Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Jurnalis



Pagi berikutnya Emerald dihadapkan pada wanita pirang yang lain dengan sepatu flatshoes dan jaketnya. Dia nampak berapi-api melihat Emerald. Sepertinya dia siap untuk mengguncang Manhattan dengan beritanya.


Wanita itu bernama Julia, Jurnalis. Wanita seperti itu adalah daftar terakhir yang ingin di ajak bicara oleh Emerald dan menjadi daftar pertama untuk dia tolak keberadaannya.


"Miss Emerald, bisakah kita bicara? "


"Maaf, aku sibuk. "


"Please, tidak lama hanya sepuluh menit. ''


Emerald menghela nafas berat, " Nona tolong, aku sedang banyak pekerjaan dan aku yakin kau juga tidak suka pekerjaanmu tiba-tiba terganggu. Aku masih sayang dengan pekerjaanku. "


Dia terdiam, kemudian melirik salah satu televisi yang menampilkan Edward berjalan bersama Sarah ke sebuah hotel. Lututku hampir jatuh karena shok yang aku alami.


"Baiklah, jika kau berminat hubungi aku. " Julia memberi kartu nama pada Emerald. Dari reaksinya dia curiga sepertinya Emerald mempunyai affair bersama Edward Connor.


Emerald tak bergeming. Bibirnya merapat dan kakinya menuju lift menuju kantornya.


"Lupakan lupakan... Pasti ada alasan... Sarah dan Edward Oh Tuhan. "


Sampai di lantai yang ia inginkan Emerald tidak langsung menuju mejanya. Dia membutuhkan toilet untuk memoles wajahnya dengan makeup tebal. Setidaknya itu berhasil menutupi wajahnya yang kacau karena menangis.


Mereka__Sarah dan Emerald berpapasan di koridor kantor ketika Emerald hendak menuju ruangannya. Sarah ingin mengabaikan kehadiran Emerald, hanya ketika melihat wajah sembab Emerald Sarah terpaksa mengeluarkan suara.


"Jangan menyimpulkan tanpa mengetahui secara pasti semuanya, aku yakin cintamu tidak sedangkal yang aku pikirkan. "


Emerald terdiam. Otaknya berusaha memecahkan arti ucapan Sarah yang berlalu meninggalkan dirinya.


'Pembunuhan Mark... Detektif... Sarah dan Edward. '


Mata Emerald membola ketika menyadari sesuatu.


'Edward yang membunuh Mark. '


'Aku harus menemui Edward. '


Kakinya berhenti di depan ruangan Edward. Sebelum ia membuka ruangan itu, Jim menghentikan niatnya.


"Mr Edward berada di Boston. "


"Apa? Kapan? "


"Pemberangkatan tadi pagi. Ada urusan bisnis yang tidak dapat ia tunda. "


Jim berkata dengan penuh penekanan. Nampak dengan jelas mata memohon agar Emerald tidak mempersulit dirinya dengan pertanyaan yang sulit ia jawab.


"Aku mengerti. "


'Dia menghindariku.'


Emerald tidak memiliki pilihan selain mengerjakan tugas harian di mejanya. Dia menghabiskan waktu berinteraksi dengan karyawan di sini, bercanda dan makan bersama. Sudah lama ia tidak melakukan hal itu karena terlalu sibuk dengan masalah cinta yang menyebalkan.


Kali ini Edward melakukan hal yang benar dengan menghindari dirinya. Setidaknya membuat Emerald kembali ke kenyataan dan berinteraksi dengan lingkungan.


Meskipun Emerald tidak menyadari jika detektif yang kemarin mengajaknya mengobrol sedang mengawasi dirinya dari jauh. Pandangannya tidak lepas sedetikpun dari Emerald. Sudah pasti dia melakukan pekerjaannya dengan profesional.


Sudah waktunya kembali ke rumah masing - masing. Sayangnya Julia kembali membawa energi negatif pada Emerald.


''Miss Emerald, tolong beri aku waktu untuk kita mengobrol. "


Kali ini Emerald tidak ingin berbaik hati. Harinya sudah cukup buruk sehingga ia tidak ingin menambahnya lagi dengan berbicara dengan Julia.


"Dengar miss Julia. Aku tidak tertarik mengobrol denganmu dan tolong jangan mengikutiku seolah aku memiliki hutang denganmu! "


Julia terdiam.


Emerald kemudian berlalu meninggalkan Julia sendiri. Dia berharap jika wanita itu tidak mengekorinya lagi.


.


.


.


Emerald tiba di apartemennya yang mungil dan nyaman. Dia berniat mandi dan segera tidur. Emerald butuh mencerna semua ini.


Saat selesai memakai piyama tidur, dia bersiap tidur hanya untuk bertemu dengan Edward yang duduk di ranjangnya.


"Kau... a-ada di sini? "


"Kenapa kau terkejut, dimana lagi aku harus datang jika bukan di sini? "


"Tapi... kau dan Sarah, " cicit Emerald tanpa berani melihat Edward. Dia agak takut dengan pandangan tajam Edward yang seolah bisa menembus hatinya.


"Aku harus menciptakan rumor untuk alibi, Sayang. Para detektif dan jurnalis akan mencoba menghubungkan hal-hal dan membuat dakwaan mereka sempurna. Aku harus melemahkan motif yang bisa mereka buat untuk mencurigaiku. "


"Jadi, benar kau yang... Mark ..."


"Aku harus Emey, dia sudah mulai berbuat curang. Hanya ada satu cara agar identitasmu tidak tersebar. "


'Ya Tuhan, pria ini begitu mencintaiku hingga rela membunuh. Ini berlebihan dari kata romantis. '


Emerald mulai mencerna semuanya. Edward sengaja menunjukkan pada paparazi tentang hubungannya dengan Sarah agar detektif tidak menangkap motif pembunuhan yang dilakukan oleh Edward.


"Bagaimana dengan Sarah? "


"Dia awalnya bingung mengapa aku mengajaknya ke hotel. Tetapi setelah aku menawarkan posisi ambrasador produk terbaru perusahaan Connor dia bersedia bekerja sama. "


"Aku... hik" Emerald tidak bisa lagi menahan perasaan terombang ambing sedari tadi. Rasa cemburu dan merasa di abaikan sangat menyakitinya.


"Maaf telah membuatmu sedih, Sayang. " Edward segera memeluk Emerald. "Percayalah, aku juga berat melakukan semuanya tanpamu. Tinggal beberapa saat sebelum kasus ditutup karena tidak ada bukti jika kita berhubungan dengan kematian Mark. "


Emerald mengangguk. Dia mengeratkan pelukannya pada Edward. "Entah sejak kapan aku jadi begitu mencintaimu, kau begitu mudah dicintai Edward. "


Edward menempelkan bibir tipisnya pada Emerald. Mereka berdua melepaskan tekanan yang seharian menghimpit. Pelepasan adalah hal yang mereka butuhkan sebelum Edward harus pergi diam-diam dari apartemen Emerald.


Tbc