
Pintu kantor CEO Connor Inc. terbuka. Aku masuk dengan ragu, takut tapi berlagak sok percaya diri. Berjalan bak singa padahal hati sekecil kucing ketahuan mencuri. Berterima kasihlah pada kegiatan ekstra teater yang ku ikuti ketika di universitas dulu, membuat ku mampu menampilkan wajah elegan di tengah grogi sampai mati.
Kiri
Kanan
Kiri
Kanan
Aku memulai menggoyang pinggulku agar terlihat seksi sehingga bisa di terima di di perusahaan ini. Siapa tahu berkat pinggulku yang terkenal indah ini bisa menunjukkan keajaiban.
Oh sungguh naif pemikiran polos yang ada di otak gadis lajang berumur dua puluh satu.
Bahkan di kantor ini, ratusan wanita berpantat jauh lebih seksi dari milikku.
Lorong menuju pintu ruangan CEO sekarang berubah menjadi lorong menuju hidup dan matiku.
Di balik pintu ajaib yang bisa membuat kakiku gemetar hanya sekali pandang. Terdapat salah satu bos besar pemegang stabilitas ekonomi dunia karena berpenghasilan wow.
Bayangan pria tua gendut dan botak langsung berseliweran di kepala cantikku. Mencoba mengabaikan rasa gugup aku terus menulusuri lorong lantai khusus untuk menemui seorang CEO bernama keluarga Connor. Kekuatan ekonomi langsung terlihat jelas, membuat orang berpikir puluhan kali untuk bersaing dengan perusahaan ini. Lebih baik menjadi kawan dari pada lawan.
Oh ya ampun, bahkan jalan menuju pintu ruangan CEO itu terdapat karpet khusus. Apakah pemimpin itu berusaha ingin menjadi artis di setiap kesempatan?
Hm. Hobi yang aneh.
Tok tok tok
"Hn"
Ku artikan 'masuk' untuk gumanan ajaibnya. Apakah untuk bicara dia juga harus dibayar sehingga irit dalam berkata?
Aku sampai di depan meja pemimpi perusahaan ini. Sungguh aneh memang jika dipikir-pikir, bagaimana seorang yang super berkuasa seperti dia menunjukku untuk menjadi sekertarisnya.
Lucky I'm
Kuedarkan pandanganku menjelajahi kantor megah ini. Hingga sampai pada dekat jendela kaca gedung ini. Di situ berdiri pria tinggi ideal dengan rambut berwarna gelap. Oh lihatlah, dia bahkan memiliki pantat yang lebih seksi dari ku.
Tidak singkirkan pikiran itu, moodku akan menyesali kenyataan ini seumur hidup jika dia gay.
Sang CEO itu berbalik. Dia menatap diriku. Lama dan tajam.
Wajahku langsung memerah, hanyut dalam pusaran mata hitam kelam itu.
Sesaat kemudian dia tersenyum.
"Welcome to my paradise Cherry."
Aku membeku. Apa dia bilang, surga?
Benarkah ini surga. Tapi membayangkan sesuatu yang menyenangkan yang bisa membuatku mengeluarkan suara ahahuhuh dengannya di sofa itu, memang cocok jika ini di sebut surga.
"Terima kasih Sir."
Tunggu dulu. Apa dia bilang tadi cerry? Sebutan yang manis tapi namaku adalah Emerald Kite.
Dia berjalan ke arahku, adakah pemandangan yang lebih seksi dari ini? Bahkan aku sampai menahan nafas melihat dia berjalan dan menyeringai.
Okey sekarang dia berdiri tepat di depanku. Mengulurkan tangannya untuk pada ku, yang kemudian aku sambut dengan sopan.
"Edward. Ku harap kita bisa bekerja sama dengan baik Cerry."
Aku segera meraih tangannya, perasaan hangat dan nyaman langsung masuk ke dalam hati. Seolah perasaan nyaman ini tidak asing sebelumnya, mengingatkan diriku pada kakek Ken di perternakan.
"Terima kasih Sir, dan saya nama saya Emerald."
"Tapi aku lebih suka menyebutmu Cerry, biasakan itu."
Wow, tipe orang yang tidak mau mengalah dan di bantah. Baiklah, yang penting sekarang dia harus melepaskan tanganku. Ini terasa canggung sekarang.
Hingga beberapa saat dia masih terpaku melihat ku. Apa ada yang aneh pada wajahku. Tuan Edward menatap ku tidak berkedip. Memang banyak yang menyukai mata emerald ku, oleh karena itu kakek Ken menamaiku emerald.
Tbc