Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Angry.



Emerald Pov.


Kucoba membuka mata cantikku. Warna mereka hijau daun yang indah dan membuatku bangga. Mata yang mampu menghipnotis ratusan orang jika ku keluarkan jutshu legendaris' pupy eyes'.


Mata yang membuatku lolos dari segala kesulitan dan amarah orang yang kesal denganku.


Aku akan bercerita sebentar tentang kekuatan puppy eyes ku. Waktu kuliah, aku menggunakan trik itu agar tidak di bully oleh seniorku yang super cantik dan seksi. Sebelum dia menyerang ku bersama the gengnya di koridor kampus, aku mengeluarkan trik puppy eyes itu. Sayangnya dampak pupy eyes ku menjadi bumerang ketika itu.


Seniorku yang cantik dan straight berubah haluan karena terpesona dengan mataku. Dia terpesona hingga jatuh cinta dengan ku. Dari situ aku menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk menghindari seniorku yang terus-terusan menempel padaku itu. Dia terus-terusan menyatakan cintanya padaku. Tak perduli jika kami sejenis. Tak cukup disitu, pria pujaan ku pun turut membenciku karena mengubah wanita yang ia cintai menjadi lesbian.


Aku bergidik membayangkan pengalaman terburuk dalam kehidupan di kampusku. Untung saja hari kelulusannya tidak lama. Jadi aku bisa terbebas dari senior cantikku. Dulu aku berdoa pada Kami-sama semoga tidak marah padaku yang tanpa sengaja mengubah sekelompok wanita straight menjadi lesbian.


Dan mulai saat itu aku berhenti menunjukkan pupy eyes ku.


Rasanya tubuhku sangat lelah. Ketika aku ingin bangun dan duduk tanganku tidak bisa digerakkan. Baru ku sadari jika tanganku masih terborgol.


"Ck sialan itu belum membuka borgol ini."


"Connor!""


"Lepaskan borgol ini!""


"Tangan ku capek!""


Hening...


"Menyebalkan," sungutku.


Tanganku begitu kebas karena posisi seperti ini. Apalagi tubuh ini hanya tertutup selimut saja. Kemana pria sialan yang kemarin memasukiku itu. Terpaksa aku harus merelakan tubuh lelah ini menunggunya.


Selang beberapa menit, mataku bergulir pada pintu kamar. Si mesum itu membawa nampan yang berisi sup ayam.


'Hei aku merasa iba ayam yang ia masak. Jujur saja aku pecinta hewan dan memakan mereka sedikit mengganggu nuraniku. Kecuali ikan.


Seringai puas dibibirnya mengingatkanku pada rantai dan desahanku tadi malam. Ck, menyebalkan.


Mulai sekarang aku tidak akan memanggilnya Conny-lovely karena dia sangat tidak lovely. Dia kasar, pemaksa, tampan, seksi eit tunggu dulu. Hah, aku menghela nafas berat. Otakku selalu konslet saat berhadapan dengan pria di depanku ini. Selalu saja niat untuk menghina dia malah berakhir menjadi pujian setinggi langit.


"Lepaskan aku," ucapku dingin. Aku memang sangat kesal dengan sikapnya ini.


"Tentu saja." Jawabnya dan mulai melepaskan borgol berlapis beludru cantik itu.


Setelah itu aku masuk ke dalam kamar mandi miliknya. Aku tidak memperdulikan keberadaannya yang masih memandangi ku dengan sorot mata tajamnya. Ku lihat sekilas dirinya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Posisinya tadi benar-benar luar biasa. Bagaimana mungkin ada pria yang hanya dengan duduk menyilangkan kaki saja sanggup membuat sesuatu dalam tubuhku bergetar hebat.


"Oh aku benar-benar harus mandi agar otakku tidak lagi kotor." Gumanku.


Di sini aku mulai memikirkan segala keputusan yang akan aku ambil mengenai tawaran pria mesum itu. Mungkin keputusan ku akan menyakitinya. Tapi ini yang terbaik karena aku adalah aku. Bukan Cerry atau sweetynya. Jikapun ada sesuatu yang luar biasa hingga terungkap bahwa aku adalah Cerry maka itu hanya pemanis yang ada di jalan kisah cintaku.


