Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Get La la la



"Berhenti ku bilang pak tua!"


Perempatan siku siku terlihat di pelipis Mr Cony-lovely, wajahnya menjadi gelap mungkin karena tersinggung. Masa bodoh, keselamatanku jauh lebih berharga dari pada jidad marah Mr Cony-lovely.


Bruk


Dengan sadisnya dia melempar ku ke ranjang yang tidak terlalu lebar ini.


"Aw."


"Apa kau bilang? Tua..." Wajah kesal Cony-lovely sungguh menawan. Dalam keadaan marah saja dia sungguh hot apalagi jika sedang bercinta...


Oh pikiran aneh otak jarang dibelai milikku kambuh lagi. Disaat genting seperti ini kenapa otakku hanya bisa membayangkan si Cony-lovely itu terengah-engah dan berkeringat karena melakukan aktivitas panasnya.


Gila gila gila


Cepatlah normal otakku sayang, kita bisa membayangkan itu nanti, bahkan jika mau kita bisa membayangkan pantatnya bergoyang nanti. Yang penting sekarang lepas dulu dari cengkraman si seksi ini.


"Kau bilang aku tua?" Dia mengulangi pertanyaannya tadi.


Astaga, dia marah karena aku bilang tua? Serius?...


Hei kenapa tidak sadar dengan umurnya. Dia memang sudah tua. Umurnya kira-kira 39 tahun dan dia tersinggung aku bilang tua?


"Anda memang sudah tua dan saya tidak bernafsu dengan pria tua meskipun seksi dan tampan."


Sesaat kemudian aku melotot karena pemandangan indah yang tersaji di depan mata ini. Si Cony-lovely sedang membuka jas Armani nya... Oh God.


Lalu kemeja dan.... dan...


Lihatlah tubuh indah berotot keras dan kekar itu. Aku bahkan menggigit bibir bawahku. Udara, oksigen, alat bantu pernafasan oh mana semua barang yang aku sebutkan tadi. Aku sungguh kesulitan bernapas sekarang.


"Apa kau masih bilang aku tua?"


Dia memerkan tubuhnya, mendekat ke arahku yang hendak mendorongnya jauh. Dari jarak sedekat ini wajahnya berkali-kali lebih tampan. Postur wajah yang tegas dengan rahang yang kuat, hidung lurus mata oniks tajam. Orang ini benar-benar jelmaan zat adiktif.


"Tidak, eh iya maksudku anda tidak terlihat tua."


Ucapku gagap dan gugup. Dua kombinasi kata penghasil kebodohan dan kelemahan.


"Apa aku bukan termasuk kategori seleramu sweety?" Bisiknya di telingaku. Menghantarkan arus panas dan merinding ke seluruh tubuhku. Bahkan kakiku yang sudah aku wax bisa merinding karena suara bisikan seksi ini.


"Ng, ya eh tidak ..."


Ah kenapa aku malah semakin bertindak bodoh. Tapi ini siksaan menyenangkan, menggairahkan. Jangan salahkan aku hingga desahan yang keluar dari bibir ini. Aku sungguh tak berdaya.


Ingin sekali aku berteriak,


'Tolong!'


Namun bukan minta tolong agar lepas dari Mr Cony-lovely. Aku minta tolong jika ada yang mengganggu cobaan ini, bawa cepat pergi menjauh. Karena aku sangat menyukai siksaan ini, memangnya aku gila mau melewatkan hari bersama the most wanted in America.


"Aku tidak dengar jawabanmu sweety?" Dia malah berbisik di kupingku dan menggigitnya.


"Ahh..."


Kakiku kini menjadi tidak tenang, ada rasa geli karena kulit pahaku langsung bergesekan dengan celana bahan si Cony-lovely.


"Kau tidak mau menjawab?" Si Cony-lovely melanjutkan aksinya.


"Mmhh" bagaimana aku bisa menjawab bodoh, kau mengulum telingaku. Bibirku tak bisa mengucapkan kata-kata apapun selain mendesah. Teriakku frustasi.


Disaat aku memejamkan mataku, bibir Mr Cony-lovely menyentuh bibirku. Menghisap kemudian **********. Ingin rasanya aku membalas tapi tahan dulu, aku tidak mau dia mendapatkan dengan mudah bibirku yang sudah dia nodai ini.


