
Akhirnya aku bisa lepas dari panic room itu. Mulai sekarang aku akan mengubah high heels ku menjadi flatshoes. Agar bisa lari dari seseorang yang baru saja aku panggil ' daddy'. Jika bisa, kupusatkan tenaga di kaki dan tendang kebanggaannya dengan keras lalu lari. Aku yakin dengan flatshoes, aku bisa lari dengan cepat dari kemarahan si Uchi-lovely. Dan bisa dipastikan jika esok hari aku hanya tinggal nama.
Oh sakit sekali selakanganku, pria itu benar-benar menghabisi ku. Untuk mengatupkan kedua kakiku saat ini begitu sulit. Padahal aku ada janji sama the geng untuk merayakan status selamat tinggal pada statusku sebelumnya 'pengangguran'.
Robert, Angel dan Bob sudah menungguku di club. Meskipun repot ala ribet tapi inilah kebutuhan seorang perempuan, aku harus pulang mandi lagi dan ganti baju.
Oh tidak. Aku tidak sabar untuk mengguncang club itu dengan dadaku. Yup kakek Ken berhasil. Dadaku sudah berukuran tiga puluh enam dan aku bisa pamer pada mereka. Selamat tinggal pada Emerald berdada rata. Dan sekarang sudah saatnya aku memamerkan dadaku yang baru. Rok mini dan tangtop berkelap-kelip cukup untukku saat ini. Aku ingin sombong dengan teman-temanku tentang dada baru ku ini. Biarkan itu memantul-mantul saat aku menggila nantinya.
Tunggu dulu. Ada bintik-bintik kemerahan yang berada di sini. Oh sial ini pasti ulah Daddy ku.
"Ahhh Kenapa acara pamer dadaku jadi tertunda gara-gara manusia penghisap dada itu?!"
Padahal aku sedang ingin pamer mode on. Sudah cukup mereka menghina ku si dada rata. Selamat datang emerald the big breast.
Aku tidak menyangka akan merindukan tempat ini. Gema musik yang mengila bersama dengan para pengunjungnya membuat bibirku melengkung indah. Mata emerald ku bergulir kesana-kemari dan berhasil menjerat beberapa pria tampan disana. Mereka mengangkat gelas di tempat VVIP. Aku yang menuju kursi didepan meja bartender hanya tersenyum manis sambil melanjutkan memindai ruangan untuk mencari teman-temanku. Sayangnya tidak ada tanda-tanda kemunculan mereka. Padahal aku yakin sudah waktunya berkumpul.
Getaran di tas ku membuat ku langsung menuju toilet agar bisa menerima telepon.
"Wtf kenapa kamu susah dihubungi emey." Angel berkata keras diseberang sana.
"Ada apa? Kenapa kalian belum muncul." Tanyaku.
"Ban mobilku kempes dan mereka berdua sedang memperbaiki mobil jelek ini. Aku bisa gila dengan mobil ini." Angel nampak frustrasi dengan mobilnya. Sayangnya aku tidak terkejut karena ini bukan pertama kalinya.
"Dear, kau harus pergi dari sana. Tanpa kami tempat berbahaya untuk gadis sepertimu."
Oh aku ingin ketawa mendengar ucapannya.
"Gadis perawan itu sudah hilang, sekarang yang ada wanita yang kesepian di club malam karena teman-teman nya datang terlambat."
"Apa!" Angel memekik sedang.
"Bagus sekali, kita sama-sama jalang sekarang. Andai mobil sial ini tidak mogok, aku ingin berpesta habis-habisan untuk merayakannya."
Aku terkekeh. "Baiklah sudah waktunya aku menutup telepon, aku akan mencari pria tampan tanpa mu."
"Nikmati malammu emey the bitch."
Lagi-lagi aku terkekeh. Yup angel benar, aku ingin menikmati malam ini. Tapi tidak untuk berhubungan intim. Itu masih sakit.
Suara musik ini begitu menghantam jiwa hingga aku terus bergerak menggila. Bahkan tanpa sadar, para pria telah mengelilingi ku di sini. Aku bahkan tidak tau jika tatapan mereka sama seperti serigala yang mengawasi mangsanya.
Saat tangan seseorang melingkar di pinggangku, aku langsung kembali dari perasaan ringan yang menyenangkan karena musik. Tentu saja aku langsung protes.
"Hei, ini tidak sopan tuan!" Aku membalik tubuhku untuk melihat wajah orang yang memelukku dari belakang. Mata seindah langit cerah, bibir tipis dan seksi menjadi pemandangan pertama yang menyambutku.
"Maukah kau menari dengan ku Miss?" Ucapnya ramah. Bahkan aku merasa di sekelilingnya ada cahaya yang menyinari dirinya. Padahal aku belum minum, kenapa halusinasi ini muncul.
"Baiklah, tapi..." Aku melirik tangannya yang setia bertengger di pinggangku.
"Oh maaf." Dia mengangkat tangan dan mulai menggerakkan tubuhnya. Otot bisepnya langsung membentuk menunjukkan seolah bisa meremukkan tulang. Dadanya yang separuh terekspos memamerkan dada bidang yang terbalut otot-otot yang kuat. Aku jadi teringat si Uchi-lovely. Tubuh mereka sama-sama memiliki otot yang menunjukkan kekuatan. Apakah itu juga mirip ya? Aku langsung menggelengkan kepalaku mengusir pertanyaan yang lagi-lagi melantur.
"Kau tidak ingin bergerak nona?" Aku baru sadar jika sedang diam diantara lautan manusia yang bergerak liar. Sekumpulan orang yang mengelilingi ku juga telah bubar. Aku merasa jika pria di depanku ini cukup disegani. Tapi masa bodoh. Aku langsung menggerakkan tubuhku kembali. Tapi aku tidak bergerak liar, tubuh ini bergerak pelan namun erotis. Tuan pirang di depanku samping berhenti dan menatapku dengan pandangan tak percaya.
"Oh sial. Katakan padaku, bisakah kita menjadi partner untuk hal lain?" Dia bertanya sambil menarik pinggangku agar menempel di tubuhnya.
"Kita hanya partner menari, tuan. Tidak untuk yang lain." Bisik ku di telinganya. Tubuhnya langsung tegang. Tapi tangannya lebih mengetat di pinggangku. "Aw ini agak berlebihan tuan."
"Maaf." Dia terkejut dan langsung melepaskan tangannya.
Huh untung tampan. Jika tidak akan ku tendang kebanggaannya.
Sesaat kemudian ada tangan lain yang memelukku dari belakang. Rasanya aku mengenalnya tangan ini. Ada pancaran aneh dari tubuh seseorang yang memelukku. Tubuhku juga merinding karena hawa dingin yang seolah muncul di belakang tubuhku.
Sebelum aku menengok. Suara bariton yang benar-benar ku kenal membuatku kaku tak berdaya.
"Jangan ganggu milikku, Mark."
Mr Connnor, bagaimana dia bisa di sini? menguntit ku kah?
Wow ini hebat, aku jadi terlihat diperebutkan dua pria panas. Oh betapa beruntungnya. Ingin sekali aku membusungkan dada besarku pada sekumpulan gadis di sekitar yang menatap ku iri.
Kapan lagu aku bisa sombong dengan uang minimku, hohoho.
Ayolah dua pria panas tunjukkan kejantananmu ups maksudku tunjukkan kekuatan otot kalian.
Tbc