
Hari pertamaku bekerja di perusahaan Greenwood, sudah ada musuh tak tertulis ku. Bagus sekali, setelah di tarik paksa dari zona nyaman ku. Ternyata muncul musuh alami yang aku tidak tau penyebab dia memusuhi diriku. Lihatlah tatapan mata cantik sewarna air laut itu, nampak mengeluarkan racun berbahaya yang mampu membunuhku dengan sekali lihat.
"Maaf Miss, aku cukup terganggu dengan tatapanmu. Kau tau kenapa? Karena aku masih normal."
Sesaat kemudian wanita yang aku tau bernama Inoe itu menatap sinis padaku." Aku yakin Connor itu telah menendangmu keluar saat mengetahui jika kau bukan Cerry. Kau hanya mirip." Wanita ini mendatangiku tiba-tiba dan menyinggung hal yang aku hindari.
"Itu bukan urusanmu... Sebaiknya kau mengurusi urusanmu sendiri mengingat karier modelmu yang menurun dan...." Aku menyeringai lebar sambil melihat salah satu kubikel di ujung sana. Aku ingin menyindirnya karena banting haluan menjadi karyawan di bagian kreatif karena dia mengalami kemunduran di dunia gemerlap itu. Melihat sorot menghinaku, Inoe langsung pergi sambil menghentakkan kaki. Ku harap high heels itu tidak patah. Sesaat kemudian para karyawan di sekitarnya memandang ke arahku. Dan seperti biasa aku mengabaikan semua yang berenergi negatif sejauh mungkin.
Kulihat sekilas ruang kerjaku, lalu menyibukkan diri dengan beberapa dokumen yang perlu aku perbaiki untuk di serahkan pada Greenwood. Tentu saja aku menunggu kontrak kerja dari perusahaan Greenwood untuk perusahaan Connor. Lalu mengirim kontrak kerja itu pada lawyer Connor. Setelah itu mengirim kembali pada Daddy setelah mendapatkan rekomendasi dari lawyer perusahaan Connor. Kontrak ini memang harus diteliti secermat mungkin. Satu kalimat yang salah akan menjadi kelemahan kontrak dan mampu menimbulkan tuntutan konyol untuk mendapatkan keuntungannya.
Tugas pertama akhirnya datang, aku diinstruksikan oleh Greenwood ikut makan siang di restoran yang berada di lantai bawah gedung ini. Salah satu klien yang penting, dan sekali lagi aku menjadi pusat perhatian para karyawan. Biasanya aku suka menjadi pusat perhatian karena para makhluk itu menatapku kagum,tapi saat ini aku membenci menjadi pusat perhatian karena aku yakin Miss world itu menyebarkan gosip omong kosong tentang diriku.
Oh aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di otak cantik tapi kosongnya.'
"Kau sudah datang, duduklah." Aku cukup terkejut melihat Greenwood menyambutku dengan meja yang tertata cantik di tambah nuansa remang-remang. Seingatku ini masih siang tapi meja yang ada di depanku ini Seolah hari ini telah malam karena penataan meja dan tempat yang begitu romantis.
"Terima kasih, sir."
"Tanpa aku duga ia meraih tanganku dan mencium punggung tanganku. Apa-apaan ini, bukankah ini acara makan siang di dengan klien tapi sikapnya ini seperti mengajar kencan. Aku segera menarik tanganku, lalu melihat sekeliling meja.
"Apakah para klien tengah terlambat menghadiri makan siang?" Aku bertanya pada Greenwood. Tapi yang aku dapatkan bukannya jawaban memainkan senyuman seksi dan menggoda.
"Mereka membatalkan rapat, jadi untuk saat ini temani aku mengisi perut."
Aku mengangguk, tidak ada ruginya makan gratis di tempat mewah.
"Selama ini gratis aku tidak keberatan..."
"Gratis, kau bagi bahkan boleh memiliki restoran ini jika kau mau..." Aku mengangkat satu alisku, karena tidak ingin menyinggung atau memberinya harapan aku hanya memberikan memberinya cengiran sebagai tanggapan.
Drrt drrt
Oh Tuhan, kau memang yang terbaik, terima kasih telah menyelamatkan ku dari kursi panas berupa makan siang romantis ini. Bunyi telepon ini bagai penyelamat penyelamatan penyelamatku. Aku berjanji akan beramal. Memang ku akui tahun ini aku hanya beramal cuma sekali. Karena aku tidak percaya ada orang miskin di kota ini.
