Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Move



Saat ini aku cuma berdoa agar Kami-sama memberiku taring, entah seperti taring kucing atau macan aku tidak perduli. Terlebih taring seperti vampir maka aku akan bilang dengan keras ' Kau terbaik God.' Jika ada yang ingin bertanya kenapa aku menginginkan mempunyai taring itu adalah untuk mengigit leher Connor sialan ini. Aku ingin menggigit lehernya seperti vampir dan menghisap darah Connor ini hingga kering. Alasannya?


Aku muak dia mengoperku ke sana kemari seperti bola basket. Untung saja dia tidak menyuruhku menjadi ring tempat masuk bola.


Bisa jadi aku berteriak 'kyaaa Mark masukkan bola itu dengan keren babe...' UPS salah ehem maksudku aku harus menendang bokong seksi mata saffir itu sebelum berhasil mencetak slamdunk di ring ku.


Bagaimana mungkin Connor ini, yang menyuruhku menyebut dirinya Daddy dengan tanpa perasaan mengirimku ke perusahaan Greenwood sebagai sekertaris pribadi pirang tampan itu.


Bukannya aku tidak mau mencari pengalaman dan refreshing di tempat kerja yang baru. Tapi lihatlah diriku ini, aku yakin pria-pria di sana akan meneteskan air liur melihat bokong seksi dan kaki jenjangku. Jangan lupakan dadaku yang membesar ini, aku takut para serigala di tempat Greewood akan kehilanganmu konsentrasi saat melihatku. Aku takut, karena itu perusahaan Greenwood akan merugi karena pekerja kehilangan fokus. Apalagi jika ada yang mengalami puber kedua hingga mereka menginginkan diriku walaupun dalam mimpi itu tidak akan terjadi, tapi itu akan mempengaruhinya kebahagiaan suatu keluarga terutama anak-anak. Nah kan aku tidak ingin itu terjadi...aku cukup baik hatikan...?


"Ehem." Suara dehaman serak-serak seksi itu menyadarkanku dari lamunan. Dia menatap ku dengan sedih dan ada rasa bersalah di sorot oniks indahnya. Tapi masa bodoh, setelah melambungkan diriku setinggi awan dengan teganya dia membanting diriku hingga terasa jatuh ke dalam neraka.


"Ku mohon mengertilah, proyek ini sangat penting. Aku tidak bisa mempercayai orang lain selama selain dirimu."


Aku tau sorot mata itu tengah berbohong, tapi untuk apa?


"Jika itu perintahmu, aku akan pindah ke sana. Daddy." Daddy menarik nafas berat dan langsung memelukku. Didalam pelukannya aku merasakan tubuhku tubuhnya bergetar seolah menahan emosi. Apa yang sebenarnya terjadi? Tubuh kuat dan berotot ini kenapa terasa bagi begitu rapuh...? Adakah hal signifikan yang tidak aku ketahui? Jujur saja aku muak dengan segala yang tidak aku ketahui. Sangat menyakitkan melihatnya menderita sendiri, sedangkan aku bagai orang buta yang meraba-raba perasaan dan segala tentang dirinya.


"Kau tau ini seperti membunuhku perlahan, yakinlah ini tidak mudah bagiku." Bisiknya di telingaku. Aku menarik diriku dari pelukannya, ku tatap wajah pahatan Sempurna ini. Membayangkan tanpa kehadiran wajah ini di hari-hari ku kedepan terasa begitu berat. Aku ulurkan tangan ini, membelai pipi dan bibirnya. Entah dorongan dari mana aku mulai menempelkan bibirku padanya. Tak lama kemudian Daddy membalas ciumanku lebih hebat dariku. Aku bisa merasakan seluruh luapan emosi dari ciuman Daddy. Aku juga merasakan perasaan meluap-luap meledak dari dalam dadaku..  Aku pasti akan merindukan ciuman dan kasih sayangnya.


Esok harinya aku menuju Greenwood inc. Wow, ini memang layak menjadi perusahaan level raksasa. Aku bahkan melihat arsitektur kerajaan Eropa di gedung Greenwood including ini. Benar-benar layak menjadi saingan Connor corp.


Aku mendatangi resepsionis dan menanyakan lantai tempat CEO Mark,  nona resepsionis bermata abu-abu itu menelisik penampilan ku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu tersenyum sinis. Ayolah aku tau kau iri dengan penampilan ku jadi cepatlah memberi tahu tempat kerjaku. Kau membuang-buang waktuku hanya karena rasa kriminal nona.


Wow, perubahan sikap yang sempurna.


"Itu tidak masalah, aku hanya harus ke lantai sepuluh saat ini." Jawabku dengan tersenyum. Lalu langkah kakiku menuju lift untuk mencari tempat menunjukkan keahlianku di perusahaan ini. Aku harus menunjukkan jika aku tak hanya punya pantat besar dan seksi tapi juga otak yang besar dalam bidang kecerdasan.


Sesaat kemudian aku sampai di lantai sepuluh, dan ruangan besar dengan warna pastel yang cantik menyambut kedatangan ku. Kejutan itu bukan ada di dalam penampilan ruangan ini, tapi seseorang yang membawa bunga cantik di tangannya. Tersenyum menawan berpose cool. Aku langsung merapalkan mantera penolak aura seksi. Aku tidak ingin terjatuh seperti yang terjadi pada Daddy. Itu kesalahanku hingga membuatku kehilangan keperawanan ku. Tapi sekarang tidak lagi, jika mereka ingin seks maka berjuanglah dengan cukup keras hingga aku menerima cincin lamaran kalian boys.


"Ini bagai mimpi kau berada di tempatku Emey." Mark berkata dengan lembut. Aku tersenyum dan memeluk dirinya sebagai bentuk kesopanan. Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi dia tiba-tiba memelukku jadi aku alihkan pelukan itu itu kearah pelukan pada teman lama yang bertemu.


"Bunga cantik ini untuk wanita yang cantik." Aku tersenyum kaku.


Yang benar saja, mengapa rayuannya terasa seperti rayuan pria jaman dahulu. Apa dia pria di era James Dean hidup?


"Terima kasih, Mr Mark."


Ku rasa mulai hari ini aku akan menghadapi Casanova .Di lihat dari tatapannya, dia seperti elang yang ingin memangsa buruannya. Huft belum satu jam aku berada di sini tapi aku sudah merindukan Daddy ku.


Akhirnya kami berjalan menyelusuri ruangan yang ada di lantai sepuluh. Entah kenapa pria ini yang memanduku melihat ruangan dan karyawan yang khusus berada di lantai ini, sampai aku menangkap warna pirang di salah satu kubikel karyawan. Dan aku cukup terkejut melihat Miss world di lantai ini. Apakah dia sudah tidak menjadi model lagi?


Hanya Tuhan dan PR disini yang tau...


TBC