
Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Mata seindah malam itu menatapku kecewa dan penuh luka. Tubuhku membeku, menolak segala perintah yang mengalir dari otakku. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi, aku bahkan tidak ingat apapun tentang Edward. Ingatan yang berkelebat di kepalaku hanya diisi masa kecilku hingga aku berusia tujuh tahun. Saat yang menyenangkan sekaligus menyedihkan di hidupku. Saat dimana aku memiliki ibu dan ayah, lalu kenangan tentang tidurnya ayahku yang tak akan pernah bangun lagi. Tentang kesepian, ibuku yang jarang berada di rumah dan menemaniku.
Tentang rasa iri pada teman-temanku yang memiliki keluarga lengkap. Yah, samar-samar aku bisa mengingatnya. Lalu kapankah aku bertemu dengan Edward Connor. Jika dia tidak berada di dalam ingatanku saat berumur tujuh tahun, berarti dia muncul setelah aku berusia tujuh tahun. Oh ini benar-benar rumit.
Baiklah, ini bukan waktu yang tepat untuk mengenang memory yang tiba-tiba hadir saat aku berada di rumah Edward. Saat ini sosok yang menatapku kecewa harus ditangani lebih dahulu.
Sebenarnya apa yang terjadi padanyan nona Sarah di restauran sepeninggal aku dan Gerald. Padahal aku dalam keadaan cukup baik walaupun sedikit sebal dengan Edward. Tapi pria ini tampak kacau.
Setelah pria tampan berambut coklat kemerahan mengantarku pulang, teman-teman ku datang mengagresi zona kekuasaan ku. Waktu yang seharusnya aku habiskan dengan bersantai menonton Oprah dan memakan cemilan berubah haluan menjadi pesta kecil di apartemen mungil ini. Oh aku sangat mencintai apartemen ini. Satu-satunya tempat aku bisa rileks dan menjadi diriku sendiri. Tak lama pesta itu berubah menjadi ajang interview.
Dari mana mereka tau aku berkenalan dengan pria kemerahan dan kuning yang ketampanan sangat tidak baik bagi emosi wanita merupakan salah satu misteri yang belum aku pecahkan.
Angel sangat iri denganku, dia bilang aku bagai magnet penarik pria tampan dan berkantong tebal. Tapi persetan dengan itu, aku hanya ingin hidup bahagia tanpa menyakiti siapapun. Terlebih melihat pria yang sempat aku juluki Cony lovely duduk terdiam dan terlihat kacau.
.
.
.
"Aku sangat ingin menyuntikkan serum kedua ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya sebelum sebulan dari suntikan pertama."
Edward berkata seolah sangat putus asa. Dan apa itu tadi, suntikan serum, aku sangat berharap dia tidak mengungkit tentang serum. Ini mengingatkanku pada film trailer tentang mutan atau apapun.
"Kenapa anda di sini, sir?" Aku bertanya dengan wajah menunduk. Hanya lima belas menit aku membereskan kekacauan di apartemenku lalu berbelanja karena teman-temanku menjarah habis isi kulkas . Tiba-tiba pria ini telah berada di dalam apartemenku seperti hantu duduk di dalam kegelapan.
"Semua yang aku lakukan sia-sia." Ucapnya sambil tersenyum miris.
"Aku ingin membuatku cemburu justru aku yang kesakitan." Oh yang benar saja, itu pemikiran yang konyol. Meskipun aku juga merasakan dadaku sesak saat melihat hal-hal itu.
"Aku berharap setelah kau melihatku bersama dengan Inoe dan Sarah maka boom, kau cemburu dan menyadari perasaanmu padaku." Matanya sungguh jernih tanpa ada kebohongan di sana.
"Bukannya aku tidak memiliki perasaan itu, tapi cobalah untuk menerima diriku yang sekarang. Jika saja Cerry yang kau inginkan tidak pernah muncul lagi. Maka kau ... Jadi sebaiknya kau yakinkan dirimu, siapa yang sebenarnya kau inginkan."
Yah benar, seandainya aku tidak pernah ingat kembali pada memory yang dulu, akankan ia masih menerimaku. Aku tidak yakin mengingat betapa besar cintanya pada Cerry. Aku juga sebenarnya berharap jika Cerry adalah diriku. Tapi aku tidak ingin kecewa pada akhirnya, jika ternyata aku bukanlah Cerry.
Tiba-tiba Edward berdiri dan memeluk ku, kembali perasaan nyaman itu memenuhi dadaku. Yah, dia selalu bisa menghangatkan hatiku semudah membalikkan tangan tapi dia juga bisa membunuhku dengan perlakuan buruknya semudah menginjak semut. Aku seperti berdiri diantara api dan air. Hanya waktu yang memutuskan bagian mana aku terjatuh.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya perasaan Ku sweety?" Telapak tangan besarnya membelai pipiku. Membuat ku terhanyut dalam impian yang ku takuti. Di mana aku tak sanggup melangkah karena bayangan Cerry. Wanita yang dia percaya menitis padaku.
"Kau perayu baik, tapi aku menyukainya." Ucapku setengah menggoda dirinya.
"Tidak, aku berkata sungguh-sungguh. Apa yang harus kulakukan?" Mata hitam itu kembali menatapku seolah mengebor ke dalam mata hijauku, berusaha mencari titik yang tersembunyi di dalam hatiku. Membuatku menahan nafas dan berusaha mengucapkan kata-kata yang selama ini terpendam di hatiku.
"Lupakan Cerry, terimalah aku sebagai emerald. Bukan lagi sosok Cerry." Ucapku mantap.
Aku ingin menghilangkan rasa takut ini. Dalam hati aku berharap Edward bilang iya walaupun berbohong. Setidaknya hatiku tidak akan patah hati secepat ini. Hingga aku punya cukup waktu agar menyiapkan mental ku saat segalanya tidak sesuai keinginan.
Sebut aku egois tapi persetan dengan diriku. Aku membutuhkan ini untuk kesejahteraan jiwaku yang miskin cinta.
"Sweety, ini sama seperti..." Cukup, aku memotong ucapan Edward sebelum aku patah hati. Aku meletakkan jari telunjukku di atas bibirnya yang seksi. Pasti bibirku menjerit iri pada jari telunjuk ku.
"Jangan jawab sekarang, cukup pikirkan keinginan ku. Hanya itu."
Dia terdiam. Aku bisa melihat berbagai emosi seolah ingin mengatakan banyak hal padaku. Sekali lagi maafkan aku yang egois. Setelah ini aku akan menghubungi kakek Ken agar mencari obat anti egois.
Akhirnya setelah sekian lama aku melihat senyum tulusnya. Bagaikan bunga-bunga berhamburan saat senyum itu terbentuk. Sungguh indah. Tanpa sadar bibirku juga ikut tersenyum. Kami akhirnya menghabiskan waktu dengan nonton televisi, sambil ditemani keripik kentang yang mengandung lemak jenuh yang tinggi. Tapi aku merasa bahagia, dan aku yakin Connor di sampingku ini juga bahagia. Ku harap ini langkah awal yang baik bagi kami berdua. Aku akan menghormati sikap dan pemikirannya begitu pula dirinya. Aku rasa mulai sekarang dia tidak akan memaksa agar aku menjadi Cerry atau bersikap seperti Cerry.
Tbc