Damn I'm Crazy

Damn I'm Crazy
Memory



Pagi sebelum penembakan.


Mark bangun dari tidurnya. Jam alam pada dirinya selalu membuatnya bangun lebih awal dari pada orang kebanyakan. Itu memberikan banyak waktu baginya untuk merencanakan apa yang akan ia lakukan pagi ini. Dan tentu saja dia ingin bercinta dengan Emerald. Meski harus memaksakan haaratnya Mark tidak peduli. Dia terlalu terbakar gairah pagi ini.


Pria blonde itu berdiri dari ranjangnya. Dia menuju kamar tamu tempatnya menidurkan Emerald. Mark yakin jika Emerald masih tidur oleh karena itu tadi malam dia tidak mengunci pintunya.


"Sial!" Mark mengumpat, gadis yang seharusnya berada di ranjang itu sekarang tidak ada di sana. Ranjangnya kosong, dingin dan berantakan.


"Kau menipuku Emey, pasti tadi malam kau tidak mabuk! "


"Hoo, bearti dia tau jika dirinya hanyalah klone. Hahaha dengan begini aku bisa mengancammu untuk menuruti keinginanku. "


Wajah Mark menyeringai kejam. " Jangan salahkan aku, kini tidak ada lagi Mark yang lembut dan menyenangkan. Aku akan menunjukkan Mark yang tirani dan kejam. ''


Saat Mark menatap cermin, dia terkejut saat menyadari ada pantulah sinar infra merah di keningnya. Sebelum dia menghindar suara kaca jendela kamar tamu yang pecah. Sesaat kemudian Mark terkapar di lantai dengan luka tembak di kepalanya.


Cengkraman tangan Emerald perlahan melemah. Dia tidak lagi mengernyitkan keningnya sebagai tanda jika dirinya merasakan pusing. Nafas yang tadinya memburu juga perlahan tenang.


Edward meletakkan teleponnya di nakas dan mendekati Emerald yang sudah dalam kondisi tenang. Dia kini tertidur dengan kondisi tenang.


"Aku tidak sabar menantikan kau bangun dan mengenaliku sebagai belahan jiwamu, Sweety. " Edward mendesah. Dia tidak menyangka jika harus berbuat sejauh ini hanya agar dirinya dan Emerald bersatu di kehidupan Emerald yang kedua. Dia berharap semoga tidak ada lagi halangan yang berusaha memisahkan mereka. Sebab kepindahannya dari London bukanlah untuk menjadi mafia atau pembunuh. Dia benar - benar ingin hidup damai bersama Emerald.


"Daddy...? "


Edward menoleh pada Emerald yang memanggilnya lirih.


"Sweety, kau...? "


"Aku mengingat sedikit memory di antara tubuhku yang lama dengan dirimu. "


Edward terdiam menunggu Emerald melanjutkan ucapannya.


"Sekarang aku semakin yakin untuk tidak mengingat seluruh memoryku di tubuhku yang lama. Aku benar-benar ingin menciptakan kenangan indah baru padamu. "


Edward tersenyum padanya. Dia mencium kening Emerald dengan lembut.


"Dengan senang hati menciptakan kenangan yang indah itu untukmu, Sweety. "


Emerald memeluk leher Edward. Dia ingin memeluk pria ini erat-erat. Dia merasa beruntung telah mendapatkan Edward sebagai kekasihnya. Ternyata cinta Edward padanya sangat besar hingga dia rela menunggu dan menghadapi segala omongnya ketika belum ingat apapun tentang mereka berdua. Emerald tidak bisa kehilangan pria ini.


"Aku merindukanmu, Sayang. "


Emerald bisa menangkap gairah Edward yang mulai bangkit. Dia menangkup wajah Edward dan memberinya ciuman lebih dahulu. Emerald meraba pundak, lengan, perut Edward, ia ingin merasakan betapa kerasnya otot pria di atasnya ini dengan tangannya.


''Sudah kuduga mereka sangat indah dan kuat. " Emerald berkata sambil menyapukan jari-jarinya pada tubuh Edward.


