omlet tomat. Juga sup tomat ektra asparagus."


Aku masih terkagum-kagum yang dengan masakan Daddy. Bagaimana tidak, masakan yang aku tahu hanya berasa paper dan keju. Di oven atau ditumis dengan garam masala. Dan hebatnya masakan yang tersaji di depanku ini benar benar masakan kaya rasa.


"Kita makan, sweety." Aku mengangguk, lalu meraih sendok untuk mulai menikmati masakan hebat ini.


Tapi Daddy  menarik makanan di meja. Aku bingung dengan tindakan Daddy,


"Bukan begitu aturan makannya." Aku semakin tidak mengerti. Apalagi dengan senyum jahil itu,  perasaanku berkata akan ada hal yang tidak biasa saat kami makan malam.


"Begini cara makannya." Dia tiba-tiba menarikku dari kursi makan hingga jatuh terduduk di pangkuannya. Sesaat kemudian dia menyuapi aku dengan sayang.


Oh Tuhan, aku melayang merasakan gelombang kasih sayang ini, suapan demi suapan terus dia ulurkan. Sesekali ia menghapus jejak sisa makanan di bibirku. Aku begitu kewalahan dengan sikap romantis ini. Aku tidak ingin bersikap pasrah, aku juga mulai menyuapi dirinya sendiri dengan sup tomat asparagus ini. Jangan lupakan nasi putih yang sejak tadi belum aku sebutkan.


Malam ini memang luar biasa, perasaan ku terasa begitu dekat dengannya. Akhirnya kami mengulang kembali moment menghabiskan malam dengan melihat televisi berdua ditemani keripik kentang, sangat menyenangkan. Besok aku harus berolahraga, aku tidak mau pantat dan dadaku yang telah membesar ini menjadi tidak sedap dipandang. Hei, aku bukan wanita munafik yang tidak perduli penampilan di usia prima. Pada dasarnya semua wanita di dunia itu sama, ingin terlihat sempurna.


Memang beberapa dari kami ada yang tidak perduli dengan penampilan dan lebih menonjolkan attitude dan otak. Tapi bagiku jika semua berjalan selaras bukankah akan menjadi  lebih sempurna.


"Baiklah, Daddy. Aku akui jika kebersamaan kita sangat menyenangkan, em... Bisa di bilang aku bahagia." Aku memulai dengan obrolan yang hangat.


"Aku dengan senang hati meluangkan waktu agar kau bahagia, sweety." Tangannya membelai rambut pink kebanggaanku, entah aku kesurupan roh dari mana hingga dengan tak tau dirinya kepalaku tidur di paha Daddy. Syukurlah dia tidak keberatan, justru senyumnya senyuman tipis dan lembut yang aku dapati dapatkan.


Aku benar-benar bisa terbiasa dengan ini, benar-benar bisa...


Tbc.