"Maaf,sir. Aku harus menerima telepon..." Ucapku sambil menunjuk telepon di tanganku. Dia mengangguk, mata birunya begitu cantik hingga hampir membuatku tak bisa beralih. Untung imanku kuat, aku masih punya komitmen pada Daddy. Jadi aku harus menangkal segala godaan pria tampan meskipun sulit.
Normal POV.
Mark menghela nafas saat Emerald pergi meninggalkan dirinya untuk menjawab telepon. Dia sudah tau jika wanita di depannya itu tidak nyaman dengan semua yang ia persiapkan.
"Rupanya aku harus mengubah strategi untuk mendapatkan hati mu, eh?" gumannya lirih. Tentu masih dengan rasa percaya diri dan sorot mata tertarik. Meskipun dia tertarik dan tau penyebab rasa tertariknya namun dia masih penasaran apa saja yang membuat seorang Connor begitu tergila-gila pada Emerald.
'Ada pintu' di balik pintu, hebat.' Emerald membatin geli.
Dia selalu bertanya-tanya apakah setiap pengusaha atau orang kaya selalu memasang penjaga di depan pintunya. Yah mirip dengan dirinya sih. Bunyi ketukan high heels menggema , rasa percaya diri yang tinggi membuat Emerald membuat suaranya menarik atensi sang sekertaris. Tentu saja wanita berambut coklat langsung menyadari kehadiran seorang wanita cantik bermata Emerald.
"Permisi, tolong sampaikan kepada Mr Miller jika aku telah sampai, kami telah membuat janji sebelumnya."
Sang sekertaris yang berjaga di pintu depan kantor Miller langsung mengangguk.
"Anda Miss Emerald?"
"Yup, itu aku."
"Silakan Mr Miller menunggu Anda di ruangannya."
Emerald berterima kasih dan langsung menuju ruangan Miller. Sedikit rasa grogi menghampirinya mengingat ini tugas pertama sekaligus reputasi tuan Miller yang tegas dan mulutnya sedikit menyenangkan yang jika di dengar.
Tok tok
"Masuklah sweety..." Mata Emerald membulat melihat Edward berdiri di balik pintu ruangan Tobi Miller. Ada perasaan senang saat mengetahui jika Edward merencanakan ini untuk menemuinya.
Tanpa memperdulikan Tobi yang menatap malas Edward. Pria itu memeluk Emerald dan mencium bibirnya.
'Sehari tidak bertemu kenapa dia lebih agresif...' batin Emerald.
"Hmmpt dan..Daddy hmmpt."
"Lebih baik kalian mencari tempat lain dari pada memberiku tontonan gratis." Celetuk Tobi jengkel. Akhirnya Edward sadar tempat. Dia mendengus geli sekaligus melontarkan kata-kata pedas lainnya.
"Makanya cari wanita, sampai kapan kau akan tetap perjaka di usia tiga puluhan." Emerald memerah mendengar ucapan Edward yang menyebut Tobi masih perjaka. Padahal wajah dan sosok Tobi Miller sungguh menawan. Apalagi rambut perak yang seksi itu. Tanpa di sadari air liur hampir menetes di bibir Emerald.
Edward langsung menyentil jidad Emerald karena sebal melihat mata yang berbinar-binar saat dirinya menyebut Tobi perjaka.
"Mulutmu padahal lebih pedas dariku, kenapa kau masih membutuhkanku untuk melihat surat kontrak ini."
"Apa gunanya statusmu jika tidak ku gunakan..." Edward tidak mungkin bicara jika dirinya berjanji tidak akan menemui Emerald selama sebulan... Mengingat Mark juga akan melanggar ucapan yang ia janjikan dulu. Jadi dengan terpaksa Edward mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan Emerald. Bukannya Edward takut jika Emerald akan berpindah hati, tapi mencegah itu lebih baik.
Apalagi Mark juga pengusaha seperti dirinya, selain itu dia juga tampan. Edward jadi kesal sendiri menyadari jika dia memuji Mark. Tanpa basa basi dia langsung menyeret Emerald ke tempat yang ia persiapkan.
TBC.