Edward hanya menjawab dengan geraman seksi yang membangkitkan gairah Emerald lebih tinggi lagi.


"Teruskan Sayang, aku menyukainya. ''


"Sesuai permintaanmu, Daddy."


Emerald berhasil melepas pakaian yang dikenakan Edward. Terpampanglah semua imaginasi yang ada di otaknya. Tubuh Edward yang indah, fitur V yang tegas dan lekukan bisep yang menggoda membuat Emerald tersenyum. Dia belum pernah senyaman ini saat akan bercinta dengan Edward sebelumnya.


"Biarkan aku mencintaimu, Sayang. "


"Yah, aku menginginkan mu, Edward. Aku menginginkanmu~"


"Aku tau cantik. Kita memiliki kesamaan dalam hal ini. "


Emerald tersenyum dan Edward menciumnya bibirnya kembali. Mereka berdua dengan manis menghabiskan pagi itu bersama. Sebab siang ini Emerald menyerahkan tugasnya pada asisten Edward untuk menggantikannya. Tanpa tahu jika Mark telah terbunuh demi rahasia yang ia miliki.


Sore ini, Emerald merasa senang. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan dan membeli beberapa bahan makanan untuk mengisi kulkasnya. Lagi pula ia sudah berjanji pada benda penting itu untuk tidak menelantarkannya.


Pada saat itulah seorang pria bermantel dan memiliki rambut hitam cepak mendatangi dirinya.


"Nona Kite, bisakah kita bicara sebentar? "


Emerald menoleh, memberi pria itu pandangan curiga dan akhirnya menjawab, " Aku tidak bicara dengan orang asing. "


"Oh maaf, ini kesalahanku. Aku Denis Warkey. Detektif kepolisian LA. "


Alis Emerald berkedut, ada tanda tanya besar pada wajahnya dan hal itu ditangkap oleh mata Denis.


"Detektif, apa yang diinginkan detektif dariku? "


"Bisa kita bicara di tempat yang nyaman? "


Emerald mengangguk. Dia tidak bisa menolak ajakan seorang detektif kepolisian. Mereka sampai di food court dan mengambil meja di dekat jendela namun agak jauh dari pengunjung lain.


"Ini berkaitan dengan kematian mr Mark Greenwood. Ap-"


'Tunggu, Mark meninggal? " potong Emerald, " Kapan? "


"Anda tidak tau? " tanya Denis.


"Tidak, sama sekali tidak. Aku masih bertemu dengannya di club dan apartemennya sebelum meninggalkan dia malam itu. "


Denis mengangguk. Dari CCTV gadis ini memang meninggalkan apartemen Mark pukul sebelas malam, sedangkan dari hasil otopsi kematian Mark di perkirakan antara pukul 4-5 pagi.


"Apa anda bertengkar sebelumnya dengan mr Mark? "


"Tidak, aku minum bersamanya dengan Mike lalu Mark membawaku ke apartemennya. "


"Apa kalian berhubungan seksual? "


"Tidak, sama sekali tidak. "


Kami hanya atasan dan aku wakil dari Connor Inc. Tidak ada hubungan spesial di antara kami.


"Dari yang aku dengar mr Mark menyukaimu... "


Emerald mengangkat bahu, "Aku mudah dicintai. "


"..."


"Baiklah miss Kite, aku mengucapkan terima kasih banyak atas waktunya. Ku rasa aku tidak akan menyita waktumu lebih banyak lagi. " Denis mengulurkan tangannya pada Emerald.


"Baik."


Emerald menyambut tangan itu dan meninggalkan Denis. Dia ingin melanjutkan hobi belanjanya yang sempat tertunda.


Sebenarnya dia sangat gugup karena pria tadi. Tapi ia tidak bisa menunjukkan kegugupannya.


'Ya Tuhan, Mark terbunuh. '


'Jangan-jangan ini ulah Edward? '


Emerald menepis dugaan tak berdasar yang mampir diotaknya. Namun gagal, anggapan itu terus melekat dan membuatnya mual.


"Aku harus pulang... Aku harus pulang... "


Tbc.