"Kita makan." Ucapnya dengan bariton yang tegas.


Aku hanya menurut karena memang ada yang ingin aku ucapkan pada pria ini. Bisa kulihat jiwa wajahnya lelah. Tapi ada kebahagiaan di sorot mata lelahnya.


"Apa kau mengingat sesuatu?"


Aku terdiam. Bagaimana mungkin dia tau jika ada kilasan memori di otakku. Ingatan tentang kedua orang tuaku yang berambut merah muda tua dan ayahku yang berambut sewarna dengan tembaga. Awalnya aku ingin melupakan ingatan yang muncul ditengah tidurku semalam. Tapi karena Edward mengungkitnya aku jadi ingat kembali.


"Bagaimana anda tau."


"Berhentilah memperlakukan aku sebagai orang asing sweety. Kita ini suami istri." Tegasnya.


"Seharusnya anda yang menahan diri tuan Connor. Berhentilah memperlakukan aku seperti jalang. Lihat foto anda dengan nyonya Cerry. Jika itu adalah saya seharusnya umurnya sudah dua puluh lima tahun. Sedangkan umurku baru dua puluh dua!"


"Bagaimana mungkin kau menganggap aku memperlakukan mu seperti jalang." Suaranya terdengar dingin dan menusuk saat ini.


Sebagian diriku sangat takut dengan suara dan sorot mata tajam itu. Tapi aku tidak boleh lemah. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus-terusan melayani pria yang tidak aku cintai, mungkin belum. Apalagi tidak ada ikatan diantara kami. Karena jujur saja sebagian besar diriku mengagumi sosoknya yang nyaris sempurna. Tapi harga diriku menolak untuk jatuh pada pesonanya walaupun sering gagal total. Jiwa dan otakku yang masih waras, aku tidak ingin pria didepan ku ini menjadikan diriku pelampiasan karena fisik nyonya Cerry dan aku serupa.


"Jika anda tidak merasa memperlakukan aku sebagai jalang maka berhenti menyentuhku dengan paksa, berhenti menganggap aku Cerry, berhentilah menjadikan ku pelarian karena fisik kami sama."


Oh sial kenapa air mata ini tiba-tiba mengalir. Bisa kulihat rahangnya mengeras karena ucapan ku.


"Karena sejujurnya, aku belum memberikan hatiku pada anda, Daddy."


Aku tidak tahan lagi. Aku menjauhkan diri ku dari kursi dan mengambil pakaian yang ada di ranjang.


"Jadi kau menolakku?"


"Belum, bagaimana ini disebut menolak. Bahkan anda belum mulai mencintai ku. Yang anda cintai adalah Cerry. Tapi yang berdiri di depan anda sekarang adalah Emerald hanya Emerald."


Setelah mengucapkan itu aku keluar dari rumah bak istana ini. Aku yakin nyonya Cerry dan Edward itu menghabiskan waktu yang indah di sini. Hatiku terasa perih saat membayangkan jika Edward mesum itu menganggap ku Cerry di tengah percintaan panas kami. Senyum miris tercipta di bibir ku. Lalu aku melangkah keluar dari pagar besar yang mempunyai gerbang tinggi.


Aku mempercepat langkah kakiku. Kepalaku begitu berat, setelah melewati jalan raya, aku menoleh pada mobil sport berwarna keemasan ini. Mobil itu mengingatkan ku pada mobil yang berubah menjadi robot di salah satu film terkenal produksi Hollywood.


"Seksi lips, kau ingin tumpangan?" Lagi-lagi pria tampan berumur matang muncul di depanku. Apa aku punya magnet yang menarik semua pria berumur yang luar biasa hot dan seksi?


Normal POV.


Di Mansion.


Edward terdiam dan memikirkan segala ucapan Emerald. Dia tidak bisa memberitahu Emerald jika dirinya adalah wujud lain Cerry, hasil dari penelitian Philips. Itu akan membuatnya hancur karena merasa bukan manusia normal. Ini terjadi karena penyakit sialan itu. Penyakit yang merenggut nyawa Cerry yang tengah hamil.


TBC.