.


.


.


Inoe melamun di tepi ranjangnya. Bayangan sosok sekertaris Edward begitu menyiksa Jiwanya. Mata itu, wajah dan tubuhnya benar-benar persis dengan Cerry. Tak kurang satupun yang tertinggal, gadis itu juga mempunyai tanda di keningnya. Hanya saja tatapan mata emerald milik gadis tadi begitu tajam dan mengancam.


Seolah mata itu menyiratkan peringatan dari Cerry agar tidak merebut miliknya. Sangat berbeda dengan Cerry yang dulu ceria, manis tapi manja.


Terutama pada cinta sekaligus mantan ayah tirinya.


Edward Connor.


Tapi Cerry telah tiada, saat pemakaman jasad Cerry waktu itu. Dia dan Sarah hadir untuk menghantarkan sang sahabat di peristirahatan terakhir.


Di peristirahatan itu pula permusuhan dirinya dan Sarah dimulai. Mereka sama-sama tertarik dengan Edward. Bahkan ketika Cerry masih hidup mereka sudah tergila-gila dengan Edward. Tapi mereka menahan diri karena tidak ingin mengkhianati persahabatan dengan Cerry. Apalagi Karen juga meninggal karena mengagumi sosok itu.


Disaat mendengar kabar Cerry meninggal, perasaannya bercampur aduk. Dia bingung harus senang atau sedih, Inoe sedih karena kehilangan sosok sahabat. Tapi meninggalnya Cerry akan membuka kesempatan baginya mendapatkan hati seorang Edward. Pria impian para wanita dan gadis saat itu. Bahkan ketika Edward dan Cerry pergi ke Amerika karena ingin melupakan membangun hidup baru, Inoe sempat frustrasi. Tidak mengapa jika Edward bersama Cerry, setidaknya Inoe bisa mencuri pandang pada Edward, namun jika mereka pindah sejauh itu Inoe merasa hatinya berdarah.


"Cerry.... Hik Cerry..."


Inoe meraih foto Cerry yang sedang tersenyum bersama dengan Karen, Inoe, Sarah. Saat di Jersey mereka sangat berbahagia.


.


.


.


Tidak hanya Inoe yang memikirkan tentang sekertaris Edward yang mirip dengan Cerry. Sarah telah menyelidiki jika nama gadis itu adalah Emerald Kite.


"Mengapa kau begitu sama persis seperti Cerry, Emerald?"


"Tak satupun kemiripan dari Cerry yang terlewati di dirimu."


Sarah juga mendekati pigora kecil di atas nakas. Tersenyum lembut dan sedikit mengusap wajah Cerry dalam foto.


"Ini bodoh tapi aku merindukanmu jidad lebar."


Ingatan Sarah mundur pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Kematian Nike, Hilda, Karen. Dan ternyata pelakunya adalah John. Kekasih ibunya yang meninggal karena pria bernama Kim.


Sarah yang terobsesi dengan Edward langsung terbang ke Amerika setelah mendengar kematian Cerry. Lalu memutuskan menetap di sini untuk mendapatkan hati seorang Edward.


Tapi pria itu sangat dingin. Dengan terang-terangan dia menolak Inoe dan dirinya.


"Bahkan ketika kau tiada aku masih tidak dapat menggantikan posisi mu."


Sarah menghapus air matanya.


"Tapi tidak Cerry, meskipun kau bangkit dari kuburan. Aku akan tetap berusaha mendapatkan Edward. Apapun caranya!"


Sarah meletakkan pigora itu kembali. Dilihatnya pantulan dirinya di cermin yang terletak tak jauh di depannya.


Wajah itu cantik, pirang juga seksi, kenapa Edward selalu menolak dirinya.


Inilah yang membuat Sarah kesal dan tak ingin menyerah pada Edward.


"Sihir apa yang kau berikan padanya Cerry! Kenapa? Kenapa dia tidak melihat diriku sedikitpun!""


Prang!!


"Kenapa! padahal aku sangat mencintai Edward. Sekarang bukan hanya tidak mendapatkan perhatian Edward malah muncul gadis yang mirip dirimu! ""


"Katakan padaku Cerry! "'


Tbc