
Emerald Pov.
Memangnya dia saja yang bisa melototi orang, aku juga bisa. Dia dengan tatapan membunuh dan aku melotot ke arahnya dan langsung menuju ruangan ku. Ku tutup pintu dan bersandar padanya. Aku berusaha menenangkan jantungku berdetak kencang. Tindakanku barusan seperti menantang adrenalin.
"Huft, aku pemegang record menjadi orang pertama melotot pada bosnya." Gumanku.
Ah, biar saja. Dia yang tidak sopan. Kakiku menuju meja kerja dan mulai mengerjakan berkas yang tertunda. Bukannya sombong tapi mengerjakan pekerjaan yang diberikan padamu adalah sebuah tanggung jawab. Dan aku tidak boleh terlena karena si bos yang mendadak menjadi Casanova setelah menolak status itu. Aku cukup terhormat mengetahui jika dia menolak predikat itu karena diriku. Tapi sekarang semua terdengar bullshit di telingaku.
Kring kring...
"Dengan Miss Emerald disini. Bisa saya bantu?"
"Nona ada tamu perusahaan yang menunggu tuan Connor di lobi."
"Baik, saya akan ke sana."
Untungnya pekerjaan ku telah selesai. Aku tinggal mengirim email pada para pemegang saham untuk undangan RAP tahunan. Rasanya aku tidak sabar melihatnya itu dibantai oleh para pemegang saham karena kemerosotan perusahaan. Sayangnya itu berbanding terbalik dengan realita. Saham dan perusahaan Connor dalam kondisi berjaya. Aku sangat iri, bisakah aku mendirikan usaha dan bisa sesukses ini. Antara yakin dan tidak. Dan realitanya condong ke tidak yakin.
.
.
.
Normal POV
Inoe menatap pantulan bayangan tubuhnya di depan cermin. Tangannya bergerak meraba bagian tubuh yang disentuh Edward. Mata biru marine miliknya terpejam membayangkan sentuhan tangan Edward pada kulitnya. Masih teringat jelas diotaknya saat tangan Edward menyentuh lehernya. Nafasnya menerpa wajahnya ketika dia akan mencium bibirnya sebelum pria itu menghentikan semua itu.
Mata Inoe kembali terbuka, dia menduga jika Edward saat itu ingin membuat wanita yang mirip Cerry itu cemburu. Sebab, meskipun Inoe kala itu dalam keadaan setengah telanjang dengan tubuh bagian atas terbuka semua. Edward hanya menyentuh lehernya, dan mendekatkan wajahnya seolah akan mencium dirinya. Hanya itu saja, sebutan apalagi jika bukan ingin memanasi hati wanita berambut golden pink itu.
"Tidak apa-apa Inoe, untuk sementara ini cukup. Lain kali kau pasti bisa menggiringnya ke kamar." Ucap Inoe pada dirinya sendiri.
Ucapan kadang tidak singkron dengan apa yang dirasakan di hati. Harga dirinya cukup terluka karena Edward masih tidak menginginkan dirinya di saat tubuhnya hampir terekspos sempurna dihadapan pria panas yang ia impikan dari dulu. Bahkan dia juga memasang wajah erotis agar Edward bergairah. Nyatanya itu tidak mempan, yang ada di pikiran Edward hanya Cerry yang Edward rasa menjelma pada wanita serupa itu. Sebenarnya ini menyakitkan, cinta memang buta. Dan Inoe benar-benar mengalaminya sendiri.
.
.
.
Edward hendak mengantarkan Sarah ke apartemen miliknya, di saat itu pula telepon miliknya bergetar. Nama Emerald tertera di layarnya.
"Hn?"
"...."
"Kau bawa mereka ke restoran Jepang milik kita."
"...."
Edward menarik sudut bibirnya. Rencananya membuat Cerry atau Emerald cemburu masih berlanjut. Dia berpikir jika Emerald melihat dia dan Sarah makan siang ditempat romantis, maka dia akan cemburu. Awalnya dia ingin menghentikan rencana membuat Emerald cemburu, tapi adegan Mark yang menggoda Emerald membuatnya terbakar dan ingin membunuh pria kuning itu.
"Kau ikut aku ke restoran." Perintah Edward pada Sarah. Wanita bersurai pirang pucat itu bingung dengan sikap Edward. Padahal di kantor pria itu seolah memujanya tapi tiba-tiba sikapnya berubah dingin saat masuk mobil limo yang disiapkan oleh wanita mirip Cerry itu. Bayangkan saja ketika dia hendak menyentuh dada Edward, pria itu tiba-tiba membentaknya.
"Hentikan niatmu jika tidak ingin kulempar di jalan." Ucapan Edward tadi begitu menusuk di hari Sarah.
Sontak Sarah langsung duduk diam.'Sebenarnya apa yang ia inginkan dariku?' batin Sarah bertanya-tanya.
.
.
.
Emerald POV.
Wow, Tuhan benar-benar memberkatiku. Aku benar-benar ingin mendeklarasikan jika diriku adalah wanita bermagnet yang mampu menarik pria tampan nan hot di sekeliling ku.
Lihat saja didepanku ini. Pria bersurai coklat kemerahan bermata tajam menatapku dengan mata Jadenya yang indah. Tapi rasanya agak aneh karena pria didepanku ini menatapku seolah aku adalah hantu. Yup, dia terbengong.
"Selamat siang tuan, saya Emerald. Sekertaris tuan Connor."
"Emerald? Kau bukan Cerry?" Lagi-lagi nama itu disebutkan. Rupanya pria ini juga mengenal nyonya Cerry.
"Banyak yang mengira begitu." Ucapku sambil tersenyum.
"Oh, baiklah. Aku Gerald. Aku ada urusan penting dengan tuan Connor." Dia meraih tanganku dan mencium punggung tanganku. Haruskah aku bilang wow, ini perlakuan paling romantis yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Semoga wajahku tidak merona, sebab aku merasakan pipiku memanas.
"Silakan duduk, saya akan menghubungi tuan Connor."
Lebih tepatnya menginterupsi kegiatan bercintanya dengan si pirang itu.
Sambil menghubungi Connor, aku berjalan ke dapur. Setelah berbincang sebentar di telepon dengan Connor, aku kembali dan tidak jadi membuat kopi untuk tuan Gerald. Sebab Connor menyuruhku mengantar tamu ke restoran langganannya.
"Tuan Connor menunggu Anda di restoran. Mari saya antarkan."
Tuan merah cute itu mengangguk. Tanpa ia sadari tangannya mengandeng tangan ku menuju mobilnya. Well, Audi yang bagus. Tidak ada ruginya berjalan dengan pria tampan. Demi Tuhan aku harus menstabilkan detak jantungku. Pria ini memiliki segala kelebihan yang dibutuhkan untuk membuat wanita berlutut untuk cinta dan ranjangnya.
Oh... pesona yang menyilaukan.
TBC